Wednesday, October 17, 2012

The Jose Movie Review
Cita-Citaku Setinggi Tanah

Overview

Saya ingat betul ketika masih kuliah Desain Komunikasi Visual dulu, pernah mengikuti workshop pembuatan music video (video klip) di bawah bimbingan Eugene Panji yang kala itu sangat terkenal karena namanya seringkali tertulis di baris keempat videotag siaran MTV. Yap, Eugene Panji memang sempat menjadi sutradara music video terkenal yang pernah menangani video untuk Agnes Monica, Slank, Cokelat, Audi, dan banyak lagi, selain juga kerap menangani berbagai TVC. Kala workshop tersebut, ada audience yang bertanya ketertarikannya membuat film layar lebar. Ia menjawab bahwa ia sedang berencana membuat sebuah film bertemakan anorexia. Sekitar lima tahun kemudian barulah karya layar lebar perdananya dirilis tetapi dengan tema jauh berbeda dari yang ia rencanakan kala itu : dunia anak-anak. Unik, ketika mendengar sebuah wawancara, Eugene Panji mengungkapkan bahwa ia membuat film ini sebagai bentuk CSR (creative social responsibility) (baca artikel wawancara lengkapnya di sini), sehingga ia sebenarnya tidak terbebani oleh sukses-tidaknya film ini secara komersil. Namun bukan berarti ia setengah hati menggarapnya karena ia terbukti ia menunjukkan kualitas dan reputasinya.
Kebutuhan akan tayangan untuk anak-anak khususnya di Indonesia memang beberapa tahun belakangan ini mulai dilirik oleh produser maupun PH-PH. Namun tak semuanya mampu menarik perhatian karena masih kerap terjebak pada gaya sinetron yang kurang sesuai dengan dunia anak-anak maupun masih terpaku pada prinsip “mendidik”. Alhasil banyak film anak-anak yang cenderung pretensius dan terlalu menggurui sehingga mengabaikan sisi hiburannya.
Mendengar setting sebuah desa di kaki Gunung Merapi, Jawa Tengah dan premise “cita-cita”, tentu gambaran tentang film ini mengarah ke film anak yang begitu-begitu saja; pretensius, sok menggurui, tidak menarik, dan hanya mengeksploitasi kemelaratan untuk memancing iba penonton. Apalagi judulnya yang sounds so silly dan shallow; Cita-Citaku Setinggi Tanah (CCST). Nyatanya, kesemua image itu salah besar. CCST adalah film dengan cerita yang sangat sederhana, mungkin malah ada dari Anda yang merasa tidak penting. Namun ketika sampai pada klimaksnya ternyata menyimpan sebuah penjelasan yang cerdas, cukup dalam, logis, dan realistis tentang cita-cita. Sebuah kisah inspiratif yang tidak muluk-muluk namun mampu menggerakkan saya untuk bertekad melakukan hal yang lebih besar lagi. Itu saya yang sudah berusia twenty something. Bisa dibayangkan efeknya pada anak-anak yang pola pikirnya masih polos dan sederhana.
Bagusnya lagi, penulis skenario Satriono membungkus proses “pencapaian cita-cita” yang sederhana itu dengan mengalir, tidak dibuat-buat, namun tetap menarik untuk diikuti. Tidak ada sama sekali usaha untuk membuat penonton merasa iba akan keadaan karakter-karakternya. Mereka memang tinggal di desa tetapi mereka tidak digambarkan hidup melarat. Karakter Agus memang menganggap makan makanan Padang sebuah kemewahan, tapi ia dan keluarganya masih bisa makan tiap hari. Sebaliknya, penonton yang terbiasa tinggal di kota sekalipun diajak untuk merasakan keceriaan anak-anak yang tinggal di desa dengan segala kesederhanannya dan kreativitasnya. The movie will make you feel good during the movie and afterward, especially for kids.
Complain dari saya mungkin hanya satu adegan yang menurut saya bisa digali menjadi lebih emosional lagi, yakni ketika Agus nyaris “kehilangan” harapan untuk mencapai “cita-citanya”. Andaikan adegan tersebut dibuat sedikit lebih dramatis, misalnya di sedikit di-slow-mo, pasti semakin membuat penonton merasakan apa yang dirasakan Agus saat itu. Tetapi minor kecil ini sama sekali tidak mempengaruhi niat dan atmosfer positif keseluruhan film. It's still a good simple movie crafted with a true heart. Apalagi keseluruhan penjualan tiket film ini (dan juga penjualan album soundtracknya) didonasikan ke Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, benar-benar membuat penontonnya begitu feel good. Di antara film-film anak Indonesia yang beredar dan sudah saya tonton tahun ini, CCST berhasil memikat dan menjadikannya yang terbaik so far.

The Casts

Kesemua pemeran anak-anaknya bukanlah nama-nama terkenal. Ini adalah film pertama bagi M. Syihab Imam Muttaqin (Agus), Rizqullah Maulana Daffa (Jono), Iqbal Zuhda Irsyad (Puji), dan Dewi Wuladnari Cahyaningrum (Sri/Mey). Namun kesemuanya memerankan masing-masing karakter yang berbeda-beda dengan sangat natural. Agus yang cerdas, Jono yang berjiwa pemimpin namun kocak berkat kepolosannya, Sri/Mey yang obsesif gara-gara ibunya, dan Puji yang santai. Di lini pemeran pendukung ada nama terkenal Agus Kuncoro dan Donny Alamsyah. Kesemuanya juga berhasil mengisi peran sesuai dengan porsi masing-masing. Sementara yang paling mencuri perhatian penonton adalah Luh Monika Sokananta, pemeran karakter ibu Sri/Mey yang membuat penonton tertawa sekaligus miris melihat tingkah lakunya. Salah satu karakter yang ditulis dengan sangat baik selain karakter utamanya.

Technical

Film dengan setting alam (pedesaan) biasanya mengeksploitasi habis-habisan keindahannya lewat desain produksinya. Mungkin dengan pertimbangan seandainya cerita gagal menarik perhatian penonton, setidaknya masih bisa menikmati pemandangan-pemandangan indah yang tersaji secara visual. CCST nyatanya tidak begitu mengeksploitasi habis-habisan setting alam kaki Gunung Merapi. Semuanya tersaji sesuai dengan kebutuhan adegan, misalnya adegan perjalanan yang memang pas dibuat wide shot sehingga keindahan alamnya dapat terekam secara natural. Pun demikian, penonton masih seperti diajak untuk ikut merasakan nikmatnya tinggal di desa berkat atmosfer, logat bahasa, dan segala atributnya. Bisa jadi juga karena saya sudah kepincut duluan dengan ceritanya sehingga sajian visual panoramanya terasa kalah menonjol.
Teknis yang menarik bagi saya adalah editing, terutama di bagian awal-awal film saat perkenalan karakter-karakter cilik anaknya. Editor behasil menyatukan adegan karakter-karakter secara berkesinambungan dan menjadikannya lucu serta menarik. Namun sedikit flicker beberapa kali terjadi saat transisi fade antar adegan cukup mengganggu saya meski mungkin tidak begitu diperhatikan bagi penonton yang lain.
Score dan lagu-lagu tema yang dibawakan Endah & Resha semakin memperkaya suasana nyaman tinggal di desa dengan lirik yang selaras dengan cerita. Pun score dan sound effect mengalun dengan mantap dan jernih melalui kanal-kanal speaker bioskop.

The Essence

Siapapun pasti punya cita-cita, baik yang digembor-gemborkan ke sekitarnya maupun yang hanya dipendam dalam diri. It's good and important to have one or more. Tetapi cita-cita tinggallah cita-cita jika tidak pernah ada usaha untuk mewujudkannya. Sekecil dan sesederhana apapun itu membutuhkan usaha dan bermula dari diri sendiri. Tidak pernah ada cita-cita yang terwujud dengan sendirinya. Percayalah, Anda akan lebih terinspirasi dengan menonton film CCST ketimbang hanya membaca segmen ini di blog saya.

They who will enjoy this the most

  • General audiences, terutama anak-anak dan remaja
  • Penonton yang butuh inspirasi untuk mengejar cita-citanya dan selama ini lebih senang diam dalam comfort zone-nya

 


Lihat situs resmi film ini. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates