Thursday, September 20, 2012

The Jose Movie Review
Ted


Overview

Publik Amerika Serikat mengenal Seth MacFarlane melalui animasi fenomenal Family Guy dan American Dad dimana ia bertindak selaku penulis cerita sekaligus produser. Ted merupakan proyek layar lebar pertamanya yang bergaya tak beda jauh dari serial-serial animasi tersebut; kasar, penuh guyonan dan referensi seks, umpatan-umpatan, serta materi-materi dewasa lainnya. Namun kesemuanya disajikan dengan humor cerdas. Tak hanya itu, MacFarlane pun memboyong Mila Kunis dari Family Guy untuk meramaikan persahabatan antara seorang pria berusia 35 tahun dan boneka teddy bear hidup miliknya, hasil dari ‘wish upon a star’ ketika berusia 8 tahun.

15 menit awal mungkin Anda akan merasa aman-aman saja karena Ted tampak seperti film Natal keluarga yang manis dan indah. Namun ini bukanlah dongeng ‘wish come true’ untuk anak-anak. Konflik yang sesungguhnya terjadi ketika sang anak telah beranjak dewasa dan hal yang sama ternyata juga dialami si boneka teddy bear bernama Ted.

Kelucuan demi kelucuan muncul dari tingkah laku Ted yang kontras dengan perilakunya ketika masih kecil. Tak hanya nakal, Ted rupanya cukup cerdas dalam berkelakar dan sangat gaul akan budaya populer mulai dari era 80’an hingga kini. Di sinilah MacFarlane memanfaatkan semaksimal mungkin tiap kesempatan untuk menuangkan guyonan-guyonan gilanya. Ia seolah menyalurkan setiap kepribadiannya ke dalam karakter Ted. No wonder, MacFarlane sendiri yang mengisi suara sekaligus menjadi aktor di balik teknik motion-capture untuk menghidupkan karakter Ted. Yes, as a CG character, Ted was so alive and loveable.

Tak hanya berhasil membuat penonton terpingkal-pingkal secara konstan dari awal hingga akhir film dengan mengumbar adegan-adegan kurang ajar dan tak senonoh (jika Anda mengerti maksud guyonannya), MacFarlane juga sangat berhasil dan rapi dalam menyusun perkembangan multi plot yang berjalan linear secara seimbang sekaligus berkaitan satu sama lain. Tak ada adegan yang terasa dragging atau bertele-tele. Jika ada yang merasa bosan, itu lebih disebabkan ia sudah terlanjur terbiasa dengan gaya bertutur Hollywood akhir-akhir ini yang selalu terburu-buru ditambah lagi tidak mengerti maksud guyonan-guyonannya, padahal sebenarnya Ted bertutur dengan natural dan santai. Memang ada beberapa dialog yang terasa ‘basa-basi’ tapi masih dalam batas toleransi dan justru terasa natural untuk percakapan sehari-hari. Pun Ted juga punya beberapa momen menyentuh antar karakter utamanya, John-Ted-Lori. Both romance and bromance.

Well, jika Anda rindu tertawa terbahak-bahak di studio bioskop, Ted adalah film yang tidak boleh Anda lewatkan begitu saja. Apalagi jika Anda termasuk gaul dalam hal film dan budaya-budaya pop Amerika era 80-an hingga kini, it will be the most amusing entertainment since… I don’t know since when.

The Casts

Mark Wahlberg yang selama ini image-nya lebih banyak ke action hero kali ini berhasil mengeluarkan sisi kanak-kanak dalam dirinya. Aktingnya sebagai pria 30 tahunan yang masih bertingkah seperti anak-anak sangat meyakinkan. Mila Kunis pun bisa mengimbangi selera humor Wahlberg sehingga chemistry antara keduanya sangat kuat dan menjadikan mereka berdua pasangan yang tampak begitu serasi dan sweet.

Penampilan favorit saya berikutnya adalah narator yang ternyata diisi oleh aktor senior Patrick Stewart. Di balik suara berwibawanya yang khas film-film science fiction, ia turut berhasil menghembuskan nafas komedik di dalamnya. In matter of fact, kebanyakan dari guyonan favorit saya di film ini berasal dari celetukan sang narator, bahkan pada kalimat terakhir dari epilog. You could be hilarious too, Prof. Xavier!

Sebagai bonus yang sangat menghibur, MacFarlane juga mengundang beberapa selebriti Hollywood menjadi cameo, seperti si Flash Gordon, Sam Jones, Tom Skerritt dari Top Gun, biduan jazz berinisial NJ,  serta yang paling mengejutkan aktor ternama berinisial RR (sumpah, saya sangat terkejut dan langsung ngakak sekeras-kerasnya ketika ia muncul di layar).

Technical

Tentu tampilan boneka Ted yang begitu hidup menjadi daya tarik utama yang digarap dengan sangat baik. Awalnya saya bertanya-tanya, teknik apa yang digunakan di sini untuk menghidupkannya; apakah menggunakan robot elektronik seperti dinosaurus-dinosaurus di Jurassic Park III atau motion capture seperti Gollum di franchise Lord of The Rings. I have told the answer previously in the overview section.

Keunggulan lainnya yang begitu terasa adalah score yang cukup bervariasi. Mulai dari suasana holiday-joy ala Christmas hingga yang  menyayat bak film thriller, semuanya berhasil ditempatkan dengan sangat baik. Tak serakah menyelipkan score di setiap bagian, keheningan justru kerap dihadirkan untuk kebanyakan adegan yang lebih menekankan pada dialognya. Sebuah keputusan yang efektif sehingga tak mau terlalu berlarut dalam drama namun tetap bisa menyentuh.

Terakhir, editing yang dinamis bak music video di beberapa adegan menambah kegokilan Ted.

The Essence

Ada sebuah quote berbunyi, “tua itu pasti, dewasa itu pilihan.” Ya, kedewasaan seseorang (terutama seorang pria) bisa dilihat dari bagaimana ia mengambil keputusan-keputusan dalam hidupnya. Pria dewasa berani membuat keputusan dan bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang ditimbulkan dari pilihan tersebut. No, you don’t need a miracle to be a mature man, it’s in yourself (through choices you make).

They who will enjoy this the most

  • Penikmat komedi gila-gilaan tidak senonoh.
  • Penggemar Family Guy dan/atau American Dad.
  • Mereka yang cukup referensi tentang budaya populer Amerika dari era 80-an hingga 2000-an, terutama penggemar Flash Gordon, Star Wars, dan Top Gun.
  • Penyuka drama romantis yang tidak picisan tapi tetap sweet.
  • Mereka yang gemar mem-bully The Twilight Saga.

Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates