Sunday, September 2, 2012

The Jose Movie Review
Rumah di Seribu Ombak


Overview

Ketika berada di dalam tahanan yang akhirnya membebaskan ia dari segala tuduhan, Erwin Arnada “membalaskan dendam” dengan menunjukkan betapa indahnya hidup berdampingan dalam keragaman, dengan setting Bali yang memang lebih terbuka terhadap pluralisme, isu yang dalam sepuluh tahun belakangan mendadak menjadi sorotan di negeri ini. Tak hanya menulis novel, pria yang pernah memproduseri Jakarta Undercover, Cinta Silver, Alexandria, dan Catatan Akhir Sekolah ini menyutradarai sendiri film yang diadaptasi dari novel tersebut.
Saya membaca versi novelnya dan menyukai detail cerita yang mengalir natural dan penuh makna. Namun ketika mendengar kabar akan diangkat dalam bentuk film layar lebar, kekhawatiran menghampiri benak saya karena saya merasa detail cerita yang demikian akan susah diadaptasi ke layar lebar tanpa perubahan yang cukup signifikan dari versi novelnya. Menurut saya, akan lebih baik jika Rumah di Seribu Ombak (RdSO) diangkat dalam bentuk mini seri dimana detail adegan dapat tetap dipertahankan tanpa menjadikan durasi sebagai kendala.
RdSO seolah terbagi menjadi dua babak, yaitu ketika Yanik-Samihi masih SD dan ketika sudah dewasa. Babak pertama yang mengambil lebih dari tiga perempat durasi keseluruhan berlangsung dengan cukup baik. Persahabatan yang melibatkan canda dan duka terasa begitu manis, terutama berkat chemistry dan akting yang sangat baik dari aktor-aktornya. Sementara paruh kedua yakni ketika Yanik dan Samihi dewasa terasa bertele-tele dan semakin picisan ketika subplot asmara antara Yanik dan Samimi diangkat lebih banyak. Ada bagian-bagian yang terasa lebih efektif jika hanya berupa narasi Yanik tanpa detail adegan yang lengkap dengan dialog-dialognya.
Secara garis besar unsur-unsur penting dari novel seperti metajen, latihan mekidung, lomba qiraah, puisi Jalaluddin Rumi, bom Legian, dan pedophilia ditampilkan di versi filmnya. Namun karena keterbatasan durasi, masing-masing unsur serasa lewat begitu saja, tanpa makna yang begitu berarti apalagi mendalam. Andai saja skrip menggarap masing-masing unsur tersebut dengan detail adegan yang lebih, tentu RdSO dapat menjadi suguhan yang jauh lebih menarik. Misalnya adegan metajen yang akan terasa lebih seru jika disertai score yang thrilling dan detail adegan pertarungan ayam jago (metajen) atau adegan penyelundupan Yanik dan Samihi ke rumah Andrew yang juga berpotensi menjadi adegan breathtaking. Belum lagi korelasi antar adegan yang kurang begitu terasa dan ada pula yang tanpa penyelesaian, apalagi jika Anda belum pernah membaca novelnya. Bukan salah editingnya yang masih mampu memoles rangkaian antar plot menjadi terasa halus, namun tetap saja terasa ada lompatan antar subplot yang mengurangi kenikmatan menontonnya. Tak heran jika pada akhirnya fokus cerita menjadi samar. Apakah tentang persahabatan, percintaan, atau perkembangan psikologis Yanik.
Dengan aura cerita yang memang cenderung lebih banyak ke mellow, pace lambat bagi saya bukan menjadi masalah. Film drama yang bisa memanfaatkan pace lambat dengan baik tentu mampu men-deliver cerita sekaligus emosi ke penonton dengan baik pula. Alur lambat RdSO bagi saya masih acceptable dan tidak membosankan, tapi menurut saya ada beberapa bagian yang jika diperbaiki pace-nya sehingga tidak merata sepanjang film, hasil akhirnya akan jauh lebih baik.
Selebihnya, jika Anda santai mengikuti ceritanya hingga akhir dan mau meruntut masing-masing subplot menjadi sebuah kesimpulan, maka Anda akan menemukan keindahan dari cerita besar RdSO serta tersentuh oleh ending yang depresif namun indah itu. Jauh dari buruk sebagai karya debut penyutradaraan dari seorang Erwin Arnada, namun saya mengharapkan kemampuannya membangun emosi dan pace bisa berkembang di proyek-proyek berikutnya. Om Swastiastu!

The Casts

RdSO melibatkan aktor-aktor yang belum pernah berakting sebelumnya untuk mengisi peran-peran utamanya. Terutama Dedey Rusma yang berhasil menghidupkan karakter Yanik menjadi begitu lovable. Aktingnya sebagai anak yang terkesan berandalan namun baik hati dan menyimpan luka batin yang dalam ini terlihat sangat natural dan lovable. Penonton tentu dengan mudah bersimpatik pada karakter Yanik karena telah berhasil membuat tertawa dan juga terharu. A very good job as a debut. Sementara Risjad Aden (Samihi kecil) dan Bianca Oleen (Syamimi kecil) cukup berhasil mengimbangi akting Dedey meski masih kalah pesona.
Kualitas yang berbanding terbalik ditunjukkan oleh Riman Jayadi yang memerankan Yanik dewasa. Di samping suara vokalnya yang cempreng, kualitas aktingnya juga jauh dari Dedey dan masih canggung di mana-mana. Alhasil kepribadian Yanik dewasa seolah berubah sama sekali. Hanya kemiripan fisik dengan Yanik kecil lah yang membuatnya pantas mendapat peran ini. Untunglah kehadiran Andiana Suri sebagai Syamimi dewasa tampil lebih baik dari segi akting dan berhasil mengalihkan perhatian penonton di babak kedua berkat parasnya yang cantik.
Terakhir, pemeran pendukung seperti Lukman Sardi, Jerinx SID, dan Andre Julian tampil memikat walau porsinya tidak begitu banyak.

Technical

Siapa pun yang menonton RdSO, bahkan yang susah menikmati alur ceritanya akan mengakui keindahan gambar yang ditawarkan Padri Nadeak. Alam Singaraja yang indah dan masih natural berhasil ditangkap dengan luar biasa, seiring dengan aspek-aspek budaya yang juga ditampilkan di beberapa bagian. Berbeda dengan wajah Bali yang selama ini seringkali ditampilkan dalam berbagai media. Tone warna memainkan mood yang berbeda pada dua bagian babak cerita. Cenderung sephia ketika kecil dan lebih berwarna-warni ketika dewasa. Permainan tone warna ini ter-blended baik dengan setting yang ditampilkan. Marvelously beautiful!
Score yang banyak mengusung nuansa etnik memainkan mood dengan sangat baik pula di banyak adegan walau menurut saya ada banyak adegan yang seharusnya bisa diiringi dengan score yang kuat agar terasa lebih hidup.

The Essence

Sebenarnya persahabatan dengan latar belakang agama yang berbeda hanya menjadi background cerita, bukanlah konflik utama. Namun isu toleransi antar umat beragama yang beberapa tahun belakangan menjadi sensitif berkat pandangan segelintir kelompok agama, menjadikan sedikit saja isu toleransi antar umat beragama sebuah “perhiasan” berharga, yang menjadi langka di masyarakat kita akhir-akhir ini.
Tema utama RdSO sebenarnya adalah sebuah persahabatan yang tulus. Dalam konteks RdSO adalah persahabatan yang saling menyembuhkan. Yanik menyembuhkan trauma Samihi untuk berada di air (berenang dan kegiatan-kegiatan di air lainnya) sementara Samihi berusaha menyembuhkan berbagai luka batin Yanik. Walau pada akhirnya Yanik mendapati bahwa Samihi tidak sepenuhnya berhasil menjalankan perannya sebagai sahabat yang menyembuhkan, ia tetap tulus dan senang melakukannya, tanpa penyesalan apa-apa.


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates