Sunday, September 2, 2012

The Jose Movie Review
Iron Sky

Overview

Seberapa sering Anda menyaksikan film yang memparodikan politik? Tak banyak memang jumlahnya. Siapa sangka lantas muncul sebuah fantasi dikembangkan oleh Finlandia, Jerman, dan Australia yang menggabungkan parodi politik dengan sentuhan action dan sci-fi? Ide gila ini ditambah lagi dengan proses pembuatannya yang tergolong unik karena melibatkan para pengguna internet yang tergabung dalam sebuah komunitas. Tak hanya dalam hal pendanaan, ide ceritanya pun lantas dikembangkan atas masukan dari para fanboy ini. Jadilah Iron Sky (IS) yang unik.

Iron Sky berfantasi bahwa setelah kekalahannya, Nazi yang tersisa “pindah” ke sisi gelap bulan sambil menantikan waktu yang tepat untuk kembali menguasai bumi. Dari sini saja premise-nya sudah begitu menjanjikan. Lebih menjanjikan ketimbang Transformers dimana installment ketiganya juga “memanfaatkan” sisi gelap bulan (dark of the moon).

Sebagai sebuah film parodi, IS sangat berhasil menyentil berbagai problematika dunia kotor politik dengan cerdas. Lihat saja bagaimana karakter astronot kulit hitam yang dijadikan alat “propaganda” oleh kedua pihak bertikai atau Nazi takjub dengan teknologi tablet yang nyatanya lebih powerful ketimbang komputer mereka sendiri yang sebesar mesin pabrik. Presiden Amerika Serikat wanita yang ambisius dan perawakannya mirip calon presiden periode lalu yang kontroversial, Sarah Palin, menambah semarak (atau kekacauan?) suasana IS.

Sayang, bagi saya hanya sisi komedinya saja yang berhasil sepanjang durasi film. Sisi action dan sci-fi yang sebenarnya digarap dengan teknis baik, malah termasuk sangat niat untuk genre parodi, sama sekali tidak membangkitkan minat saya. Mungkin memang karena alur ceritanya yang mudah ditebak sehingga adegan aksinya terasa tidak begitu seru dan mungkin juga berkat konsep utama parodi yang begitu kuat, maka unsur aksi dan sci-fi-nya menjadi terasa hanya sekedar main-main.

Humor adalah relatif sehingga memang tak semua orang bisa menerima dan menganggap humor-humor IS lucu, apalagi jika Anda termasuk salah satu yang tersindir di sini. Jadi, nikmati saja rangkaian humor-humor bodoh hingga cerdas yang tersaji sepanjang film yang seringkali mungkin akan membuat kita berujar “what the fuck” secara spontan.

The Casts

Hampir semua aktor yang bermain di sini tampil maksimal. Yang paling menonjol tentu saja figur Sarah Palin KW sekian yang diperankan oleh Stephanie Paul. Begitu pula dengan Peta Sergeant yang berperan sebagai Vivian Wagner, kepala promosi presidential yang ambisius, licik, dan seksi.

Julia Dietze menarik perhatian lewat fisiknya yang cantik dan seksi, serta keluguannya sebagai Renate Richter. Christopher Kirby (James Washington) juga berhasil menghidupkan karakternya meski mungkin tidak sepantas jika diperankan Will Smith, misalnya.

Terakhir, Götz Otto cukup berhasil memerankan karakter “the next Führer” dengan kharismatik meski belum sampai tingkat Christoph Waltz sebagai Hans Landa di Inglourious Basterds.

Technical

Meski lebih menonjol di sisi komedi, namun teknis action dan sci-fi-nya digarap dengan tidak main-main. Gambaran kehidupan di bulan, pesawat luar angkasa, dan berbagai atribut futuristik didesain dan dibangun dengan luar biasa, tak kalah dengan buatan Hollywood. Sedikit mengingatkan kita akan trilogi Star Wars dengan tone warna ala Sky Captain and the World of Tomorrow ketika adegan di bulan.

Sound effect pun digarap dengan tak kalah seriusnya. Efek surround dimanfaatkan secara maksimal, menambah riuhnya pertarungan luar angkasa. Didukung pula oleh musik-musik yang “menggugah”. Favorit saya adalah America yang merupakan “adaptasi” dari lagu kebangsaan Amerika Serikat, The Stars Spangled Banner ketika adegan kericuhan di markas UN. Lagu yang seharusnya menggugah patriotisme itu terdengar kontras dengan adegan betapa bodoh dan konyolnya tingkah laku para wakil politik dari negara-negara yang duduk di UN. Ironically hilarious.

Divisi kostum juga patut mendapatkan apresiasi lebih. Selain seragam ala Nazi, kostum yang dikenakan oleh Vivian Wagner tampak menarik. Walau harus diakui kostumnya ketika menjabat Secretary of Defense terlalu komikal.

The Essence

Siapa pun tahu dan mengerti bahwa politik adalah dunia yang penuh dengan kekotoran dan manipulasi. Tapi politiklah yang mau tak mau memegang peranan penting dalam pemerintahan negara manapun itu. IS merepresentasikan Amerika Serikat sebagai negara yang serakah, baik dalam hal ikut campur dalam berbagai permasalahan negara lain maupun menguasai komoditas apapun yang selalu diklaim menjadi miliknya. Apapun itu akan dilakukan atas nama popularitas politik yang tentu saja mempermudah jalannya menuju kursi tertinggi kepemimpinan, termasuk perang. Lewat IS, kita, rakyat biasa, akhirnya bisa mentertawakan berbagai tingkah laku para tokoh politik meski tak bisa merubah apa-apa.

Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates