Sunday, August 26, 2012

The Jose Movie Review
The Cabin in the Woods



Overview

Ini dia film yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak moviegoers di Indonesia. Tak hanya jadwal tayangnya di Indonesia  terus tertunda karena harus mengalah dengan film-film blockbuster yang tentu saja mendapatkan prioritas lebih utama karena faktor komersial, nyatanya jadwal rilis world premiere nya juga sudah tersendat-sendat. Setelah rampung produksi di tahun 2009, The Cabin in the Woods (TCITW) masih memiliki kendala distribusi yang dilempar ke sana-kemari hingga akhirnya Lionsgate bersedia mendistribusikannya dan juga perdebatan mengenai konversi ke format 3D. Sampai-sampai jadwal rilis internasionalnya melewati jadwal film Thor yang dibintangi Chris Hemsworth dan The Avengers yang disutradarai Joss Whedon (penulis naskah TCITW). But that’s okay, mungkin melambungnya dua nama ini bisa menjadi daya jual yang kuat untuk TCITW saat dilempar ke pasaran.

Susah untuk menulis tentang TCITW tanpa mengurangi sedikitpun kenikmatan ketika menonton secara langsung tapi menarik perhatian yang membacanya, but I’ll try to. Benar, jika ada yang menyarankan untuk mengetahui seminim mungkin hal berkaitan dengan film ini, termasuk menonton trailer atau membaca sinopsis yang berlebihan. Semakin sedikit yang Anda tahu, semakin Anda akan menikmati TCITW. Memangnya sehebat apa sih nih film? Pertanyaan yang sama juga sempat terbersit di pikiran saya kala itu hingga saya menyaksikannya sendiri.

Sebenarnya tidak ada yang begitu istimewa dari TCITW di mata saya. Jika Anda penggemar film horor (khususnya Hollywood) dan pernah menyaksikan hampir semua sub-genre horor yang pernah dibuat, maka Anda akan mendapatkanya semua dalam satu kemasan ini, mulai dari gaya Evil Dead hingga Friday the 13th. Cliché? Iya, tapi kapasitasnya sebagai sebuah paket tribute, kesemuanya itu dimasukkan hanya untuk membuat Anda bersenang-senang dan mengenang adegan-adegan serta juga unsur-unsur yang pernah ada di film-film horor favorit Anda. Sometimes, they also made fun of it.

Kejutan yang ada sebenarnya tidak begitu luar biasa atau original sekali (setidaknya bagi saya). Saya menggambarkannya sebagai : it’s not how far the things have gone, but how things have turned into. Penonton (termasuk saya) akan dibiarkan sok pintar menebak jalan cerita yang sedang berjalan berkat ke-cliché-annya, termasuk jika Anda mengira adegan-adegan yang berjalan paralel dengan plot utamanya adalah segala rahasia di balik cerita. Anda tak perlu memperhatikan perkembangan karakter-karakter yang ada, tak perlu pula peduli siapa yang survive, siapa yang bakal mati, atau siapa pelaku semuanya (karena Anda sudah tahu semua dari referensi film-film horor yang pernah Anda saksikan sebelumnya). Silahkan duduk, nikmati segala adegan mengerikan, menegangkan, dan gore yang tersaji dan bersenang-senang sepanjang film, hingga Anda melongo di akhir film. Tidak, saya tidak sampai geleng-geleng kepala atau berujar ‘watdefak’. Toh saya berpikir endingnya berlebihan secara logika, tapi harus diakui pertautan antar plot hingga akhir serta penjagaan intensitas film sangat baik dan rapi untuk film horor sejenis.

Membahas TCITW mengingatkan saya akan tuduhan plagiarism police Indonesia yang serta merta menuduh Modus Anomali mirip dengan TCITW. Well, setelah menyaksikan filmnya secara langsung saya hanya bisa menertawai mereka. What the fuck man? Konsepnya saja sudah sangat jauh berbeda.” Jika kehadiran kabin di tengah hutan dianggap sebagai persamaan yang penting, bagaimana dengan Cabin Fever dan Friday the 13th? Sangat sok tahu tetapi referensi filmnya sangat kurang. Dengan silogis yang sama, saya bisa juga lho menuduh franchise Harry Potter mirip Doraemon karena sama-sama memiliki invisible robe.

The Casts

Di sini Anda akan melihat Chris Hemsworth sebelum ia terkenal berkat peran anak dewa, Thor. For a jock role, I’d prefer him a lot rather than the flat and boring Channing Tatum. Fran Kranz, pemeran Marty menjadi aktor kedua yang saya favoritkan sepanjang film.

Sementara di seberang plot, Richard Jenkins (Sitterson) dan Bradley Whitford (Hadley) yang disebut-sebut menggambarkan Joss Whedon dan Drew Goddard (sutradara-penulis naskah TCITW) tampil mengesankan dengan humor-humornya yang segar dan terkadang kelam. Oh iya, jangan lupa penampilan aktris legendaris yang akhir-akhir ini sering tampil sebagai villain kejutan di akhir film. Surprise! :D

Technical

Tentu saja special effect dan make up menjadi keunggulan utamanya. That’s all I can say here to keep the surprising effect preserved.

The Essence

Humanity. Hahahaha… segitu aja yah yang saya bocorin tentang esensinya. Nanti disimpulkan sendiri setelah menonton langsung filmnya. It’s not heavy at all koq. Have a fun vacation in the cabin!

Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates