Thursday, August 23, 2012

The Jose Movie Review
Brandal Brandal Ciliwung



Overview

Maxima Pictures adalah production house film-film layar lebar Indonesia yang unik. Film-film produksinya lebih banyak cenderung ke murni hiburan dan cukup sering mengundang sensasi berkat “inovasi”-nya, seperti misalnya memulai tren menggunakan aktris bule sebagai bintang tamu, Heather Storm di Paku Kuntilanak, dan tentu saja Maria Ozawa alias Miyabi di Menculik Miyabi dan Hantu Tanah Kusir serta Rin Sakuragi dan Sora Aoi di franchise Suster Keramas. Langkah yang lantas diekori oleh KK Dheeraj namun dengan kualitas jauh di bawahnya. Belum lagi jasanya dalam mengangkat popularitas Dewi Perssik di layar lebar berkat Tali Pocong Perawan. Memang Maxima punya track record horor komedi yang nyerempet-nyerempet sensualitas tapi setidaknya masih digarap dengan jalinan skrip yang logis dan production value yang baik. Tak hanya horor komedi, Maxima juga pernah menggarap film drama seperti Pupus, Butterfly, dan terakhir Bila, film komedi seperti Tulalit, Lihat Boleh Pegang Jangan, dan Poconggg Juga Pocong. Kini untuk pertama kalinya PH yang dimotori oleh Ody Mulya Hidayat ini mencoba menggarap film anak-anak.

Tak mudah menggarap film anak-anak. Pertama, imajinasi boleh seluas-luas dan setinggi-tingginya tetapi tetap dibatasi oleh pola pikir yang tidak sedalam orang dewasa dan juga batasan-batasan moral yang harus diperhatikan. Kedua, target audience anak-anak memiliki rentang usia yang panjang dengan lompatan pola pikir dan perilaku  yang cukup jauh. Misalnya saja saya bagi dalam dua kategori usia, anak kelompok kelas 1-3 SD memiliki pola pikir dan perilaku yang sudah berbeda jauh dengan anak kelompok kelas 4-6 SD. Apa yang dianggap keren oleh anak kelas 1-3 malah dianggap terlalu polos (baca : cupu) oleh anak kelas 4-6. Belum lagi akibat cukup lama kekurangan hiburan yang sesuai dengan usia mereka dan mau tidak mau nebeng dengan kategori remaja memaksa anak-anak saat ini untuk berpikir dan bertingkah laku lebih dewasa daripada yang seharusnya. Jadi, produsen harus spesifik menentukan segmen usia dan Maxima memilih menggarap Brandal-Brandal Ciliwung (BBC) untuk lebih bisa dinikmati oleh anak–anak kelas 4-6 SD, berbeda dengan 5 Elang atau Ambilkan Bulan yang lebih cocok untuk anak-anak kelas 1-3 SD.

Keputusan meletakkan tema pluralisme hanya sebagai identitas karakter semata saya rasa cukup tepat karena anak-anak lebih mudah menangkap pesan tersebut dengan kesan “keren yah punya gank yang isinya berbeda-beda seperti itu” ketimbang mengangkatnya sebagai sebuah problem utama yang justru tidak menarik bagi anak-anak. Toh, seberapa besar sih perbedaan etnis dan agama menjadi problem bagi anak-anak kalau belum dikontaminasi oleh media dan lingkungan sekitarnya yang cenderung homogen? Untungnya Maxima memilih persahabatan yang lebih general sebagai premis utamanya. Unsur percintaan juga diselipkan sebagai pemanis, namun tentu saja dengan porsi sebatas taksir-taksiran, tidak sampai pada tahap “pacaran”, sesuai dengan tingkat usia mereka.


Film anak-anak (apalagi film Indonesia) pasti tak lepas dari “pesan moral” yang seringkali ditampilkan secara eksplisit sehingga terkesan sangat pretensius. Apa daya, akibat banyaknya film-film Indonesia yang mengabaikan “pesan moral” membuat orang tua lebih menuntut hal tersebut di film-film yang ditonton oleh anaknya. Well, I like the way BBC menyampaikan pesan moralnya yang cukup banyak itu dengan terselubung dan cukup elegan. Misalnya pesan persahabatan multi-etnis dan agama yang digambarkan sebagai sesuatu yang keren, pesan pentingnya menjaga kebersihan kali yang disampaikan dengan menyindir (baca: mengejek) kali di Jakarta kota, keberanian yang wajar dan rasional, kebandelan yang disertai dengan prestasi, dan tentu saja pentingnya arti persahabatan yang membuat saya berpikir, “asyik yah punya gank seperti itu”. Sungguh, sebuah gambaran persahabatan anak yang ideal. Tak ada yang salah dengan hal tersebut, toh Hollywood juga sangat sering memberikan gambaran propagandis seperti itu di film-filmnya dan terbukti cukup efektif “menginspirasi” penontonnya, terutama generasi muda.

Namun sayang sekali penulis naskah memberi porsi yang terlalu banyak untuk berbagai subplot problematika keluarga masing-masing karakter utama sehingga cukup mengganggu kelancaran alur cerita, menyamarkan fokus cerita, dan terkesan bertele-tele di banyak bagian. Menurut saya porsi yang paling pas adalah subplot Raja yang dipaksa untuk belajar menyanyi. Bandingkan dengan porsi subplot trauma yang dialami engkong Sissy, belum lagi ditambah konflik Sissy dengan mamanya yang janda hendak menikah lagi dengan bule, membuat porsi problematika Sissy terasa terlalu berlebihan dan “sinetron banget”. Well, mungkin ini bukan menjadi masalah  bagi anak-anak jaman sekarang yang terlanjur akrab dengan gaya sinetron seperti itu. Penampilan Sissy dengan pakaian cheongsam-nya juga terasa sebagai atribut etnis yang berlebihan, apalagi karakternya cenderung tomboi. Mungkin masih wajar ketika adegan pesta tahu, tetapi menjadi aneh ketika dikenakan sehari-hari (ketika Sissy mengantar minuman untuk teman-temannya yang sedang belajar Tai Chi).

Terakhir, klimaks cerita ketika pertandingan balap getek turut kurang digarap dengan maksimal sehingga terkesan kurang seru dan lewat begitu saja tanpa kesan apa-apa. Untung saja endingnya cukup membuat tersenyum dan jauh dari ke-klise-an ala sinetron yang dipaksa mengharu-biru. Anyway, BBC dibuat murni sebagai hiburan yang ceria. Ada sih momen-momen yang mengharukan tetapi (untungnya) tidak sampai terjerumus menjadi tear-jerker yang berlebihan dan lebih baiknya lagi tidak menjadikan masalah finansial (baca : kemiskinan) dan kemalangan-kemalangan karakter sebagai sumber penguras air mata.

Selebihnya, BBC cukup menghibur dan berkesan bagi saya berkat production value-nya. Mama dan adik saya yang kebetulan kelas 4 SD juga sangat menikmatinya. Bahkan Mama berpendapat ini adalah film anak Indonesia terbagus yang pernah disaksikannya di bioskop akhir-akhir ini.

The Casts

Selepas kesuksesan aktingnya menghidupkan karakter psikopat cilik di The Perfect House, Endy Arfian kembali mengisi peran utama dengan karakter yang lebih sesuai dengan usianya. Walau harus diakui peran Jaka yang anak Betawi sangat tidak cocok dengan fisiknya yang sangat bule, ia cukup baik menghidupkan karakternya secara personal, terutama kharisma sebagai ketua gank dan kelabilannya dalam menghadapi problematika kehidupannya. Begitu juga dengan Gritte Agatha yang tampil baik dalam menyeimbangkan sisi tomboinya dengan kerapuhannya sebagai anak yang ibunya hendak menikah lagi. Sementara karakter-karakter anak lainnya yang diisi oleh Julian Liberty, Sehan Zack, Aldy Rialdy Indrawan, dan M Syafikar, tampil menghibur dan cukup berkesan berkat keunikan masing-masing karakter yang dituliskan skenario. 

Sementara pemeran-pemeran pendukung yang lebih punya nama, seperti Ira Wibowo, Hengky Solaiman, Idrus Madani, Olga Lidya, dan Lukman Sardi, turut memberikan performa yang sangat baik sesuai dengan porsi masing-masing.

Technical

Seperti produksi-produksi Maxima Pictures sebelumnya, teknis mendapat perhatian yang tidak main-main terutama dari segi sinematografi. Berbagai angle tak biasa, termasuk teknik fish-eye untuk gambar latar masjid di tepi Sungai Ciliwung, menghiasi sepanjang film. Belum lagi setting lokasi yang indah, terutama rumah Babah Alun (Engkong Sissy) dan markas Pasukan Ciliwung.

Score dan music menjadi elemen yang sangat mendukung suasana ceria dan terkadang serunya film dan patut diberi kredit lebih atas keberhasilan mencapai tujuannya. Apalagi theme song Kupu Biru oleh Slank yang catchy. Sound department bekerja dengan baik dengan keseimbangan antara suara music, dialog, dan sound effect yang disalurkan melalui kanal-kanal studio yang ada. Namun saya terganggu dengan suara narasi oleh karakter Tirto yang terdengar dari setiap kanal yang ada sehingga terdengar dobel.

The Essence

Kali ini saya mengambil tiga quote dialog dari BBC yang cukup mewakili esensi cerita persahabatan para Pasukan Ciliwung. Silahkan disimpulkan sendiri :).

Lihat situs resmi film ini.






Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates