Thursday, July 26, 2012

The Jose Movie Review
The Three Stooges

Overview

Terkenal sebagai serial TV dan film layar lebar di tahun 1930'an hingga 1970'an, The Three Stooges (TTS) menjadi legenda komedi slapstick dan fisik. Salah satu kelompok komedi yang terkenal di Indonesia, Warkop DKI, bisa jadi terinspirasi oleh trio Moe, Larry, dan Curly. Saya sendiri belum pernah menyaksikan secara langsung seperti apa karya TTS karena saya dibesarkan di era 90'an. Tapi trend komedi seperti ini masih booming pada era 90'an jadi saya memiliki gambaran seperti apa yang akan saya saksikan di versi 2012-nya ini.
Banyak sekali review negatif yang beredar di berbagai situs film luar. Tanpa ekspektasi apa-apa, saya masih tertarik untuk menyaksikannya karena jujur saya merindukan tipikal komedi seperti ini. Apalagi ternyata digarap oleh sutradara komedi favorit saya, The Farrelly Brothers, yang terkenal lewat Dumb and Dumber, There's Something About Mary dan Me, Myself & Irene. Sempat flop di berbagai film, tapi saya yakin mereka masih memiliki energi segar dalam menggarap karya komedi.
Well, I found nothing bad like people said about this movie. In matter of fact, it's a pretty good one. Memang sih komedi fisiknya sudah tidak mampu lagi membuat saya tertawa, tapi TTS masih menawarkan berbagai macam komedi lainnya. Beberapa guyonan slapstick-nya masih memancing tawa saya. Begitu pula guyonan-guyonan khas Farrelly Brothers, termasuk plesetan kata dan parodi. Tak hanya yang bodoh, tapi yang cerdas juga dihadirkan di sini. Farrelly yang juga selaku penulis naskah mampu mem-blend aneka jenis guyonan ke dalam satu paket yang sangat menghibur, termasuk untuk anak-anak dengan dampingan orang tua. Yang membuat terganggu mungkin ada sedikit guyonan fisik yang kelewat sadis.
Saya harus memuji skripnya yang dibuat dengan sederhana, mungkin malah predictable, tapi memiliki alur yang lancar, sama sekali tidak terasa dragging. Farrelly Brothers pun masih piawai dalam mengarahkan serta menyusun adegan kejar-kejaran menjadi terasa seru dan tentu saja kocak. They still haven't lost their magical touch.
Actually nothing's wrong about physical farce and slapstick, tergantung siapa dan bagaimana yang membawakannya. Luckily, Trio Moe, Larry, dan Curly versi Farrelly Brothers ini cukup baik mengisi perannya. Jika banyak orang saat ini tidak menyukai di TTS bukan karena filmnya buruk, tetapi mereka yang tidak bisa menikmati humor-humor fisik dan slapstick. They just hated it even before watching the movie. Memang TTS bukanlah film komedi terbaik atau terlucu tahun ini, tetapi juga jauh dari buruk. At least, bagi saya TTS masih sangat menghibur dan masih memiliki hati yang cukup membuat saya tersenyum bahagia.

The Casts

Sean Hayes, Will Sasso, dan Chris Diamantopoulus yang selama ini lebih banyak berkecimpung di aneka TV show mengisi peran trio Stooges dengan sangat baik, terutama Diamantopoulus yang mengingatkan saya dengan karakter Lloyd di Dumb and Dumber. Mungkin Sasso yang kurang tampak dungu untuk karakter Curly.
Selain mereka bertiga, Sofia Vergara menjadi daya tarik sendiri, baik dari segi sex appeal maupun comedic. Bagi yang terkesan dengan logat unik nan jenakanya di The Smurfs dan New Year's Eve, pasti tahu apa yang saya maksud. She's still hillarious here. Bagi penggemar reality show Jersey Shore bisa puas dengan kehadiran para pemerannya, termasuk Snooki. Jane Lynch dari Glee dan Jennifer Hudson pun turut mengambil bagian sebagai suster-suster biarawati.

Technical

Hal menarik dari TTS adalah suasana vintage, baik dari segi tone warna, setting tempat, kostum, maupun efek suara, padahal setting waktunya jelas-jelas era 2000'an. Membuat saya merasa seperti sedang menyaksikan film era 70-80'an, setting waktu yang sesuai dengan tipikal komedi seperti ini. A good effort on making a tribute to the original.

The Essence

Kebahagiaan adalah soal persepsi, tidak ada parameter yang sama untuk semua orang. Bagi anak-anak panti asuhan tempat trio Stooges dibesarkan mungkin diadopsi oleh sebuah keluarga menjadi impian yang membawa kebahagiaan bagi mereka. Padahal kebahagiaan ternyata bisa saja ditemukan di mana saja selama bersama-sama orang yang nyaman dengan kita, tak terkecuali di panti asuhan. That's where happiness is.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates