Wednesday, July 25, 2012

The Jose Movie Review
Ice Age 4 - Continental Drift

Overview

Ice Age (IA) bisa jadi salah satu franchise animasi Fox terbesar setelah The Simpsons. Tak heran hingga installment ketiga pun masih menghasilkan uang yang sangat banyak dan terlihat masih belum kelelahan dalam menggali cerita. So, why not continuing it? So this is it, the fourth installment of the IA franchise on the movie screen.

Saya pribadi sangat menikmati installment terakhir (ketiga) yang mana disajikan pertama kali dalam format 3D. In matter of fact, I remember that was my first 3D experience in a theatre. Menurut saya, installment ketiga adalah bagian yang paling seru, menggelitik, dan dengan efek 3D yang sangat memanjakan mata. Sayang apa yang sudah dicapai tersebut tidak mampu dilanjutkan oleh installment ke-empat ini.

Melihat adegan pembuka yang ternyata sama persis seperti teaser trailer yang sudah dirilis tahun lalu, saya sudah curiga kalau Ice Age 4 : Continental Drift (IACD) bakalan menjadi sebuah karya yang dikerjakan dengan terburu-buru (terutama dalam hal penulisan skrip). In my opinion, IACD melakukan hal sama yang dilakukan Kungfu Panda 2 tahun lalu; terlalu tergesa-gesa dalam bertutur sehingga pada akhirnya tidak banyak yang dapat diingat oleh penonton seusai menonton. Cukup disayangkan, padahal premise cerita dan plot yang ditawarkan sebenarnya sangat menarik untuk diangkat, baik mengenai fakta geologis pergeseran benua (I like how IA always put the geological event in every installment), subplot bajak laut, maupun social issue antar karakternya.

Don’t get me wrong, ada cukup banyak momen menarik dan menggelitik dari karakter-karakternya, seperti Peaches, putri Manny dan Ellie yang tengah beranjak remaja, Diego yang akhirnya punya cukup banyak porsi, Sid dan Granny-nya, serta tentu saja Scrat yang selalu mampu mencairkan suasana di kondisi segaring apapun. Namun dengan eksekusi yang terasa kurang begitu mengena, semuanya harus berakhir hanya sekedar sebagai hiburan instan sesaat dan mudah dilupakan selepas keluar dari gedung teater. Untung kali ini diselipkan beberapa lagu untuk menambah nilai hiburan dan delivering some moments. Tak rugi lah menyewa beberapa penyanyi yang sedang naik daun untuk mengisi voice talent karakter-karakter baru.

As an extra point, short film pembuka Maggie Simpson The Longest Daycare actually tampil lebih mengesankan ketimbang main feature-nya sendiri. Plus, it looked very impressive in 3D. I hope they’re preparing a new The Simpsons movie in 3D.

The Casts

Selain formasi originalnya, ada beberapa karakter baru yang tentu saja berarti bakal ada voice talents baru yang mengisi installment keempat ini. My favorite will be on Wanda Sykes yang mengisi suara Sid’s Granny. Pengalaman menjadi voice talent di berbagai film animasi sebelumnya (Over the Hedge, Barnyard, Brother Bear 2, dan Rio) menjadi bekal yang cukup baginya untuk menghidupkan karakter yang memang sudah menarik ketika ditulis.

Beberapa musisi yang sedang naik daun mengisi berbagai karakter baru dengan cukup baik dan menyegarkan, mulai Keke Palmer (Peaches), Jennifer Lopez (Shira), Nicki Minaj (Steffie), dan Drake (Ethan).

Technical

Dari installment ke installment, terlihat berbagai perkembangan dari detail animasinya. Saya terkesan dengan detail bulu karakter-karakter, air, dan pasir yang tampak begitu nyata.

Sound effect yang dihadirkan cukup menggelegar seperti suara badai dan deburan air. Efek surround juga terdengar dimanfaatkan secara maksimal di beberapa adegan.

Music score yang tak jauh berbeda dengan installment-installment sebelumnya masih mampu menghidupkan berbagai adegan seru. Tak lupa single We Are di akhir film yang lebih mampu menerjemahkan rasa kebersamaan para karakter ketimbang adegan-adegan yang ada sebelumnya, a very good one.

Untuk versi 3D-nya, well… depth of fieldnya lumayan terlihat dan tak banyak pop-out gimmick. Cukup terasa di awal namun tak banyak terasa di pertengahan hingga akhir film. Comparing to the previous installment, the 3D effects here were just a little below.

The Essence

Ada dualisme tentang keluarga yang disampaikan di installment keempat ini. Yang satu mengajarkan bahwa betapa buruknya keluarga yang kita miliki, they want the best for us. Hal ini terwakili oleh hubungan Peaches yang beranjak remaja dengan Manny yang overprotective. Namun keluarga Sid justru memperlihatkan keadaan keluarga yang bakal melakukan hal apapun untuk menyingkirkan anggotanya yang dirasa mengganggu. Sebuah kontras yang cukup menarik sekaligus membuat saya heran. Apa yang ingin disampaikan kepada penonton-penonton ciliknya (sebagai target audience utama) tentang keluarga? Well, at least Sid masih punya “hati” untuk keluarga satu-satunya yang dia anggap dan yang memang pantas disebut keluarga, sang Granny. That’s what family do and should be, isn’t that?


Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates