Tuesday, July 3, 2012

The Jose Movie Review
W.E.

Overview

Jika Anda pernah menonton The King’s Speech yang tahun 2011 lalu memenangkan Best Picture di ajang Academy Awards, tentu Anda ingat bahwa King George VI yang gagap menjadi kepala kerajaan monarki Inggris setelah sang kakak, Prince Edward VIII, menyerahkan takhtanya untuk menikahi janda asal Amerika Serikat, Wallis Simpson. Nah, W.E. adalah film yang secara khusus menceritakan kisah cinta Prince Edward dan Wallis Simpson dari sudut pandang Wallis. Lahir dari tangan ratu kontroversi legendaris, Madonna, yang tak hanya bertindak sebagai sutradara tapi juga menjadi salah satu penulis naskahnya, W.E. adalah film dengan premise yang sangat menarik.

W.E. tidak secara langsung bertutur tentang kehidupan Wallis Simpson, tetapi melalui interpretasi dari benak seorang pengagumnya yang bahkan memiliki nama depan yang sama, Wallis Winthrop. Tak hanya itu, kehidupan Simpson tak pelak ikut mempengaruhi pandangan Winthrop tentang relationship, terlebih ketika hubungannya dengan sang suami mulai goyah. Gaya penceritaannya mirip dengan The Hours yang bahkan menampilkan tiga karakter dari masa yang berbeda-beda namun saling berkorelasi.

Di awal film, W.E. agak membingungkan dalam menampilkan kehidupan Simpson dan Winthrop, apalagi nama depannya sama. Untungnya, sejalan dengan durasi semakin jelas perbedaan rentang waktunya. Namun sayang, skrip belum mampu merangkai kedua cerita paralel ini menjadi kesatuan yang padu, serasi, dan terasa berkorelasi. Malah mungkin beberapa penonton akan berpikir kisah kehidupan Winthrop justru mengganggu keindahan alur cerita tentang Simpson. Jika mau membuat plot yang unik atau membuat dalih bahwa penggambaran kisah Simpson di sini hanyalah ada di benak Winthrop, rasanya tidak perlu sampai sejauh itu menggali kehidupan asmara Winthrop. Toh, maksud utama untuk mengkorelasikan pengaruh Simpson terhadap relationship Winthrop ternyata tidak tercapai dengan cukup kuat.

Ada banyak plot yang tidak dijelaskan atau kurang dalam yang sebenarnya membuat keseluruhan cerita menjadi menarik, misalnya tentang affair William, suami Wallis Winthrop, alasannya apa dan dengan siapa saja, atau bagaimana dilema antara Wallis Simpson dan suaminya, Ernest yang harus di-“tengah”-i oleh Prince Edward.

Di luar kurang kuatnya skrip dan penataan alur yang kurang rapi untuk bisa dinikmati dengan enak, karya debut Madonna ini sesungguhnya jauh dari kata buruk. Memang kemampuan menulis naskah yang kuat masih perlu diasah lagi namun melihat karya tulisnya dalam bentuk dongeng anak-anak, setidaknya ia tahu bagaimana menerjemahkan buah pikirannya menjadi alur cerita dan visualisasi yang menarik. That’s a good start.

The Casts

Sudut pandang cerita yang diletakkan pada karakter Wallis Simpson membuat penampilan Andrea Riseborough menjadi sorotan utama. Beruntung ia berhasil menghidupkan karakter ini sehingga simpati penonton dapat dengan mudah diraih olehnya.

Abbie Cornish (Wallis Winthrop) tampil biasa saja. Bukan karena aktingnya yang buruk, namun naskah tidak begitu banyak memberikan porsi bagi karakternya untuk “bicara” lebih banyak. Sementara di lini supporting actor, James D’Arcy (Prince Edward) dan Oscar Isaac (Evgeni) mengisi perannya sesuai porsinya.

Technical

Sejak awal terlihat sekali sisi artistik digarap dengan sangat serius. Detail kostum, properti, set, serta make-up yang luar biasa.

Selain score ala Eropa, satu hal yang saya apresiasi dari soundtracknya adalah keberaniannya dalam memasukkan musik modern seperti Pretty Vacant milik Sex Pistols untuk mengiringi adegan bersetting tahun 1930-an. Unique and very alive.

The Essence

Sejarah mencatat Wallis Simpson adalah karakter antagonis yang menyebabkan Prince Edward sampai rela melepaskan takhtanya. Apalagi statusnya yang sudah dua kali bercerai, bahkan pernikahannya yang kedua dengan Ernest masih dalam keadaan baik-baik saja ketika Prince Edward mulai masuk dalam kehidupannya. Image yang tidak baik tentu langsung dicapkan pada dirinya. W.E. mengajak penonton melihat sudut yang berbeda; apa yang sebenarnya dirasakan oleh Wallis Simpson sendiri.

Sama seperti Simpson, media yang juga mempengaruhi pola pikir publik tentang orang-orang di sekitarnya seringkali mudah menjatuhkan vonis terhadap seseorang dari sudut pandangnya sendiri. Padahal publik belum tentu tahu apa yang sebenarnya terjadi atau dirasakan oleh orang tersebut. Entah kenapa manusia memang cenderung suka men-judge orang lain. Maybe that’s what they want to see, that perfection doesn’t exist. Maybe something to cover their own imperfection.

Di sisi lain, kesempurnaan memang tidak pernah ada. Kisah cinta ala princess yang happily ever after hanyalah fantasi semata. Wallis Winthrop yang awalnya mempercayai indahnya hubungan Wallis Simpson dan Prince Edward harus belajar bahwa itu semua tidak sesempurna kelihatannya. Banyak kepedihan yang dialami terutama oleh Simpson dalam perjalanan happily ever after tersebut. Yang paling penting, how you can cope with every imperfections in life.


Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates