Sunday, July 8, 2012

The Jose Movie Review
Cinta di Saku Celana

Overview

Fajar Nugros adalah salah satu penulis, baik skenario maupun cerpen, yang karya-karyanya sangat menjanjikan. Setelah debut perdananya lewat Queen Bee, kini ia mencoba lagi duduk di kursi sutradara dengan mengangkat cerpen yang ia tulis sendiri ke layar lebar.
Cinta di Saku Celana (CSC) tidak menitik beratkan cerita cinta pada romantisme hubungan antara pria dan wanita. Ia mengangkat bagaimana awal proses cinta terjadi pada empat tipe manusia : yang cerdas, pintar, licik, dan yang beruntung. Bukan proses yang mudah karena pada nyatanya banyak yang belum mampu (baca : belum punya keberanian) untuk melakukannya. Sebuah premise yang sederhana dan pasti dialami oleh setiap orang, namun Nugros merangkainya serta menyajikannya dengan cara yang sangat menarik, unik, dan sangat menghibur.
Daya tarik utama yang membuat saya jatuh cinta dengan CSC adalah gaya penuturannya yang masih dalam konteks real namun dibubuhkan metafora-metafora baik secara verbal (dialog) maupun visual (adegan). Jangan kuatir alurnya menjadi berat untuk diikuti, karena sejak awal justru aura fun, fresh, dan quirky begitu kuat terasa. Diperkaya dengan editing yang dinamis dan terkadang tricky, membuat saya betah untuk mengikuti alurnya hingga akhir film. Semakin ke belakang, film menyuguhkan alur tak biasa dan cukup rapi dengan menghadirkan karakter-karakter lain yang membawa kejutan-kejutan kecil dan memperkaya cerita. Karakter-karakter pendukung ini tidak perlu berkembang terlalu banyak karena perannya hanya untuk mendukung perkembangan karakter utama. Pun demikian setiap penampilnya membawa kesan tersendiri. Gaya bercerita ini mengingatkan saya pada karya-karya orisinal Guy Ritchie seperti Lock, Stock & Two Smoking Barrels, Snatch, dan Rock N' Rolla. I found it very enjoyable and fun.
Humor cerdas dan tidak terkesan norak pun disebar di berbagai adegan yang berhasil menghidupkan film. Tidak membuat terlalu terbahak-bahak, namun tetap menghibur dan memorable, terutama bila anda berasal dari Jawa Timur dan mengerti cablakan-cablakannya.
Walau porsi romance-nya tidak begitu banyak, ending ala (500) Days of Summer sudah cukup membuat saya tersenyum bahagia dan puas. Yes, Nugros menutup ceritanya dengan sangat manis. Membuat jomblo mana pun yang menyaksikannya kembali bersemangat untuk berani mendekati cintanya, tidak hanya menyimpannya di saku belakang celana.

The Casts

Sebagai aktor utama, Donny Alamsyah berhasil menghidupkan karakternya menjadi lovable. Pemuda baik-baik yang berani melawan preman tapi malah takut mendekati cinta. Sisi comedic-nya pun terkuak keluar setelah image-nya selama ini yang lebih banyak bermain serius. Hal sama juga terjadi dengan Dion Wiyoko dimana image-nya di Serigala Terakhir berhasil diputar balikkan lewat karakter Gifar yang tak kalah lucunya.
Di lini karakter pendukung, Ramon Y. Tungka, Gading Marten, Joanna Alexandra, Lukman Sardi, dan Enditha, cukup menghidupkan peran masing-masing sesuai dengan porsinya. Untuk screen stealernya, tentu saja Pricillia Tanamal yang berperan sebagai ibu kost yang flirty.

Technical

Untuk film Indonesia, CSC sangat mumpuni secara teknis. Selain sinematografinya yang berhasil menyulap sisi kumuh kota Jakarta terlihat lebih menarik, pencahayaan yang pas juga memperkaya gambar menjadi tajam dan lebih berwarna. Sound effect dan efek surround dimanfaatkan secara maksimal. Dialog-dialog terdengar dengan jelas dan dengan proporsi yang pas dengan sound effect-nya.
Unsur menarik lain dari CSC adalah pemilihan settingnya yang tak banyak dijamah sinema Indonesia saat ini dan ditampilkan dengan hidup seolah masih menjadi bagian penting dari kehidupan kota Jakarta : kantor pos dan komuter. Kehadiran bioskop kelas bawah yang HTM-nya cuma lima ribu rupiah dan filmnya lawas banget (kalau tidak salah itu Wishmaster yah?!) turut mewarnai sisi artistik film.
Kredit tersendiri layak disematkan untuk score yang semakin memperkuat adegan-adegan jahil menjadi menghibur dan terkesan berkelas. Sekali lagi saya teringat gaya film-film Ritchie. Begitu pula dengan music-music dari Slank dan Abbay Messi yang fit in dengan keseluruhan aura film. Love it!

The Essence

Everything in this world needs its first step to start, tak terkecuali dalam hal cinta. Masalahnya, kebanyakan orang tidak punya cukup keberanian untuk memulainya. Jangankan mengungkapkan cinta, memulai conversation dengan orang yang ditaksirnya saja masih takut. Some people did extreme ways they could handle just to show their efforts. Tapi segala usaha tersebut menjadi percuma jika tidak berani melakukan hal yang paling sederhana : get straight to it. Hal itulah yang membuat orang menjadi layak untuk mendapatkan cinta, bukan tampang, popularitas, atau kekayaan.
In fact, bahkan jika Anda mempunyai kelebihan dari ketiga hal yang saya sebutkan sebelumnya, Anda masih harus menghadapi “saat penentuan” tersebut, sama dengan orang-orang yang tidak memilikinya. So, daripada terus menyimpan cinta di dalam saku celana, lebih baik mendekatinya sebelum dicopet orang lain, apapun hasilnya kelak.



Lihat data film ini di IMDB.
Lihat situs resmi film ini.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates