It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Tuesday, July 31, 2012

1st Anniversary Special
The Jose Movie Kaleidoscope










1 Agustus merupakan tanggal yang istimewa bagi The Jose Movie Review karena post review film ala Vincent Jose pertama di-posting pada tanggal tersebut di tahun 2011. Semenjak itu ada banyak sekali film dari berbagai negara, genre, dan membawa penonton ke pengalaman yang beragam di-review. Banyaknya ragam film yang di-review di The Jose Movie Review sesuai dengan tujuan utama saya : menunjukkan bahwa di luar sana ada banyak sekali varian film yang berbeda dengan style standard Hollywood yang menjadi sajian utama sehari-hari bagi most of our society. Saya sendiri sih sudah cukup bosan dengan gaya Hollywood yang begitu-begitu saja, hanya main beda di special effect. Ada banyak sekali keindahan film di luar sana jika kita mau membuka mata, pikiran, dan hati seluas-luasnya.

Selain varian film yang di-review, The Jose Movie Review mencoba membedah film dengan 4 standard : film secara keseluruhan (Overview), pemeran (The Casts), teknis (Technical), dan esensi (The Essence). Standard seksi ini saya dasarkan pada pemikiran saya tentang aspek-aspek penting yang membangun sebuah film. It's not just it's good or it's ugly.

Sepanjang satu tahun ini, ada banyak perubahan yang terus dilakukan The Jose Movie Review baik dari segi content, feature, maupun design demi menghasilkan pengalaman membaca review film yang lebih baik. Memperluas wawasan sambil menikmatinya. So, let's see how The Jose Movie Review has improved for the past one year.

Ini dia the very first post of The Jose Movie Review sekaligus menandai film mainstream Hollywood pertama yang diputar kembali setelah polemik pajak film impor di Indonesia. Selain sebagai review pertama, Harry Potter and the Deathly Hallows Part II sekaligus menjadi film pertama yang mendapatkan rating 4.5/5 dari The Jose Movie Review.


Film animasi 3D keluaran Paramount-Nickelodeon yang batal tayang di bioskop Indonesiai ini berhasil menjadi film pertama yang mendapatkan rating 4/5 di The Jose Movie Review.







Just Go with It, film drama komedi dari Adam Sandler ini menjadi penanda munculnya judul film pada main post banner di The Jose Movie Review, sekaligus menjadi film pertama yang mendapatkan rating 3/5.







Installment ketiga dari franchise Transformers ala Michael Bay ini menjadi film pertama yang mendapat rating 2/5 dari The Jose Movie Review.









Battle : Los Angeles adalah film pertama yang mendapatkan rating 3.5/5 di The Jose Movie Review.











Ini dia film nasional pertama yang di-review di The Jose Movie Review. 5 Elang mendapatkan rating 3.5/5.










Film dari Cameron Diaz yang tidak tayang di bioskop Indonesia ini adalah film pertama yang mendapatkan rating 2.5/5 dari The Jose Movie Review.








Untuk pertama kalinya The Jose Movie Review membagi review ke dalam empat seksi : Overview, The Casts, Technical, dan The Essece, sesuai dengan empat aspek penting yang membangun sebuah film menjadi sebuah pengalaman tersendiri bagi penonton. Dream House yang dibintangi Daniel Craig dan Rachel Weisz mendapatkan kehormatan tersebut.


Rival terkuat The Artist di ajang Academy Awards 2011 lalu ini berhasil membuat saya katarsis dengan unsur sejarah film-nya. Tak heran saya berani memberikan rating 5/5 pertama untuk Hugo besutan sutradara legendaris Hollywood, Martin Scorsese.





Quote banner, yang saat ini menjadi salah satu fitur favorit di The Jose Movie Review pertama kalinya dibubuhkan untuk review sebuah feel-good movie bertajuk The Best Exotic Marigold Hotel yang dibintangi oleh aktor-aktor Inggris berusia di atas 40 tahun. Sebuah film yang sangat pas untuk memulai tradisi quote banner.



Ada beberapa film yang memiliki lebih dari satu quote bagus di dalamnya. Tak heran terkadang The Jose Movie Review merasa perlu untuk mengabadikannya dalam bentuk quote banner. The Dark Knight Rises, penutup hikayat Batman ala Christopher Nolan adalah film yang membuka mata dan berhasil membuat saya membuat quote banner lebih dari satu untuk sebuah judul film pertama kalinya.

Demikian sejarah perubahan-perubahan yang terjadi pada The Jose Movie Review selama setahun terakhir. Tentu saja perubahan-perubahan akan terus dilakukan ke depannya demi kepuasan menikmati review-review film. That's been my commitment. Lihat saja nanti! ;)
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, July 26, 2012

The Jose Movie Review
The Three Stooges

Overview

Terkenal sebagai serial TV dan film layar lebar di tahun 1930'an hingga 1970'an, The Three Stooges (TTS) menjadi legenda komedi slapstick dan fisik. Salah satu kelompok komedi yang terkenal di Indonesia, Warkop DKI, bisa jadi terinspirasi oleh trio Moe, Larry, dan Curly. Saya sendiri belum pernah menyaksikan secara langsung seperti apa karya TTS karena saya dibesarkan di era 90'an. Tapi trend komedi seperti ini masih booming pada era 90'an jadi saya memiliki gambaran seperti apa yang akan saya saksikan di versi 2012-nya ini.
Banyak sekali review negatif yang beredar di berbagai situs film luar. Tanpa ekspektasi apa-apa, saya masih tertarik untuk menyaksikannya karena jujur saya merindukan tipikal komedi seperti ini. Apalagi ternyata digarap oleh sutradara komedi favorit saya, The Farrelly Brothers, yang terkenal lewat Dumb and Dumber, There's Something About Mary dan Me, Myself & Irene. Sempat flop di berbagai film, tapi saya yakin mereka masih memiliki energi segar dalam menggarap karya komedi.
Well, I found nothing bad like people said about this movie. In matter of fact, it's a pretty good one. Memang sih komedi fisiknya sudah tidak mampu lagi membuat saya tertawa, tapi TTS masih menawarkan berbagai macam komedi lainnya. Beberapa guyonan slapstick-nya masih memancing tawa saya. Begitu pula guyonan-guyonan khas Farrelly Brothers, termasuk plesetan kata dan parodi. Tak hanya yang bodoh, tapi yang cerdas juga dihadirkan di sini. Farrelly yang juga selaku penulis naskah mampu mem-blend aneka jenis guyonan ke dalam satu paket yang sangat menghibur, termasuk untuk anak-anak dengan dampingan orang tua. Yang membuat terganggu mungkin ada sedikit guyonan fisik yang kelewat sadis.
Saya harus memuji skripnya yang dibuat dengan sederhana, mungkin malah predictable, tapi memiliki alur yang lancar, sama sekali tidak terasa dragging. Farrelly Brothers pun masih piawai dalam mengarahkan serta menyusun adegan kejar-kejaran menjadi terasa seru dan tentu saja kocak. They still haven't lost their magical touch.
Actually nothing's wrong about physical farce and slapstick, tergantung siapa dan bagaimana yang membawakannya. Luckily, Trio Moe, Larry, dan Curly versi Farrelly Brothers ini cukup baik mengisi perannya. Jika banyak orang saat ini tidak menyukai di TTS bukan karena filmnya buruk, tetapi mereka yang tidak bisa menikmati humor-humor fisik dan slapstick. They just hated it even before watching the movie. Memang TTS bukanlah film komedi terbaik atau terlucu tahun ini, tetapi juga jauh dari buruk. At least, bagi saya TTS masih sangat menghibur dan masih memiliki hati yang cukup membuat saya tersenyum bahagia.

The Casts

Sean Hayes, Will Sasso, dan Chris Diamantopoulus yang selama ini lebih banyak berkecimpung di aneka TV show mengisi peran trio Stooges dengan sangat baik, terutama Diamantopoulus yang mengingatkan saya dengan karakter Lloyd di Dumb and Dumber. Mungkin Sasso yang kurang tampak dungu untuk karakter Curly.
Selain mereka bertiga, Sofia Vergara menjadi daya tarik sendiri, baik dari segi sex appeal maupun comedic. Bagi yang terkesan dengan logat unik nan jenakanya di The Smurfs dan New Year's Eve, pasti tahu apa yang saya maksud. She's still hillarious here. Bagi penggemar reality show Jersey Shore bisa puas dengan kehadiran para pemerannya, termasuk Snooki. Jane Lynch dari Glee dan Jennifer Hudson pun turut mengambil bagian sebagai suster-suster biarawati.

Technical

Hal menarik dari TTS adalah suasana vintage, baik dari segi tone warna, setting tempat, kostum, maupun efek suara, padahal setting waktunya jelas-jelas era 2000'an. Membuat saya merasa seperti sedang menyaksikan film era 70-80'an, setting waktu yang sesuai dengan tipikal komedi seperti ini. A good effort on making a tribute to the original.

The Essence

Kebahagiaan adalah soal persepsi, tidak ada parameter yang sama untuk semua orang. Bagi anak-anak panti asuhan tempat trio Stooges dibesarkan mungkin diadopsi oleh sebuah keluarga menjadi impian yang membawa kebahagiaan bagi mereka. Padahal kebahagiaan ternyata bisa saja ditemukan di mana saja selama bersama-sama orang yang nyaman dengan kita, tak terkecuali di panti asuhan. That's where happiness is.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, July 25, 2012

The Jose Movie Review
Ice Age 4 - Continental Drift

Overview

Ice Age (IA) bisa jadi salah satu franchise animasi Fox terbesar setelah The Simpsons. Tak heran hingga installment ketiga pun masih menghasilkan uang yang sangat banyak dan terlihat masih belum kelelahan dalam menggali cerita. So, why not continuing it? So this is it, the fourth installment of the IA franchise on the movie screen.

Saya pribadi sangat menikmati installment terakhir (ketiga) yang mana disajikan pertama kali dalam format 3D. In matter of fact, I remember that was my first 3D experience in a theatre. Menurut saya, installment ketiga adalah bagian yang paling seru, menggelitik, dan dengan efek 3D yang sangat memanjakan mata. Sayang apa yang sudah dicapai tersebut tidak mampu dilanjutkan oleh installment ke-empat ini.

Melihat adegan pembuka yang ternyata sama persis seperti teaser trailer yang sudah dirilis tahun lalu, saya sudah curiga kalau Ice Age 4 : Continental Drift (IACD) bakalan menjadi sebuah karya yang dikerjakan dengan terburu-buru (terutama dalam hal penulisan skrip). In my opinion, IACD melakukan hal sama yang dilakukan Kungfu Panda 2 tahun lalu; terlalu tergesa-gesa dalam bertutur sehingga pada akhirnya tidak banyak yang dapat diingat oleh penonton seusai menonton. Cukup disayangkan, padahal premise cerita dan plot yang ditawarkan sebenarnya sangat menarik untuk diangkat, baik mengenai fakta geologis pergeseran benua (I like how IA always put the geological event in every installment), subplot bajak laut, maupun social issue antar karakternya.

Don’t get me wrong, ada cukup banyak momen menarik dan menggelitik dari karakter-karakternya, seperti Peaches, putri Manny dan Ellie yang tengah beranjak remaja, Diego yang akhirnya punya cukup banyak porsi, Sid dan Granny-nya, serta tentu saja Scrat yang selalu mampu mencairkan suasana di kondisi segaring apapun. Namun dengan eksekusi yang terasa kurang begitu mengena, semuanya harus berakhir hanya sekedar sebagai hiburan instan sesaat dan mudah dilupakan selepas keluar dari gedung teater. Untung kali ini diselipkan beberapa lagu untuk menambah nilai hiburan dan delivering some moments. Tak rugi lah menyewa beberapa penyanyi yang sedang naik daun untuk mengisi voice talent karakter-karakter baru.

As an extra point, short film pembuka Maggie Simpson The Longest Daycare actually tampil lebih mengesankan ketimbang main feature-nya sendiri. Plus, it looked very impressive in 3D. I hope they’re preparing a new The Simpsons movie in 3D.

The Casts

Selain formasi originalnya, ada beberapa karakter baru yang tentu saja berarti bakal ada voice talents baru yang mengisi installment keempat ini. My favorite will be on Wanda Sykes yang mengisi suara Sid’s Granny. Pengalaman menjadi voice talent di berbagai film animasi sebelumnya (Over the Hedge, Barnyard, Brother Bear 2, dan Rio) menjadi bekal yang cukup baginya untuk menghidupkan karakter yang memang sudah menarik ketika ditulis.

Beberapa musisi yang sedang naik daun mengisi berbagai karakter baru dengan cukup baik dan menyegarkan, mulai Keke Palmer (Peaches), Jennifer Lopez (Shira), Nicki Minaj (Steffie), dan Drake (Ethan).

Technical

Dari installment ke installment, terlihat berbagai perkembangan dari detail animasinya. Saya terkesan dengan detail bulu karakter-karakter, air, dan pasir yang tampak begitu nyata.

Sound effect yang dihadirkan cukup menggelegar seperti suara badai dan deburan air. Efek surround juga terdengar dimanfaatkan secara maksimal di beberapa adegan.

Music score yang tak jauh berbeda dengan installment-installment sebelumnya masih mampu menghidupkan berbagai adegan seru. Tak lupa single We Are di akhir film yang lebih mampu menerjemahkan rasa kebersamaan para karakter ketimbang adegan-adegan yang ada sebelumnya, a very good one.

Untuk versi 3D-nya, well… depth of fieldnya lumayan terlihat dan tak banyak pop-out gimmick. Cukup terasa di awal namun tak banyak terasa di pertengahan hingga akhir film. Comparing to the previous installment, the 3D effects here were just a little below.

The Essence

Ada dualisme tentang keluarga yang disampaikan di installment keempat ini. Yang satu mengajarkan bahwa betapa buruknya keluarga yang kita miliki, they want the best for us. Hal ini terwakili oleh hubungan Peaches yang beranjak remaja dengan Manny yang overprotective. Namun keluarga Sid justru memperlihatkan keadaan keluarga yang bakal melakukan hal apapun untuk menyingkirkan anggotanya yang dirasa mengganggu. Sebuah kontras yang cukup menarik sekaligus membuat saya heran. Apa yang ingin disampaikan kepada penonton-penonton ciliknya (sebagai target audience utama) tentang keluarga? Well, at least Sid masih punya “hati” untuk keluarga satu-satunya yang dia anggap dan yang memang pantas disebut keluarga, sang Granny. That’s what family do and should be, isn’t that?


Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, July 22, 2012

The Jose Movie Review
The Dark Knight Rises


Overview
Ini dia film yang paling ditunggu oleh saya dan juga kebanyakan orang di tahun 2012, the finale of Christopher Nolan’s Batman Trilogy. Setelah pencapaian kualitas yang luar biasa dari The Dark Knight (TDK), tentu banyak orang sudah menetapkan ekspektasi yang sangat tinggi untuk The Dark Knight Rises (TDKR). Sebuah beban yang berat bagi Nolan untuk setidaknya menyamai pencapaian tertinggi sepanjang karirnya, baik secara kualitas maupun keuntungan finansial.

Melihat hasil akhirnya, saya jadi teringat trilogy original Star Wars yang melegenda hingga saat ini. Bagi banyak orang, The Empire Strikes Back (bagian kedua) merupakan seri terbaik dari keseluruhan trilogy. Namun Return of The Jedi (bagian ketiga) menjadi bagian penting yang tak terpisahkan untuk melengkapi trilogy tersebut. Hal yang sama terjadi pada kisah Batman versi Nolan ini.


Sejak adegan pembuka, jelas TDKR berusaha untuk membangun aura ketegangan dan teror yang sama dengan TDK. Sayang, bagi saya Nolan kali ini gagal untuk setidaknya menyamai aura TDK tersebut. Entah faktor apa yang membuat bagian awal hingga pertengahan TDKR terasa biasa saja bagi saya. Apa karena faktor aura Joker yang jauh lebih misterius dan mengintimidasi ketimbang Bane? Entahlah, mungkin saja. Yang pasti jika plot masterplan Joker di TDK terasa tak terduga tapi berhasil disusun dengan rapi dan ritme yang sangat baik, Bane di TDKR sebaliknya. Rencana yang ia susun hanya satu dan disajikan dengan bertele-tele. Walau ada cukup banyak quote dan adegan yang memorable, seperti nyanyian hymne seorang anak di lapangan futbol (mengingatkan saya akan penampilan Bale kecil di Empire of the Sun), I think there were many parts in the film that can be shrunk down just to save the running time and will work even more effectively. Just in my opinion lho ya. No offense buat para fanboy :D.


Plot-plot yang dihadirkan masih memiliki benang merah dengan bagian-bagian sebelumnya dan masih menarik; terutama kompleksitas emosional Bruce Wayne, permasalahan demi permasalahan yang dihadapi oleh Gotham City, dan kompleksitas masterplan karakter villainnya. Pada akhirnya beberapa memang terasa kuat tapi lebih banyak yang terkesan hanya tempelan saja.

Selain dari itu, Nolan berhasil memuaskan ekspektasi semua kalangan dengan twist ending yang begitu memuaskan dan kesimpulan yang epic. Ending yang berhasil menutupi semua kekurangan yang terjalin sejak awal film sekaligus ending yang sangat memuaskan untuk ketiga bagian trilogy ini. Terbongkarlah sudah semua maksud tujuan yang ingin disampaikan Nolan melalui trilogy Batman versinya ini yang I have to admit, sinting!


Dalam berbagai kesempatan Nolan menegaskan tidak akan ada cerita Batman lagi yang akan ditanganinya, baik sebagai sutradara maupun penulis skenario. Dengan melihat ending yang sangat terbuka tersebut, tentu membuat banyak penonton yang bingung. Kalau menurut saya sih lebih baik memang Nolan menyudahinya karena ia sudah mencapai poin yang ingin disampaikannya dengan sangat baik di sini. Jika dilanjutkan, saya malah merasa bakal berpotensi merusak keseluruhan inti dari hikayat Batman versi Nolan. I’m sure it will be just another entertaining movie.

So dengan ending seperti itu, ada dua kemungkinan yang terbersit dalam benak saya. Yang pertama Nolan memberikan optional bagi produser untuk melanjutkan kisah ini (baca: mengeruk keuntungan lebih banyak dari basic franchise Batman yang sudah ia bangun), namun ia sendiri memilih untuk tidak ikut terlibat dalam proyek itu nantinya. Saya mengerti sekali jalan pikiran seniman idealis macam Nolan yang in some point enough is enough, tapi ia juga tidak melupakan ‘jasa’ produser yang mendanai dan mewujudkan cita-citanya. So he gave some potential plots for the producers to expand. Yang pasti tanpa Nolan, maka jangan berharap pula Bale akan kembali memerankan Bruce Wayne.

Kedua, it’s a tricky statement from Nolan. It’s like, “I said I’ve done with Batman’s story, but not another character’s”. So, mungkin saja Nolan membuat spin-off karakter lain yang saya yakin hampir mustahil untuk setidaknya menyamai kualitas induknya, Batman. Masih ingat kasus Elektra yang merupakan spin-off dari Daredevil? Bukan karena kualitas pembuatnya, tapi skala ceritanya yang memang lebih sempit dan lebih kecil ketimbang kisah induknya. Well, bagi saya pribadi, cukuplah hikayat Batman yang luar biasa ini diakhiri sampai sini. Jika kelak ada spin-off atau sekuel lainnya, saya sudah membuat mindset untuk tidak menjadikannya bagian dari trilogy induknya. Dengan demikian saya akan selalu mengingat dan menghargai trilogy The Dark Knight sebagai salah satu trilogy terbaik yang pernah dibuat Hollywood sepanjang masa.

The Casts

Jika di TDK porsinya harus mengalah dari almarhum Heath Ledger, maka TDKR menjadi kesempatan terakhir Christian Bale untuk tampil maksimal. Nolan memberikan kesempatan itu dan Bale tidak menyia-nyiakannya sama sekali. Penampilan Bale di TDKR merupakan yang terbaik dari ketiga seri. Fase fear, despair, pain, dan anger dibawakan dengan sangat baik olehnya.

Anne Hathaway juga mampu menghidupkan karakter Selina Kyle yang seductive, lincah, dan smart dengan sangat baik. Walau saya sedikit kecewa karena unsur mistik yang seharusnya menjadi bagian penting dari karakter Catwoman justru tidak ada, tapi ia berhasil menghidupkan karakteristik nya dengan sangat baik. Toh, sepanjang film istilah “Catwoman” sama sekali tidak pernah disebutkan sepanjang film. So it’s Selina anyway, not exactly the Catwoman we all have known.


Tom Hardy… yah cukup membuat karakter Bane cukup kharismatik (ditakuti, lebih tepatnya). Jika kharismanya tidak bisa menyamai karakter Joker, itu memang sudah dari skripnya, bukan faktor aktornya. He has performed quite good koq.

Marion Cottilard dan Joseph Gordon-Levitt mengisi karakter yang justru paling menonjol sepanjang film dan in the end, finally kita tahu kenapa. Dua orang yang seolah menjadi Nolan’s favorite selepas Inception ini mengeluarkan potensi akting yang melebihi peran-peran mereka sebelumnya. Only Nolan can do that and they should have thanked him if in the future their career will be more flashing even further.

Performance terbaik ditunjukkan oleh Michael Caine yang mengisi peran Alfred, pelayan setia yang akhirnya mengeluarkan segala emosi kedekatannya dengan keluarga Wayne, khususnya Bruce, di bagian ini. A very well performance, sir!

Technical

Segala aspek teknis dimaksimalkan oleh Nolan, baik visual fx, sound fx, costume design, production design, hingga score, semuanya top notch.

Note khusus untuk sound effect yang terdengar sangat dahsyat, terutama adegan ledakan, tembakan, dan The Bat yang sampai menggetarkan seat bioskop. Tak ketinggalan suara Bane dan Batman yang terdengar berat dan mengintimidasi.

Special mention layak disematkan untuk Hans Zimmer yang telah menggubah score-score luar biasa dan cukup variatif untuk TDKR meski saya masih tidak bisa melupakan score TDK yang begitu mengintimidasi.

The Essence

Ada dua hal yang menarik untuk disimak dari ketiga seri The Dark Knight. Yang pertama dari sisi Bruce Wayne. Ada tiga fase emosi pada ketiga serinya; di Batman Begins (BB), Bruce berusaha menaklukkan rasa takutnya, pada akhir TDK hingga pertengahan TDKR, ia harus menanggung kejahatan yang dilakukan Harvey Dent dan memaksanya untuk keep low. Ia merasa kehilangan tujuan hidupnya. Tak heran di satu adegan Alfred tidak mengkhawatirkan Bruce akan kalah dan mati dalam pertarungan, tapi ia khawatir Bruce akan membiarkan dirinya mati. He’s in despair. Hingga pada akhir TDKR, barulah Bruce dalam segala keputus-asaannya mengubah ketakutannya menjadi amarah sehingga mampu untuk rise and fight back. Mengutip salah satu dialog Bruce di TDKR, “I’m not afraid. I’m angry”.

Kedua, dari sisi villain. Baik Ra’s al Ghul (Henri Ducard), Joker, maupun Bane memiliki persamaan; melawan kapitalisme dan otoritas yang dengan halus meracuni pikiran masyarakat dan mengumpulkan uang dari sana. Ra’s al Ghul meracuni udara kota Gotham; Joker membakar uang, meledakkan rumah sakit, dan membunuh opsir-opsir polisi; dan Bane membuat polisi, pemerintahan, dan kaum kapitalis tak berdaya serta meliberasi masyarakat secara penuh. Para villain ini menjadi simbol pemberontakan dari kapitalisme dan pemerintahan yang korup serta ‘membebaskan’ rakyat. Padahal kebebasan rakyat yang tak terkontrol justru menghancurkan diri mereka sendiri. Dua sisi keadaan ekstrim (mimpi buruk, lebih tepatnya) yang bisa saja terjadi di dunia ini, di negara manapun. Di Indonesia pun, keadaan seperti di TDKR sudah menunjukkan tanda-tandanya. Hal ini yang sempat terbersit dalam benak saya sepanjang menonton TDKR. Semoga saja kedaan segera membaik sebelum Bane-Bane bertindak lebih ekstrim lagi ke depannya. 

P.S. : rating 4/5 dari saya adalah jika TDKR berdiri sendiri sebagai sebuah film. Jika menyatukan TDKR dengan BB dan TDK, maka saya memberikan rating 5/5.

Lihat data film ini di IMDB.


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, July 16, 2012

The Jose Movie Review
American Reunion

Overview

Franchise American Pie (AP) berawal pas dengan masa remaja saya. Seri pertama dirilis ketika saya masih duduk di bangku SMP dan sejak itu menjadi film remaja favorit saya. AP berhasil menjadi film komedi seks yang tidak hanya jualan boobies and asses, tapi juga memiliki a lot of hearts. Semenjak kesuksesan seri pertamanya, booming film komedi seks remaja merebak namun tidak ada yang memiliki hati sebesar AP. Kesuksesannya dilanjutkan dengan AP2 dan American Wedding yang sebenarnya memiliki formula (lebih tepatnya template) yang sama namun selalu berhasil tampil segar.
Kini setelah sembilan tahun berselang sejak seri terakhir (dan aneka spin-off direct-to-video - seperti Band Camp, Naked Mile, dan Book of Love- tanpa value yang sama dengan the original AP series), AP kembali merilis kelanjutan kisah Jim dan ganknya. Tentu saja keadaan sudah banyak berubah; ada yang sudah menikah dan punya anak, ada yang karirnya menanjak, tapi ada pula yang masih terjebak pada jiwa remajanya. Premise yang sebenarnya menarik untuk diangkat namun berpotensi untuk mengubah image gokil franchise AP selama ini menjadi lebih serius. Tentu saja bukan itu yang diharapkan oleh fans AP dan penonton umum kan?
Untunglah AP tidak memilih keseriusan premise. American Reunion (AR) masih memiliki aura keceriaan, kegilaan, serta keseruan yang sama dengan seri-seri sebelumnya. Tentu beberapa masih mengikuti template yang ada, seperti adegan bertema get busted, public humiliating sexual experience, dan chaotic-potential-thrilling moment. Namun AR masih mampu menyajikan kesemuanya dengan segar dan menggelitik, termasuk memasukkan generation-gap sebagai salah satu issue. Ada sih becandaan yang gagal membuat saya terbahak-bahak, tapi most of them worked koq. Thanks to the screenwriter yang kreatif menggelar situasi-situasi serta adegan-adegan yang gokil.
Mempertahankan ciri khas AP tentu membawa resiko tersendiri. Seperti yang bisa diduga sebelumnya, kelogisan cerita harus dikorbankan. Bukan sesuatu yang esensial sih, tapi banyak konflik diberi penyelesaian yang terlalu mudah dan tampak seperti tidak begitu penting. Mungkin bukan menjadi suatu masalah bagi Anda yang hanya mengharapkan hiburan menggelitik, tapi bukankah akan menjadi lebih menarik jika plot-plot yang sudah dibangun dengan baik sejak awal memiliki penyelesaian yang lebih logis?
Anyway, tentu bagi penggemar yang telah tumbuh bersama franchise ini, AR seperti sebuah reuni wajib yang menyenangkan; meet and catch up dengan karakter-karakter lawas dan kembali bersenang-senang dan seru-seruan seperti masa muda dulu.

The Casts

Semua cast dari seri pertamanya kembali muncul di sini, termasuk mereka-mereka yang sempat absen di seri kedua dan ketiganya, dan karakter-karakter pendukung seperti Sherman, Jessica, dan Nadia. Senang rasanya kembali melihat kecanggungan diskusi antara Jim (Jason Biggs) dan ayahnya (Eugene Levy) yang alamiah, bahkan ketika Jim sendiri sudah menjadi seorang ayah. Begitu pula melihat Alyson Hannigan (yang masih) dengan gaya bicara geek-nya, Stifler (Seann William Scott) yang begitu legendaris dan iconic, dan tentu saja Stifler’s mom (Jennifer Coolidge) yang juga sudah menjadi icon MILF paling terkenal.
Di jajaran cast baru, Ali Cobrin (Kara) dan Dania Ramirez (Selena) dengan keseksian tubuh mereka berhasil mencuri perhatian dan cukup lovable.

Technical

Hal yang paling membuat saya kagum adalah menjaga keaslian set kamar Jim yang sama persis dengan di seri pertamanya yang begitu iconic. Begitu pula dengan set rumah Stifler yang sering dijadikan pusat pesta, lengkap dengan foto-foto asli dari seri-seri sebelumnya. Tema ‘reuni’ terasa dengan sangat kental berkat setting dan properti tersebut.
Seperti seri-seri sebelumnya, AR masih dihiasi single-single terkini dengan energi yang sama, seperti Good Charlotte yang seolah menjadi langganan AP, Cobra Starship, LMFAO, dan 3OH!3. Tak ketinggalan hits-hits era ’90-an seperti Spice Girls dan Montell Jordan. Lengkap sudah elemen untuk membangkitkan kembali kenangan-kenangan indah masa remaja.

The Essence

Waktu seolah menjadi momok bagi siapa saja, dimana ia lah yang merubah semuanya. Perubahan yang dilabeli oleh banyak orang sebagai ‘kedewasaan’, baik secara fisik maupun attitude. Namun ada pula orang yang berharap keadaan tidak pernah berubah, masih seperti ‘masa bersenang-senang’ dimana mereka menjadi ‘penguasanya’. But changes are unavoidable karena dunia pun berubah, lingkungan pun ikut berubah. Jika Anda seorang yang populer saat remaja, bisa jadi malah menjadi loser ketika dewasa. Penyebab utamanya? Anda enggan beranjak dari comfort zone –zona bersenang-senang- yang sebenarnya sudah tidak lagi pantas dengan usia Anda. Jadi benarlah tagline sebuah iklan, "menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan”.


Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Lewat Djam Malam

Overview

Senang rasanya mengetahui ada film Indonesia yang mendapatkan perhatian dari negara lain hingga direstorasi dengan biaya penuh. Senang karena ini merupakan satu bukti bahwa Indonesia punya sejarah perfilman yang panjang dan memiliki nilai sejarah yang penting bagi dunia. Tapi saya tidak bisa bohong untuk juga merasa miris karena ternyata pemerintah sama sekali tidak ambil bagian dari proses penyelamatan karya budaya ini. Yah saya mengerti lah, di kondisi negara yang seperti ini, apa kata rakyat kecil yang merasa lebih butuh bantuan dana ketika mengetahui besar dana yang dikeluarkan untuk melakukan restorasi tersebut. Saya harus memaklumi bangsa ini yang kurang (atau malah tidak sama sekali) bisa menghargai karya budaya yang dimilikinya (tapi nanti kalau diklaim negara lain baru protes).
Melihat langsung hasil restorasi Lewat Djam Malam (LDM) merupakan suatau kesempatan yang tidak boleh saya sia-siakan begitu saja sebagai pecinta film (dan semoga juga kelak menjadi bagian dari perfilman Indonesia). Seberapa sering sih ada kesempatan menyaksikan film klasik di layar lebar? Toh dari sini saya juga bisa belajar, tidak hanya tentang sejarah perfilman Indonesia, tetapi juga banyak hal teknis dan esensi yang membuatnya layak dipilih untuk direstorasi dan menjadi bagian dari warisan budaya dunia.
At first, LDM memiliki jalinan cerita yang cukup sederhana; bagaimana seorang mantan pejuang beradaptasi dengan lingkungan masyarakat. Meski demikian, sama seperti kebanyakan film pada masa itu (’50-an), alur LDM sangat menarik untuk disimak dan yang pasti tanpa terasa draggy. Namun tentu saja membahas LDM tak bisa hanya cerita luarnya saja. Jika kita mau menganalisa lebih dalam cerita dan karakter yang ada, LDM menampilkan representasi-representasi karakter bangsa ini saat itu (atau malah sampai sekarang). Misalnya karakter Gunawan yang memanfaatkan momen revolusi demi kepentingan ekonomisnya sendiri, Pujo yang masih terbuai oleh jasa-jasanya sebagai pahlawan sehingga enggan untuk ikut membangun, Laila yang hanya bisa mengumpulkan mimpi sambil menanti keadaan menjadi lebih baik baginya, dan pegawai-pegawai kantor pemerintahan yang sinis dengan kehadiran Iskandar, sang karakter utama. Kesemuanya ini menjadi sebuah cermin besar tentang kondisi bangsa ini saat itu. Sebuah kritikan tajam sekaligus renungan tak hanya untuk pemerintah, tapi juga masyarakat luas. Itulah yang membuat LDM sangat menarik untuk disimak dan juga direnungkan.
Tak perlu khawatir LDM akan menjadi sebuah film yang berat karena bapak perfilman nasional, Usmar Ismail, mengemasnya dalam sebuah film drama dengan sedikit thriller dan juga beberapa joke. Well, bagi penonton masa kini mungkin bisa juga menganggap kosa kata-kosa kata jaman itu sebagai joke. Namun bagi Anda yang terbiasa untuk menganalisis film lebih dalam daripada apa yang tersaji di layar, Anda akan menemukan a very valuable and precious gems yang jarang didapat dari film-film era kini.

The Casts

Sebagai film yang digarap serius, tentu LDM memiliki cast yang kuat. Sebagai pemeran utama, AN Alcaff berhasil mencampur adukkan pergulatan psikologis yang dialami Iskandar berkat tekanan yang tak hanya dari luar tapi juga dari dalam dirinya. Sementara sang screen stealer tentu saja Dhalia yang memerankan karakter sang pelacur, Laila. Karakter Laila-lah yang menurut saya memegang kunci kesimpulan dari keseluruhan cerita LDM dan mampu dibawakan denga baik oleh Dhalia. Sekilas menggoda dan tingkahnya mungkin akan membuat penonton tertawa, namun jelas sekali terasa luka batin yang dideritanya walau ia berusaha menutup-nutupinya. A very remarkable character.

Technical

Tak sia-sia Usmar Ismail melakukan pembelajaran hingga ke Hollywood sehingga menghasilkan film yang kuat di berbagai aspek. Lihat saja tata sinematografi yang menawan, ditambah hasil restorasi yang menghasilkan kontras hitam dan putih yang cukup tinggi, menjadikan visualisasi yang menakjubkan.
Sementara audio terdengar sangat jelas walau (nampaknya) masih menggunakan track mono. Kejelasan dialog, musik, dan efek suara berpadu dengan seimbang. Memang, tentu saja suara tembakan tidak bisa terdengar dahsyat seperti film-film masa kini. Namun terlepas dari itu semua dan teknik editing yang masih sederhana sesuai dengan jamannya, LDM memiliki production value yang setara dengan Hollywood saat itu.

The Essence

LDM menggambarkan bagaimana aneka reaksi bangsa ini pasca kemerdekaan. Ada yang menganggap perjuangan belum usai karena bangsa ini masih harus membangun, ada pula yang masa bodoh dengan perjuangan para pahlawan dan mengisinya dengan bersantai-santai. Namun yang paling banyak adalah seperti karakter Laila.
Laila seperti terjebak pada masa lalu-kini-dan sekarang. Ia mengumpulkan gambar-gambar dari masa lalu (majalah lama) sebagai persiapan menghadapi masa depan; ketika ada pria yang datang meminangnya, ia tahu apa yang harus dimintanya. Sampai pada masa depan itu datang, ia justru memilih kembali ke masa lalu dengan barang-barang yang diinginkannya namun sudah ketinggalan jaman itu. Sebuah metafora keadaan bangsa ini yang suka mengarsipkan sejarah dan mengaku harus belajar dari sejarah untuk membangun masa depan. Namun ketika masa depan itu tiba, bangsa ini lebih memilih seperti masa lalu. Misalnya ketika kita berada pada orde baru, bangsa ini memilih untuk memiliki kebebasan berpolitik. Namun ketika reformasi itu datang, bangsa ini ternyata lebih membutuhkan stabilitas negara yang menjadi ciri khas orde baru. Mungkin hingga kini pun negara kita masih meraba-raba masa depan seperti apa yang ingin dicapai, sama seperit Laila.



Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, July 8, 2012

The Jose Movie Review
Cinta di Saku Celana

Overview

Fajar Nugros adalah salah satu penulis, baik skenario maupun cerpen, yang karya-karyanya sangat menjanjikan. Setelah debut perdananya lewat Queen Bee, kini ia mencoba lagi duduk di kursi sutradara dengan mengangkat cerpen yang ia tulis sendiri ke layar lebar.
Cinta di Saku Celana (CSC) tidak menitik beratkan cerita cinta pada romantisme hubungan antara pria dan wanita. Ia mengangkat bagaimana awal proses cinta terjadi pada empat tipe manusia : yang cerdas, pintar, licik, dan yang beruntung. Bukan proses yang mudah karena pada nyatanya banyak yang belum mampu (baca : belum punya keberanian) untuk melakukannya. Sebuah premise yang sederhana dan pasti dialami oleh setiap orang, namun Nugros merangkainya serta menyajikannya dengan cara yang sangat menarik, unik, dan sangat menghibur.
Daya tarik utama yang membuat saya jatuh cinta dengan CSC adalah gaya penuturannya yang masih dalam konteks real namun dibubuhkan metafora-metafora baik secara verbal (dialog) maupun visual (adegan). Jangan kuatir alurnya menjadi berat untuk diikuti, karena sejak awal justru aura fun, fresh, dan quirky begitu kuat terasa. Diperkaya dengan editing yang dinamis dan terkadang tricky, membuat saya betah untuk mengikuti alurnya hingga akhir film. Semakin ke belakang, film menyuguhkan alur tak biasa dan cukup rapi dengan menghadirkan karakter-karakter lain yang membawa kejutan-kejutan kecil dan memperkaya cerita. Karakter-karakter pendukung ini tidak perlu berkembang terlalu banyak karena perannya hanya untuk mendukung perkembangan karakter utama. Pun demikian setiap penampilnya membawa kesan tersendiri. Gaya bercerita ini mengingatkan saya pada karya-karya orisinal Guy Ritchie seperti Lock, Stock & Two Smoking Barrels, Snatch, dan Rock N' Rolla. I found it very enjoyable and fun.
Humor cerdas dan tidak terkesan norak pun disebar di berbagai adegan yang berhasil menghidupkan film. Tidak membuat terlalu terbahak-bahak, namun tetap menghibur dan memorable, terutama bila anda berasal dari Jawa Timur dan mengerti cablakan-cablakannya.
Walau porsi romance-nya tidak begitu banyak, ending ala (500) Days of Summer sudah cukup membuat saya tersenyum bahagia dan puas. Yes, Nugros menutup ceritanya dengan sangat manis. Membuat jomblo mana pun yang menyaksikannya kembali bersemangat untuk berani mendekati cintanya, tidak hanya menyimpannya di saku belakang celana.

The Casts

Sebagai aktor utama, Donny Alamsyah berhasil menghidupkan karakternya menjadi lovable. Pemuda baik-baik yang berani melawan preman tapi malah takut mendekati cinta. Sisi comedic-nya pun terkuak keluar setelah image-nya selama ini yang lebih banyak bermain serius. Hal sama juga terjadi dengan Dion Wiyoko dimana image-nya di Serigala Terakhir berhasil diputar balikkan lewat karakter Gifar yang tak kalah lucunya.
Di lini karakter pendukung, Ramon Y. Tungka, Gading Marten, Joanna Alexandra, Lukman Sardi, dan Enditha, cukup menghidupkan peran masing-masing sesuai dengan porsinya. Untuk screen stealernya, tentu saja Pricillia Tanamal yang berperan sebagai ibu kost yang flirty.

Technical

Untuk film Indonesia, CSC sangat mumpuni secara teknis. Selain sinematografinya yang berhasil menyulap sisi kumuh kota Jakarta terlihat lebih menarik, pencahayaan yang pas juga memperkaya gambar menjadi tajam dan lebih berwarna. Sound effect dan efek surround dimanfaatkan secara maksimal. Dialog-dialog terdengar dengan jelas dan dengan proporsi yang pas dengan sound effect-nya.
Unsur menarik lain dari CSC adalah pemilihan settingnya yang tak banyak dijamah sinema Indonesia saat ini dan ditampilkan dengan hidup seolah masih menjadi bagian penting dari kehidupan kota Jakarta : kantor pos dan komuter. Kehadiran bioskop kelas bawah yang HTM-nya cuma lima ribu rupiah dan filmnya lawas banget (kalau tidak salah itu Wishmaster yah?!) turut mewarnai sisi artistik film.
Kredit tersendiri layak disematkan untuk score yang semakin memperkuat adegan-adegan jahil menjadi menghibur dan terkesan berkelas. Sekali lagi saya teringat gaya film-film Ritchie. Begitu pula dengan music-music dari Slank dan Abbay Messi yang fit in dengan keseluruhan aura film. Love it!

The Essence

Everything in this world needs its first step to start, tak terkecuali dalam hal cinta. Masalahnya, kebanyakan orang tidak punya cukup keberanian untuk memulainya. Jangankan mengungkapkan cinta, memulai conversation dengan orang yang ditaksirnya saja masih takut. Some people did extreme ways they could handle just to show their efforts. Tapi segala usaha tersebut menjadi percuma jika tidak berani melakukan hal yang paling sederhana : get straight to it. Hal itulah yang membuat orang menjadi layak untuk mendapatkan cinta, bukan tampang, popularitas, atau kekayaan.
In fact, bahkan jika Anda mempunyai kelebihan dari ketiga hal yang saya sebutkan sebelumnya, Anda masih harus menghadapi “saat penentuan” tersebut, sama dengan orang-orang yang tidak memilikinya. So, daripada terus menyimpan cinta di dalam saku celana, lebih baik mendekatinya sebelum dicopet orang lain, apapun hasilnya kelak.



Lihat data film ini di IMDB.
Lihat situs resmi film ini.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, July 6, 2012

The Jose Movie Review
The Amazing SpiderMan


Overview

Semenjak kabar reboot Spider-Man, jujur saya agak mengernyitkan dahi. Perlukah dalam rentang waktu yang hanya lima tahun sejak seri terakhir? Apalagi versi yang sebelumnya sudah memberikan set yang sangat baik sebagai sebuah cerita superhero. One of the best ever malah. Setelah melihat trailernya saya semakin tidak tertarik. I didn’t find something new in this installment.

Namun review positif mulai bermunculan (bahkan tidak sedikit yang memberikan nilai 5/5) dari beberapa orang yang beruntung mendapatkan kesempatan menyaksikannya sehari sebelum tayang reguler. Berangkatlah saya menyaksikan installment kali ini dengan masih tanpa ekspektasi apa-apa dan beruntung saya berangkat dengan niat demikian. It’s not as good as people said.

Mari kita tinggalkan sejenak alasan-alasan shallow banyak orang yang lebih menyukai versi Webb ini ketimbang versi Raimi; para gadis remaja lebih menyukai Andrew Garfield yang sengaja dipasang untuk memenuhi tren cowok keren di mata gadis remaja saat ini : imut, para wanita lebih rela Peter berpacaran dengan gadis cerdas dan punya “fungsi” ketimbang sekedar jadi langganan sandera, dan para pria fanboy terpuaskan secara maksimal berkat kesetiaan terhadap versi komiknya yang lebih besar. Sayangnya di mata saya, formula-formula di atas seperti sengaja dipakai oleh produser, penulis naskah, dan sutradara untuk menutupi kelemahan demi kelemahan plot di sana-sini atau mungkin juga karena memang tidak punya sesuatu yang baru untuk ditawarkan tetapi masih merasa sayang franchise dengan kesuksesan sebesar itu harus berakhir.

Sebagai film superhero yang berdiri sendiri, dengan mengabaikan versi Raimi, TAS was a just-fine movie. Tentu saja masih unggul dalam hal pengembangan cerita dan karakter ketimbang film sejenis akhir-akhir ini. Akan tetapi dibandingkan versi Raimi, TAS masih terasa kurang. I know it sounds not fair to compare both of them but it’s unavoidable. Coba deh, ada tidak dari kalian yang hendak menyaksikan TAS tapi belum pernah menyaksikan versi Raimi? Ada tidak dari kalian yang sama sekali tidak membandingkan keduanya? Membuat reboot sebuah franchise yang sudah bagus dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, TAS harus mau (atau memang sengaja menantang) untuk dibandingkan dengan pendahulunya.

Hal yang paling kentara terasa adalah TAS tidak se-warm dan se-iconic versi Raimi. Jika versi Raimi mengajak penonton untuk begitu intim dengan karakter secara personal dan emosional beserta problematikanya, banyak adegan dari TAS yang terasa datar tapi malah banyak diartikan sebagai “dark” oleh penonton. Really? Beda-beda tipis sih, tapi definisi “dark” bagi saya memiliki detail adegan non-verbal yang seharusnya lebih banyak bercerita ketimbang dialog. Sementara di TAS tak banyak yang menggambarkan kepedihan hidup sang Peter Parker selain memamerkan memarnya kepada Aunt May dengan wajah memelas. Bandingkan dengan versi Raimi dimana satu per satu kemalangan terjadi pada diri Parker but he’s still trying to be tough. No, it’s not a poker face. He’s trying to look tough but actually fragile inside. Seperti itulah seharusnya sosok seorang superhero yang ideal namun masih dalam koridor manusiawi. Peter Parker yang hobby fotografi pun hanya ditunjukkan di awal-awal tapi sejak tengah hingga akhir film tidak dibahas sama sekali. Bahkan ia tidak merasa kehilangan apa-apa ketika kameranya hancur lebur. Mungkin bukan hal besar yang begitu penting bagi kesulurahan cerita, tapi bagi saya ini justru menjadi bukti betapa karakter Peter Parker di versi ini tidak punya kedalaman emosional apa-apa. Atau Peter Parker di sini memang digambarkan tidak punya masalah finansial sama sekali seperti di versi Raimi?

Tidak hanya kedalaman karakter yang terasa kurang, tapi juga relasi antar karakternya. Jika kita bisa melihat kedekatan emosi antara Peter Parker dengan para villainnya di versi Raimi, seperti Norman Osborn dan Dr. Otto Octavianus, sehingga menimbulkan dilema pribadi tersendiri bagi Peter, maka di sini kita hanya bisa melihat Peter yang seolah berpikir, “oh okay, so you’re the bad boy” dan langsung bag-big-bug seolah mereka tidak pernah kenal sebelumnya atau seolah Peter tidak butuh penjelasan lebih banyak tentang orang tuanya dari Connors.

Berbagai sub plot yang tidak jelas kepentingannya dengan problematika utama seorang Peter Parker ikut menambah kekurangan skrip TAS. Misalnya aksi Peter mencari-cari pria bertato di lengan yang saya rasa terlalu lama dan bertele-tele harus berujung pada ketidak jelasan kelanjutannya. Lagipula agak mustahil seorang remaja yang emosinya masih labil bisa melupakan begitu saja dendam pribadinya demi melawan penjahat utama yang tidak begitu mempengaruhi hidupnya tanpa motivasi yang kuat. Hal yang sama juga terjadi pada karakter Dr. Curt Connors dimana lebih masuk akal untuk terlebih dahulu menghabisi Norman Osborne dan Rajit Ratha yang jelas-jelas mempengaruhi kepribadiannya ketimbang menjalankan misi berbahayanya di puncak film.

Inti film yang pada versi Raimi cukup terangkum dalam satu kalimat sederhana, “with great power comes great responsibility”, ternyata butuh voice note panjang bagi Uncle Ben di TAS untuk menjabarkannya.

Adegan aksi yang sebenarnya menjadi alasan utama penonton berbondong-bondong ke bioskop hanya punya porsi sekitar 25% menjelang akhir film dengan intensitas yang cukup seru dan menegangkan namun tidak begitu memorable. I won’t be surprised if you’re already forgotten these action scene details by winter this year.

As conclusion, TAS terasa seperti memang ditargetkan hanya untuk usia remaja belasan tahun yang tidak begitu peduli dengan kedalaman karakter atau hubungan (singkatnya, generasi Twilight) dengan memperbanyak porsi romance antara Peter dan Stacy sehingga kurang bisa dinikmati (datar dan membosankan) oleh penonton yang lebih muda (anak-anak) namun juga terlalu picisan untuk golongan penonton yang lebih dewasa. Dengan intensi untuk menjejalkan terlalu banyak sub plot yang (diharapkan) membuat penonton berpikir “ah kaya sekali plotnya”, pada akhirnya masing-masing hanya tampil setengah-setengah, tanpa kedalaman apa-apa dan kebingungan untuk berfokus ke arah mana.

The Casts

Tidak ada yang salah dengan Andrew Garfield. Saya setuju jika perawakan dan kepribadian Peter Parker yang dibawakan Garfield lebih sesuai dengan versi komiknya. Sayang skrip lah yang tidak memberikan lebih banyak penggalian karakter untuknya. Semoga saja diperbaiki di sekuelnya nanti. I know Garfield can do better than this, he’s played many interesting characters so well before, such as in Imaginarium of Dr. Parnassus, Social Netwok, and Never Let Me Go.

Emma Stone… well, she’s the biggest reason I was interested to watch this installment and she played her role very well, as usual. I think there’s no one else fitter to Gwen’s role but her.

Dr. Curt Connors sebenarnya sama menariknya dengan karakter-karakter villain Spider-Man yang lain. Rhys Ifans (masih ingat teman seflat Hugh Grant di Notting Hill?) pun sangat pantas memerankan karakter ini. Sayang, lagi-lagi skrip tidak memberikan gradasi karakter yang cukup menarik dari seorang ilmuwan menjadi monster untuk Connors.

Technical

Tidak ada kendala berarti di teknis. Visual effects yang memanjakan mata, penuh dengan detail CGI. Walau desain karakter Lizard yang sedikit norak tapi detailnya cukup bagus. Sound effects cukup berhasil menghidupkan adegan-adegan aksi dan penghancuran dengan pemanfaatan efek surround yang juga efektif. Score-nya tidak se-iconic installment sebelumnya namun cukup variatif, termasuk dengan memasukkan score ala suspense-thriller di dalamnya.

Sinematografi yang indah turut memperindah visualisasi TAS. Lihat landscape kota New York dari sudut pandang SpiderMan yang sedang swinging around, lengkap dengan desain bangunan Oscorp yang futuristik dan megah, tak kalah dengan gedung Stark Industries.

Sayang efek Dolby Digital 3D-nya kurang begitu terasa signifkan depth of field maupun pop-out gimmick-nya. Padahal konon kabarnya adegan-adegan di film ini direkam denga kamera stereoscope 3D termutakhir. Entah dengan versi RealD 3D atau IMAX 3D-nya. Ada yang mau berbagi mungkin?

The Essence

Masih mengusung tema yang sama dengan installment sebelumnya, sebuah kekuatan memiliki dua sisi tergantung yang memanfaatkannya. Peter dan Connors memiliki nasib yang sama, genetik-nya termutasi oleh spesies lain sehingga menghasilkan spesies yang lebih kuat. Peter pun bisa saja menggunakan kekuatannya hanya untuk kepentingan pribadinya semata : balas dendam. Namun jika demikian ia tidak mempunyai peran apa-apa bagi masyarakat. Mungkin malah akan menjadi ancaman bagi publik. So, he has to do helping things rather than just fighting things. That’s what real hero does.


Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, July 3, 2012

The Jose Movie Review
W.E.

Overview

Jika Anda pernah menonton The King’s Speech yang tahun 2011 lalu memenangkan Best Picture di ajang Academy Awards, tentu Anda ingat bahwa King George VI yang gagap menjadi kepala kerajaan monarki Inggris setelah sang kakak, Prince Edward VIII, menyerahkan takhtanya untuk menikahi janda asal Amerika Serikat, Wallis Simpson. Nah, W.E. adalah film yang secara khusus menceritakan kisah cinta Prince Edward dan Wallis Simpson dari sudut pandang Wallis. Lahir dari tangan ratu kontroversi legendaris, Madonna, yang tak hanya bertindak sebagai sutradara tapi juga menjadi salah satu penulis naskahnya, W.E. adalah film dengan premise yang sangat menarik.

W.E. tidak secara langsung bertutur tentang kehidupan Wallis Simpson, tetapi melalui interpretasi dari benak seorang pengagumnya yang bahkan memiliki nama depan yang sama, Wallis Winthrop. Tak hanya itu, kehidupan Simpson tak pelak ikut mempengaruhi pandangan Winthrop tentang relationship, terlebih ketika hubungannya dengan sang suami mulai goyah. Gaya penceritaannya mirip dengan The Hours yang bahkan menampilkan tiga karakter dari masa yang berbeda-beda namun saling berkorelasi.

Di awal film, W.E. agak membingungkan dalam menampilkan kehidupan Simpson dan Winthrop, apalagi nama depannya sama. Untungnya, sejalan dengan durasi semakin jelas perbedaan rentang waktunya. Namun sayang, skrip belum mampu merangkai kedua cerita paralel ini menjadi kesatuan yang padu, serasi, dan terasa berkorelasi. Malah mungkin beberapa penonton akan berpikir kisah kehidupan Winthrop justru mengganggu keindahan alur cerita tentang Simpson. Jika mau membuat plot yang unik atau membuat dalih bahwa penggambaran kisah Simpson di sini hanyalah ada di benak Winthrop, rasanya tidak perlu sampai sejauh itu menggali kehidupan asmara Winthrop. Toh, maksud utama untuk mengkorelasikan pengaruh Simpson terhadap relationship Winthrop ternyata tidak tercapai dengan cukup kuat.

Ada banyak plot yang tidak dijelaskan atau kurang dalam yang sebenarnya membuat keseluruhan cerita menjadi menarik, misalnya tentang affair William, suami Wallis Winthrop, alasannya apa dan dengan siapa saja, atau bagaimana dilema antara Wallis Simpson dan suaminya, Ernest yang harus di-“tengah”-i oleh Prince Edward.

Di luar kurang kuatnya skrip dan penataan alur yang kurang rapi untuk bisa dinikmati dengan enak, karya debut Madonna ini sesungguhnya jauh dari kata buruk. Memang kemampuan menulis naskah yang kuat masih perlu diasah lagi namun melihat karya tulisnya dalam bentuk dongeng anak-anak, setidaknya ia tahu bagaimana menerjemahkan buah pikirannya menjadi alur cerita dan visualisasi yang menarik. That’s a good start.

The Casts

Sudut pandang cerita yang diletakkan pada karakter Wallis Simpson membuat penampilan Andrea Riseborough menjadi sorotan utama. Beruntung ia berhasil menghidupkan karakter ini sehingga simpati penonton dapat dengan mudah diraih olehnya.

Abbie Cornish (Wallis Winthrop) tampil biasa saja. Bukan karena aktingnya yang buruk, namun naskah tidak begitu banyak memberikan porsi bagi karakternya untuk “bicara” lebih banyak. Sementara di lini supporting actor, James D’Arcy (Prince Edward) dan Oscar Isaac (Evgeni) mengisi perannya sesuai porsinya.

Technical

Sejak awal terlihat sekali sisi artistik digarap dengan sangat serius. Detail kostum, properti, set, serta make-up yang luar biasa.

Selain score ala Eropa, satu hal yang saya apresiasi dari soundtracknya adalah keberaniannya dalam memasukkan musik modern seperti Pretty Vacant milik Sex Pistols untuk mengiringi adegan bersetting tahun 1930-an. Unique and very alive.

The Essence

Sejarah mencatat Wallis Simpson adalah karakter antagonis yang menyebabkan Prince Edward sampai rela melepaskan takhtanya. Apalagi statusnya yang sudah dua kali bercerai, bahkan pernikahannya yang kedua dengan Ernest masih dalam keadaan baik-baik saja ketika Prince Edward mulai masuk dalam kehidupannya. Image yang tidak baik tentu langsung dicapkan pada dirinya. W.E. mengajak penonton melihat sudut yang berbeda; apa yang sebenarnya dirasakan oleh Wallis Simpson sendiri.

Sama seperti Simpson, media yang juga mempengaruhi pola pikir publik tentang orang-orang di sekitarnya seringkali mudah menjatuhkan vonis terhadap seseorang dari sudut pandangnya sendiri. Padahal publik belum tentu tahu apa yang sebenarnya terjadi atau dirasakan oleh orang tersebut. Entah kenapa manusia memang cenderung suka men-judge orang lain. Maybe that’s what they want to see, that perfection doesn’t exist. Maybe something to cover their own imperfection.

Di sisi lain, kesempurnaan memang tidak pernah ada. Kisah cinta ala princess yang happily ever after hanyalah fantasi semata. Wallis Winthrop yang awalnya mempercayai indahnya hubungan Wallis Simpson dan Prince Edward harus belajar bahwa itu semua tidak sesempurna kelihatannya. Banyak kepedihan yang dialami terutama oleh Simpson dalam perjalanan happily ever after tersebut. Yang paling penting, how you can cope with every imperfections in life.


Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, July 2, 2012

The Jose Movie Review
The Best Exotic Marigold Hotel

Overview

India. Pencarian dalam hidup. Dua hal yang sudah lebih dari cukup untuk membuat saya tertarik untuk menyaksikan The Best Exotic Marigold Hotel (TBEMH). Saya tidak peduli jika tidak ada nama aktor berusia muda di jajaran cast-nya. Yang ada malah nama-nama aktor senior Inggris berusia lanjut, seperti Dame Judi Dench, Bill Nighy, Maggie Smith, dan Tom Wilkinson. Jika saya sudah cukup puas dengan pencapaian Eat, Pray, Love tahun 2010 lalu, maka TBEMH menawarkan hal yang serupa namun dirangkai dan disajikan dengan lebih baik.

Ketika awal film, saya mengira bahwa ini akan menjadi sebuah omnibus karena memperkenalkan karakter-karakter dengan berbagai latar belakang profesi maupun kepentingan, namun memiliki persamaan : berusia lanjut, dengan mencantumkan nama masing-masing karakter di layar. Agak membingungkan awalnya untuk mengenal satu per satu karakter yang ada. Lantas ketika sampai pada tujuan (baca : tiba di Jaipur), barulah saya sadar ini bukanlah sebuah omnibus. Kesemua karakter ini dipertemukan dan saling berbagi pengalaman pencarian dalam hidup mereka. Jangan kuatir akan bingung dengan banyaknya permasalahan dari tiap karakter karena begitu tiba di Jaipur, sutradara John Madden yang sebelumnya pernah sukses menggarap Shakespeare in Love dan Captain Correli's Mandolin merangkai alur dengan sangat baik sehingga enak untuk diikuti dan dengan porsi yang seimbang untuk tiap karakter. Apalagi di sana-sini diselipkan humor yang simpel, cerdas, namun tidak berlebihan. Durasi yang 2 jam 4 menit tidak bakal terasa panjang jika Anda menikmatinya dengan santai.

TBEMH adalah tipikal feel-good-film yang mana Anda tidak perlu terlalu keras ikut memikirkan permasalahan yang dimiliki oleh para karakternya. Tidak perlu pula ada karakter antagonis. Anda hanya perlu rileks, mengikuti alurnya, nikmati pula kota Jaipur yang ditampilkan apa adanya; eksotis namun kumuh, serta pada akhirnya energi-energi positif yang diusung oleh film membuat Anda merenungkan relevansinya dengan kehidupan Anda. Bahkan seringkali menginspirasi hidup. Untuk tujuan tersebut, TBEMH sangat berhasil memancarkan energi-energi positifnya so that I shouldn’t be worried when I was elder later.

The Casts
Tak perlu meragukan lagi kualitas casting hanya dengan membaca jajaran namanya. Semuanya bermain dengan sangat pas dan hidup. Bagi saya yang paling menonjol tentu saja Maggie Smith, pemeran Muriel Donnelly, mantan nanny yang berjuang pulih dari operasi pinggulnya. Walaupun porsinya bukan yang paling banyak, namun perkembangan karakternya yang paling menarik sepanjang film, jauh dari karakter Professor McGonagall yang diperankannya di franchise Harry Potter.

Kedua, Dame Judi Dench yang sekaligus menjadi narator lewat tulisan blog-nya. Performa dan perkembangan karakter yang lovable dan inspiring membuat saya lebih menyukainya di sini ketimbang di franchise James Bond.

Sebagai bumbu komedi, Ronald Pickup yang memerankan Norman Cousins cukup berhasil membuat tersenyum di tengah permasalahan-permasalahan hidup yang dialami karakter-karakter lainnya. Very well put, not too much.

Tak ketinggalan Dev Patel yang angkat nama berkat Slumdog Millionaire memerankan karakter muda yang juga inspiring dan loveable. Justru sebenarnya karakter yang ia mainkan lah yang merubah hidup dan pola pikir para karakter retiree di sini.

Technical

Keindahan sinematografi menjadi pencuri perhatian utama dari sisi teknis. Lanskap kota Jaipur yang eksotis namun kumuh ditangkap dengan sangat baik; Modernitas kota bersanding kontras dengan perkampungan kumuh dan kelompok orang yang selalu memanfaatkan kedatangan turis-turis asing untuk minta uang. Semuanya terekam dengan tone warna-warni vibrant khas India. Angle-angle dan pergerakan kamera yang dinamis dan variatif pun turut menghidupkan berbagai sudut kota Jaipur. Tak ketinggalan set, properti, dan kostum yang tak kalah indahnya, terutama Marigold Hotel itu sendiri, juga The Viceroy Club dan kota Udaipur.

Dengan setting India tentu ada banyak score yang memanfaatkan nafas eksotismenya. TBEMH mampu menyuguhkannya dengan sangat baik sehingga penonton seolah ikut menjelajahi kota Jaipur, tidak hanya secara geografis namun juga sosiokultur secara utuh.

The Essence

Pencarian tentang pertanyaan-pertanyaan kehidupan bukan hanya milik remaja yang beranjak dewasa dan mulai memikirkan berbagai hal dalam hidup. Terbukti ketika memasuki usia paruh baya, krisis kepribadian sering terjadi pada manusia mengingat pada fase ini terjadi perubahan yang cukup drastis. Namun apa yang terjadi jika fase krisis kepribadian terjadi pada usia senja? Kenapa tidak mungkin?

Dengan kondisi peradaban dunia saat ini, manusia terlalu disibukkan oleh rutinitas sehingga ketika tiba saat sudah menghadapi pensiun (baca : usia lanjut), ia baru sadar bahwa ada banyak hal yang dilewatkan selama ini, bahkan mungkin hal yang penting dalam hidup : kebahagiaan yang sesuangguhnya. Makna hidup pun kembali menjadi pertanyaan. Kebahagiaan di ujung usia seperti menjadi hal yang harus segera dicapai sebelum semuanya terlambat.

Menonton film ini saya menjadi sadar betapa pentingnya mengamati, meng-appreciate, merenungkan, serta berpikir positif terhadap setiap hal yang ada di dalam hidup saya. Dengan demikian saya merasakan kebahagiaan dari dalam diri saya sendiri. Semoga saja saya bisa selalu menerapkannya hingga mencapai usia para karakter di TBEMH.


Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates