Thursday, June 7, 2012

The Jose Movie Review
Prometheus


Overview
Ridley Scott adalah salah satu nama sutradara yang tak perlu lagi diragukan kemampuannya dalam mengarahkan film. Setelah dua tahun absen (terakhir menyutradarai Robin Hood di tahun 2010), Ridley rupanya menggarap salah satu proyek idealisnya, Prometheus. Bisa dibilang ini adalah prekuel dari franchise Alien yang pernah dimulainya di tahun 1979. Setidaknya Prometheus punya pertalian cerita dan universe yang sama dengan salah satu horror sci-fi paling terkenal itu.

Dengan berbagai elemen yang sama dengan Alien, tak heran jika hasil produksinya juga memiliki cita rasa yang hampir sama. Itulah yang saya rasakan sejak awal film and that’s a good sign since we haven’t seen a lot of pretty decent sci-fi lately. Kekuatan utama dari film adalah premise cerita yang menarik, dirangkai dalam perkembangan plot yang semakin lama semakin membuat penasaran, dan yang membuat saya memutuskan bahwa Prometheus adalah film bagus adalah kesimpulan dari film ini yang tidak disampaikan secara terang-terangan. Sehingga membuka ruang diskusi bagi para penontonnya sehabis menonton.

Sebagai sebuah film horror-thriller pun saya rasa sudah bisa dikatakan berhasil dalam membangun suasana mencekam dan adegan-adegan mengerikan, walau masih belum sekelas Event Horizon. Saya sendiri sebenarnya tidak begitu merasakan ketegangan yang kadarnya tinggi dan juga tidak peduli dengan nasib karakter-karakternya karena saya terlalu sibuk untuk penasaran dengan kepingan-kepingan puzzle plot yang disebar sepanjang film. Dengan kata lain, Prometheus berhasil membuat saya tertarik dengan plotnya tapi mengesampingkan karakter-karakternya. Terserah Anda mengartikan ini sebagai hal yang positif atau negatif.

Namun bukan berarti semua pertanyaan akan bisa terjawab dengan teliti memperhatikan tiap detail film. Ada beberapa hal yang masih saya pertanyakan tentang logika film ini. Saya sih memilih untuk menerka-nerka sendiri jawabannya sambil menantikan penjelasan yang lebih pasti jika kelak ada sekuel-nya (dan saya yakin sudah pasti dipersiapkan untuk kemungkinan tersebut sebagai “jembatan” menuju seri pertama Alien) ketimbang keburu menjustifikasi sebagai plothole.

In my short, baik secara premise maupun teknis, Prometheus adalah suatu produksi yang baik walau masih tidak se-epic Alien. Very worth watching in theatres.

The Casts
Saya melihat tak ada karakter yang benar-benar orisinil di sini. Hampir semuanya memiliki karakteristik yang mirip dengan karakter-karakter film yang pernah ada sebelumnya. Misalnya karakter Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) yang mirip dengan Ripley yang dibawakan secara iconic oleh Sigourney Weaver dari Alien. Robot David (Michael Fassbender) juga mengingatkan saya pada karakter Gigolo Joe yang dibawakan Jude Law di Artificial: Intelligence, dan Meredith Vickers (Charlize Theron) yang mirip dengan TX (Kristanna Loken) di Terminator 3 : Rise of the Machines.

Tentu saja dari kesemuanya, Noomi Rapace berhasil mencuri perhatian layar berkat porsi yang dominan dan performa akting Noomi yang baik. Lebih baik ketimbang di Sherlock Holmes : A Game of Shadows, dan setara lah dengan penampilannya di trilogy Millennium yang melambungkan namanya. Michael Fassbender juga berhasil mendapatkan simpatik dari saya sebagai robot yang less feeling and more curiosity. Andai saja dia juga dibuat tidak berkedip seperti robot-robot di A:I mungkin akan lebih mengesankan lagi. Terakhir, Theron seperti biasa tampil anggun, berkelas, tapi juga licik at the same time. You know she’s good at it.

Technical
Setelah bertahun-tahun disuguhi visual fx yang begitu-begitu saja di berbagai film, akhirnya ada juga film yang berhasil memuaskan saya secara visual. Saya sangat menyukai visualisasi alien (menyerupai manusia) yang sedikit demi sedikit hancur dari dalam, The Med Pod; mesin operasi otomatis yang menurut saya visioner dan masih masuk akal diwujudkan, dan banyak lagi elemen-elemen teknologi yang wowed me sepanjang film. A very good job in this department!

Di divisi sound effect juga terdengar maksimal. Tak hanya efek-efek suara yang crisp tapi jernih, efek surround juga dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dengarkan saja suara gemericik air di gua, suara badai elektrik yang menggetarkan seat bioskop namun tidak terdengar berisik, dan suara pekikan alien yang sounds so real. This was one of the most amazing audio experience from a movie I’ve ever had.

The Essence (Spoiler Alert!)
Premise-nya cukup kontroversial; mempertanyakan asal-usul kehidupan (manusia) yang mau tidak mau berkaitan dengan siapa Sang Pencipta dan apa tujuan dari penciptaan tersebut. Hal yang sensitif terutama bagi kaum religius yang sejak awal seolah-olah “memusuhi” kaum scientist yang tidak begitu saja menerima konsep ke-Tuhan-an sebagai sosok Pencipta.

Seperti kata ayah Elizabeth, setiap manusia berhak memiliki pandangan masing-masing tentang keberadaan hidup termasuk dalam menyebut tempat tujuan manusia setelah kematian. Satu hal yang pasti, tak ada satu pun manusia yang tidak mempertanyakan eksistensinya, termasuk kaum atheis yang banyak ditampilkan di sini. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat manusia selalu berusaha mencari. Bahkan agama pun sebenarnya tidak pernah memiliki jawaban untuk semua pertanyaan manusia karena agama ada untuk direnungkan dan ditelaah oleh manusia, bukan untuk menjawab pertanyaan. Jawaban yah ada di tangan masing-masing individu.

Kalau mau diteliti, film ini tidak pernah mendoktrin tentang siapa Sang Pencipta (di sini disebut sebagai Engineers) dan apa tujuan hidup manusia. Adapun teori-teori yang disampaikan adalah persepsi dan asumsi dari karakter-karakter yang ada dan itu tentu saja belum tentu benar (that’s why I can’t call them as plotholes). Penonton lah yang (harus) terus mencari dan menentukan jawabannya masing-masing. Ah, saya jadi ingat epilog-nya.

Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Achievement in Visual Effects
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates