Thursday, June 28, 2012

The Jose Movie Review
Brave


Overview

Disney-Pixar adalah nama yang tidak perlu diragukan lagi kualitas animasi 3 dimensinya. Selain menjadi salah satu pioneer di bidang long-feature 3D animation, Pixar sudah terlanjur memiliki image yang tidak hanya bagus di detail gambar animasi, namun juga bobot cerita dan tampilannya yang elegan. Walau tahun lalu sempat dicibir banyak pihak lewat Cars 2, nama Disney-Pixar masih menjadi jaminan animasi bermutu. Tak heran masih banyak yang menantikan sajian mereka tahun ini, Brave yang menambah portolio cerita “princess” untuk Disney (anyway saya masih bertanya-tanya kenapa pada opening title yang tertulis hanya nama “Disney” tanpa embel-embel “Walt”).

Masih berada dalam tradisi Pixar, Brave memiliki elemen khas-nya; tampilan dan alur cerita yang elegan dan esensi cerita yang cukup kuat, lengkap dengan metafora-metafora yang indah, dan juga dalam hal struktur filmnya (itu artinya ada short feature tersendiri sebelum film utama diputar). I have to admit, from start to end, semuanya tersaji dengan sangat baik. Alur cerita dengan pace yang sangat nyaman untuk diikuti, ups and downs yang terangkai dengan baik, adegan-adegan aksi yang juga cukup seru, humor-humor yang cukup menghibur, dan momen-momen (potentially) tearjerkers. Namun saya juga tidak bisa bohong kalau saya merasa biasa saja seusai menyaksikannya. Tidak ada satu pun adegan yang begitu berkesan dalam benak saya dan tidak ada pula yang berhasil menyentuh saya. For comparison, I was so touched until my eyes gone (a lil bit) wet everytime I watched The Married Life scene in Up or Andy’s Farewell scene in Toy Story 3. Tapi di sini… saya lempeng-lempeng saja tuh. Mungkin karena adegan-adegan serupa sudah seringkali muncul kali yah?! Atau kalau menurut saya sih di sini Pixar berusaha untuk memuaskan semua golongan penontonnya sehingga akhirnya tidak ada satu pun yang berhasil. Premise-nya sendiri paling cocok untuk penonton remaja muda (10-16 tahun). Untuk memuaskan penonton di bawah usia tersebut, dimasukkan unsur-unsur fantasi, seperti nenek sihir, dan humor-humor innocence yang mungkin terasa terlalu childish untuk target penonton utamanya. Sebaliknya tema utama yang tergolong serius berpotensi membuat penonton yang lebih muda untuk tidak mengerti dan merasa bosan.

Selain itu, ada satu hal yang membedakan Brave dengan produksi-produksi Pixar lainnya (baca : sebelumnya) adalah munculnya sejumlah crude humor yang sempat membuat saya terkejut. Humor-humor yang menyerempet sensuality dan kekerasan tingkat ringan yang biasanya menjadi komoditas animasi keluaran DreamWorks diadopsi di sini. Kalau soal perubahan ini sih relatif yah bagi penonton, apakah merupakan perkembangan ataupun malah kemunduran. Kalau saya yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan sajian khas Pixar yang aman, elegan, dan cocok untuk semua umur sih agak risih. Bukan berarti saya anti crude humor yah. Saya sangat menikmatinya di installment-installment Shrek, misalnya. Tapi aneh rasanya menyaksikan hal-hal demikian di film keluaran Pixar.

So in short, tanpa ekspektasi apa-apa dan walau unsur archery pun belakangan sudah mulai overrated di Hollywood (tahun ini saja sudah ada di The Avengers dan Hunger Games), Brave masih merupakan suguhan yang menghibur bagi seluruh anggota keluarga. Tentu saja dengan dampingan orang tua untuk penonton di bawah usia 10 tahun. Oh iya, jangan lewatkan pula sebuah adegan post-credit-nya jika Anda penasaran.

The Casts

Aksen Norwegia yang terkadang terdengar kurang jelas bagi kita yang sudah terbiasa memahami aksen Amerika, menjadi ciri khas tersendiri untuk Brave dan semua lini pengisi suaranya mendukung feature tersebut dengan sangat baik. Namun demikian, tidak ada pengisi suara yang lebih menonjol ketimbang yang lain. Semuanya mengisi peran masing-masing sesuai dengan porsinya.

Technical

Soal detail gambar animasi, kualitas Pixar tidak perlu dipertanyakan lagi. Lihat saja detail rambut merah Merida yang justru sangat jelas terlihat ketika acak-acakan, detail butiran air, dan juga detail beruang Mor’du. Wonderful! Begitu pula dengan desain karakter yang masih ‘khas’ Pixar namun tetap unik dan menarik.

Divisi sound effect pun bekerja dengan sangat baik. Dengarkan suara geraman beruang (maaf, saya tidak menemukan paduan kata yang tepat untuk seekor beruang :p) atau suara letusan dari kuali nenek sihir. Crisp but clear.

Score dan original music yang juga sudah menjadi tradisi Disney maupun Pixar masih dipertahankan di sini. Score-nya tidak begitu iconic namun cukup membangun suasana sepanjang film. Sementara penggunaan theme songs-nya mengingatkan saya akan animasi-animasi klasik Walt Disney seperti Mulan.

The Essence

Dibandingkan “Father and Son”, tema “Mother and Daughter” masih tergolong jarang diangkat di Hollywood. Yang cukup berkesan bagi saya hanya Freaky Friday (Jamie Lee Curtis dan Lindsay Lohan), Anywhere but Here (Susan Sarandon dan Natalie Portman), dan serial Gilmore Girls. Terkait dengan budaya patriarki yang ternyata memang lebih mendominasi di berbagai wilayah di dunia, tentu saja permasalahan yang diangkat dari hubungan ibu-putri sangat berbeda dengan hubungan ayah-putra. Namun sebenarnya inti permasalahannya sama : masing-masing pihak punya alasan tersendiri untuk mempertahankan pendapat (atau pendirian)-nya. Orang tua yang merasa lebih tahu tentang kehidupan seringkali memaksakan berbagai hal demi ‘kebaikan’ anaknya. Sedangkan anak membutuhkan untuk memahami segala hal dalam kehidupan dengan sendirinya, tanpa campur tangan dari orang tua yang cenderung protektif. Jika melakukan kesalahan, let it be a lesson for them. It’s the human nature.

Mungkin Ratu Elinor tahu betul bagaimana seorang putri harus bersikap, namun ada kalanya ia butuh belajar tentang survival dari Merida. Sebaliknya, Merida juga belajar lebih banyak tentang kehidupan melalui kejadian-kejadian yang dialami bersama. Sebuah contoh yang sangat bagus tentang perlunya saling mengenal dan memahami antara orang tua dan anak untuk menemukan win-win solution terbaik, terutama demi perkembangan si anak sendiri.


Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Animated Feature Film of the Year
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates