Friday, June 22, 2012

The Jose Movie Review
Abraham Lincoln : Vampire Hunter

Overview

Film dengan plot yang memelintir sejarah sudah sering dibuat. Favorit saya sih Inglourious Basterds. Selain dari itu masih ada Hellboy dan Captain America : The First Avenger yang juga sedikit memelintir sejarah Nazi. Saya sih tidak keberatan dengan kekurang-ajaran ini karena menurut saya justru dengan cara demikian penonton (seharusnya) menjadi penasaran untuk mencari tahu lebih banyak tentang sejarah yang sebenarnya. Saya bisa mengerti jika Amerika mengolok-olok Nazi yang menjadi public enemy dunia sehingga sering dijadikan kambing hitam di berbagai film yang memelintir sejarah. Tapi saya tidak habis pikir jika salah satu presiden Amerika Serikat yang paling berpengaruh, Abraham Lincoln, menjadi “korban” imajinasi liar filmmaker Hollywood. Heran, tapi juga disertai rasa penasaran seperti apa jadinya, terlebih lagi setelah mengetahui bahwa sutradara Rusia dengan style unik, Timur Bekmambetov-lah yang mengarahkan. Jujur, tanpa nama Bekmambetov dan juga Tim Burton di jajaran produser, saya akan langsung melewatkan begitu saja premise seperti Van Helsing ini.
Dengan ekspektasi yang tak terlalu tinggi dan berusaha menikmati senyaman mungkin tiap durasinya, saya berhasil melewatkan keseluruhan film tanpa rasa kantuk atau bosan. Ada banyak hal yang harus saya toleransi dan abaikan demi menikmatinya. Pertama, tentu saja tebaran plothole di mana-mana yang untungnya masih tolerable. Kedua, alurnya yang sangat generik. Terakhir, keklisean yang juga tersebar di setiap sendi plotnya, termasuk elemen-elemen klasik sosok vampire. Jika Anda capek dengan semua ini, I suggest you to skip this flick. Namun jika Anda masih bisa mentolerirnya, Abraham Lincoln Vampire Hunter (ALVH) masih menawarkan adegan-adegan aksi stylish lengkap dengan ciri khas Bekmambetov : slow motion. Memang tidak se-remarkable Wanted, juga tidak terlalu bloody maupun gory, namun bagi beberapa penonton masih enjoyable. Oh iya, tingkat sadisme-nya berada di ambang bawah rating R. So mungkin bakal banyak penggemar gore yang kecewa.
Kelemahan lainnya juga terletak pada alur yang kurang rapi, dalam arti mengganggu kenikmatan mengikutinya. Saya mengerti plot turning point Abraham Lincoln dari seorang pemburu vampire menjadi sosok presiden yang berpengaruh sangat perlu dihadirkan dalam rangka mensinkronkan dengan fakta sejarah. Tapi kenapa harus meletakkannya di tengah-tengah dan melanjutkan aksi sang pemburu vampire di babak terakhir? Selain mengganggu kenyamanan mengikuti alur, aneh (dan konyol) rasanya melihat Abe tua bertarung memberantas komplotan vampire. Sama anehnya ketika melihat Master Yoda ikut berperang  dengan pedang lasernya di Star Wars Episode II. Untung saja cerita ditutup dengan kembalinya ke fakta sejarah tentang sosok Abraham Lincoln sehingga menutup kemungkinan adanya sekuel, walau bukan berarti menutup kemungkinan adanya spin-off.
Jadi apa yang tersisa yang bisa diharapkan dari ALVH? Well, untunglah Timur Bekmambetov yang duduk di kursi sutradara sehingga setidaknya memiliki style tersendiri. Favorit saya sih adegan pertarungan Abe vs. Jack Barts di tengah horse stampede. Sisanya... yah very mediocre lah.

The Casts

Entah apa yang ada di dalam benak eksekutif Fox sehingga memutuskan aktor yang kurang begitu dikenal untuk mengisi karakter utama, Abraham Lincoln. Benjamin Walker sebelumnya hanya mendapatkan peran-peran kecil, seperti di Kinsey, The Notorious Bettie Page, dan Flags of Our Fathers. Untunglah di balik wajah geek-nya, Walker bisa menghidupkan karakter Abe muda dengan cukup baik dan meyakinkan. Furious by vengeance sekaligus warmhearted. Saya jadi teringat penampilan James McAvoy di film Bekmambetov sebelumnya, Wanted.
Penampilan terbaik ditampilkan oleh Dominic Cooper (masih ingat Howard Stark muda, ayah Tony “IronMan” Stark, di Captain America : First Avenger?) dalam memberikan kharisma pada karakter Henry Sturgess.
Mary Elizabeth Winstead bisa dibilang aktris muda yang nasibnya cukup baik. Dari semua jajaran bintang franchise Final Destination, bisa jadi namanya lah paling bersinar hingga kini. Bermain di Live Free or Die Hard, Scott Pilgrim vs. The World, dan kini mengisi peran yang cukup penting di sini, menjadi bukti peningkatan karirnya. Sementara Rufus Sewell (A Knight's Tale dan The Legend of Zorro) yang sekali lagi memegang peran villain, masih tampil sesuai dengan porsinya walau karakternya bukanlah villain yang cukup memorable dan kharismatik.

Technical

Sebagai sebuah film action-horror, ALVH memiliki teknis yang cukup mumpuni terutama dalam menghidupkan ketegangan dan keseruan adegan-adegan. Tidak ada yang begitu menonjol namun editing, special effect, dan sound effect tampil dengan prima. Make up vampire-nya sendiri bagi saya cukup mengerikan walau masih terkesan seperti film vampire kelas B.

The Essence

Amerika Serikat sejak awal berdirinya menjadi simbol kebebasan. Perjalanan sejarah yang panjang mempengaruhi makna kebebasan bagi mereka sehingga menjadi hal yang sangat penting. Ada satu dialog yang paling menarik disampaikan oleh karakter Adam yang mempertanyakan kebebasan : “sudahkah kita membebaskan diri dari berbagai belenggu sebagai individu?” Sebuah pertanyaan yang cukup substansial dalam hidup namun luput untuk terbersit dalam pikiran kita. Di saat manusia sering berkoar-koar tentang kebebasan individu, seringkali malah ia sendiri belum terbebas dari dirinya sendiri, termasuk dari tuntutan-tuntutan yang dibebankan oleh sekelompok (masyarakat). Thanks Adam for questioning something that has harassed my mind pretty hard!
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates