Thursday, June 7, 2012

The Jose Movie Review
50/50


Overview
Anda pernah menyaksikan dan terkesan dengan film berjudul (500) Days of Summer? Well, saya rasa Anda juga akan menikmati sajian yang satu ini. Memang, antara (500) Days of Summer dan 50/50 tidak memiliki sutradara maupun penulis cerita yang sama, hanya Joseph Gordon Levitt lah letak persamaannya. Oh iya satu lagi, keduanya memiliki judul yang diawali angka 50. That’s all. Tapi entah kenapa dan bagaimana, saya merasakan aura dan feel yang sama antara keduanya sejak menit awal film. Bukan hal yang buruk karena saya merasakan kenyamanan sepanjang durasi film (pada dua judul yang saya sebutkan tesebut). Yap, sejak awal cerita bergulir hingga akhir, 50/50 adalah suguhan yang comforting dan bikin feel good bagi penonton.
Agak tak pantas memang untuk menyandingkan tema penyakit ganas dengan komedi. Biasanya tema seperti ini hanya dijadikan film tearjerkers. Nyatanya 50/50 berhasil memadukan keduanya tanpa terasa inappropriate. Memang sisi komediknya tidak se-hilarious film-film Farrelly Brothers, tapi cukup lah untuk membuat penonton tersenyum dan menyadari bahwa hati yang riang bisa jadi obat yang lebih mujarab ketimbang harus menguras air mata yang semakin membuang energi. Tema struggling with deadly disease disajikan dengan sangat menarik dan detail emosional yang baik. Pada akhirnya penonton menjadi bersimpatik kepada karakter Adam bukan karena kasihan pada kondisinya, tapi karena perkembangan karakter yang dilaluinya. Menyentuh namun tidak sampai menjadikan penonton cengeng.
Sayang, kekuatan tema pergulatan seseorang dalam menghadapi penyakit ganas di sini tidak diimbangi dengan kuatnya tema bromance yang justru dijadikan bahan “jualan” utama. Lihat saja tagline “It takes a pair to beat the odds” dan selalu tampilnya dua karakter utama, Adam dan Kyle, di semua materi promosinya. Saya tidak begitu melihat ada kedekatan emosional atau sikap saling peduli antara keduanya. Justru Kyle tampak memanfaatkan kondisi Adam untuk keuntungan dirinya sendiri. Sorry, but the bromance premise was a total failure to me.
Selain dari itu, plot hubungan asmara Adam justru terasa lebih menarik. Memang bukan menjadi plot yang dipentingkan tapi nyatanya digarap dengan lebih baik ketimbang sisi bromancenya. So, I think it’s a sweet bonus to redeem the bromance.
The Casts
Joseph Gordon Levitt (JGL) semakin lama semakin menonjol dalam film-film yang diperankannya. Dengan bentuk tubuhnya yang kurus, ia berhasil membuktikan bahwa kemampuan akting lebih penting ketimbang tampilan fisik. Memerankan karakter yang tak jauh berbeda dengan di (500) Days of Summer, penampilan JGL masih memikat sebagai pria dengan penyakit kanker. Beruntung skrip memberikan detail emosi dan perkembangan karakter yang baik untuk karakternya dan ia membawakannya dengan sangat pas.
Sementara Seth Rogen masih membawakan karakter tipikalnya, pemuda slacker yang agak nyentrik. So what can I say. Let’s say that he’s still playing himself and the script hasn’t been so kind to him. Maaf Rogen, penampilan Anda tidak begitu mengesankan bagi saya di sini.
Seperti dengan film-film sebelumnya, perhatian saya selalu teralihkan ketika Anna Kendrick muncul di layar (bahkan ketika tampil sebentar di Twilight Saga!!!). I just loved her charm and I think she’s one of the most promising young actress. Beruntung pula ia seringkali mendapatkan peran yang menarik, seperti halnya di sini yang bagi saya berhasil mengalahkan performa Seth Rogen dan Bryce Dallas Howard. Terakhir, saya sangat mengapresiasi akting Angelica Houston yang walau tak begitu banyak tapi sangat berkesan. Aktingnya dalam membawakan karakter wanita dengan dua anggota keluarga pria berpenyakit parah terasa begitu hidup dan simpatik khusus dari saya teralamatkan untuknya.

Technical
Tak ada yang sangat menonjol dari sisi teknis. Editing, sinematografi, setting dan kostum, semuanya terasa pas sesuai dengan kebutuhan dalam membangun suasana yang diinginkan. Mungkin yang paling menarik adalah soundtrack pengiring yang mampu menghanyutkan suasana, baik di saat haru maupun bahagia. As good as (500) Days of Summer’s soundtrack but less memorable.
The Essence
Setiap kali mendengar kabar kerabat yang menghadapi penyakit ganas, kita selalu merasa perlu untuk menunjukkan kekhawatiran kita dan memberikan semangat. We say, “I’m sorry to hear that”, “don’t worry, you are going to be okay”, atau sejenisnya. Padahal sebenarnya si penderita hanya perlu dimanusiakan seperti biasa, seperti tidak ada penyakit apa-apa yang sedang menggerogotinya. Saya sendiri pernah menghadapi penyakit ganas yang hampir merenggut nyawa saya, so I know exactly what and how did Adam feel and think in the movie. Thank God, ada juga yang mengangkat tema ini ke layar.
Di sisi lain, sebenarnya orang yang memerlukan penghiburan bukanlah si penderita itu sendiri, tetapi orang terdekatnya (baca : orang yang mengasihinya). Di sini, ibu Adam lah yang memerlukan penghiburan dan ucapan, “He’s going to be okay”. Jadi tidak salah jika Katherine menyebut Adam egois ketika ia merasa tidak nyaman dengan kekhawatiran berlebihan dari ibunya. 

Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates