Wednesday, May 23, 2012

The Jose Movie Review
Shame


Overview
Saya ingat pernah menyaksikan Last Tango in Paris (LTIP), salah satu film arthouse klasik besutan sutradara legendaris Bernardo Bertolucci dan dibintangi Marlon Brando. Jujur saat itu saya menganggap film ini sebagai film yang sangat absurd. Only about a relationship based on sex, nothing more, even each identity. Tapi setelah melalui beberapa observasi, ternyata LTIP lebih dari sekedar softporn berbalut arthouse film. Film yang mendapatkan rating NC-17 saat dirilis ini adalah sebuah gambaran salah satu kebutuhan manusia paling dasar dan bagaimana ia mengeksplornya. Di tahun 2011, sutradara Inggris, Steve McQueen, mencoba mengangkat tema manusia dan seksualitasnya dengan caranya sendiri.
Shame mengangkat tema sex-addiction yang dialami oleh karakter utama, Brandon. Tak hanya menghadirkan adegan-adegan panas antara Brandon dan wanita-wanita random, Shame lebih banyak mengeksplor akting dan gesture Brandon yang cukup jelas menggambarkan bagaimana perasaannya ketika berhubungan seks dengan wanita, bagaimana ketika ia tidak mendapatkan pemuas nafsu saat membutuhkan.
Film berkembang lebih jauh dari sekedar isu sex-addiction ketika dimunculkan karakter Sissy, adik Brandon yang dependant dan seolah-olah selalu mencari perhatian kakaknya. Penonton lantas diajak untuk menganalisis hubungan seperti apa yang dimiliki oleh Brandon-Sissy yang nantinya berkaitan dengan ketergantungan seksual yang dialami oleh Brandon. Perkembangan karakter dan plot yang menarik, indah, dan makin lama makin membuat penasaran. Namun jika Anda tidak terbiasa untuk menonton film yang informasinya disampaikan melalui akting, gesture, dan detail adegan yang tak begitu kentara, Anda akan terbosan-bosan dan langsung memberikan label “tidak jelas” pada film ini.
Dibutuhkan analisis dari beberapa elemen yang ada di layar, seperti gesture, ekspresi wajah, dan sedikit dialog, untuk mendapatkan makna sesungguhnya dari Shame. Konklusinya pun bisa berbeda-beda untuk setiap penonton. Jadi diskusi sehabis menyaksikannya akan menjadi kegiatan intelektual yang menarik. Namun jangan khawatir, McQueen membuat plot Shame dengan lebih jelas untuk diikuti ketimbang LTIP. Tentu saja dengan garapan visualisasi yang tak kalah artistik, halus, dan indah.
The Casts
Ini adalah film kedua Michael Fassbender yang juga disutradarai Steve McQueen setelah Hunger. Saya sendiri belum menyaksikan Hunger, tetapi jelas sekali dari permainan akting Fassbender yang maksimal bahwa McQueen telah menemukan chemistry yang kuat dengannya. Melihat ekspresi wajah dan gesture Fassbender ketika sedang “tersiksa” karena tidak bisa melampiaskan nafsunya atau ketika berhadapan dengan Sissy, Marianne, dan wanita-wanita yang ditidurinya, Fassbender jelas punya kemampuan akting yang mumpuni daripada sekedar bermain di film-film blockbuster minim akting skill needed.
Sementara sang lawan main, Carey Mulligan mampu mengimbangi akting Fassbender dengan sangat baik. Setelah terpukau oleh aktingnya di An Education, Never Let Me Go, dan bahkan di Drive, saya lagi-lagi diyakinkan bahwa ia adalah salah satu aktris muda yang sangat berbakat memerankan karakter di film-film berkelas award. Lebih dari itu, ternyata Mulligan punya bakat bernyanyi. Yap, sebagai bonus sekaligus tribute to New York yang menjadi setting Shame, Mulligan menyanyikan New York, New York di salah satu adegan. She’s just marvelous!
Technical
Layaknya film arthouse lainnya, McQueen memanjakan mata dengan visual sinematografinya. Satu adegan yang paling berkesan dan saya kagumi adalah adegan Brandon jogging malam-malam mengeliling kompleks apartemennya. Kamera mengikuti langkah Brandon tanpa cut sedetik pun.
McQueen menawarkan berbagai angle yang tak lazim untuk memberikan makna tersendiri dari adegan sekaligus memoles beberapa adegan seks sehingga jauh dari kesan vulgar. Dari sini jelas sekali kepiawaian McQueen sebagai sutradara arthouse yang tak hanya jago meramu plot, namun juga memainkan visualisasi dalam menuturkannya. He did a very good job here.
Suasana kota New York yang tak pernah tidur namun membuat orang-orang yang tinggal tetap merasa kesepian seperti yang dialami oleh Brandon terbangun dengan sempurna oleh kombinasi setting, score, dan akting para aktornya. Satu kredit khusus yang menambah kelam dan frustrasinya nuansa Shame.
The Essence
Sejak awal peradaban manusia, seks selalu menjadi kontroversi. Tidak selamanya putih, juga tak selamanya hitam. Ada kalanya di kondisi tertentu, seks adalah hal yang haram. Namun tak bisa dipungkiri seks adalah salah satu kebutuhan sekaligus hasrat yang tak bisa terlepas dari kehidupan manusia.
Karakter Brandon menunjukkan seks bukan sebagai kebutuhan seperti layaknya manusia yang lainnya. Baginya, seks adalah kebutuhan yang wajib dipenuhi di saat sedang “tinggi”. Sayangnya, ia tidak bisa menikmati seks sebagai wujud ekspresi emosi (dalam arti “affection”). Ia hanya menikmati seks sebagai “penyelamat” di saat ia sedang membutuhkannya. Bagi beberapa orang mungkin menganggap kebiasaan Brandon adalah sesuatu yang enak, tapi tidak bagi Brandon. Seks adalah siksaan baginya tapi ia harus memenuhinya. Bayangkan betapa tersiksanya kondisi jiwa Brandon.
Ada banyak petunjuk yang menjelaskan hubungan psikologis antara ia dan Sissy sehingga mempengaruhi perilaku seks Brandon. I suggest you to watch and analyze it yourself because it may spoil your viewing experience and the result may vary. 
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates