Thursday, May 17, 2012

The Jose Movie Review - Hanna



Overview
Tidak begitu lantang terdengar, Hanna adalah film produksi 2011 berbudget rendah untuk ukuran film aksi, hanya sekitar US$ 30 juta. Namun siapa sangka hampir separuh budget tersebut balik modal ketika opening weekend saja dan mampu meraup lebih dari dua kali budget untuk penayangan worldwide-nya? Tentu ada hal yang menarik dari film besutan Joe Wright setelah Pride & Prejudice dan Atonement ini. Apalagi Saoirse Ronan, aktris muda yang sempat mencuri perhatian di Atonement menjadi karakter utama di sini.

Hanna dibuka dengan sangat menarik dan sangat menjanjikan. Kita diperkenalkan dengan sosok Hanna, seorang gadis muda belasan tahun yang tangguh berkat tutorial dari sang ayah di tengah hutan bersalju. Aksinya dalam berburu rusa tentu memukau siapa saja. Cerita lantas bergulir ketika pelatihan-pelatihan self-defense dan attacking tersebut mulai mengarah ke keterlibatan badan intelijen. Dari sini cerita berkembang dengan sangat baik, terutama dalam hal memberikan clue satu per satu kepada penonton tentang siapa Hanna sebenarnya dan alasan-alasan mengapa ini-itu terjadi. Gaya penceritaan dan editing ala arthouse sangat mendukung kedinamisan film. Pace cepat pas pada waktunya ketika adegan aksi dan kejar-kejaran, serta alur melambat dan silence ketika adegan emosional Hanna yang mempelajari dunia barunya. Semua terangkai dengan sangat seimbang dan enjoyable. Patut dicatat pula keefektifan pemecah keheningan yang mampu membuat penonton terguncang dari kursi berkali-kali.

Sayang, Hanna mulai kedodoran ketika memasuki paruh kedua, baik dari segi pace, keefektifan adegan, dan juga perkembangan cerita. Paruh kedua ini terasa seperti kehilangan arah dalam membawa cerita dan membuyarkan semua pondasi-pondasi menarik yang dibangun sejak awal film. Sedikit demi sedikit rasa penasaran penonton memudar, termasuk ketika twist cerita terungkap. Twist yang sejatinya menarik namun terasa hambar di layar. Editing pun tak banyak membantu, seperti sudah kehabisan inovasi dan energi yang sempat menggebu-gebu di awal. Menjelang akhir, plot utama dan sub plot banyak yang tidak dituntaskan dengan memuaskan. Subplot yang bisa dikembangkan menjadi lebih menarik, misalnya tentang persahabatan Hanna-Sophie dan keluarganya, hubungan antara Hanna-Erik, serta kejadian awal yang melibatkan Marissa, Erik, dan Johanna, tidak diberikan konklusi yang jelas. Well, finally Hanna hanya mampu menjadi gabungan antara film spionase dikejar-kejar ala Bourne Identity dengan kick-ass character gadis belasan tahun ala Leon The Professional.

Andai saja paruh kedua hingga akhir digarap sama menariknya dengan awal film, bukan tidak mungkin Hanna menjadi film aksi spionase yang bakal dikenang sepanjang masa, bahkan mungkin menjadi franchise tersendiri.

The Casts
Alasan utama saya menonton Hanna adalah Saoirse Ronan sebagai kick-ass teenage girl dan saya sangat puas dengan penampilannya di sini. Eric Bana tampil cukup menarik. Sayang karakternya tidak banyak dikembangkan sehingga terasa kurang berkesan. Begitu pula dengan Cate Blanchett yang kharismanya tak kalah sebagai villain.

Technical
Gaya art-house begitu kental terasa sejak awal film, terutama dari segi editing, angle, dan scoring. Modal yang sangat baik untuk menjadikan Hanna unik yang berbeda dengan film-film bertema spionase lainnya. Adegan yang saya sukai adalah ketika Hanna melarikan diri dari fasilitas Marissa. Dinamis seperti menyaksikan music video. Menarik pula menyaksikan pertarungan antara Erik dan puluhan anak buah Marissa dengan angle berkeliling. Mengingatkan saya akan adegan Neo vs. Agent Smith’s clones di The Matrix Reloaded.

Score oleh The Chemical Brothers bisa jadi pilihan yang sangat tepat. Aliran industrial techno-nya berhasil menghidupkan adegan-adegan aksi dan menegangkan sepanjang film. Belum lagi The Devils is in the Details yang disiulkan Isaacs sepanjang film berhasil terngiang terus di telinga.

The Essence
Hanna adalah gadis belasan tahun yang dibesarkan dengan cara yang keras. Sepanjang hidupnya ditempa sehingga ia menjadi mesin pembunuh yang tangguh, kuat, dan berteknik tinggi. Selain itu, ia juga dihindarkan dari berbagai emosional, seperti rasa kasihan, rasa kehilangan, bahkan ia belum pernah mengenal yang namanya musik. Tentu ketika dilepas ke dunia luar, Hanna canggung untuk berteman dan berpacara. Namun secara naluriah, ternyata ia juga merasakan butuh untuk memiliki sahabat dan orang-orang yang mengasihinya. Sisi manusiawinya inilah yang menarik untuk dijadikan bottomline. It’s human nature to feel, no matter how hard you’ve been trained and raised as a killing-machine.

Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates