Monday, April 9, 2012

The Jose Movie Review - Act of Valor


Overview

Act of Valor (AoV) bisa dibilang sebagai film kecil hemat budget tapi mampu menarik perhatian dan bikin penasaran ketika sempat merajai US Box Office selama satu minggu. Apalagi setelah tahu bahwa ini adalah film dengan anggota US Navy SEAL aktif asli sebagai aktor-aktor utama, dengan dana “hanya” sekitar US$ 12 juta (tergolong sangat kecil untuk proyek film action/war). Hasilnya? Tergantung dari sisi mana Anda menilainya.
Sebagai film action/war yang menawarkan adegan aksi penuh ketegangan dan sekaligus detail taktik plan misinya, saya mengakui AoV adalah film yang berhasil. Baik dari segi pace, alur, directing of photography, semuanya terjaga dengan rapi sehingga menjadikan AoV film action/war yang very enjoyable. Setidaknya tagline “Real Heroes. Real Tactics. Real Action.” sudah cukup terbukti dari hasil akhir filmnya.
Namun jika Anda menilai AoV sebagai film cerita utuh, maka tampak sekali kekurangan di sana-sini. Yang paling jelas terasa adalah gagalnya nuansa drama kemanusiaan yang juga ingin disisipkan untuk menyentuh penonton. Kalau menurut saya sih kegagalan ini dikarenakan penokohan yang kurang begitu kuat sehingga saya tidak begitu bersimpati ketika sesuatu terjadi terhadap karakter tersebut. Paling-paling saya hanya berpikir “wah kasihan yah…”, tanpa sedikit pun rasa nyess di dada, apalagi air mata. Ditambah lagi dengan karakter-karakter utamanya diperankan oleh aktor-aktor yang sama sekali tidak familiar bagi penonton, sehingga selain karakter Letnan Rorke Engel, tidak ada lagi karakter yang bakal diingat atau sekedar dikenali oleh penonton.
Mungkin “drama kemanusiaan” tersebut akan berhasil bagi penonton yang berasal dari angkatan bersenjata atau keluarganya yang memang memiliki kedekatan emosional. Tapi seharusnya kan film seperti ini justru bertujuan agar penonton awam (yang non-angkatan bersenjata) menjadi bersimpati atau malah tergerak jiwa patriotisme-nya dan memutuskan untuk bergabung dengan angkatan bersenjata? Sayang, untuk misi yang satu ini masih jauh dari kata berhasil. Padahal sisi drama kemanusiaan ini yang justru menjadi nilai lebih untuk film bergenre perang seperti ini.
Kekurangan plot juga terasa pada kelanjutan nasib beberapa karakter yang seperti tidak dipedulikan di akhir film, misalnya karakter Lisa Morales dan Christo. Padahal sebenarnya bisa menjadi sedikit lebih menarik bila diberikan porsi lebih terutama di akhir film. Setidaknya film tidak hanya berakhir begitu saja, tetapi juga memberikan beberapa penjelasan singkat akan kelanjutan nasib karakter-karakter pendukung yang jujur lebih menarik ketimbang karakter-karakter utamanya. Melihat hasil akhirnya, jelas sekali terasa bahwa film ini hanya menonjolkan patriotisme karakter-karakter utamanya saja (atau malah propaganda Amerika semata?), jika tidak mau dibilang cuma “promosi” US Navy SEAL.
Casts
Well, what can I say. Aktor-aktor utamanya adalah anggota US Navy SEAL asli yang, jujur, masih sangat kaku, terutama dalam menyampaikan dialog. Entah hanya saya atau penonton lainnya juga, bahkan narasinya disampaikan dengan terlalu cepat dan intonasi yang cenderung datar. Tatapan mata mereka ketika berdialog pun tampak tak berbicara sama sekali.
Aktor-aktor pendukung lainnya justru yang lebih berpengalaman. Misalnya Roselyn Sanchez (Lisa Morales) yang angkat nama lewat serial Without A Trace, Alex Veadov (Christo) dan Jason Cottle (Abu Shabai) yang juga sudah bermain di puluhan film walaupun tergolong pemeran pembantu.
Technical
Aspek yang paling menonjol dari teknikal AoV adalah sinematografi yang berhasil menangkap detail-detail gambar dengan indah, lengkap dengan teknik tilt-shift yang banyak ditunjukkan sepanjang film. Tentu saja hal ini berkat penggunaan kamera DSLR Canon EOS 5D MK2 yang compact dan sangat fleksibel dalam penggunaan aneka lensa dengan budget yang lebih rendah ketimbang menggunakan camcorder profesional. Hasilnya jadi lebih menarik dan real, sesuai dengan konsep film. Angle ala video game RPG pun disisipkan beberapa kali dan cukup berhasil memberikan keseruan dan ketegangan tersendiri.
Tata suara juga mendapatkan kredit tersendiri dari saya. Suara tembakan dan ledakan yang crisp, serta sound-sound effect lainnya yang terdengar sangat jernih dan tajam. Juara! Bahkan suara jengkrik di hutan Costa Rica pun terdengar seperti berada beneran di dalam studio.
Untuk score cukup beragam. Ada beberapa yang menurut saya bagus, sangat mendukung mood adegan-adegannya. Namun ada pula beberapa score yang justru menjadikan AoV terasa seperti film televisi atau home video (atau mungkin juga karena faktor adegannya yah yang memang punya feel seperti itu?).
The Essence
Saya rasa sudah jelas sekali esensi patriotisme yang ingin disampaikan AoV di sini. Puisi di akhir film pun cukup menegaskan hal tersebut. Seperti apa isi pusi tersebut? Ada baiknya Anda menyaksikannya dan meresapinya sendiri.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates