Wednesday, April 25, 2012

The Jose Movie Review - 21 Jump Street



Overview
Masih ingat serial 21 Jump Street? Saya sendiri sih samar lupa-lupa ingat. Tapi yang pasti saya ingat adalah bumpernya yang berupa tulisan dari pilox di atas dinding bata. Saya juga ingat bahwa ini adalah serial detektif serius. Oleh sebab itu saya sempat mengernyitkan dahi ketika pertama kali mendengar versi layar lebarnya bergenre action comedy. But that’s okay. Sounds not bad since there’s Jonah Hill’s name in the cast and also in the writing credits. Review positif pun bertebaran, termasuk certification fresh di Rotten Tomatoes. Langsung saja ekspektasi saya naik beberapa level.

Nyatanya, 21 Jump Street (21JS) versi layar lebar ini memang menawarkan guyonan-guyonan vulgar (kadang juga cerdas), tingkah laku slapstick, serta kekacauan-kekacauan suasana sebagai suguhan utama. Biasanya saya termasuk orang yang paling tertawa keras ketika melihat atau mendengar humor seks. I love sex humor so much, as long as it’s funny, tidak hanya sekedar menyebut atau mempertontonkan organ genital semata. Tapi sayangnya tak banyak guyonan di sini yang berhasil membuat saya terbahak-bahak. Kebanyakan saya hanya tersenyum kecil atau mentok-mentok chuckle. Entah kenapa, materinya sebenarnya lucu. Ada juga olok-olok sosial yang menurut saya malah terdengar lebih lucu, misalnya tentang Korean Jesus atau Jenko yang menuduh serial Glee sebagai penyebab keadaan sosial remaja SMA yang berbeda dengan generasinya. That is hilarious! 

Yah, kalau soal lucu-tidaknya lelucon tergantung selera sih. Setiap orang punya ketertarikan akan humor yang berbeda-beda, tidak bisa diukur. Mungkin saja bagi Anda bakal menjadi luar biasa lucu. Satu hal yang pasti, humor-humor nya disebar secara merata sehingga secara keseluruhan tidak akan terasa ada bagian yang membosankan. Bahkan saking menyebarnya humor-humor yang ada, terkadang justru terasa seperti film ini hanya berisi guyonan saja. Cerita penyelidikannya kurang mengalir. Wajar juga sih, karena sisi ceritanya juga tidak membutuhkan durasi begitu banyak dan tergolong biasa kalau tidak mau disebut cliché khas film remaja dan film detektif. Untung saja adegan-adegan aksinya seperti adegan perang senjata di penthouse ala Smokin’ Aces dan kejar-kejaran di jalan layang ala The Matrix Reloaded, cukup menghibur, seru, dan tentu saja masih ada unsur comedicnya. Anyway, 21JS cukup menghibur sebagai tontonan instant. Mungkin Anda akan mengingat beberapa istilah-istilah yang dipopulerkan di sini, tapi secara keseluruhan tidak begitu memorable.

The Casts
Jonah Hill adalah nyawa dari film ini, baik karena karakternya yang memang paling banyak dikembangkan dan juga sebagai sumber utama kelucuan, and he did his part very well here. Clumsy, hilarious, but loveable. Sementara partnernya, Channing Tatum memerankan karakter school jock yang tidak lazim, body besar, bodoh, tapi juga geek. Rasa-rasanya Channing lebih banyak menjadi diri sendiri di sini karena di mata saya ia sama sekali tidak memberikan kharisma apa-apa, sama seperti penampilannya di film-film sebelumnya. Sorry to say, but I think he has nothing else to sell but his good body. Ice Cube kali ini memerankan karakter yang mirip dengan Nick Furry, tentu saja dengan mulut yang lebih kotor. He’s second source of fun after Jonah.

Aktor pendatang baru yang cukup menarik perhatian saya adalah Dave Franco yang di sini mendapatkan porsi lebih banyak ketimbang di Fright Night. Ia punya potensi akting yang sama dengan sang kakak, James Franco. Sementara Brie Larson, pemeran Molly, our heroine’s babe, terasa hanya sebagai pelengkap yang replaceable, apalagi penampilannya yang kurang mengeluarkan sex-appealnya dan karakternya yang tidak begitu menarik untuk disimak.

Technical
Sebagai film action berbalut komedi, 21JS terlihat menarik berkat editingnya yang dinamis. Kalau soal sinematografi dan tata suara tidak ada yang begitu istimewa, standard Hollywood. Pemilihan pengisi musik soundtrack termasuk tepat dalam menghidupkan kegilaan remaja SMA. Walau saya merasa agak aneh mendengarkan lagu pembuka The Real Slim Shady-nya Eminem diputar saat setting waktu menunjukkan tahun 2005. Interesting sih tapi kayaknya tahunnya tidak matching deh.

Divisi wardrobe juga tidak terlalu menonjol untuk ukuran setting remaja yang biasanya lebih colorful dan potongan yang variatif.

The Essence
Basi kalau saya membahas tentang hubungan bromance yang jelas-jelas terlihat sepanjang film melalui karakter Schmidt-Jenko. 21JS mengangkat hal yang lebih menarik bagi saya, yakni perubahan sosial remaja yang terjadi dengan sangat cepat. Karakter Jenko dan Schmidt yang mengalami masa-masa SMA di tahun 2005 saja mengalami “gegar budaya” saat memasuki dunia yang sama di tahun 2012. Remaja tahun 2005 masih punya standard mana yang populer mana yang geek. Masih ingat dong film-film remaja era awal 2000’an dimana siswa populer adalah yang menjadi anggota cheerleader atau pemain futbol. Sementara di tahun 2012 remaja populer justru yang (dulu) berasal dari kalangan geek, seperti pecinta lingkungan dan aktivis kesetaraan gender. Apakah ini suatu kemajuan atau malah kemunduran?

Kalau mau dilihat dari hal-hal yang lebih dihargai di mata remaja, tentu perubahan ini adalah suatu kemajuan. Namun di sisi lain bisa jadi sebuah kemunduran karena yang dianggap keren di mata remaja sekarang adalah hal yang lame di mata generasi sebelumnya. Tidak heran jika remaja sekarang (menurut saya lho ya) tingkahnya lebih ababil (baca : lebih manja), lebih banyak galau ketimbang prestasinya. Selera musik dan filmnya juga lebih tidak berisi dan lebih lame ketimbang dulu. Perubahan sosial remaja yang menurut saya sangat drastis dengan rentang waktu yang tidak terlalu panjang.

Kalau saya sih tetap pada selera dan socio-culture ketika saya masih SMA dulu, dengan pola pikir dan tingkah laku yang lebih dewasa tentu saja. Tapi jika saya ditugaskan untuk menyamar menjadi anak SMA lagi, mungkin saya harus belajar banyak dari serial Glee, mulai mengerti gadis seperti Bella Swan, dan membiasakan diri mendengarkan Justin Bieber, Selena Gomez, dan Greyson Chance.

Lihat data film ini di IMDB.



Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates