Guardians of the Galaxy Vol. 2

Star-Lord, Gamora, Rocket, Drax, and Baby Groot were on an adventure to the planet they've never seen before.
Read more.

Critical Eleven

Ika Natassa's best-seller novel about marriage's critical moment is ready to hit the screen!
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Read more.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Read more.

Alien Covenant

Another expedition ship to confronted with the Alien's colony .
Opens May 10.

Saturday, April 28, 2012

The Jose Movie Review - The Witness


Overview
Skylar Pictures sejak awal kemunculannya di tanah air sebenarnya memiliki premise-premise cerita yang cukup menarik. Sayang kesemuanya tidak diimbangi dengan kemampuan menyampaikan cerita dengan baik.  Soal teknis pun demikian, namun untungnya dari karya ke karya, Skylar mampu terus memperbaiki kekurangan di lini teknis. Lihat saja peningkatan yang terjadi mulai Jinx, Tebus, Setan Facebook, dan terakhir yang paling berhasil menjadi box office Indonesia, Surat Kecil untuk Tuhan. Kini dengan filmografi seperti itu, sekali lagi Skylar mencoba membuat sedikit perkembangan (setidaknya dari segi strategi pemasaran) melalui The Witness, yakni menggandeng PH Filipina sekaligus memasarkannya juga di negeri tersebut terlebih dahulu agar penonton Indonesia ikut berbondong-bondong menyaksikannya setelah mendapatkan respons yang positif di Filipina. Skylar rupanya tahu betul bagaimana menyedot perhatian penonton Indonesia.
Di atas kertas, premise The Witness sebenarnya sangat menarik dengan penggabungan antara thriller dan drama-nya. Melihat adegan pembuka yang sangat menjanjikan sebagai sebuah thriller, ekspektasi saya langsung naik. Wah, keren juga nih Skylar, begitu pikir saya. Muhammad Yusuf berhasil membuat adegan kejar-kejaran ala suspense thriller menjadi begitu mencekam berkat kepiawaian kamera, timing, dan juga didukung kharisma Pierre Gruno yang sangat kuat. Walau di bagian ini terdapat plot hole yang cukup mengganggu (berkaitan dengan kondisi fisik Angel pasca pembantaian), saya rasa masih bisa tertutupi oleh tampilan adegan keseluruhan.
Namun rupanya ekspektasi saya dibuyarkan begitu saja ketika adegan tersebut berakhir dan berganti haluan menjadi  “drama”. Bagian drama yang menurut saya sangat melelahkan ini meliputi adegan Angel menangis dan berteriak, pengulangan adegan pembantaian, serta adegan-adegan flashback yang menjelaskan pertanyaan “why” melalui visualisasi buku diary. Semuanya sah-sah saja sebenarnya untuk ditampilkan tapi alih-alih memberikan petunjuk dari teka-teki pembantaian, apa yang disajikan di sini terlalu berlebihan, banyak yang diulang-ulang, dan terlalu panjang. Misalnya adegan Angel yang menangisi keluarganya. Saya rasa tak perlu menampilkan apa yang ditangisinya satu per satu. Lalu adegan “reka ulang” pembantaian yang memperlihatkan eksekusi korban satu per satu dengan gerak lambat. Ditambah rangkaian adegan flashback yang terlalu bertele-tele. Padahal penonton sudah pasti bisa mengerti penjelasan “why” tersebut hanya dengan separuh durasi bagian ini. Alhasil kesannya cerita tidak banyak berkembang dalam tempo durasi yang cukup panjang. Sangat tidak efektif dan “menyiksa” kesabaran serta intelijensia penonton. Selain itu jadi tidak jelas apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film. Andai saja dibuat dengan fokus ke pemecahan teka-teki pembantaian, misalnya, mungkin The Witness akan terasa lebih menarik. Di sini Muhammad Yusuf seolah-olah hanya bernaratif tanpa fokus yang jelas.
Setelah parade “penyiksaan” dengan over-drama tersebut, untungnya The Witness ditutup dengan baik berkat kembalinya genre thriller seperti adegan pembukanya. Fiuh... well, setidaknya The Witness berhasil memukau when it comes to the thriller part.
The Casts
Yang menarik perhatian saya sepanjang film bukanlah sang pemeran utama, Gwen Zamora, melainkan Pierre Gruno. Setelah perannya di The Raid yang kurang begitu menarik, Pierre kali ini berhasil tampil all-out dan mencuri perhatian saya. Dengan tampilan mirip Sir Sean Connery, kharismanya baik sebagai pembunuh berdarah dingin, sebagai seorang ayah yang berwibawa, dan sebagai musisi yang lovable patut diacungi jempol. Kesemuanya ia bawakan dengan sangat baik dan sesuai porsinya.
Sementara Gwen Zamora yang kebanyakan mendapat porsi untuk menangis dan berteriak... yah cukup baik lah. Ada kalanya tangisnya berhasil mengundang simpatik dari saya, tapi di adegan lain terasa seperti Manohara di sinetron self-titled-nya. Yang pasti she’s very pretty.
Kimberly Rider yang menurut saya mirip Arumi Bachsin dan Agung Saga cukup baik mengisi perannya walau porsinya tak begitu banyak, padahal pada akhirnya menjadi pokok permasalahan cerita. Terakhir, Feby Febiola dan Marcellino Lefrandt tampak hanya sebagai pelengkap dan replaceable berkat naskah yang menyia-nyiakan potensi karakter-karakter mereka. Saya yakin The Witness bisa menjadi lebih menarik jika kedua karakter ini dilibatkan lebih banyak ke dalam plot.
Technical
Tidak ada kendala sama sekali dari segi sinematografi, pencahayaan, sound, dan score. Kesemuanya bersinergi dengan sangat baik dalam membangun suasana thriller-nya. Bahkan ada satu adegan yang menurut saya keren banget, seperti adegan film Hollywood, baik secara tone warna, setting, angle, maupun sound : adegan pertarungan samurai di sebuah outdoor dojo. Samurai? Yes... saya masih membahas film The Witness koq. Adegan yang agak random sih sebenarnya tapi harus saya akui keren banget. 

Yang sangat mengganggu saya adalah editing pergantian scene yang masih terasa kasar dan kurang nyambung. Tidak setiap perpindahan scene terasa enak menggunakan transisi fade out to black-fade in. Juga, teknik slow motion yang tampil terlalu banyak dan tidak pada tempatnya. Sehingga bukan efek dramatis yang didapat, malah menjengkelkan.
Satu hal yang patut saya puji adalah penggunaan theme song Before I Die yang sangat cocok baik dari segi melodi maupun lirik. Lagu yang dibawakan oleh penyanyi Filipina Izzal Peterson ini sangat iconic, bahkan mungkin saja melebihi filmnya sendiri.
The Essence
Terus terang saya bingung apa yang harus disampaikan di segmen ini karena filmnya sendiri bingung menentukan fokus mana yang ingin menjadi inti film. Apakah tentang kandasnya hubungan cinta gara-gara waktu yang tersita oleh karir sementara pasangannya tergoda oleh kharisma orang lain? Atau tentang bagaimana sebuah peristiwa tragis mempengaruhi kejiwaan seseorang? Saya tidak mampu menarik kesimpulan karena kesemuanya ditampilkan dengan sama tidak kuatnya. Semoga Muhammad Yusuf dan Skylar Pictures-nya berkarya lebih baik lain kali.
Lihat situs resmi film ini.




Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 26, 2012

The Jose Movie Review - Modus Anomali

Overview

Joko Anwar memiliki reputasi yang berbeda dengan sineas-sineas Indonesia lainnya. Film-filmnya cenderung surealis, setting tidak spesifik, gaya noir, dan plotnya menyimpan teka-teki hingga revealed di menjelang akhir film. Ending dan konklusinya pun memerlukan analisis dari penonton dan setiap orang bisa berbeda-beda tergantung clue-clue apa saja yang berhasil mereka temukan dan korelasikan. Itulah asyiknya film-film Joko Anwar : ketika selesai menyaksikan film-filmnya, kita masih mendiskusikannya bersama. Saya pribadi sih lebih suka film jenis seperti ini ketimbang film yang mendikte semua tiap detail plotnya secara gamblang. Hitung-hitung melatih otak untuk berpikir dan menganalisis kasus. Karena itulah saya selalu menantikan karya-karya Joko Anwar, tak terkecuali Modus Anomali (MA) ini. Tidak semua penonton yang bisa cocok menikmatinya tapi beruntung Joko bertemu Sheila Timothy dengan LifeLike Pictures-nya yang punya kesamaan "selera" sehingga mau secara konstan meproduksi "fantasi-fantasi" Joko.
MA sedikit berbeda dibanding Kala maupun Pintu Terlarang yang ceritanya lebih rumit, namun tetap saja style dan ciri khas Joko masih jelas terasa. Sepanjang satu jam pertama, sejumlah clue disebar dengan iritnya, lantas setengah jam terakhir baru diungkap rahasia demi rahasia yang membuat penonton terbingung-bingung dan penasaran sebelumnya. Secara keseluruhan plot yang diusung MA sebenarnya sangat sederhana, ringan, dengan ruang lingkup yang sempit baik dari segi setting dan karakter. Bahkan saya harus setuju dengan pendapat yang menyebut plot MA lebih cocok sebagai film pendek yang dipanjang-panjangkan demi memenuhi standard durasi film panjang.
Satu jam pertama yang saya maksud mungkin bagi beberapa orang terasa membosankan, apalagi tak banyak dialog yang dimunculkan. Cerita disampaikan hanya melalui gambar adegan dan akting aktor-aktornya. Saran sih, bersabar saja di fase ini, perhatikan tiap detail adegan yang ada (kalau bisa handphone/BB-nya disembunyikan dulu). Semua penantian penonton yang diliputi rasa penasaran terbayar pada fase berikutnya, yakni setengah jam terakhir dimana pace adegan pun berubah dan adegan-adegan berikutnya menjadi semakin menarik hingga klimaks film.
Harus diakui (dan memang diakui sendiri oleh Joko) MA adalah proyek kecil dengan budget kecil. Namun berkat kerapian plot menyembunyikan rahasia-rahasia hingga timing yang tepat untuk diungkap dan detail plot khas Joko yang mengagumkan, MA mampu menjadi film yang terus kuat melekat pada benak penonton setelah menyaksikannya. Lupakan pakem standard ala film Hollywood tentang penjelasan plot maupun perkembangan karakter, karena MA hanya berniat memberikan hiburan berupa “latihan” otak tingkat ringan dalam menganalisa dan menarik kesimpulan dari cerita yang disampaikan. Di luar kebiasaan film umum (judulnya saja Modus Anomali...) dan fun to watch. Untuk fans Joko Anwar (dan saya yakin bagi Joko Anwar juga), MA hanyalah makanan ringan yang bergizi. Biarkan nalar dan fantasi Anda bermain dalam menikmati MA.

The Casts

Rio Dewanto jelas menjadi tumpuan utama sepanjang film mengingat hampir 90% durasi didominasi oleh karakternya. Awalnya Rio mungkin tampak konyol dengan ekspresi wajah dan perilaku-perilaku kebingungan tentang apa yang tengah terjadi pada dirinya. Ditambah lagi kebingungan apa yang harus dirasakan terhadap “keluarganya” yang bahkan tidak ia ingat. Bagi saya, Rio cukup berhasil menghidupkan karakter yang dibebankan kepadanya. Perubahan karakter di paruh terakhir film semakin menguatkan karakter dan performa aktingnya di bagian ini layak mendapatkan pujian.
Sementara pemain-pemain pendukung lainnya seperti Surya Saputra, Marsha Timothy, maupun pendatang-pendatang baru seperti Hannah Al Rashid, Izzi Isman, Aridh Tritama, Sadha Triyudha, dan Jose Gamo bermain dengan cukup baik dan meyakinkan sesuai dengan porsi masing-masng yang memang tak banyak.

Technical

Dengan dukungan kamera Red Epic M dan proses warna Technicolor, visualisasi MA sangat memanjakan mata. Detail gambar seperti dedaunan dan tekstur wajah terlihat sangat crisp. Ditambah teknik pengambilan gambar yang variatif dan dinamis oleh Gunnar Nimpuno, adegan-adegan yang ditampilkan di layar begitu hidup, seolah-olah penonton ikut merasakan kepanikan dan kebingungan yang dialami karakter John Evans. Teknik handheld juga turut digunakan di sini tapi masih tergolong nyaman untuk diikuti, tidak membuat pusing.
Divisi sound editing dan scoring, seperti karya-karya Joko sebelumnya, menjadi pendukung kuat dalam membangun suasana sepanjang film. Sayang menurut saya Joko lebih banyak meletakkan silence pada karyanya kali ini. Scoringnya kurang stand out seperti di film-film sebelumnya, hanya mampu berhasil dalam mengiringi dan membangun atmosfer adegan, belum mampu untuk terus melekat dalam ingatan (saya). Untungnya teknologi suara surround mampu dimaksimalkan terutama dalam membangun atmosfer hutan melalui detail-detail dan pembagian kanalnya.
Hal yang menarik lainnya adalah penggunaan Bahasa Inggris dalam dialog. Saya bisa memaklumi keputusan ini dalam mengesankan setting yang tidak terikat geografis tertentu. Beberapa elemen seperti bahasa dan kelaziman setting jelas bukan di Indonesia, tapi elemen lain justru dengan jelas Indonesia banget (misalnya dengan digunakannya lagu Bogor Biru oleh Sore sebagai soundtrack). Bagi saya, justru itulah keunikan film-film Joko yang seolah-olah membangun dunia surealnya sendiri. Soal aksen Bahasa Inggris yang aneh dan terdengar seperti drama musikal tugas Bahasa Inggris di sekolah, ah itu masalah kebiasaan saja. Tidak ada yang salah koq. Benar kata Joko, kalau kita bisa menganggap Bahasa Inggris aksen Amerika Selatan itu seksi dan aksen Cina itu lucu, kenapa kita harus mempermasalahkan Bahasa Inggris aksen Indonesia? Sudah saatnya kita punya identitas sendiri di mata internasional, tidak harus selalu mengikuti gaya Amerika kan?

The Essence

Susah sebenarnya saya menulis bagian ini karena kebablasan sedikit saja bisa-bisa saya malah men-spoil kejutan yang justru menjadi kenikmatan dari menonton langsung. Pun, esensinya bisa bervariatif antara tiap penonton tergantung hasil analisis dan konsklusi masing-masing. Kalau dari saya sih, MA is about family. Questioning our true feeling about our family members, apakah sekedar merasa sebagai kewajiban atau benar-benar peduli. Bagaimana pula hal tersebut mempengaruhi kejiwaan manusia. Well, ini adalah film Joko dan ia selalu menyinggung sisi kejiwaan manusia.
Lihat data film ini di IMDB.
Lihat situs resmi film ini.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, April 25, 2012

The Jose Movie Review - 21 Jump Street



Overview
Masih ingat serial 21 Jump Street? Saya sendiri sih samar lupa-lupa ingat. Tapi yang pasti saya ingat adalah bumpernya yang berupa tulisan dari pilox di atas dinding bata. Saya juga ingat bahwa ini adalah serial detektif serius. Oleh sebab itu saya sempat mengernyitkan dahi ketika pertama kali mendengar versi layar lebarnya bergenre action comedy. But that’s okay. Sounds not bad since there’s Jonah Hill’s name in the cast and also in the writing credits. Review positif pun bertebaran, termasuk certification fresh di Rotten Tomatoes. Langsung saja ekspektasi saya naik beberapa level.

Nyatanya, 21 Jump Street (21JS) versi layar lebar ini memang menawarkan guyonan-guyonan vulgar (kadang juga cerdas), tingkah laku slapstick, serta kekacauan-kekacauan suasana sebagai suguhan utama. Biasanya saya termasuk orang yang paling tertawa keras ketika melihat atau mendengar humor seks. I love sex humor so much, as long as it’s funny, tidak hanya sekedar menyebut atau mempertontonkan organ genital semata. Tapi sayangnya tak banyak guyonan di sini yang berhasil membuat saya terbahak-bahak. Kebanyakan saya hanya tersenyum kecil atau mentok-mentok chuckle. Entah kenapa, materinya sebenarnya lucu. Ada juga olok-olok sosial yang menurut saya malah terdengar lebih lucu, misalnya tentang Korean Jesus atau Jenko yang menuduh serial Glee sebagai penyebab keadaan sosial remaja SMA yang berbeda dengan generasinya. That is hilarious! 

Yah, kalau soal lucu-tidaknya lelucon tergantung selera sih. Setiap orang punya ketertarikan akan humor yang berbeda-beda, tidak bisa diukur. Mungkin saja bagi Anda bakal menjadi luar biasa lucu. Satu hal yang pasti, humor-humor nya disebar secara merata sehingga secara keseluruhan tidak akan terasa ada bagian yang membosankan. Bahkan saking menyebarnya humor-humor yang ada, terkadang justru terasa seperti film ini hanya berisi guyonan saja. Cerita penyelidikannya kurang mengalir. Wajar juga sih, karena sisi ceritanya juga tidak membutuhkan durasi begitu banyak dan tergolong biasa kalau tidak mau disebut cliché khas film remaja dan film detektif. Untung saja adegan-adegan aksinya seperti adegan perang senjata di penthouse ala Smokin’ Aces dan kejar-kejaran di jalan layang ala The Matrix Reloaded, cukup menghibur, seru, dan tentu saja masih ada unsur comedicnya. Anyway, 21JS cukup menghibur sebagai tontonan instant. Mungkin Anda akan mengingat beberapa istilah-istilah yang dipopulerkan di sini, tapi secara keseluruhan tidak begitu memorable.

The Casts
Jonah Hill adalah nyawa dari film ini, baik karena karakternya yang memang paling banyak dikembangkan dan juga sebagai sumber utama kelucuan, and he did his part very well here. Clumsy, hilarious, but loveable. Sementara partnernya, Channing Tatum memerankan karakter school jock yang tidak lazim, body besar, bodoh, tapi juga geek. Rasa-rasanya Channing lebih banyak menjadi diri sendiri di sini karena di mata saya ia sama sekali tidak memberikan kharisma apa-apa, sama seperti penampilannya di film-film sebelumnya. Sorry to say, but I think he has nothing else to sell but his good body. Ice Cube kali ini memerankan karakter yang mirip dengan Nick Furry, tentu saja dengan mulut yang lebih kotor. He’s second source of fun after Jonah.

Aktor pendatang baru yang cukup menarik perhatian saya adalah Dave Franco yang di sini mendapatkan porsi lebih banyak ketimbang di Fright Night. Ia punya potensi akting yang sama dengan sang kakak, James Franco. Sementara Brie Larson, pemeran Molly, our heroine’s babe, terasa hanya sebagai pelengkap yang replaceable, apalagi penampilannya yang kurang mengeluarkan sex-appealnya dan karakternya yang tidak begitu menarik untuk disimak.

Technical
Sebagai film action berbalut komedi, 21JS terlihat menarik berkat editingnya yang dinamis. Kalau soal sinematografi dan tata suara tidak ada yang begitu istimewa, standard Hollywood. Pemilihan pengisi musik soundtrack termasuk tepat dalam menghidupkan kegilaan remaja SMA. Walau saya merasa agak aneh mendengarkan lagu pembuka The Real Slim Shady-nya Eminem diputar saat setting waktu menunjukkan tahun 2005. Interesting sih tapi kayaknya tahunnya tidak matching deh.

Divisi wardrobe juga tidak terlalu menonjol untuk ukuran setting remaja yang biasanya lebih colorful dan potongan yang variatif.

The Essence
Basi kalau saya membahas tentang hubungan bromance yang jelas-jelas terlihat sepanjang film melalui karakter Schmidt-Jenko. 21JS mengangkat hal yang lebih menarik bagi saya, yakni perubahan sosial remaja yang terjadi dengan sangat cepat. Karakter Jenko dan Schmidt yang mengalami masa-masa SMA di tahun 2005 saja mengalami “gegar budaya” saat memasuki dunia yang sama di tahun 2012. Remaja tahun 2005 masih punya standard mana yang populer mana yang geek. Masih ingat dong film-film remaja era awal 2000’an dimana siswa populer adalah yang menjadi anggota cheerleader atau pemain futbol. Sementara di tahun 2012 remaja populer justru yang (dulu) berasal dari kalangan geek, seperti pecinta lingkungan dan aktivis kesetaraan gender. Apakah ini suatu kemajuan atau malah kemunduran?

Kalau mau dilihat dari hal-hal yang lebih dihargai di mata remaja, tentu perubahan ini adalah suatu kemajuan. Namun di sisi lain bisa jadi sebuah kemunduran karena yang dianggap keren di mata remaja sekarang adalah hal yang lame di mata generasi sebelumnya. Tidak heran jika remaja sekarang (menurut saya lho ya) tingkahnya lebih ababil (baca : lebih manja), lebih banyak galau ketimbang prestasinya. Selera musik dan filmnya juga lebih tidak berisi dan lebih lame ketimbang dulu. Perubahan sosial remaja yang menurut saya sangat drastis dengan rentang waktu yang tidak terlalu panjang.

Kalau saya sih tetap pada selera dan socio-culture ketika saya masih SMA dulu, dengan pola pikir dan tingkah laku yang lebih dewasa tentu saja. Tapi jika saya ditugaskan untuk menyamar menjadi anak SMA lagi, mungkin saya harus belajar banyak dari serial Glee, mulai mengerti gadis seperti Bella Swan, dan membiasakan diri mendengarkan Justin Bieber, Selena Gomez, dan Greyson Chance.

Lihat data film ini di IMDB.



Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 22, 2012

The Jose Movie Review - My Week with Marilyn


Overview
Siapa yang tidak kenal Marilyn Monroe? Pengisi cover edisi pertama majalah Playboy ini tak diragukan lagi merupakan bombsex Hollywood paling terkenal sepanjang masa. Rambut dan tahi lalatnya saja sudah menjadi ikon tersendiri hingga kini. Tak mudah untuk menulis cerita yang cukup representatif dengan keadaan Marilyn sebenarnya, apalagi jujur, susah untuk mengerti karakternya yang sebenarnya. Satu yang paling membekas dalam ingatan saya adalah Norma Jean and Marilyn (NJM) (1996), sebuah film TV bikinan HBO yang menggambarkan ia dengan dua kepribadian, Norma Jean (yang merupakan nama aslinya) dan Marilyn Monroe. Cukup menarik, apalagi menurut saya saat itu diperankan dengan sangat baik oleh Ashley Judd dan Mira Sorvino. Namun tetap bagi saya sosok Marilyn Monroe masih susah untuk dimengerti, hanya sekedar sebagai “wanita penggoda” yang tidak pernah mendapatkan kebahagiaan akibat dari popularitas dan sex-appeal-nya.
My Week with Marilyn (MWwM) muncul di tahun 2011 dengan pendekatan yang berbeda. Diangkat dari buku karya Colin Clark, pemuda dengan ambisi menjadi bagian dari dunia film yang beruntung bisa dekat dengan Marilyn Monroe ketika syuting film The Prince and The Showgirl di Inggris. Entah apakah yang ia ceritakan di bukunya adalah fakta atau hanya bualannya semata. MWwM seperti Almost Famous atau The Last King of Scotland dimana karakter utamanya sebenarnya adalah orang biasa yang berkesempatan dekat dengan figur terkenal dan keseluruhan film akan menceritakan sosok figur tersebut dari sudut pandangnya. Bedanya, jika keduanya berfokus pada perkembangan karakter utama, bukan karakter figur terkenalnya, maka MWwM justru sebaliknya. Colin seolah mengajak penonton untuk mengenal sosok Marilyn Monroe dari sudut pandangnya, bukan untuk menceritakan tentang bagaimana Marilyn telah merubah hidupnya. Well, mungkin ada sedikit diungkapkan di layar tapi hanya sekilas dan rupa-rupanya penonton pun pada akhirnya tidak akan begitu mempedulikannya.
Bagi saya MWwM akhirnya berhasil memberikan gambaran karakter yang lebih baik dari seorang Marilyn Monroe, bukan sekedar wanita penggoda dengan sex-appeal tinggi. Itulah yang menjadi kekuatan utama film ini. Dengan durasi yang relatif singkat untuk ukuran biografi (sekitar 99 minutes), MWwM berhasil “menelanjangi” kepribadian seorang Marilyn Monroe, baik dari segi kemampuan aktingnya maupun hubungan asmaranya. Tak perlu membeberkan kisah sejak lahir hingga kematiannya, nyatanya “satu minggu” adalah waktu yang cukup untuk menjelaskan kepribadiannya yang terbilang kompleks. Penulis skrip Adrian Hodges dan sutradara Simon Curtis menuturkannya dengan sederhana, elegan, dan tidak bertele-tele.
Namun lantas bukan berarti tanpa kekurangan. Saking sederhananya, mungkin bagi sebagian penonton akan merasa bahwa MWwM lebih cocok sebagai film TV, sama seperti NJM. Wajar, mengingat keduanya, Hodges dan Curtis sebelumnya menangani proyek film TV dan mini-seri, seperti biografi David Copperfield. Bagi saya pribadi sih, tak menjadi masalah. Toh film TV bukan berarti lebih buruk ketimbang film yang diputar di bioskop kan? MWwM masih nyaman dan worth disaksikan baik di TV maupun layar bioskop.
The Casts
Siapa pun yang pernah melihat performance Marilyn Monroe asli dan menyaksikan film ini hampir pasti akan memuji akting Michelle Williams. Siapa sangka aktris yang dulunya saya kenal sebagai Jen di serial Dawson’s Creek (DC) nyatanya menjadi salah satu aktris kaliber Oscar saat ini. Padahal saat itu saya (dan saya yakin banyak penonton setia DC juga) lebih menyukai Katie Holmes sebagai Joey ketimbang Michelle. Selain tampilan fisik (dan juga berkat dandanan tentu saja) yang menurut saya paling mirip Monroe hingga saat ini, Michelle sukses menirukan gesture dan ekspresi wajah yang Monroe banget tanpa terkesan dibuat-buat. Padahal ada tiga “peran” yang harus dilakoninya; kehidupan pribadi Monroe, Monroe sebagai aktris, dan karakte The Showgirl yang diprankan Monroe, dan Michelle berhasil menghidupkan ketiga-tiganya dengan sangat baik. Bisa jadi MMwM adalah pencapaian akting tertinggi dari Michelle so far.
Eddie Redmayne, pemeran tokoh Colin Clark tidak buruk, namun harus diakui beberapa scene yang dilakoninya masih terasa canggung dan kadang tampak menyebalkan. Aktor senior Kenneth Branagh yang memerankan salah satu aktor legendaris, Sir Laurence Olivier, bisa mengimbangi akting apik dari Michelle dengan kharismanya yang kuat. Sama kuatnya dengan kharisma Sir Laurence Olivier sendiri. Begitu pula dengan Julia Ormond yang juga memerankan aktris legendaris Vivien Leigh. Sayang porsinya tak terlalu banyak. Sementara Demme Judi Dench yang porsinya juga tak banyak justru berhasil mencuri perhatian lebih banyak dan lebih loveable. Terakhir, Emma Watson... well she’s just doin’ okay. Porsinya sangat sedikit sehingga mungkin kita tidak akan mempedulikan karakternya jika ia tidak pernah menjadi Hermione di franchise Harry Potter sebelumnya.
Technical
Setting 1950’an yang memiliki ciri khas yang kuat tergambarkan dengan sangat sempurna di layar, terutama lewat setting ruang, properti, dan tentu saja kostum. Just so beautiful, elegant, and alive. Tone warna, score, dan music juga turut menghidupkan suasana era 50’an dengan sangat baik.
Tak ada yang perlu dimasalahkan dengan sinematografi karena ditampilkan dengan sangat pas sesuai dengan kebutuhannya sebagai film drama. Editing pun juga berhasil mempresentasikan hasil akhir yang cukup efektif.
The Essence
Selebriti dengan aura bintang yang luar biasa seperti Marilyn Monroe akan selalu menjadi kontroversial berkat tingkah lakunya di luar layar, salah satunya tentang gonta-ganti pasangan atau kawin-cerai yang sudah menjadi masalah kpaling lasik di dunia selebriti. Memiliki banyak pemuja bukan jaminan kebahagiaan. Seperti yang diungkapkan Monroe di salah satu adegan, mereka awalnya melihat Monroe sebagai dewi yang sempurna, namun ketika mendapatinya tidak sesuai dengan harapan, mereka lantas meninggalkannya. I think it clearly explained why celebrities often change partners or end-up divorcing. Hmmm... benar juga ungkapan yang mengatakan bahwa kecantikan dan ketenaran sesungguhnya adalah kutukan.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, April 17, 2012

The Jose Movie Review - Battleship


Overview
Seriously, melihat poster, tulisan “from Hasbro the company that brought you...”, dan segala-galanya yang memang sengaja diindikasikan sebagai “this will be just like Transformers”, membuat saya sama sekali kehilangan selera untuk menyaksikannya. Thanks to Michael Bay yang merusak salah satu franchise yang potensinya sangat besar. Untung saja Michael Bay tidak di-hire untuk menyutradrai Battleship. Dengan berbekal review dan rekomendasi dari beberapa orang, akhirnya saya memutuskan untuk menyaksikannya juga.
Menit-menit awal saya dibuat cukup jengkel dengan karakter Alex Hopper yang umur saja yang tua tapi sikapnya masih tipikal ababil masa kini : sok jagoan, sok berani, lack of priority, dan cuma gedhe badan doang. Ditambah drama percintaan klasik with a typical stupid hot body girl. Selama kurang lebih empat puluh lima pertama film berjalan dengan standard drama yang sering disajikan sepaket dengan film aksi serupa. Barulah setelah itu serangan alien mulai bertubi-tubi. Strategi dari para heroine kita satu per satu dilancarkan untuk melawan alien hingga akhir film. Well, sebagai film aksi pop-corn yang seru dan menengangkan, Battleship ternyata boleh juga. Walau tentu saja seperti layaknya film sejenis, plot hole bertebaran di mana-mana demi melancarkan alur film.
Tentu saja keberhasilan adegan-adegan aksi yang ada tak lepas dari tangan besi sang sutradara yang piawai menata tiap adegan menjadi seru dan menegangkan, meski jujur saja sebenarnya tidak banyak hal baru ditampilkan di sini. Adalah Peter Berg, sutradara yang masih jarang dipakai oleh para produser padahal portofolionya hasilnya cukup menarik. Mulai black comedy kecil Very Bad Things, komedi petualangan The Rundown, film perang The Kingdom, film drama futbol Friday Night Lights, dan akhirnya film aksi popcorn blockbuster paling suksesnya, Hancocok. Kesemuanya boleh dibilang mempunyai kualitas yang baik di genre masing-masing. Beruntung Battleship digarap oleh Berg. Entah bagaimana hasilnya jika Michael Bay yang didapuk sebagai sutradara.
Dari segi naskah sebenarnya tidak ada yang istimewa. Selain banyaknya plot hole, perkembangan karakter juga terkesan diabaikan. Dialog-dialognya pun tidak ada yang berarti. Praktis, naskah hanya mengandalkan uniknya strategi yang Hopper sebut sebagai “the art of war” yang berhasil membuat Battleship memiliki nilai lebih ketimbang film sejenis. Selebihnya, biasa saja. Just enjoyable but not so memorable.
The Casts
Taylor Kitsch jelas menjadi primadona aktor pop corn movie di tahun 2012 ini. Walau John Carter tergolong gagal, Battleship rasa-rasanya bakal mampu menaikkan pamornya. Saya yakin Kitsch punya masa depan yang lebih baik ketimbang Sam Worthington (yang sejak Avatar sempat naik pamor dan mengisi layar dengan Clash of the Titans dan Resident Evil Afterlife tapi sejak itu anjlok) karena kualitas aktingnya masih lebih baik. Walau karakternya tergolong menyebalkan bagi saya dan kharismanya sebagai heroine utama juga masih kurang, setidaknya Kitsch tidak canggung dalam membawakan peran Alex Hopper.
Brooklyn Decker, our heroine’s heartthrob, memang tidak diberikan begitu banyak porsi namun penampilannya sangat eye-candy, baik dari segi fisik maupun akting. Jauh lebih baik ketimbang Rosie Hutington-Whiteley. Karakternya, Samantha pun masih diberi peran yang lebih penting ketimbang sekedar lari-larian bersama sang jagoan sepanjang film.
Alexander Skarsgård, putra aktor Stellan Skarsgård sebenarnya memerankan karakter yang lebih menarik ketimbang Alex dan tampil lebih baik ketimbang Taylor, sayang porsi karakternya tidak begitu banyak. Liam Neeson juga terasa kurang diberikan porsi peran. Kesannya karakternya replaceable oleh aktor setengah baya manapun. Sementara screen stealer-nya, Rihanna, sebagai pendatang baru di dunia akting cukup baik lah dalam mengisi perannya yang memang tak banyak memberi pengaruh. Rasa-rasanya malah bakal lebih baik jika Michelle Rodriguez yang mengisi, but she’s just fine. She still kicked ass.
Technical
Visual effect tentu saja menjadi sorotan utama film bergenre ini dan tentu saja dieksploitasi semaksimal mungkin. I like that deadly wheels which attacked every building and everything it passed. Bentuknya yang seperti gergaji bikin ngeri setiap kali hendak menghampiri objek. Wujud aliennya pun... yah bolehlah, walau mirip-mirip alien di Green Lantern. Sayang adegan aksi yang melibatkan robot-robot alien berhelm seukuran manusia tidak banyak ditampilkan, padahal berpontesi menjadikan film terasa lebih seru lagi seperti Predator, misalnya. Yah, mungkin bisa dipertimbangkan untuk sekuelnya kelak.
Sound effect juga dimanfaatkan semaksimal mungkin dan sama sekali tidak terdengar mengganggu (baca: berisik) seperti layaknya Transformers, padahal saya merasa ada banyak suara-suara efek yang mirip (atau malah sama persis) dengan yang ada di film tersebut. Begitu pula dengan score-nya yang 11-12 dengan Transformers hanya saja digunakan dengan lebih efektif di film ini. Saya juga senang Battleship menggunakan lagu-lagu rock yang hip dan badass untuk membangkitkan semangat dalam film, bukan rock galau seperti... (sekali lagi) Transformers. Maaf yah kalau saya terlalu banyak membandingkan Battleship dengan Transformers. Habisnya terlalu banyak variabel yang sama (atau mirip lah) antara keduanya dan saya yakin produsernya pun mengarahkan Battleship untuk menyamai Transformers.
The Essence
Saya yakin ada banyak remaja yang menyukai karakter Alex Hopper karena memang tipikal remaja jaman sekarang banget. Bedanya, karakter Alex sesungguhnya memiliki potensi yang cukup baik dan ternyata juga cukup cerdas. Saat genting dan sulit bisa menjadi turning point bagi siapa saja, termasuk orang-orang yang semau gue macam Hopper. Masalahnya jika kita menunggu momen turning point tersebut untuk berubah, apakah yakin sudah siap untuk menghadapinya? Tentu kita perlu banyak persiapan dan bekal untuk menghadapi momen-momen tergenting sekalipun dan yang paling penting adalah persiapan mental dan kepiawaian dalam menentukan prioritas. That's what growing-up is about.
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, April 16, 2012

The Jose Movie Review - Sanubari Jakarta


Overview
Another omnibus. Film Indonesia rupanya lagi gemar bikin omnibus nih. It’s okay selama konsepnya jelas dan unik plus penggarapan yang oke, sekalipun minim budget hasilnya pasti bagus. Itulah yang terjadi pada omnibus yang menghadirkan sepuluh cerita pendek dalam satu kesatuan film. Jumlah segmen yang tergolong di atas rata-rata omnibus kebanyakan ini sempat memunculkan keraguan saya akan kemaksimalan plot-plot yang diusung. Saya sempat kecewa dengan Cinta Setaman yang ternyata masih jauh di bawah harapan saya karena plotnya yang kurang mengena. Kekhawatiran akan menjadi seperti Cinta Setaman pun sempat terbersit di pikiran saya sebelum menonton. Tapi akhirnya saya memberanikan diri untuk menyaksikannya secara langsung.
Ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti. Di luar dugaan, Sanubari Jakarta (SJ) mampu memberikan warna-warni yang indah dan berbeda di tiap segmennya. Baik itu dari segi gaya penceritaan, gaya visual, maupun genre. Namun keragaman tersebut terangkai menjadi satu kesatuan film yang utuh, saling melengkapi, dan indah. Actually, saya berani menilai bahwa SJ berhasil setara dengan Paris, je t'aime. Bagi anak komunikasi pasti senang sekali mendapatkan suguhan seperti ini karena ada beberapa yang menggunakan semiotika visual dalam bertutur, seperti segmen 1/2, Menunggu Warna, dan Pembalut. Bagi yang suka drama satir yang disampaikan secara lugas ada Malam ini Aku Cantik. Bagi yang ingin tertawa dengan celetukan-celetukan dialog yang kocak sekaligus ironis, ada Kentang. Dengan pintarnya pula SJ meletakkan segmen Kotak Coklat yang manis sebagai penutup sehingga penonton bisa beranjak dari kursi bioskop dengan perasan puas dan bahagia. Good job on putting the order of the segments!
Tak hanya membahas soal hubungan LGBT dengan berbagai problematika sosial, psikologis, dan humanisnya, SJ pun menyelipkan satu cerita tentang kesetaraan gender yang mengambil metafora karakter Srikandi. Alhasil, terasa cukup lengkaplah representasi gambaran seluk-beluk dunia LGBT dan gender yang diangkat di sini. Melelahkan? Tentu tidak, saya justru merasa terhibur menyaksikan segmen demi segmen yang plotnya digarap dengan cukup baik sehingga tidak menimbulkan kebosanan, apalagi kelelahan. Most of them justru bikin penasaran dengan maksud segmen yang hendak disampaikan. Ada sih beberapa segmen yang tergolong biasa karena sudah pernah (atau malah sering) diangkat, seperti Malam Ini Aku Cantik dan Lumba-Lumba.Tapi keduanya disampaikan dengan cara yang menarik dan dengan dialog-dialog yang memorable sehingga hasil akhirnya baik juga. Speaking of dialog, ada cukup banyak wisdom yang disampaikan sepanjang film. Sayang, tidak ada satupun segmen yang berhasil membuat saya, setidaknya, tersentuh hingga berkaca-kaca.
Kalau ditanya segmen favorit saya maka jawabannya bakal lebih dari satu karena saking banyaknya ragam warna unik yang ditawarkan yang saling melengkapi. Pertama, saya akan menjawab Menunggu Warna yang dibuat dengan konsep B/W dan tanpa dialog sama sekali. Layaknya The Artist, kedua aktor utamanya berhasil menggiring emosi penonton hingga bagian akhir. Sweet but ironic, just like gay relationship di tengah-tengah masyarakat yang masih belum bisa memberikan tempat untuk mereka bahagia. Saya juga suka ½ yang dengan cerdas menampilkan dua sisi kepribadian manusia melalui kacamata tiga dimensi (red dan cyan). Cool concept and execution. Ketiga, Kotak Coklat yang membalut sweetness dengan sedikit twist yang mengejutkan dan diakhiri (sekaligus menutup keseluruhan film) dengan manis. Ketiga, Pembalut yang kesemua karakternya diperankan aktor yang sama.
The Casts
Believe it or not, semua cast yang mendukung di sini tampil dengan sangat baik dan meyakinkan. Tak ada satu pun yang terlihat canggung, baik itu untuk peran utama maupun pembantu, dan berlaku untuk semua segmen. Jarang-jarang lho hal seperti ini terjadi dalam sebuah film yang tergolong indie dengan tidak banyak mengusung nama-nama terkenal sebagai pemerannya. Well, karena penampilan aktor-aktornya merata dan juga banyak nama-nama yang tidak saya kenal maka saya tidak akan membahas kualitas akting aktornya satu-satu. It’s just all good.
Technical
Saya sudah mempersiapkan diri jika secara teknikal masih terdapat banyak kekurangan di sana-sini karena budgetnya yang minim. Camcordernya saja menggunakan Canon 5D. Tapi melihat hasil akhirnya saya cukup takjub dengan katajaman gambarnya, sama sekali tidak tampak seperti amatiran. Apalagi dengan sinematografi yang sangat baik di semua segmen membuat saya lupa bahwa ini adalah film indie dengan budget terbatas. Penggunaan efek B/W di Menunggu Warna, misalnya. Agak susah untuk membuat kontras warna agar gambar tampak jelas dan tajam. Tapi they did it very well. Setting lokasi pun tampak dipersiapkan dengan matang. Lihat saja dunia red dan cyan di ½ yang membuat saya terkagum-kagum. Simple but beautiful.
Salah satu faktor penting penentu hasil akhir sebuah omnibus adalah editing. Ada omnibus yang memilih opening credit sendiri-sendiri di setiap awal segmennya. Nah, SJ memilih untuk tidak meletakkan opening credit bahkan judul segmen di awal tiap segmen. Untung, pergantian segmennya dilakukan dengan sangat halus dan elegan, bahkan pada pergantian segmen warna-B/W-warna.
Divisi sound effect dan score turut menyempurnakan keindahan SJ. Score-nya cukup baik mengiringi adegan demi adegan yang ada. Teknologi surround pun dimanfaatkan dengan cukup baik pada sound effect. Jika biasanya film Indonesia sering terkendala pada dialog yang kurang jelas terdengar, it ain’t happened to SJ. All dialogue sounded very clear.
The Essence
SJ menunjukkan warna-warni kehidupan LGBT, bukan dengan maksud mempromosikan apalagi menjustifikasi. Oleh sebab itu kesimpulan yang ditarik tiap penonton bisa berbeda. SJ hanya memberikan gambaran (yang ternyata cukup lengkap) bagaiman dunia LGBT, yang kadang bisa sweet, kadang juga banyak yang “buaya”, bagaimana mereka menemukan kebahagiaan sendiri di tengah masyarakat yang mencibirnya, dan banyak lagi. Mungkin malah tidak berbeda dengan dilematik pasangan straight.
LGBT, pada masyarakat Indonesia (dan bahkan banyak negara di dunia) masih dianggap “sampah masyarakat”. Padahal stigma seperti itu sebenarnya muncul akibat dari “sempit”-nya dunia yang menjadi hak mereka yang diberikan masyarakat sendiri. Sebenarnya saya sering mempertanyakan, apa sih yang ditakutkan dari kaum LGBT? Takut kaum mereka akan mempengaruhi Anda, anak-anak Anda, keluarga Anda menjadi seperti mereka?
Saya pernah mendengarkan pendapat dari komedian Tessy yang menurut saya ada benarnya. “Jika Anda tidak punya sedikit pun benih homoseksual, tidak akan pernah bisa terpengaruh. Mana mungkin orang yang normal-normal aja tiba-tiba menirukan gaya banci? Mau dicemooh orang-orang? Anda pikir mereka sendiri senang diperolok orang-orang?”. Deg! He got the point.
Siapakah Anda yang mengaku beragama tapi berani memposisikan diri sebagai Tuhan sehingga merasa berhak menjustifikasi mereka? Perasaan dosanya yang paling besar lho (makanya di 10 perintah Allah menjadi hukum nomer 1). Mana Anda tahu bahwa Tuhan memang menciptakan manusia dengan perbedaan-perbedaan termasuk orientasi seksual. Manusia dengan berbagai cacat fisik dari lahir pun tetap dianggap sempurna di mata Tuhan. Apa sih ukuran “normal” atau “sempurna”? Manusia kah yang menentukannya? Tidak. Manusia tidak berhak.
Takut dunia bakal menjadi homoseksual semua hingga manusia terancam punah? Come on, saya rasa Tuhan menciptakan semuanya dalam keseimbangan. Lah, mengapa Tuhan menciptakan beberapa orang tidak bisa punya anak? Bagaimana penuh sesaknya dunia jika semua orang bisa punya anak? Anda pikir anak yang lahir dari pelacur (yang Anda sebut haram) bukan kehendak Tuhan? Hmmm... kayaknya Anda meragukan kekuasaan Tuhan atas segala rencana-Nya di dunia ini.
Well, pada akhirnya manusia hanya perlu memperlakukan makhluk sesama ciptaan-Nya dengan kasih. Itu kan inti dari tiap agaman? Masalah dosa, biarlah menjadi tanggung jawab tiap individu dengan Tuhan. Buat apa Anda turut mengotori tangan Anda sendiri?
Lihat data film ini di Wikipedia.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, April 9, 2012

The Jose Movie Review - Act of Valor


Overview

Act of Valor (AoV) bisa dibilang sebagai film kecil hemat budget tapi mampu menarik perhatian dan bikin penasaran ketika sempat merajai US Box Office selama satu minggu. Apalagi setelah tahu bahwa ini adalah film dengan anggota US Navy SEAL aktif asli sebagai aktor-aktor utama, dengan dana “hanya” sekitar US$ 12 juta (tergolong sangat kecil untuk proyek film action/war). Hasilnya? Tergantung dari sisi mana Anda menilainya.
Sebagai film action/war yang menawarkan adegan aksi penuh ketegangan dan sekaligus detail taktik plan misinya, saya mengakui AoV adalah film yang berhasil. Baik dari segi pace, alur, directing of photography, semuanya terjaga dengan rapi sehingga menjadikan AoV film action/war yang very enjoyable. Setidaknya tagline “Real Heroes. Real Tactics. Real Action.” sudah cukup terbukti dari hasil akhir filmnya.
Namun jika Anda menilai AoV sebagai film cerita utuh, maka tampak sekali kekurangan di sana-sini. Yang paling jelas terasa adalah gagalnya nuansa drama kemanusiaan yang juga ingin disisipkan untuk menyentuh penonton. Kalau menurut saya sih kegagalan ini dikarenakan penokohan yang kurang begitu kuat sehingga saya tidak begitu bersimpati ketika sesuatu terjadi terhadap karakter tersebut. Paling-paling saya hanya berpikir “wah kasihan yah…”, tanpa sedikit pun rasa nyess di dada, apalagi air mata. Ditambah lagi dengan karakter-karakter utamanya diperankan oleh aktor-aktor yang sama sekali tidak familiar bagi penonton, sehingga selain karakter Letnan Rorke Engel, tidak ada lagi karakter yang bakal diingat atau sekedar dikenali oleh penonton.
Mungkin “drama kemanusiaan” tersebut akan berhasil bagi penonton yang berasal dari angkatan bersenjata atau keluarganya yang memang memiliki kedekatan emosional. Tapi seharusnya kan film seperti ini justru bertujuan agar penonton awam (yang non-angkatan bersenjata) menjadi bersimpati atau malah tergerak jiwa patriotisme-nya dan memutuskan untuk bergabung dengan angkatan bersenjata? Sayang, untuk misi yang satu ini masih jauh dari kata berhasil. Padahal sisi drama kemanusiaan ini yang justru menjadi nilai lebih untuk film bergenre perang seperti ini.
Kekurangan plot juga terasa pada kelanjutan nasib beberapa karakter yang seperti tidak dipedulikan di akhir film, misalnya karakter Lisa Morales dan Christo. Padahal sebenarnya bisa menjadi sedikit lebih menarik bila diberikan porsi lebih terutama di akhir film. Setidaknya film tidak hanya berakhir begitu saja, tetapi juga memberikan beberapa penjelasan singkat akan kelanjutan nasib karakter-karakter pendukung yang jujur lebih menarik ketimbang karakter-karakter utamanya. Melihat hasil akhirnya, jelas sekali terasa bahwa film ini hanya menonjolkan patriotisme karakter-karakter utamanya saja (atau malah propaganda Amerika semata?), jika tidak mau dibilang cuma “promosi” US Navy SEAL.
Casts
Well, what can I say. Aktor-aktor utamanya adalah anggota US Navy SEAL asli yang, jujur, masih sangat kaku, terutama dalam menyampaikan dialog. Entah hanya saya atau penonton lainnya juga, bahkan narasinya disampaikan dengan terlalu cepat dan intonasi yang cenderung datar. Tatapan mata mereka ketika berdialog pun tampak tak berbicara sama sekali.
Aktor-aktor pendukung lainnya justru yang lebih berpengalaman. Misalnya Roselyn Sanchez (Lisa Morales) yang angkat nama lewat serial Without A Trace, Alex Veadov (Christo) dan Jason Cottle (Abu Shabai) yang juga sudah bermain di puluhan film walaupun tergolong pemeran pembantu.
Technical
Aspek yang paling menonjol dari teknikal AoV adalah sinematografi yang berhasil menangkap detail-detail gambar dengan indah, lengkap dengan teknik tilt-shift yang banyak ditunjukkan sepanjang film. Tentu saja hal ini berkat penggunaan kamera DSLR Canon EOS 5D MK2 yang compact dan sangat fleksibel dalam penggunaan aneka lensa dengan budget yang lebih rendah ketimbang menggunakan camcorder profesional. Hasilnya jadi lebih menarik dan real, sesuai dengan konsep film. Angle ala video game RPG pun disisipkan beberapa kali dan cukup berhasil memberikan keseruan dan ketegangan tersendiri.
Tata suara juga mendapatkan kredit tersendiri dari saya. Suara tembakan dan ledakan yang crisp, serta sound-sound effect lainnya yang terdengar sangat jernih dan tajam. Juara! Bahkan suara jengkrik di hutan Costa Rica pun terdengar seperti berada beneran di dalam studio.
Untuk score cukup beragam. Ada beberapa yang menurut saya bagus, sangat mendukung mood adegan-adegannya. Namun ada pula beberapa score yang justru menjadikan AoV terasa seperti film televisi atau home video (atau mungkin juga karena faktor adegannya yah yang memang punya feel seperti itu?).
The Essence
Saya rasa sudah jelas sekali esensi patriotisme yang ingin disampaikan AoV di sini. Puisi di akhir film pun cukup menegaskan hal tersebut. Seperti apa isi pusi tersebut? Ada baiknya Anda menyaksikannya dan meresapinya sendiri.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 1, 2012

The Jose Movie Review - The Hunger Games


Overview
The Hunger Games digadang-gadang sebagai the next most successful franchise setelah era Harry Potter dan Twilight Saga yang sudah hampir berakhir. Statement ini tidak serta merta membuat saya langsung tertarik untuk menyaksikannya secara saya juga tidak begitu tertarik dengan dua judul franchise tersebut. Ok, Harry Potter was good but I wasn’t really into it like crazy, and Twilight… errrr definitely not my thing. Namun setelah mendapatkan review yang cukup bagus di luar dan juga sertifikasi tomato-meter “fresh” yang cukup banyak dari RottenTomatoes, rasa penasaran saya bertambah walau juga tidak seantusias fans berat pembaca novelnya. Saya juga tidak (tertarik) membaca novelnya, jadi apa yang akan saya tulis di sini murni berdasarkan yang saya lihat dari filmnya. Toh dengan cara demikian saya bisa menilai film ini secara lebih objektif.
Sebagai sebuah film hiburan, The Hunger Games (THG) cukup berhasil menarik perhatian saya. Premis yang mirip-mirip film Jepang legendaries, Battle Royale rupanya memiliki latar belakang yang sangat menarik (nanti akan saya bahas di segmen The Essence). Alurnya cukup enjoyable untuk saya ikuti tanpa ada rasa bosan sama sekali. Jelas sekali sutradara Gary Ross tahu betul bagaimana merangkai adegan sehingga membuat penonton betah. Awalnya saya berpikir (dan juga berharap) The Hunger Games adalah permainan hidup dan mati yang akan terbagi dalam beberapa babak yang menarik dan menantang seperti halnya Triwizard di franchise Harry Potter. Namun rupanya saya harus menerima kenyataan bahwa The Hunger Games hanyalah permainan satu babak yang hanya melibatkan satu setting tempat. Pun demikian, Ross tetap berhasil menyuguhkan permainan yang menegangkan buat saya.
Sayangnya Ross sebagai sutradara sekaligus salah satu penulis naskah adaptasinya gagal memberikan kedalaman cerita serta beberapa karakter. Akibatnya ada beberapa adegan yang seharusnya bisa menyentil emosional tapi lewat begitu saja tanpa memberikan impresi apa-apa kepada saya. Misalnya adegan salah satu karakter yang tewas kurang bisa membuat saya merasa kehilangan atau simpatik kepada karakter tersebut walau sudah diiringi lullaby dan akting yang baik dari para aktornya. Ketika adegan kemenangan pun lewat begitu saja tanpa mampu mengajak penontonnya untuk turut joyful dan bangga. Alhasil, tidak salah bila ketika nanti sekuelnya dirilis ada banyak hal yang saya (dan mungkin juga beberapa penonton) lupakan dari seri pertamanya ini. That has made THG only an instant entertainment, not more. Well, setidaknya THG tidak sampai menjadi film yang terkesan terlalu cheesy seperti Twilight Saga.
The Casts
Ross menempatkan banyak sekali aktor muda berbakat dan juga aktor senior yang membuat THG tidak hanya menarik penonton remaja tetapi juga yang lebih dewasa. Di lini aktor muda, jelas sekali Jennifer Lawrence sebagai karakter utama Katniss Everdeen sangat menonjol. Selain porsinya yang memang paling banyak, Lawrence juga mengimbangi dengan kualitas akting yang sangat baik serta cocok dengan karakter yang diperankan. Setelah mencuri perhatian di X-Men First Class sebagai Raven tahun lalu, aktor muda yang di mata saya seperti perpaduan antara Leelee Sobieski dan Sophie Ellis Bextor ini berhasil “naik kelas” dengan mengisi peran utama. Saya bersyukur jika Katniss bisa menggantikan Bella Swan sebagai role model gadis-gadis remaja.
Sayang lawan mainnya, Josh Hutcherson yang pernah tampil di franchise Journey kurang memberikan performa yang menarik perhatian saya sebagai penonton. Entah memang gambaran karakternya seperti itu atau aktingnya yang menjadi terkesan canggung dan lemah dibandingkan karakter yang lain. Justru penampilan Isabelle Fuhrman masih lebih menonjol (mungkin karena penampilannya sebagai Esther di Orphan begitu melekat kuat pada dirinya hingga kini yah?!). She’s still playing the girl we would have loved to hate and I still love her so. Amandla Stenberg yang memerankan karakter Rue juga berhasil menarik perhatian saya berkat perannya yang tidak banyak tapi cukup berkesan. Saya tidak peduli dengan ababil fans berat franchise ini yang mempermasalahkan warna kulitnya yang berbeda dengan versi novelnya. Saya tidak melihat adanya masalah dengan perubahan ini. She’s good, sebaik perannya sebagai Cataleya kecil di Colombiana.
Sementara di lini aktor senior tidak ada yang terlalu menonjol karena memang tidak ada yang diberi porsi lebih ketimbang aktor-aktor mudanya. Bukan berarti mereka tampil mengecewakan, mereka masih berperan dengan cukup baik sesuai porsinya, seperti Stanley Tucci sebagai pembawa acara eksentrik Caesar Flickerman yang tampil sedikit berbeda ketimbang biasanya, Wes Bentley yang juga tak kalah eksentrik dengan fancy beard-nya, Elizabeth Banks dengan riasan ala Mad Hatter, Woody Harrelson yang masih kelihatan garang walau tidak se-badass di Zombieland, dan Donald Sutherland yang cukup berwibawa membawakan peran presiden. Lenny Kravitz yang awalnya membuat saya penasaran ternyata tampil biasa saja, baik dari segi kharisma maupun riasannya.
Technical
Setting lokasi dan kostum menjadi sangat mencolok di THG. I love how they made a contrast between the districts and The Capitol; suram bak kamp konsentrasi Nazi dan colorful seperti layaknya Lady Gaga menjadi presiden di The Capitol. Walau desain bangunan-bangunan di The Capitol sangat mirip gambaran planet Naboo (Star Wars), it is still a very great work on production design.
Score yang diperdengarkan kurang megah dan iconic untuk ukuran franchise seperti ini. Nama besar James Newton Howard rupanya masih kurang membuat score THG berkesan dan diingat sepanjang masa. Apalagi di beberapa adegan dibiarkan silent tanpa score padahal seharusnya bisa lebih menarik dengan iringan score ringan, seperti misalnya pada adegan pidato Effie Trinket di District 12.
Ada beberapa penonton yang terganggu dengan teknik kamera handheld yang shaky. Saya mengerti keputusan sutradara Ross menggunakan teknik ini untuk THG. Selain untuk mengesankan kepanikan yang dirasakan para karakternya (terutama Katniss), teknik seperti ini juga untuk menyamarkan detail adegan kekerasan yang bermunculan sepanjang film. Still, menurut saya terlalu brutal untuk rating PG-13, tapi masih terlalu mild untuk rating R. Ross rupanya ingin memaksimalkan batasan kekerasan demi rating PG-13 yang tentu saja mengundang lebih banyak penonton, apalagi target utama film ini adalah remaja. Yang pasti, teknik kamera handheld yang digunakan di sini masih tidak begitu mengganggu kenikmatan saya sepanjang film. Saya masih belum pusing koq, jadi masih bisa ditolerir.
The Essence
Saya seringkali menemui banyak sekali penonton yang begitu terbawa emosi ketika menyaksikan acara televisi. Saya hanya bisa tertawa mendengarnya. Come on… mau se-reality show apapun klaim sebuah acara televisi, tetap saja ada “polesan-polesan” di sana-sini untuk membuat acaranya lebih menarik. THG menunjukkan betapa produser TV akan melakukan apapun untuk membuat penonton jatuh cinta dan terus menyaksikan acaranya, termasuk merubah peraturan permainan dan “pancingan-pancingan” untuk karakter-karakternya. People trying to play God in order to please another.
Sebegitu parahnya kah “perbudakan” yang dipraktekkan kepada sekelompok manusia demi kesenangan sekelompok manusia lainnya?
Sebegitu parahnya kah yang harus dilakukan semata-mata demi membuat kita merasakan sesuatu, sehingga kita masih yakin kita masih manusia yang hidup?
Padahal di sisi lain, hidup mereka yang tinggal di Capitol sangat bergantung pada peran orang-orang yang tinggal di distrik-distrik.
Sebuah ironi yang tidak adil tapi nyata, termasuk juga di Indonesia. Kita yang hidup di Pulau Jawa sebenarnya bergantung dari sumber daya alam yang justru lebih banyak disuplai dari luar pulau, seperti Papua dan Sumatra misalnya. Tapi apa yang sudah kita lakukan untuk mereka yang tinggal di sana? Jujur saja, disuruh tinggal di sana saja belum tentu kita mau. Kita yang di Pulau Jawa sudah terbiasa hidup nyaman dan serba ada, harus tinggal di tempat yang mall saja masih jarang ditemui? Hmmm… saya saja tidak mau tapi saya tetap harus bersyukur dengan keadaan yang serba ada dan serba nyaman di kota. Saya (dan juga Anda) seharusnya malu jika masih mengeluhkan keadaan di sekitar kita.
Pertanyaan yang tak kalah pentingnya, sebegitu parahnya kah yang harus dilakukan terhadap generasi muda semata-mata untuk membuat mereka menghargai perjuangan pendahulunya? Bukannya dengan demikian justru akan membuat persepsi generasi muda menjadi brutal dalam mengatasi berbagai permasalahan hidup? Kita, penonton, yang menentukan, untuk perkembangan kepribadian kita sendiri dan juga generasi berikutnya.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Fright Night


Overview
Vampire menjadi komoditas horror barat yang cukup menjual. Berbagai versi pun telah dibuat, baik yang klasik seperti Bram Stoker’s Dracula maupun yang ababil seperti Twilight Saga. Tak hanya horror, vampire pun pernah dibuat dalam versi komedi bahkan film anak-anak. Fright Night (FN) sendiri merupakan salah satu remake film vampire berjudul sama di tahun 1985. Saya sih belum pernah menyaksikan versi aslinya tapi saya cukup tertarik untuk menyaksikan versi 2011 ini setelah melihat poster dan trailernya.
Apa yang saya harapkan ternyata tidak begitu banyak terpenuhi. Memang, FN masih menawarkan adegan-adegan brutal khas film vampire modern. FN juga menawarkan sisi komedik seperti halnya Idle Hands. Namun perpaduan antara horror dan komedinya bukannya menjadikannya menarik malah membuat film seperti kebingungan dan canggung. Tidak begitu seram sebagai sebuah horror, juga gagal untuk tampil lucu sebagai sebuah komedi. Selain plotnya yang tipikal dan klise untuk film bertema vampire in the neighborhood, alurnya yang terlalu bertele-tele dan melelahkan semakin memperparah keadaan. Rasanya tidak perlu deh membuat dialog-dialog bodoh sebelum kejar-kejaran atau adegan kejar-kejaran yang terlalu banyak tanpa arah tujuan yang jelas. Ada lah banyak cara untuk “menghemat” durasi sehingga tidak melelahkan penonton. Di tengah-tengah film ingin rasanya saya memencet tombol stop di DVD player, tapi ya sudah lah. Toh saya juga menontonnya dengan santai, saya nikmati saja durasi 106 menit yang terasa panjang sekali.
The Casts
Anton Yelchin bermain dengan cukup baik di sini. Sayang aktingnya di sini belum cukup untuk menutupi kekurangan di skrip. Begitu pula dengan Colin Farrell yang memerankan charming vampire yet dangerous. Kharismanya cukup lah untuk memerankan karakter Jerry. Tapi lagi-lagi, skrip tidak memberinya banyak kesempatan untuk memikat penonton. Apalagi dandanan yang dikenakannya sebagai vampire adalah ala John Carpenter’s Vampires yang notabene film kelas B. Hal yang sama juga terjadi pada karakter Peter Vincent yang diperankan dengan cukup baik David Tennant. Karakter yang sebenarnya cukup menarik tapi harus berakhir dengan impresi yang kurang buat penonton.
Karakter Imogen Poots yang awalnya saya duga akan memberikan kontribusi lebih ternyata tetap saja menjadi the other just-a-main-character’s-hot-companion yang berakhir menjadi korban termanis dan termudah. Saya juga heran kenapa Toni Collette yang biasanya suka memerankan karakter-karakter berbobot di film-film serius mau ambil bagian di film seringan dan se-corny ini.
Yang paling menarik perhatian saya justru penampilan Christopher Mintz-Plasse di paruh awal film. Perannya cukup penting dan dibawakan dengan baik oleh Mintz-Plasse walau tidak semenonjol di Kick-Ass. Sayang, karakternya berubah menjadi super menyebalkan dan mengganggu di paruh terakhir film.
Technical
Tidak ada yang begitu menonjol dan istimewa di segi teknis. Desain produksi, sinematografi, maupun sound effect, semua biasa saja, tipikal film horror sejenis. Special effect adegan gore nya juga sudah sering kita lihat, tidak ada satu pun yang membuat saya merasa miris atau ngeri.
Saya menyaksikan versi 2Dnya tapi saya jelas sekali ada beberapa adegan yang sengaja dibuat untuk menampilkan efek pop-out 3D-nya. Tapi I think that’s all. Tidak ada adegan yang terasa memerlukan kedalaman khusus sehingga menarik untuk disaksikan dalam format 3D.
The Essence
Perubahan pasti terjadi, apalagi ketika remaja. Sebuah transisi dari anak-anak menuju kedewasaan. Anak-anak yang geek bisa saja berubah menjadi remaja populer, seperti halnya Charley Brewster yang diperankan Anton Yelchin. Tapi please… jangan melupakan teman lama yang notabene geek hanya demi menjaga reputasi Anda di lingkungan baru yang lebih populer. Percaya deh, Anda punya the true interesting personality yang membuat Anda lebih baik ketimbang orang-orang lain di lingkungan populer jika Anda tahu apa yang Anda lakukan dan bisa menjaga hubungan baik dengan keduanya.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates