Saturday, March 31, 2018

Review Film menurut ViJo
(Read this first to understand The Jose Movie Review)

The Jose Movie Review
Entah sejak kapan saya mulai menulis review film-film yang pernah saya tonton. Kalau tidak salah sejak jaman Friendster mungkin yah. Waktu itu saya menggunakan fitur “Review”. Lantas ketika Facebook merebak, saya menggunakan fasilitas “Notes”. Enaknya, di “Notes” Facebook saya punya space lebih banyak untuk menjabarkan apa yang ada di otak saya tentang film-film yang saya tonton. Banyak yang suka dan rajin membacanya, tapi tentu saja ada juga yang membencinya dan menganggap saya sok pintar serta sok tahu soal film. Keadaan itu memuncak ketika saya mengkritik orang-orang yang segitu tergila-gilanya dengan 2012 dan Twilight Saga. Bahkan ada teman dekat yang lantas mengunfollow Twitter saya gara-gara saya mengatakan Twilight Saga sebagai film ababil. What??? What’s happened to these people??? But that’s okay, banyak juga koq yang mendukung saya untuk menuliskan buah-buah pikiran saya tersebut. “Biarin lah, setiap orang berhak punya opini,” begitu hibur mereka.
Yes, he’s right! Tiap orang berhak punya opini! Kenapa saya tidak boleh punya opini bahwa Transformers dan Twilight Saga adalah film sampah, sementara mereka yang mengatas-namakan penonton mayoritas merasa fine-fine saja mencaci maki film semacam Watchmen dan film-film berkelas Oscar hanya dengan alasan “membosankan”? Padahal jelas-jelas di setiap review, saya menyertakan argumen yang kuat dan objektif kenapa saya menyukai atau tidak menyukai suatu film. Sekarang siapa sih yang sok pintar? Siapa sih yang shallow?
Fungsi Review Film
Kontroversi berlanjut ketika ada yang mempertanyakan fungsi “review film”. Ada yang berpendapat review hanya berguna bagi calon penonton untuk memutuskan hendak menonton suatu film atau tidak. Intinya, filmnya bagus atau jelek. End of story. Saya tidak sependapat. Menurut saya, setiap film itu berbeda dan kita tidak bisa menggunakan kacamata yang sama untuk menilai atau menikmati setiap film. Ada film yang murni hanya sebagai hiburan (lebih banyak hanya jualan visual efek atau humor-humor ringan, yang di Hollywood sering disebut popcorn movie), ada yang merupakan karya seni yang kadang bertutur secara metaforik, ada pula yang memang memiliki gagasan tertentu yang ingin disampaikan kreator kepada penontonnya. Itu pun setiap sutradara bebas untuk menggunakan berbagai teknik penceritaan dan pengambilan gambar, ada yang linear maupun non-linear, ada yang berupa documentary (bisa juga mockumentary) maupun film cerita konvensional (tiga babak). Apabila kita mau lebih membuka diri akan berbagai jenis film yang ada sebenarnya jauh lebih menarik, ketimbang hanya film-film pop corn standard Hollywood.
Sebagai seorang yang juga turut ambil bagian dari dunia film, fungsi review film lebih dari sekedar penentu keputusan menonton suatu film atau tidak. Review juga menjadi media pembelajaran bagi saya. Belajar untuk mengetahui seperti apa sih standard film bagus yang paling hakekat, lebih dari film sekedar sebagai hiburan. Jika merasakan sesuatu yang salah dari sebuah film, apa yang menjadi faktornya; apakah skripnya yang berantakan, apakah sutradaranya yang kurang bisa menerjemahkan skrip, apakah editornya yang kurang piawai menyajikan gambar menjadi lebih atraktif, dan lain sebagainya. Berkat review-review profesional yang membahas tiap aspek film secara detail, saya menjadi lebih tahu tentang berbagai aspek pembuatan film, dan tentunya bisa lebih menghargai film sesuai dengan hakekatnya sebagai sebuah seni gambar bergerak, tidak hanya seni pertunjukan layaknya sirkus. Review bisa menjadi semacam "karya ilmiah" atau "jurnal" bagi siapa saja yang tertarik menjadi bagian dari dunia film, baik praktisi seperti sutradara, editor, produser, aktor, maupun penonton dan pecinta film (sejati).
Walaupun sudah menyaksikan suatu film dan menuliskan review versi sendiri, terkadang saya masih tertarik untuk membaca review dari berbagai orang, baik yang sudah established seperti Roger Ebert, maupun sesama blogger yang khusus me-review film. Saya tertarik untuk mengetahui bagaimana pemikiran/opini orang lain tentang suatu film. Siapa tahu saya melewatkan poin-poin ketika menyaksikannya sendiri. Dari situ saya bisa memperkaya diri dengan pengetahuan dan kemampuan dalam menikmati film. Menikmati film saja perlu kemampuan khusus? Benar sekali! Satu lagi nih fungsi film buat saya, mengasah ketajaman menganalisa sesuatu!
Mengapa saya tidak bisa menikmati film-film pemenang Awards?
Dulu ketika masih SMA saya ingat ada seorang teman yang berujar seperti ini, "Koq kamu sukanya film-film kayak American Pie dan Scary Movie sih? Keren sih, tapi ga ada isinya. Coba deh sekali-sekali nonton film drama atau thriller yang lebih berbobot". Thanks to her for such a slap. Semenjak itu saya mulai menonton dan mencoba untuk mengamati serta mengerti film-film yang lebih berbobot. Film-film nominee penghargaan bergengsi seperti Academy Awards dan Cannes pun menjadi bahan pembelajaran saya yang baru.
Dari titik itulah, wawasan saya tentang film jadi jauh lebih luas. Referensi saya pun menjadi lebih beragam karena saya membuka diri untuk menyaksikan film Eropa dan negara-negara asing lainnya yang jauh berbeda dari pakem bagaimana sebuah film seharusnya yang selama ini ditanamkan Hollywood dalam benak kita. Since then, sorry Hollywood... most of your movies are boring and no longer getting much of my attention. You can deceive them shallow people who was amazed by your fake effects, but not me. I'm getting better than that! :)
Seperti yang sudah saya sampaikan di poin pertama, saya sekarang menjadi kesal kalau ada orang yang dengan sok pintarnya berpendapat, "Pokoknya film-film yang menang penghargaan itu jelek." Saya berpikir, koq bisa yah mereka begitu pede dengan selera film mereka? Tidakkah mereka penasaran, apa sih yang bikin film-film seperti itu menang penghargaan? Juri-juri penghargaan bergengsi seperti itu pasti jauh lebih kompeten di bidangnya lho ketimbang penonton awam seperti kita. Ketika menonton film yang menang penghargaan tapi kurang bisa saya mengerti maksudnya, saya langsung browsing di forum-forum IMDB. Saya tidak pede lho dengan tingkat intelektual saya sendiri, tapi saya membuka diri untuk tahu lebih, dan dari situ saya belajar banyak hal dan akhirnya bisa mendapatkan sesuatu dari film yang saya tonton.
Yah yah... saya harus bisa menerima bahwa tidak semua orang penasaran dan tertarik mempelajari berbagai hal, tetapi ada juga orang-orang yang malas, yang penting senang sudah cukup. Ada orang yang tidak mementingkan sebuah film happy ending atau sad ending, yang penting memberikan kesimpulan yang kuat, tapi ada pula yang asal happy ending saja sudah senang. Ada orang yang niat kuliah untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman lebih, ada pula orang yang kuliah cuma mengejar gelar padahal merasa tidak mendapatkan apa-apa di bangku kuliah. Beda ekspektasi, dan ketika saya belajar untuk memahami kaum seperti ini, saya juga berharap mereka tidak lantas mencaci-maki suatu film hanya karena mereka tidak mengerti apa yang mereka tonton.
Jadilah penonton yang cerdas, ketahui seperti apa gambaran film yang akan Anda tonton daripada memaksakan diri tapi malah bikin kesal sendiri karena merasa rugi bayar tiket dan juga mengganggu orang lain berkat omelan-omelan Anda di dalam studio. Jika Anda malas menganalisis film yang membutuhkan analisis untuk bisa mengerti maksudnya, ya tidak perlu ditonton ketimbang Anda hanya merusak reputasi film yang Anda tonton. Fair enough, kan?
Kriteria The Jose Movie Review
Setiap reviewer punya kriteria sendiri-sendiri dalam menilai suatu film. Ada yang merating dengan skala 1-5, ada pula yang menggunakan skala 1-10. Jika semua orang bebas untuk menetapkan kriteria apa saja dalam menilai apa saja, maka reviewer film juga bebas memberikan skala nilai untuk tiap film yang ditontonnya, tentu saja disertai dengan argumen yang masuk akal untuk mempertahankan reputasi si reviewer sendiri.
Saya sendiri menggunakan skala 1-5 untuk The Jose Movie Review. Sejauh ini saya belum pernah memberikan skala nilai 1 untuk film apapun. Skala terendah yang pernah saya berikan selama ini adalah 2. Seburuk apapun filmnya, saya masih menghargai proses pembuatan film yang tidak mudah. Tapi bukan tidak mungkin juga yah ke depannya saya memberikan skala 1 atau 1,5. Saya sendiri tidak pernah menetapkan arti dari tiap skala yang saya berikan karena saya berusaha menggunakan kacamata yang berbeda-beda untuk tiap film. Skala 4 untuk film popcorn bukan berarti lebih baik daripada film serius yang saya beri skala 3 atau 3.5. Skala yang saya berikan murni berdasarkan naluri saya pribadi. Never set ones, I just knew how many numbers I have to give to that movie.
Kendati demikian, untuk mendapatkan skala 5 yang sangat jarang saya berikan, film tersebut harus membuat saya katarsis. Reviewer lain ada yang berpendapat tidak mungkin ada film yang bisa mencapai kesempurnaan seperti itu (5/5 atau 10/10), tapi bagi saya film bisa mencapai kesempurnaan dengan cukup memberikan kriteria saya tadi. Tidak banyak yang bisa, tapi ada. Maka dari itu tak heran jika ada film legendaris yang dianggap sebagai sebuah masterpiece, yang tetap diingat dan dihargai sepanjang jaman.
Ilustrasi sederhana kriteria skala saya seperti ini :
1-1,5 Total crap
2-2,5 Tidak menarik, tidak ada isinya, dan alih-alih menghibur malah mengganggu
3        Premise menarik, sayang eksekusinya kurang bisa menerjemahkan dengan baik
3,5    Bagus, hanya saja kurang kuat
4       Bagus, worth watching
5       Saya KATARSIS!!!! This is a true masterpiece!

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates