Wednesday, March 21, 2012

The Jose Movie Review - The Woman in Black


Overview
Bagi pecinta horror klasik, tentu nama Hammer Films sebagai produsen film bukan nama yang asing didengar. Dari rumah produksi yang berdiri di era 30’an ini pernah dihasilkan film-film klasik seperti Dracula, The Revenge of Frankenstein, The Mummy dan ratusan judul lainnya. Sayang, masa kejayaannya di era ’50-’60an sudah lewat. Mencoba bangkit lagi di kembali millenium dengan karya Let Me In, drama horror yang pantas mendapat pujian di berbagai aspek, membuktikan bahwa karya Hammer Films memiliki kualitas yang baik, seiring dengan perkembangan dunia sinema.
Sebagai sebuah film horror yang menggunakan formula klasik, The Woman in Black (WIB) bisa dibilang cukup baik dari segi penggarapan. Namun bagi penonton jaman sekarang, rupanya alur yang disuguhkan terasa terlalu lambat. Tak heran jika banyak penonton awam yang terbiasa nonton horror berisik akan merasa bosan. Buat saya pribadi sih tidak begitu membosankan, karena jalinan ceritanya termasuk cukup rapi dan tidak ada yang tidak penting untuk ditampilkan. Justru keheningan-keheningan yang ada bisa mendukung suasana ngeri yang sudah cukup dihadirkan dari desain set.
Kekurangan yang paling saya sayangkan adalah kurangnya kekuatan cerita, terutama di bagian penjelasan misterinya yang biasa, tidak banyak beda dengan film-film horror sejenis. Saya sih berharap ada penjelasan yang lebih terselubung dan sedikit twisted, kalau bisa sih ending yang membiarkan saya menarik kesimpulan sendiri. Sayang, bayangan dan harapan saya tersebut rupanya terlalu muluk. Untung, ada sedikit “kebahagiaan” di akhir yang setidaknya membuat penonton sedikit puas walau masih gregetan dengan sosok si wanita bergaun hitam ini.
Sosok hantu wanita bergaun hitam sendiri sebenarnya sudah cukup bikin merinding. Tapi jujur, saya lebih terintimidasi oleh kemunculan hantu anak-anaknya, terutama ketika mereka bergerombol di depan rumah berhantu hendak menyerang Arthur. Sayang adegan ini tidak ditindak-lanjuti, padahal cukup berpotensi menjadi adegan yang paling bikin merinding sekaligus menegangkan.
Alhasil, WIB hanyalah menjadi just another horror movie with classical element. Sama sekali tidak buruk, tapi juga bukan karya yang bakal bisa diingat dalam jangka waktu panjang. Setidaknya, lumayan lah buat mengisi waktu luang sekaligus mengobati rasa kangen dengan taste horror klasik. Cukup baik untuk James Watkins yang mana ini baru kali keduanya ia duduk di bangku sutradara.
The Casts
Memanfaatkan sisa-sisa histeria Harry Potter yang baru saja berakhir, Hammer tampaknya mencoba menarik penonton dengan menghadirkan Daniel Radcliffe sebagai pemeran utama di WIB. Mungkin bagi beberapa penggemar Harry Potter tentu merasa aneh melihat Radcliffe berakting sebagai pria yang jauh lebih tua ketimbang usia aslinya. Boleh dibilang, karakternya mirip karakter Jonathan Harker yang diperankan Keanu Reeves di Bram Stoker’s Dracula. Kalau mau dibandingkan antara keduanya? Well, I’ve got to be honest, I would be easily chose Reeves over Radcliffe. Bukan berarti penampilannya buruk di sini, tapi kayaknya kurang begitu pantas memerankan karakter seusia itu. Sisa-sisa “aura” Harry Potter-nya masih terasa sekali, sehingga kharisma karakter seusia Arthur Kipps di sini kurang begitu kelihatan.
Selain nama Radcliffe, tak banyak nama terkenal yang menghiasi film Inggris ini. Hanya Ciaran Hinds sebagai Mr. Daily yang namanya cukup sering membintangi film Hollywood walau bukan sebagai pemeran utama. Selama tahun 2011-2012 saja ia tampil di John Carter, Ghost Rider Spirit of Vengeance, Tinker Tailor Soldier Spy, dan bahkan memerankan Aberforth Dumbledore di Harry Potter and The Deathly Hollows Part II. Selain Arthur, karakter dan kharisma Mr. Daily inilah yang paling menonjol. Karakternya menjadi penetralisir kepercayaan akan hantu dengan pemikiran-pemikiran realis-nya. Kapasitas akting Hinds pun pas dengan porsi yang disodorkan kepadanya.
Technical
Teknis yang paling menonjol dan kuat adalah segi setting, baik itu lokasi, kostum, maupun properti. Setting pedesaan, makam keluarga, serta manor Drablow tampak begitu indah, detail, sekaligus mengerikan. Begitu juga dengan kostum ala 1800’an yang memukau. Sedangkan properti-properti yang digunakan cukup mengambil peran yang banyak dalam menciptakan suasana kengerian, seperti boneka-boneka dan mainan ala gothic yang super creepy. Make up sosok hantu-hantunya tergolong biasa sih, tapi cukup meyakinkan terutama hantu anak-anaknya. Sosok woman in black-nya tidak begitu banyak tampak jelas, hanya di bagian akhir saja akhirnya beliau menunjukkan sedikit lebih banyak wajahnya yang... lihat sendiri saja deh.
Score yang digubah oleh Marco Beltrami cukup menambahkan aura kengerian adegan-adegan yang ada. Cuma seandainya saja ditambahkan unsur Gregorian atau Satanic ke dalam komposisi score-nya, pasti bisa menjadikan WIB salah satu horror terseram 2012 ini.
The Essence
Tak banyak yang bisa disampaikan oleh WIB yang memang dibuat hanya sebagai hiburan semata. Namun dialog yang disampaikan Mr. Daily banyak yang menarik dan bisa dijadikan bahan penetral di saat kita sedang menghadapi suasana yang mencekam. Ingat selalu, “I believe the most rational mind can play tricks in the dark” dan “Don't go chasing shadows, Arthur.”
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates