Saturday, March 24, 2012

The Jose Movie Review - Serbuan Maut (The Raid Redemption)


Overview
Harapan sebagian besar rakyat Indonesia yang merindukan film action yang bisa dibanggakan terjawab sudah. Thanks to Gareth Evans, pria Wales yang memperkenalkan Pencak Silat ke dunia internasional sehingga setidaknya menjadi setara dengan seni beladiri Asia lainnya. Setelah berhasil mengangkat Pencak Silat dalam balutan drama yang seimbang dan enak dinikmati secara sinematik dalam Merantau, Evans membawa Pencak Silat ke level yang berbeda. Bisa dibilang ke level yang lebih tinggi, tapi tidak salah juga bila ada yang mengatakan ke level yang lebih rendah. Yang pasti, Evans kali ini menyuguhkan sajian pure action-pack yang tidak begitu mempedulikan plot yang menarik alias sudah berkali-kali diangkat ke dalam berbagai medium visual. Saya tidak begitu masalah dengan film yang murni mengandalkan adegan aksi seperti ini asalkan memang bagus dan kuat di sisi yang ditonjolkan tersebut. At least show me something I’ve never seen before and thrill me up!
Secara keseluruhan, saya tidak menemukan adegan laga yang benar-benar baru di sini, baik itu perkelahian tangan kosong, aksi baku tembak, maupun yang melibatkan senjata tajam. Sudah banyak sekali film action-thriller sejenis, baik Hollywood maupun lokal dari jamannya Cynthia Rothrock atau Deddy Yusuf. Bedanya, koreografi perkelahian khas Pencak Silat yang diarahkan oleh Iko Uwais dan Yayan Ruhian di sini mampu tampil setara film-filmnya Jackie Chan.
Walaupun menurut saya adegan-adegan aksinya tergolong biasa, saya tetap saja menemukan momen-momen istimewa sepanjang film, seperti adegan Rama di ruang persembunyian yang menegangkan, dan adegan pertarungan Rama-Andi-Mad Dog yang indah secara visual serta koreografi. Ditambah lagi dengan kehandalan Evans dalam menentukan pace dan timing, serta teknik pengambilan gambar yang di atas rata-rata. Alhasil, The Raid film murni non-stop action-thriller dengan adegan gore di sana-sini yang cukup mendebarkan.
The Raid boleh jadi sebuah landmark tersendiri bagi perfilman Indonesia. Tapi saya berharap sih Evans tak lantas terlena oleh pujian banyak pihak, karena menurut saya faktor kesuksesan terbesar dari The Raid adalah penonton internasional baru kali ini melihat seni beladiri Pencak Silat yang dikemas dengan gaya pop yang bisa dinikmati oleh penonton dari berbagai negara dan budaya. Tapi this will only be a one-time-moment. Jika tidak diteruskan dengan modifikasi adegan aksi dan plot yang lebih menarik, maka franchise Pencak Silat dan juga The Raid hanya akan seperti American Ninja yang semakin lama semakin terpuruk dan pada akhirnya hanya akan menodai karya pertamanya. Sayang kan?! Saya yakin The Raid masih bisa dikembangkan menjadi karya yang lebih baik dan lebih kuat baik secara visual maupun plot.
The Casts
Iko Uwais boleh jadi masih menjadi pusat perhatian setelah Merantau. Dengan porsi adegan aksi yang lebih banyak, jelas Uwais bisa meraup lebih banyak perhatian. Namun The Raid secara khusus melambungkan nama Joe Taslim, atlet Judo yang perannya di film-film sebelumnya tidak begitu melekat di ingatan penonton. Ternyata kemampuan aktingnya juga cukup baik. Didukung dengan postur yang tinggi besar, bukan tidak mungkin karirnya sebagai aktor laga bakal mulus selepas histeria The Raid.
Yayan Ruhian punya karakter yang lebih kuat dan tentunya porsi yang lebih banyak ketimbang ketika di Merantau. Donny Alamsyah seperti biasa tampil sesuai dengan porsinya dengan sangat baik. Ray Sahetapy masih tampak kurang mengintimidasi sebagai bos mafia narkoba, sementara Paul Gruno tampil lebih baik sebagai Letnan Wahyu.
Technical
Sejak Merantau, jelas sekali Evans punya selera visual yang sangat baik, setara lah dengan sutradara-sutradara handal Hollywood. Di sini pun ia kembali bermain-main dengan teknik pengambilan gambar yang dinamis, kadang handheld, tata suara surround yang tepat guna, serta variasi sound effect yang sudah sekelas Hollywood. Dengarkan efek suara teredam ketika adegan telinga terluka, atau suara hantaman tangan kosong dan tendangan yang terdengar dahsyat tapi tetap realistis, sementara score-nya mengiringi tiap adegan menegangkan dan glorious dengan sangat efektif.
Special effect juga menjadi perhatian apalagi action yang ditampilkan di sini rata-rata tergolong gore. Untuk urusan ini, semuanya tampak halus dan believable, tak kalah dengan Hollywood. Padahal jajaran penggarap visual effect-nya orang Indonesia semua lho. So, I think Evans has proven that actually, Indonesia has no problem in technical and with a budget only around US$ 1 million, you will still be able to make a cool action movie.
The Essence
Jangan salah, walaupun tergolong murni action-pack, The Raid ternyata menyampaikan beberapa esensi yang cukup menarik. Semua penonton tentu sudah bisa membaca esensi tentang polisi-polisi korup yang juga menjadi antek mafia. Di negara manapun, bahkan Amerika Serikat sekalipun punya masalah yang sama. Infernal Affairs dan remake-nya, Departed, pernah mengangkat esensi ini dengan sangat kuat. Sementara di Indonesia sendiri, kasus mafia-penegak hukum sedang panas-panasnya setelah belakangan terkuak jaringan mafia-mafia di berbagai kota. Sebuah masalah yang sulit untuk ditemukan solusinya, mengingat kedua pihak memiliki hubungan yang simbiosis mutualisme.
The Raid juga mempertanyakan tujuan seseorang ketika mendaftarkan diri menjadi anggota penegak hukum seperti polisi atau tim SWAT. Apakah murni ingin menegakkan hukum, tugas sosial, atau sekedar mencari pujian yang disimbolkan dengan lencana?
Kemiskinan menjadi potret kecil yang turut ditampilkan dalam film. Lihatlah betapa banyaknya orang-orang miskin yang menggantungkan hidupnya dari lembah hitam mafia. Tak banyak pilihan bagi mereka, mati karena kelaparan atau mati dibunuh sebagai konsekuensi menjadi bagian dari mafia.
Terakhir dan yang paling menarik, karakter antara Rama-Andi sebenarnya memiliki persamaan : memilih jalan hidup dimana ia dihormati dan dianggap serius, terlepas dari benar atau salahnya jalan yang dipilih. Alasannya cuma satu, “karena pas sama gue”, lantas keduanya berjalan ke arah yang berlawanan. Wow, one strong poetical scene during the whole movie!!!
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates