Monday, March 19, 2012

The Jose Movie Review - A Separation (Jodaeiye Nader az Simin)


Overview
Tak banyak film Iran yang berhasil menembus pasar internasional. A Separation merupakan film Iran pertama yang berhasil memenangkan Oscar untuk kagetori Best Foreign Feature. Sebelumnya ada film drama bertemakan anak-anak bertajuk Children from Heaven yang “hanya” berhasil masuk nominasi Oscar. Maka saya pun tertarik untuk mencicipi bagaimana sinematik ala Iran.
A Separation berhasil membuka mata saya terhadap sinema Iran yang selama ini tidak begitu terdengar gaungnya (apalagi di Indonesia). Yang paling saya kagumi dari film karya Asghar Farhadi ini adalah skrip yang tertata dengan sangat rapi dan cerdas. Tema perceraian yang terkesan simple dan mungkin terdengar pasaran bagi banyak orang, diramu sedemikian rupa sehingga tampak lebih menarik. Tak hanya seputar penyebab perceraian, mediasi, lalu keputusan akhir; Asghar yang juga menulis sendiri skripnya, menyisipkan berbagai problematika yang, katanya sih, sangat Iran banget. Ada selipan kasus hukum yang melibatkan keluarga seorang perawat, yang nantinya ternyata turut mewarnai puncak keputusan akhir dari gugatan cerai Simin kepada suaminya, Nader. Ada pula karakter ayah Nader yang mederita Alzheimer, yang juga tak kalah meyumbang problematika tersendiri dalam film. Dari itu semua baru penonton mengerti dengan jelas, mengapa akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai, tidak hanya sekedar karena masalah Nader tidak mau diajak pindah ke negara lain yang kata orang-orang memiliki harapan masa depan lebih baik untuk putri mereka ketimbang stay di Iran. Saran saya ketika menyaksikannya, perhatikan tiap detail adegan yang ada, baik itu dialog yang terkesan sepele dan gerak-gerik serta ekspresi karakter-karakternya. Semua pertanyaan yang mungkin muncul di dalam benak Anda ketika sampai pada akhir film, sebenarnya terjawabkan dan terjelaskan semua melalui detail-detail dari awal film.
Cerita yang realistis, akting yang alami namun tetap memukau, jalinan alur yang pas hingga akhir film, twist yang cukup mengejutkan, dan ending yang membuat saya merenung beberapa saat, cukup layaklah jika A Separation meraih Oscar. I have to admit, Asghar’s script is brilliant, very strong, and clever.
Casts
Kekuatan cast terasa dengan jelas ketika menyimak chemistry antara Leila Hatami (Simin) dan Peyman Moadi (Nader), pasangan yang sedang dalam proses perceraian. Lihat saja bagaimana canggungnya mereka bersikap ketika saling bertemu, namun ketika perang mulut, meyakinkan sekali chemistry-nya bahwa mereka adalah pasangan yang pernah “bersama” sekian tahun. Chemistry tersebut tajam namun tidak sampai terasa seperti dilebih-lebihkan atau didramatisir. Just like real.
Akting yang tak kalah bagusnya ditampilkan oleh Sareh Bayat, pemeran Razieh. Bisa dibilang selain kedua aktor utamaya, Bayat-lah aktor yang paling menonjol berkat karakter yang juga menarik dan permainan akting yang dibawakan dengan sangat baik. Great job!
Technical
Satu hal yang unik adalah A Separation sama sekali tidak memiliki musik pengiring maupun score, termasuk ketika credit title di bagian akhir. Kendati demikian, A Separation sudah cukup berhasil membawa penonton ke situasi dalam film. Saya sama sekali tidak merasakan kebosanan sepanjang film, justru semakin penasaran dengan apa yang bakal terjadi berikutnya.
Teknik pengambilan gambarnya banyak menggunakan teknik handheld dan mengikuti karakter yang sedang disorot. Tenang, sama sekali tidak ada gambar goyang yang mengganggu yang sering terjadi pada film-film berteknik handheld. Kadang ada gambar fokus utama yang tertutup oleh dinding atau orang lain, untuk menghadirkan kesan nyata ala “dokumenter”. Saya mengerti alasan kesan realis ini dan untungnya sama sekali tidak mengganggu kenyamanan menonton.
The Essence
Perceraian. Satu momok dalam pernikahan, tapi ketika sepasang suami-istri mulai merasakan ketidak cocokan, bahkan suatu hal yang sangat bertolak belakang antara keduanya, perceraian adalah jalan yang paling bijak ketimbang memaksakan diri. Mau menyalahkan sebuah perceraian? Saya lebih cenderung menyalahkan pernikahan yang terburu-buru, yang hanya memandang sisi “senang”-nya saja, tanpa mengenal dengan dalam kepribadian pasangannya.
A Separation menunjukkan sepasang suami-istri yang ternyata jelas sekali bertolak belakang. Jika Simin lebih berpikiran masa depan, Nader sebaliknya lebih suka dengan masa lalu. Jika Simin lebih suka berkompromi dalam menyelesaikan suatu hal, Nader justru lebih suka bersikukuh memperjuangkan apa yang menurutnya benar. Banyak sekali perbedaan-perbedaan yang ditunjukkan sepanjang film, yang semakin membuat penonton mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara Nader dan Simin.
Selain masalah perceraian, A Separation juga memperlihatkan berbagai problematika yang katanya nyata-nyata terjadi di Iran, seperti suasana ruang pengadilan yang terkesan main-main, isu religius antara pria dan wanita, dan tentu saja masalah kemiskinan dimana emosional bisa menyetir manusia untuk melakukan hal-hal paling nekad sekalipun. Well, people with poverty has nothing to lose, don’t they? Semuanya terangkum dalam satu skrip yang solid dan saling mempengaruhi antar plot.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates