Saturday, March 10, 2012

The Jose Movie Review - Negeri 5 Menara


Overview
Beberapa tahun belakangan ini Indonesia sedang demam motivasi, baik berupa seminar, buku, maupun film. Lihat saja popularitas motivator-motivator seperti Tung Desem Waringin, Mario Teguh, Bong Chandra, dan Merry Riana. Dari analisis saya, masyarakat Indonesia sedang sangat membutuhkan motivasi-motivasi yang kuat untuk menjadi (setidaknya) sesukses dan sekaya motivator-motivator tersebut, di tengah keadaan perekonomian Indonesia yang masih tidak begitu menggembirakan. Dunia perfilman Indonesia pun sering sekali mengangkat tema motivasi.
Membaca sinopsis Negeri 5 Menara (N5M), saya langsung teringat Laskar Pelangi (LP). Keduanya memiliki banyak kemiripan; sama-sama menceritakan tentang anak-anak yang menuntut ilmu di tempat yang sama, mereka bersahabat, mereka belajar dan bertumbuh bersama dalam segala aspek kehidupan, dan pada akhirnya mereka sama-sama berhasil meraih cita-citanya sampai luar negeri. Namun, tentu N5M memiliki semangat yang berbeda dengan LP. Man Jadda Wajada yang menjadi slogan film ini menjadi tema yang menjiwai sepanjang film.
Sebelumnya, saya sama sekali belum pernah membaca versi novelnya. Sinopsisnya di backcover-nya saja yang pernah saya baca dan sempat tertarik karena judul dan gambar covernya yang saya akui, unik. Jadi di sini saya akan mereview film ini secara objektif, murni dari filmnya. Saya tidak akan membanding-bandingkan dengan versi novelnya.
Di tangan penulis skenario Salman Aristo yang juga menulis skenario untuk Laskar Pelangi, cerita cliche ala motivator atau dreams come true menjadi sebuah cerita filosofis yang indah. Salman Aristo berhasil menerjemahkan sebuah tema motivasi yang terkesan membosankan dan cenderung menggurui dengan sangat halus dan yang pasti, indah.
Tapi bukan berarti tanpa celah. Jalinan cerita yang disuguhkan seolah-olah “main aman” dengan tak banyak kelokan-kelokan maupun klimaks yang berarti. Ada memang adegan-adegan yang drama banget hingga membuat penonton sedih dan berempati. Humor-humor yang diselipkan pun cukup berhasil membuat saya tertawa. Namun secara keseluruhan, bahkan di akhir film sekalipun saya tidak merasakan katarsis sama sekali. Mungkin akan lebih berhasil jika adegan akhir dimana para karakternya sudah berhasil di “menara” masing-masing, dieksekusi dengan lebih menonjolkan ciri masing-masing karakter dan menara-nya. Menurut saya, pemeran-pemeran karakter dewasanya banyak yang kurang pas, sehingga penonton masih harus menebak-nebak ini versi dewasa dari karakter yang mana. Bagaimana pun, adegan akhir ini seharusnya bisa digarap dengan lebih kreatif sehingga mampu meninggalkan kesan yang cukup dalam bagi penonton. Setidaknya lompatan waktu antara remaja menjadi dewasa menjadi tidak begitu terasa gap-nya.
Di adegan lain, misalnya ketika karakter Alif membatalkan untuk meninggalkan pesantren. Seandainya ia jadi keluar dan mengikuti keinginannya, cerita bisa menghindari klise sekaligus tetap memberikan gagasan yang tak kalah penting; semangat Man Jadda Wajada tetap bisa dipraktekkan dan menjadi “mantra” yang manjur, terlepas oleh dimensi ruang dan waktu. Toh, skenario adaptasi bebas untuk memodifikasi materi aslinya asal nafasnya sama, bukan? Tapi ya sudahlah, bagi penonton awam mungkin bukan menjadi masalah yang begitu besar.
Kredit tersendiri juga patut disematkan untuk sutradara Affandi Abdul Rachman yang bisa dibilang cukup berhasil mengarahkan aktor-aktor muda yang belum terlalu berpengalaman di bidang akting sebelumnya. Walau karirnya belum secemerlang Riri Riza, Rudi Soedjarwo, Joko Anwar, Hanung Bramantyo, maupun Ifa Isfansyah, setidaknya semakin lama ia semakin menunjukkan kualitas penyutradaraannya. Sekedar catatan, sebelumnya Affandi pernah menyutradarai sekaligus menulis skrip untuk Heartbreak.com, Aku atau Dia, dan The Perfect House. Deretan karya yang tak bisa diremehkan.
Casts
Keenam karakter utama ketika kecil diperankan oleh aktor-aktor yang belum pernah berakting sebelumnya. Sebuah catatan yang menarik karena keenamnya cukup berhasil memerankan karakter masing-masing sesuai dengan porsinya. Alif (Gazza Zubizareta) adalah karakter utama yang tak begitu menonjol dari segi kemampuan dan kecakapan. Justru ia menjadi karakter utama karena ini adalah film tentang dia, sepanjang film ia mendapatkan pengaruh dari karakter-karakter lain di sekitarnya, yang pada akhirnya menjadikan “seseorang”. Dari keenam sahabat Menara ini, yang paling menonjol tentu saja Baso (Billy Sandy) yang berasal dari Goa. Sepanjang film jelas ia memiliki jiwa kepemimpinan dan kemauan yang paling keras. Di tangan Billy Sandy, Baso berhasil mengundang simpatik penonton, bahkan mungkin menjadi karakter favorit, mengalahkan Alif sekalipun. Tak kalah menariknya adalah karakter Atang (Rizki Ramdani) dari Bandung yang walaupun pembawaannya agak ngondek tapi ternyata cakap dalam hal teknis.
Dari deretan pemain senior tidak ada yang perlu diragukan lagi. Ikang Fawzi sebagai Ustadz pemimpin pesantren memiliki kharisma yang kuat namun jiwa “rock” nya masih terasa. Donny Alamsyah yang biasanya terkesan kalem dan misterius berhasil menunjukkan sisi inspiratif dan bijaksana dari dirinya. David Chalik dan Lulu Tobing juga cukup berhasil memerankan karakter orang tua Alif dengan wataknya masing-masing dan dengan aksen Padang yang cukup meyakinkan. Kredit khusus saya berikan kepada Andhika Pratama yang berhasil tampil beda dengan mimik wajahnya yang komikal. Lihat saja mimik wajahnya sepanjang film yang dimainkan dengan sinikal namun menggelitik. Sekilas Andhika jadi mirip Cillian Murphy di sini.
Technical
Karena ditangani oleh ahli-ahlinya, secara teknis bisa dibilang tidak memiliki kendala yang berarti. Sinematografi yang indah, score yang tak begitu menonjol tapi cukup berhasil mengiringi adegan, detail setting yang mengagumkan (lihat saja detail bangunan, uang kertas, dan desain eksterior toko ala 1989-an), editing yang rapi. Mungkin hanya dialog saja yang kadang masih terdengar kurang jelas, apalagi ada selipan bahasa maupun aksen daerah yang berbeda-beda. Namun balance antara dialog, score, dan sound effect cukup baik, tidak ada yang saling tumpang tindih.
The Essence
Man Jadda Wajada. Ingin tahu apa maksudnya? Lebih baik nonton sendiri saja agar lebih meresap. Tak hanya itu, Salman Aristo juga berhasil menyelipkan berbagai gagasan dan sindiran. Misalnya gagasan tentang pilihan hidup (terutama pilihan pendidikan) dan sindiran tentang anggota militer yang berusaha menggunakan power-nya untuk bisa masuk pesantren. Ada banyak lah filosofis-filosofis yang menarik diangkat di sini, baik dari kacamata ajaran Islam maupun umum. Sekali lagi saya melihat persamaan-persamaan ajaran agama yang ada, yang selama ini selalu saja orang sibuk mencari-cari perbedaannya. Melalui dan cara yang berbeda, agama-agama yang ada sebenarnya memiliki ajaran yang benang merahnya sama, termasuk dalam hal kerja keras. So, why would you bother? Dengan pemahaman yang berbeda-beda, sebenarnya kita bisa kok bahu-membahu saling membantu membangun negeri ini menjadi lebih baik.
Lihat data film ini di IMDB dan filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates