Friday, March 30, 2012

The Jose Movie Review - Hi5teria


Overview
Omnibus rupanya menjadi bentuk film yang sedang banyak diminati oleh sineas. Menarik sebenarnya, karena dengan membeli satu tiket, penonton bisa mendapatkan beberapa cerita sekaligus. Jika ada salah satu segmen yang tidak disukai tidak jadi masalah, setidaknya ada segmen lainnya yang menarik dan mampu mengobati kekecewaan penonton. Tapi jangan salah, tidak mudah menyusun sebuah omnibus. Memilih cerita yang akan dimasukkan lantas menyusun urutannya dengan baik sehingga penonton merasakan klimaks dan tidak drop, it’s not that easy. Horror Indonesia pernah melakukannya dengan baik melalui Takut dan Fisfic Vol.1. Salah satu sutradara, penulis naskah, serta produser tanah air yang dikenal lewat Realita Cinta dan Rock n’ Roll dan Serigala Terakhir, Upi, mencoba memberi wadah kepada sineas-sineas pendatang baru untuk mewujudkan ide cerita mereka yang ternyata hasilnya cukup menarik lewat Hi5teria.
Secara garis besar, kelima segmen yang ada di Hi5teria memiliki benang merah yang sama, mengangkat legenda, mitos, atau urban legend yang cukup dikenal masyarakat, dan entah disengaja atau tidak, karakter-karakter utamanya adalah wanita.
Segmen Pasar Setan menjadi pembuka yang cukup membangun suasana ngeri. Tidak ada penampakan di sini, namun setidaknya saya berhasil dibuat ngeri membayangkan kejadian yang dialami oleh karakter-karakternya yang tersesat di hutan. Bagi yang belum pernah mendengar cerita mitos tentang Pasar Setan ini mungkin bakal merasakan kengerian yang lebih ketimbang yang pernah mendengar. Setidaknya ending yang disuguhkan benar-benar bikin ngeri. Sayang, ekspektasi saya untuk melihat detail visualisasi Pasar Setan kurang terjawab di sini sehingga apa yang tertera di judul menjadi kurang cocok. Well, lumayanlah sebagai pemanasan.
Segmen berikutnya adalah Wajang Koelit yang menjadi favorit saya. Selain suasana ngeri yang sangat berhasil terbangun berkat permainan sound effect dan score tradisional, menurut saya segmen ini memiliki cerita yang paling nyata dan digarap dengan baik. Entah apakah mitos yang disampaikan di segmen ini benar atau tidak, saya sendiri belum pernah mendengarnya. Yang pasti, Wajang Koelit adalah salah satu bukti bahwa budaya bangsa ini memiliki potensi yang sangat tinggi untuk dijadikan cerita horror, tidak kalah dengan Thailand.
Dilanjutkan dengan segmen Kotak Musik. Nah, kalau yang ini premisenya cukup menarik walau hanya variasi dari tipikal horror generik Indonesia. Tapi jangan salah, berkat penggarapan yang serius dan craftmanship sutradaranya, segmen ini berhasil memberi efek horror yang melebihi tipikal jenis horror sejenis. Unsur drama yang dimasukkan pun tidak begitu mengganggu alur dan pace, justru mendukung kelengkapan cerita yang diusung.
Palasik menjadi segmen keempat yang sebenarnya memiliki premise yang menarik namun sayang penggarapannya kurang maksimal, terutama dari segi skrip dan alur cerita. Ada cukup banyak plothole yang saya rasakan, diperparah alurnya yang terlalu bertele-tele sehingga penonton (baca : saya) menjadi capek duluan menggantikan rasa penasaran tentang apa yang sedang terjadi pada karakter utama. Endingnya cukup baik walau predictable bagi saya. Kalau kata teman saya yang nonton bersama saya, ceritanya sinetron banget.
Hi5teria ditutup dengan Loket. Premisenya sudah pernah diangkat sebelumnya, seperti gabungan P2 dan... banyak deh film yang endingnya seperti itu. Jujur saya tidak begitu bisa menikmati segmen yang menjadi puncak dari segala kengerian yang ada. Saya terus bertanya-tanya dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi tapi ternyata disuguhi ending yang seperti itu. Kengerian dan ketegangan yang dibangun pun tidak begitu terjaga dengan rapi, tapi setidaknya masih mending ketimbang Palasik.
Yap, cukup disayangkan segmen-segmen awal berhasil tampil menarik tapi ditutup dengan biasa saja. Kesannya jadi antiklimaks deh. Namun setelah saya tahu bahwa segmen-segmen yang ada ternyata hasil karya sutradara yang baru pertama kali ini menggarap film, saya langsung berubah menjadi salut atas kerja keras mereka. It’s so damn good for beginners! Saya yakin jika terus berkarya, bukan tidak mungkin sutradara-sutradara berbakat ini; Adriyanto Dewo (Pasar Setan), Chairun Nissa (Wajang Koelit), Billy Christian (Kotak Musik), Nicholas Yudifar (Palasik), dan Harvan Agustriansyah (Loket), ke depannya menjadi sutradara-sutradara yang bisa mengubah masa depan film horror Indonesia sehingga tidak lagi didominasi film-filmnya Nayato (dan berbagai nama alter egonya) dan KK Dheeraj.
Casts
Ada cukup banyak nama terkenal menghiasi layar, seperti Dion Wiyoko, Luna Maya, Imelda Therinne, Poppy Sovia, Sigi Wimala, Tara Basro, Dinda Kanya Dewi, dan Bella Esperance. Rata-rata semuanya bermain dengan sangat baik dan sesuai dengan porsi masing-masing. Beruntung karakter-karakter utamanya diberi pengembangan yang cukup dalam durasi yang cukup singkat. Kalau ditanya penampilan favorit, saya memilih Luna Maya (di Kotak Musik) dan Maya Otos (Wajang Koelit). Kapan lagi bisa melihat Luna Maya tampil semengerikan itu?
Technical
Satu hal yang menjadi keunggulan utama Hi5teria adalah segi teknikal nya yang tergarap dengan sangat baik dan merata untuk semua segmen, baik dari segi sinematografi, lighting, sound effect, dan score. All’s good. Kredit khusus untuk sound effect yang berani memainkan efek surround serta score yang sangat berhasil mendukung suasana tegang dan ngeri sepanjang film.
The Essence
Saya menangkap beberapa poin dari Hi5teria. Pertama, rupanya sineas-sineas horor seluruh dunia harus berterima kasih kepada M. Night Shyamalan yang telah menemukan twist ending ala The Sixth Sense yang cukup menginspirasi hingga kini, termasuk juga di segmen-segmen Hi5teria. Tentu saja dengan berbagai modifikasi plot sehingga tidak terkesan basi.
Kedua, Indonesia memiliki banyak sekali budaya yang menarik serta berpotensi diangkat menjadi ide cerita (termasuk horror). Takut dan Fisfic vol. 1 pernah mengangkatnya, dan Hi5teria menambah daftar panjang variasi ide cerita horor Indonesia. Kita sudah bosan dan tidak takut lagi dengan pocong dan kuntilanak kan?
Ketiga, hantu anak-anak dan orang tua itu jauh lebih seram ketimbang perempuan muda berambut panjang bergaun putih!
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates