Tuesday, February 14, 2012

The Jose Movie Review - One Day


Overview
Saya selalu percaya dan memiliki pemikiran bahwa sebuah relationship yang berhasil adalah relation ship yang berdasarkan sebuah friendship yang mendalam. Anda dan pasangan akan lebih saling mengenal luar-dalam ketimbang pasangan yang hanya melihat sisi positifnya saja, namun ketika ketahuan sisi-sisi negatifnya langsung ilfil dan putus. Saya senang One Day merepresentasikan pemikiran saya tentang relationship ini. Hubungan persahabatan yang dijalin oleh Emma dan Dexter sejak awal sebenarnya meyakinkan sebagai sepasang kekasih, namun rupanya keduanya entah saling jaim atau saling tidak menyadari. Karena tidak ada hal yang ditutupi antara mereka berdua dan mereka saling merasa nyaman satu sama lain, akhirnya mereka sadar bahwa mereka adalah pasangan paling manis yang pernah ada (setidaknya bagi mereka berdua, dibandingkan dengan pasangan-pasangan yang pernah mereka miliki sebelumnya).
One Day merupakan adaptasi dari novel best-seller karya David Nicholls. Jangankan pernah baca, dengar namanya saja baru dengar setelah filmnya rilis. Yang pasti, One Day adalah tipikal film drama romantis yang saya sukai; manis, smart, menggelitik, bermakna dalam, dan tidak terkesan picisan apalagi cheesy. Kisah ups and downs hubungan asmara serta kehidupan pribadi dari Emma dan Dexter selama 20 tahun terangkum dalam durasi tidak lebih dari 2 jam. Berkat chemistry kuat antara Anne Hathaway dan Jim Sturgess, perjalanan 20 tahun tak terasa membosankan, malah sangat nyata dan menarik. Nyata, menurut saya inilah yang membuat One Day begitu enak dinikmati. Tidak ada cerita klise bak Cinderella yang berakhir happily ever after. One Day sengaja menyuguhkan jatuh bangun karir serta perkembangan kepribadian dari Emma dan Dexter secara seimbang dan selaras, hingga keduanya bertemu di satu titik yang (akhirnya) membuat mereka bersatu. Namun ternyata cerita tidak hanya sampai situ saja. Ada gagasan tentang relationship tertentu yang ingin disampaikan cerita kepada penonton. Itulah yang membuat One Day menjadi film yang tidak hanya sekedar menjual mimpi tentang indahnya cinta, tapi lebih ke struggle hingga survival ketika semuanya menjadi sekedar kenangan indah.
Casts
Terakhir saya menyaksikan performa Anne Hathaway dalam sebuah film (so-called) romantic adalah lewat Love and Other Drugs. Walaupun film tersebut begitu heboh karena penampilan “polos” dari Hathaway dan Jake Gylenhaal, saya sama sekali tidak menyukai film tersebut karena menurut saya film tersebut kebingungan membawa filmnya kemana. Penampilan Hathaway pun sama sekali tidak berkesan apabila ia tidak tampil “polos” seperti di film tersebut. Di One Day, Hathaway berhasil mencuri hati saya, seperti yang pernah dilakukannya lewat The Princess’ Diaries. Ia cocok sekali memerankan karakter smart seperti Emma. Smartly sexy ketika rambut panjang dan freshly elegant dengan rambut pendek. Aksen England-nya pun terdengar alamiah. Sturgess sendiri kemampuan aktingnya berkembang cukup banyak setelah Across The Universe, 21, dan Crossing Over. Baik sebagai player maupun pecinta yang setia, ia berhasil memenangkan hati penonton. Peran player susah lho untuk tetap bisa mengundang simpatik penonton yang cenderung sebal dengan tipikal karakter seperti ini, but he did it very well.
Sementara di lini peran pembantu yang paling menonjol karena faktor skrip adalah karakter Steven (Ken Stott) dan Alison (Patricia Clarkson), orang tua Dexter, dan tentu saja Ian yang diperankan Rafe Spall, tak lain dan tak bukan putra pemeran Wormtail dari franchise Harry Potter, Timothy Spall.
Technical
Layaknya film-film drama romantis yang bersetting di negara-negara Eropa, One Day memiliki banyak set yang indah dan artistik. Ditambah dengan caption penanda tanggal tiap tahun yang dinamis, kreatif, dan menyatu dengan adegan, secara visual it’s supercool! I always like movies with this kind of captions.
Satu-satunya kekurangan yang paling saya rasakan adalah kurangnya soundtrack pengiring adegan. Di sini soundtrack tidak begitu mencolok terdengar, setidaknya kurang ear-catchy. Padahal soundtrack seharusnya bisa menjadi landmark tersendiri bagi tipe film drama romantis seperti ini. Untung saja bagi yang fokus pada cerita tidak begitu merasakan kekurangan minor ini.
The Essence
Yap, sejak awal tema relationship based on friendship sudah jelas sekali terasa. Tapi ternyata One Day menawarkan hal-hal detail lain yang membangun sebuah relationship. Siapa bilang relationship itu tidak terikat waktu dan perkembangan kepribadian para pelakunya? Tiap orang memiliki pola pikir dan prinsipal yang bisa berubah-ubah tiap waktu. Banyak juga kejadian-kejadian yang mungkin bisa merubah kepribadian seseorang secara drastis. Jadi jangan pernah berpikir, jika saya tidak cocok dengan seseorang saat ini, maka saya tidak akan pernah mungkin bisa cocok dengannya selama-lamanya. Who knows? Banyak hal yang bisa menyatukan dua insan dalam ikatan cinta. It works in a very mysterious way so be prepared for any possibilities. True love will be beautiful in its time and will stay beautiful in memories even when he/she has gone.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates