Friday, February 24, 2012

The Jose Movie Review - The Ides of March

Overview
Tema politik jarang sekali diangkat ke layar lebar. Mungkin karena tematik politik kurang begitu menarik bagi penonton awam. Jangankan di film, di dunia nyata saja banyak yang anti dengan yang namanya politik. Politic is boring, manipulative, and mean. Yes, that's true and that's why it is supposed to be interesting to put in a movie, at least in my opinion. Mau tidak mau, sebenarnya kehidupan sehari-hari kita penuh dengan politik. Jika kita melihat lebih dalam, politik tidak selalu berhubungan dengan pemerintahan. Politik ada di kehidupan kita sehari-hari, baik di lingkungan rumah, lingkungan kerja, maupun lingkungan masyarakat. Itulah sebabnya walau tidak begitu tertarik berkecimpung di dunia politik, saya merasa harus melek politik. Setidaknya agar tidak bodoh-bodoh amat ketika berinteraksi dengan berbagai model manusia di sekitar kita.
Sebenarnya Ides of March hanya meletakkan politik sebagai background cerita. Topik utama di sini adalah perubahan pola pikir seseorang yang awalnya idealis ketika berada di tengah-tengah ganasnya dunia politik. Itulah mengapa saya berpendapat bahwa film besutan George Clooney ini sebenarnya tergolong ringan sebagai film bertemakan politik. Karakter Stephen Meyers (Ryan Gosling) dan kejadian-kejadian yang menimpa dirinya bisa saja ada di organisasi masyarakat apa pun, tidak hanya di panggung pemilihan presiden.
Sejak awal film kita sudah diperkenalkan dan didekatkan dengan karakter Stephen sebagai orang kedua yang menangani kampanye Gubernur Mike Morris yang hendak melaju untuk pemilihan presiden. Agak membosankan sih, apalagi bagi kita yang tidak begitu familiar dengan sistem pemilihan presiden di US. Tunggu dulu karena ada reward yang cukup layak jika Anda bersabar karena seiring dengan berjalannya durasi. Satu per satu karakter-karakter penting dimasukkan untuk berinteraksi dengannya, seperti Gubernur Mike Morris, manajer kampanye Paul Zara, salah satu staf kampanye, Molly; seorang reporter Time, Ida; dan Tom Duffy, manajer kampanye pihak oponen. Walau perlu konsentrasi cukup tinggi di awal untuk mengenali peran tiap karakter, alur yang mengalirkan konflik demi konflik hingga akhir film, menjadikan Ides of March tontonan yang menarik dan seru. Walau ada yang sudah bisa saya tebak sebelumnya, tapi sama sekali tidak mengganggu kenyamanan saya dalam menonton.
Ides of March bukanlah tipikal film yang mendikte semua informasi kepada penontonnya. Terkadang penonton harus jeli melihat detail adegan untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul sepanjang film, termasuk apa yang bakal dilakukan Stephen kepada pers di akhir film. Tidak, saya tidak perlu mengetahui detail ending tersebut. Saya lebih suka ending seperti itu karena saya bisa menganalisa dan mengkonklusinya sendiri. I love to challenge my brain to work, and I think you should too.
The Casts
Sebagai karakter utama yang paling menonjol dan diberi porsi perkembangan karakter terbanyak, Ryan Gosling bermain dengan gemilang. Tampaknya ia tidak lagi main-main dalam memilih peran. Seperti Leonardo DiCaprio yang tidak ingin stuck pada peran-peran biasa atau tipikal film remaja semata, belakangan ia memilih peran-peran serius yang beragam. Good job, Ryan! You're far better than the other Ryan (read : Ryan Reynolds).
Jajaran cast yang lain juga tak main-main, setidaknya karakter-karakter pendukung penting dilakoni oleh aktor-aktor yang pernah mendapatkan (setidaknya dinominasikan) Oscar, sebut saja George Clooney, Phillip Seymour Hoffman, Paul Giamatti, Jeffrey Wright, dan Marisa Tomei. Kesemuanya bermain dengan apik sesuai dengan karakter masing-masing yang memang cukup kuat. Evan Rachel Wood yang pernah angkat nama berkat drama musikal Across The Universe juga mengisi perannya dengan cukup menarik walau karakternya tidak begitu menonjol. Intinya, Ides of March diisi oleh aktor-aktor yang tidak sembarangan dan mampu mengisi tiap peran dengan baik.
Technical
Sebuah film drama tidak perlu menonjolkan visual effect dan sound effect yang bombastis. Tatanan sinematografi yang menawan dan score yang menghanyutkan sudah cukup. Ides of March tampaknya tak berambisi menghadirkan sinematografi yang begitu menonjol. Harus diakui sinematografi, setting lokasi, desain produksi, dan kostum tergolong biasa. Tidak ada yang begitu stand out. Untungnya kekuatan cerita dan alur mengalihkan perhatian penonton (setidaknya saya) dari detail-detail ini.
Aspek yang justru digarap dengan baik adalah scorenya. Tiap konflik diiringi oleh score yang berhasil mengundang ketegangan, walau sebenarnya hanya terjalin melalui dialog. That's why the score did its function very well. I'm impressed.
The Essence
Stephen adalah tipikal pemuda yang idealis, melakukan hanya apa yang diyakininya benar, dan boleh dibilang naif. Sama lah seperti mahasiswa dan pemuda-pemudi yang baru saja lulus kuliah. Dengan energi dan pemikiran-pemikiran positifnya, mencoba untuk mengubah dunia. Sayangnya, seiring dengan pengalaman, ia harus sadar bahwa dunia tidak sebaik, sejujur, dan seidealis itu. Tidak hanya panggung politik, tapi dunia pada umumnya adalah lingkungan yang kejam.
Sebagai seorang perencana kampanye presiden, kesannya Stephen yang “mendikte” Morris. Namun posisinya yang hanya bagian dari “bawahan” memungkinkan Morris untuk membunuh karirnya begitu saja ketika mereka (tim sukses) menemukan satu celah pada dirinya, secemerlang apa pun kinerjanya. Power has its strength against (even) smart brain.
Media juga menjadi perhatian saya di film ini. Karakter Ida yang tak kalah ambisiusnya dengan Stephen, tidak mempedulikan nasib orang-orang yang menjadi bahannya. Ia hanya peduli dengan cerita-cerita menarik yang bukan tak mungkin menjatuhkan nama seseorang dalam seketika. Memang, skandal yang dilakukan Morris bertentangan dengan slogan kampanye yang ia dengung-dengungkan. Tapi, come on... manusia tidak ada yang sempurna yang tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Kebetulan saja dia public figure yang skandal seperti itu bisa menghancurkan reputasinya. Ada baiknya kita tidak terlalu terfokus pada kehidupan pribadi seorang politikus, tapi bagaimana kontribusinya sebagai pengabdi masyarakat, yang katanya sampai mengaku agamanya adalah konstitusi negara.
Akhir kata, menjadi idealis bukan hal yang mudah dan rawan mendapat serangan dari berbagai pihak. Toh, setiap orang berhak memiliki idealisnya sendiri yang belum tentu sejalan dengan idealis kita dan mungkin saja melakukan apa saja demi kepentingan idealismenya sendiri. So, watch out! One single mistake you think would not be harmful, can kill you (literally and metaphorically).
Lihat data film ini di IMDB.


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates