Thursday, February 23, 2012

The Jose Movie Review - The Grey


Overview
Awalnya saya mengira judul The Grey merujuk pada warna rambut serigala yang kebetulan memang menjadi topik utama film ketika dipromosikan. Yap, ini adalah kisah petualangan survival sekelompok manusia menghadapi wildlife di tengah hamparan padang salju Alaska, dengan ancaman utama mereka : serigala ganas. Tema survival sudah sering diangkat, terutama mungkin yang memiliki plot paling mirip adalah The Edge, atau dengan tema survival di padang salju seperti Vertical Limit dan Whiteout. Jadi sebenarnya tidak ada yang begitu menarik dari segi premise. Saya pun awalnya berpikir demikian jika tidak mendengar pujian bahwa The Grey is more than just meet the eye. This is a philosophical movie. Ternyata benar, The Grey bukan sekedar film thriller survival biasa. Nanti saja saya bahas di segmen The Essence.
Sebagai sebuah film thriller survival, saya salut dengan kemampuan Carnahan dalam merangkai adegan sehingga tidak sedetik pun saya merasa bosan menyaksikannya, padahal durasinya hampir 2 jam. Carnahan piawai merangkai tiap adegan tegang menjadi pengalaman yang berbeda-beda, dengan kekuatan emosional yang berbeda-beda pula. Selipan dialog-dialog personal antar karakternya pun terangkai dengan porsi dan timing yang pas. Adegan-adegan serangan serigala sengaja tidak diperlihatkan begitu jelas, seolah-olah terjadi begitu cepat sehingga menimbulkan imajinasi sendiri bagi penonton. Tapi jangan salah, tingkat gore-nya cukup membuat ngeri walau Carnahan lebih menekankan kengerian melalui atmosfer ketimbang adegan-adegan sadis. Semua elemen, mulai tata adegan, sinematografi, alur, score, maupun sound effect menjadikan The Grey film thriller survival yang super menegangkan (dan bagi beberapa orang, mengerikan). Suatu prestasi tersendiri bagi sutradara Joe Carnahan yang sebelumnya pernah menggarap Smokin' Aces dan The A Team versi layar lebar.
Casts
Liam Neeson selalu tampil mengagumkan di setiap film yang diperankannya, walau tidak selalu bermain di film yang bagus. Tidak terkecuali di sini. Ia adalah pusat perhatian sepanjang film, perkembangan karakternya lah yang diberi porsi paling banyak dan berkat kharismanya, ia berhasil mengemban amanah itu dengan sangat baik. One of the best actor above 50. Sementara anggota gank yang lain memiliki perkembangan karakter yang merata sesuai dengan tema, hanya sebatas bagaiamana hubungan mereka dengan orang-orang terdekat masing-masing. Tapi bagi saya, Joe Anderson (Flannery), Frank Grillo (Diaz), dan Dermot Mulroney (Talget) tampil paling menonjol dibanding anggota gank yang lain.
Technical
Seperti yang sudah saya sampaikan di segmen Overview, The Grey memiliki kekuatan yang saling mendukung di hampir semua divisi teknik, terutama sinematografi dan score. Kekurangan yang saya rasakan mungkin adalah beberapa gambar yang terlihat terlalu grainy terutama di bagian awal film. Yah mungkin saja grain tersebut sengaja ditampilkan untuk memberikan efek badai, tapi cukup menggangu kenyamanan menonton. Untunglah mulai pertengahan hingga akhir film, ketajaman gambar menjadi lebih stabil dan tajam sehingga secara keseluruhan masih bisa ditolerir.
Kredit tersendiri patut disematkan untuk divisi sound effect yang sukses membangun aura ketegangan. Suara tiupan angin, lolongan serta seringai serigala, berhasil disalurkan ke semua kanal suara dengan efektif. One of the best surround effect I've experienced from a movie.
The Essence
Setelah menyaksikan hingga akhir, saya menyimpulkan bahwa judul The Grey merujuk pada titik di mana manusia menghadapi kematian. Titik abu-abu, terserah Anda mengasosiasikan putih dan hitam sebagai kehidupan atau kematian.
Kematian. Semua orang yang hidup pasti akan mengalaminya. Kematian membawa kita pada satu pemikiran, untuk apa kita hidup jika pada akhirnya akan mati juga? Pertanyaan tentang hidup dan mati akhirnya berujung pada pertanyaan penting dalam hidup manusia, eksistensi Tuhan, seperti yang dipertanyakan Ottway di hampir penghujung film. Ada banyak cara manusia menghadapi kematiannya. Ada yang merasa sudah cukup mengalami semua pengalaman hidup dan di saat itulah ia merasa siap untuk menghadapi kematian. Ada pula yang sempat merasa tidak ada gunanya lagi hidup, namun pada akhirnya memberanikan diri untuk memperjuangkan hidupnya terlepas dari apakah upayanya itu akan berhasil atau tidak. Yang penting kita sudah mengalami hal-hal baik dan menjadi manusia yang berguna semasa hidup. Toh pada akhirnya, kita semua juga akan mati, bukan?
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates