Monday, February 6, 2012

The Jose Movie Review - Dream House


Overview
Anda suka film thriller atau horror yang menyuguhkan twist-ending? Well, mungkin bagi beberapa orang yang doyan, Dream House tidak menyajikan suatu hal yang baru. Apalagi twist yang berkaitan dengan identitas asli salah satu karakter adalah hal yang sering dilakukan film-film sejenis sebelumnya. Sebut saja The Usual Suspects, The Sixth Sense, The Others, Shutter Island, The Orphan, dan masih banyak lagi.
Sebagai sebuah thriller psikologis, sebenarnya Dream House punya ide dan premise yang menarik, terlepas dari twist yang disuguhkan termasuk fresh ataupun basi. Sayang, skrip yang ada tidak begitu bisa mengeksekusi ide dengan baik. Oke lah, dari awal hingga “that twist-revealing scene”, tensi film dan rasa penasaran penonton bisa terjaga dengan baik. Tapi ternyata itu bukanlah konklusi dari film tersebut. It’s not the end, masih ada masalah lain yang harus dipecahkan. Sayang seribu sayang, rangkaian adegan yang terjadi selanjutnya berubah menjadi tidak menarik untuk diikuti. Entah apa karena saya sudah tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi setelah itu ataupun memang adegan-adegan yang terjadi berikutnya tidak begitu menarik penonton. Yang pasti, menurut saya adegan demi adegan yang disajikan pasca-“that twist-revealing scene” terasa terlalu bertele-tele, seolah-olah tidak tahu bagaimana akan mengisi durasi yang tersisa. Seharusnya bisa lebih menarik lagi sih, karena seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, kejadian pasca “that twist-revealing” itu pun sebenarnya menarik secara ide.
Sempat saya dengar sebuah kabar kalau terjadi perselisihan antara sutradara Jim Sheridan dan kepala Morgan Creek selaku produser, Jim Robinson sehingga Morgan Creek pun me-recut filmnya dan alhasil trailernya pun seolah-olah memberikan informasi terlalu banyak yang menyebabkan berkurangnya efek twist dari film. Buntutnya, Daniel Craig dan Rachel Weisz pun menolak untuk mempromosikan film ini di media. Bukan tidak mungkin sih kasus ini yang menyebabkan kualitas keseluruhan Dream House terasa kurang. Menilik dari filmografi sutradaranya yang meliputi In The Name of The Father, In America, Get Rich or Die Tryin’, dan The Boxer, seharusnya nama Jim Sheridan punya reputasi yang cukup baik dari segi karya dan itu bisa dilihat dari paruh pertama Dream House. Cukup disayangkan, separuh bagian bisa menghancurkan keseluruhan film yang sudah tertata rapi sejak awal. Padahal bukan tidak mungkin jika paruh kedua film digarap dengan lebih menarik, Dream House bisa jadi salah satu most memorable thriller movie.
Cast
Berbekal nama Daniel Craig dan Rachel Weisz sebenarnya tidak perlu dipertanyakan lagi kualitas cast di sini. Mereka berdua menampilkan performa terbaik di layar. Craig yang selama ini lebih banyak dikenal sebagai action hero ternyata berhasil membuktikan kepiawaiannya berakting dengan peran yang sulit, apalagi melibatkan sisi psikologis banget. Rachel Weisz seperti biasa walau bertindak sebagai aktor pendukung namun tetap memberikan warna tersendiri bagi karakter yang dimainkannya. Sementara Naomi Watts tidak diberikan porsi peran yang banyak sehingga tidak begitu memorable. Saya justru lebih tertarik pada Rachel G. Fox yang berperan sebagai putri Naomi Watts. Setelah searching di IMDB, barulah saya ingat mukanya yang familiar itu. Dia lah yang memerankan putri tiri Lynnette Scavo!
Selain nama-nama kondang di atas, peran Trish dan Dee Dee, dua putri Will Atenton dan Libby menjadi scene stealer tersendiri berkat keimut-imutan mereka yang memang diperankan oleh kakak-adik beneran, Taylor dan Claire Geare. Keduanya pernah berperan di serial Grey’s Anatomy dan Inception. I think they just need more leading characters to play, to be as legendary as Abigail Breslin or Dakota Fanning.
Technical
Sebagai sebuah thriller psikologis, tim artistik berhasil menghidupkan suasana suram yang menjadi mood film. Lihat saja setting rumah Atenton baik sebelum maupun setelah direnovasi, atau setting rumah sakit jiwa yang haunting banget. Well done lah pokoknya. Score pun berhasil menggiring ketegangan dalam adegan-adegan yang disuguhkan. In other words, semua teknikal digarap dengan baik dan berfungsi sesuai dengan tujuannya.
The Essence
Overall, this movie is about letting go. It’s so haunting to think about everything that has happened to Atenton during the storyline. Membayangkan bagaimana rasanya merasakan menjadi Atenton yang dirundung malang bertubi-tubi. Tak heran jika psikologisnya terguncang sedemikian rupa seperti di layar. You better watch it by yourself if you want to feel the empathy.
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates