Sunday, February 19, 2012

The Jose Movie Review - The Artist


Overview
Kapan terakhir kali Anda menyaksikan sebuah karya film dengan format hitam-putih (B/W) dan silent (bisu)? Saya pribadi sih mungkin hanya pernah nonton filmnya Charlie Chaplin selama ini. Satu lagi deh, music video-nya Yolanda Be Cool & D-Cup, We Speak No Americano. Walau tidak B/W tapi setidaknya music video tersebut menggunakan gaya silent film. Dialognya disampaikan lewat teks pada frame tersendiri. Unik dan menarik. Bagi saya, format B/W dan silent memiliki tingkat kesulitan tersendiri dalam membuatnya, terutama bagaimana menjadikan tiap adegan, tiap gesture, tiap ekspresi wajah menjadi sangat efektif dalam menyampaikan pesan kepada penonton. Susah, karena tanpa adanya dialog, film dapat dengan mudah menjadikan penonton merasa bosan. Apalagi penonton jaman sekarang sudah terbiasa menangkap pesan melalui dialog dan tidak begitu bisa memperhatikan pesan secara visual. Kekhawatiran yang sama juga sempat hinggap dalam benak saya sebelum menyaksikan film yang telah mengkoleksi banyak sekali penghargaan internasional. Tapi tentu saja, rasa penasaran saya untuk mengalami cinematic experience yang berbeda jauh lebih besar.
Ternyata kekhawatiran saya sama sekali tidak terbukti. The Artist berhasil menyampaikan pesan (atau lebih tepatnya, gagasan) kepada penonton dengan sangat efektif. Durasi yang sekitar 100 menit pun sama sekali tidak terasa. Saya sempat juga heran bagaimana bisa film dengan tema sesederhana ini bisa menjadi sangat menarik dan terus terngiang dalam pikiran saya. Padahal ketika di akhir film, saya sempat berpikir, “lho sudah, gitu aja?”. Saya merasa apa yang telah saya saksikan selama satu setengah jam lebih sebelumnya tidak begitu epic walaupun saya sangat menikmati tiap menit tiap detail adegannya.
Akhirnya saya terus berpikir dan menganalisa tiap detail yang ada dan saya sampai pada beberapa kesimpulan tentang film besutan sutradara Perancis Michel Hazanavicius ini. Yang pertama adalah The Artist terfokus pada satu plot saja dan menggalinya dengan maksimal sejak awal hingga akhir film. Itu adalah kekuatan utama. Tidak bisa dibayangkan betapa sulitnya penonton mencerna beberapa plot sekaligus tanpa adanya dialog. Bisa-bisa penonton menjadi terlalu lelah mencerna hingga akhir film. Plot tunggal inilah yang juga menjadikan The Artist film yang efektif, menarik, dan tidak mudah dilupakan.
Kedua, Hazanavicius tahu betul bagaimana membuat sebuah film yang sederhana dengan format silent B/W. Semua elemen yang menjadi pilar keberhasilan film silent B/W dihadirkan di sini : gesture, body language, ekspresi wajah yang informatif dan efektif dalam menyampaikan pesan kepada penonton. Alurnya sangat efektif, tidak ada adegan yang terasa tidak penting maupun membosankan. Durasinya sangat pas sekali, tidak bertele-tele. Terakhir, musik pengiring yang sangat sesuai dan berhasil membangun tiap mood adegan. Soundnya diatur dengan baik, kapan harus diselipi alunan musik dan kapan harus hening. Kesemuanya menjadikan The Artist sebuah film sederhana tapi sangat berkesan.
The Casts
Sebagai aktor utama, Jean Dujardin adalah salah satu faktor keberhasilan The Artist. Kharismanya sebagai aktor film ternama begitu terlihat. Saya langsung teringat kharisma Clark Gable yang legendaris. Bagaimana ia bertingkah, gesture-nya, ekspresi wajahnya, very impressive! Tak salah jika ia meraih banyak penghargaan berkat perannya sebagai George Valentin ini.
Bérénice Bejo pun membawakan peran aktris debutan Peppy Miller dengan sangat baik. Pesonanya tak kalah dengan Vivien Leigh maupun Ava Gardner. She’s such a Hollywood sweetheart! Lihat adegan saat ia bermimpi dipeluk George dengan menggunakan jasnya yang digantung atau saat ia menitikkan air mata ketika menonton film debutan George sebagai sutradara.
Sementara aktor-aktris pendukungnya memang tidak diberi peran yang banyak karena fokus plotnya banyak kepada George dan Peppy, tapi bukan berarti tidak mengesankan. Hampir semuanya memainkan perannya dengan baik sesuai dengan porsinya, terutama John Goodman, Penelope Ann Miller, James Cromwell, dan penampilan cameo dari aktor legendaris yang populer lewat A Clockwork Orange dan Caligula, Malcolm McDowell.
Terakhir, saya tidak boleh lupa memberikan kredit untuk Uggie, anjing George yang setia. Tingkahnya yang menggelikan dan pintar memberikan kesegaran tersendiri bagi film.
Technical
Ada yang berpendapat bahwa tidak perlu menyaksikan film seperti ini di studio bioskop, via DVD di rumah sudah cukup. Pemikiran yang sama juga sempat hinggap di benak saya sampai akhirnya saya memutuskan untuk menyaksikannya di bioskop karena penasaran pengalaman sinematik seperti apa yang akan saya dapatkan melalui film seperti ini. Ternyata keputusan saya tidak salah. Justru film seperti ini harus disaksikan di layar lebar dengan fasilitas sound yang mumpuni. Yap, walaupun ini adalah film silent, bukan berarti tidak ada suara sama sekali. Score music yang diselipkan sepanjang film terasa sangat menghipnotis. Adegan-adegan yang ada menjadi sangat hidup. Di beberapa bagian pun sound effect masih digunakan sesuai dengan konsep dan plot, yang untungnya digarap dengan sangat baik. Suara gelas yang diletakkan, barang-barang yang jatuh, dan suara hentakan kaki ketika tapdance, terdengar dengan mantap dan crispy. Tak salah lagi, dengan kualitas plot, sinematografi, hingga desain suara, cukup membuktikan bahwa The Artist menawarkan pengalaman sinematik yang maksimal ketika disaksikan di layar lebar.
Depertemen desain produksi menjadi salah satu unsur terpenting bagi film yang bertema vintage seperti ini. The Artist pun menyadari hal tersebut dan menjadikannya salah satu kekuatan. Kostum, setting lokasi, hingga detail-detail properti yang muncul di layar tampak luar biasa. Suasana vintage 30’s Hollywood terasa sangat meyakinkan. Great work on production design.
The Essence
The Artist mengsung format silent B/W bukan hanya sebagai gaya, tetapi merupakan bagian dari keseluruhan konsep cerita. Silent, B/W, dan era ’30-an adalah metafora dari permasalahan utama para artis yang bisa saja terjadi dengan kasus apapun, di era apapun. Sebagai seorang aktor senior, George tampak bangga, bahkan sedikit sombong dengan apa yang telah dicapainya selama ini. Namun ketika pasar bergeser, ia tetap pada idealismenya dan merasa tidak perlu untuk mengikuti selera pasar yang mulai meminati film talkies. Alhasil ia mulai dilupakan orang hingga karirnya terpuruk.
Tak mudah memang menjadi artis dimana dunia entertainment sangat mudah sekali berubah. Pekerjaan artis pun menjadi pekerjaan yang tak menentu dan mudah redup pula. Fakta membuktikan bahwa aktor yang pernah berjaya lewat silent films belum tentu juga sukses di talkie films. Padahal sebenarnya jika dinalar, tidak ada begitu banyak perbedaan. Toh di film silent, aktornya juga berdialog hanya saja tidak audible. Tapi kenyataannya kemampuan akting yang dibutuhkan berbeda. Tugas seorang artis sejati lah untuk selalu mampu beradaptasi pada perubahan. Namun tentu saja tetap tidak mengesampingkan idealisme pribadi agar tetap menjadi stand-out di tengah hiruk-pikuknya industri hiburan.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates