Thor: Ragnarok

Thor found Hulk to save Asgard from apocalypse caused by his eldest sister.
Read more.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

After glorious trip worldwide, the latest feminist heroine from Mouly Surya comes home.
Opens November 16.

Justice League

The DC superheroes are finally united, bringing justice for all.
Opens November 15.

Paddington 2

The British's most popular bear is back for some more family adventure.
Opens November 10.

Jigsaw

John Kramer a.k.a. Jigsaw is apparently still far away from death.
Read more.

Friday, February 24, 2012

The Jose Movie Review - The Ides of March

Overview
Tema politik jarang sekali diangkat ke layar lebar. Mungkin karena tematik politik kurang begitu menarik bagi penonton awam. Jangankan di film, di dunia nyata saja banyak yang anti dengan yang namanya politik. Politic is boring, manipulative, and mean. Yes, that's true and that's why it is supposed to be interesting to put in a movie, at least in my opinion. Mau tidak mau, sebenarnya kehidupan sehari-hari kita penuh dengan politik. Jika kita melihat lebih dalam, politik tidak selalu berhubungan dengan pemerintahan. Politik ada di kehidupan kita sehari-hari, baik di lingkungan rumah, lingkungan kerja, maupun lingkungan masyarakat. Itulah sebabnya walau tidak begitu tertarik berkecimpung di dunia politik, saya merasa harus melek politik. Setidaknya agar tidak bodoh-bodoh amat ketika berinteraksi dengan berbagai model manusia di sekitar kita.
Sebenarnya Ides of March hanya meletakkan politik sebagai background cerita. Topik utama di sini adalah perubahan pola pikir seseorang yang awalnya idealis ketika berada di tengah-tengah ganasnya dunia politik. Itulah mengapa saya berpendapat bahwa film besutan George Clooney ini sebenarnya tergolong ringan sebagai film bertemakan politik. Karakter Stephen Meyers (Ryan Gosling) dan kejadian-kejadian yang menimpa dirinya bisa saja ada di organisasi masyarakat apa pun, tidak hanya di panggung pemilihan presiden.
Sejak awal film kita sudah diperkenalkan dan didekatkan dengan karakter Stephen sebagai orang kedua yang menangani kampanye Gubernur Mike Morris yang hendak melaju untuk pemilihan presiden. Agak membosankan sih, apalagi bagi kita yang tidak begitu familiar dengan sistem pemilihan presiden di US. Tunggu dulu karena ada reward yang cukup layak jika Anda bersabar karena seiring dengan berjalannya durasi. Satu per satu karakter-karakter penting dimasukkan untuk berinteraksi dengannya, seperti Gubernur Mike Morris, manajer kampanye Paul Zara, salah satu staf kampanye, Molly; seorang reporter Time, Ida; dan Tom Duffy, manajer kampanye pihak oponen. Walau perlu konsentrasi cukup tinggi di awal untuk mengenali peran tiap karakter, alur yang mengalirkan konflik demi konflik hingga akhir film, menjadikan Ides of March tontonan yang menarik dan seru. Walau ada yang sudah bisa saya tebak sebelumnya, tapi sama sekali tidak mengganggu kenyamanan saya dalam menonton.
Ides of March bukanlah tipikal film yang mendikte semua informasi kepada penontonnya. Terkadang penonton harus jeli melihat detail adegan untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul sepanjang film, termasuk apa yang bakal dilakukan Stephen kepada pers di akhir film. Tidak, saya tidak perlu mengetahui detail ending tersebut. Saya lebih suka ending seperti itu karena saya bisa menganalisa dan mengkonklusinya sendiri. I love to challenge my brain to work, and I think you should too.
The Casts
Sebagai karakter utama yang paling menonjol dan diberi porsi perkembangan karakter terbanyak, Ryan Gosling bermain dengan gemilang. Tampaknya ia tidak lagi main-main dalam memilih peran. Seperti Leonardo DiCaprio yang tidak ingin stuck pada peran-peran biasa atau tipikal film remaja semata, belakangan ia memilih peran-peran serius yang beragam. Good job, Ryan! You're far better than the other Ryan (read : Ryan Reynolds).
Jajaran cast yang lain juga tak main-main, setidaknya karakter-karakter pendukung penting dilakoni oleh aktor-aktor yang pernah mendapatkan (setidaknya dinominasikan) Oscar, sebut saja George Clooney, Phillip Seymour Hoffman, Paul Giamatti, Jeffrey Wright, dan Marisa Tomei. Kesemuanya bermain dengan apik sesuai dengan karakter masing-masing yang memang cukup kuat. Evan Rachel Wood yang pernah angkat nama berkat drama musikal Across The Universe juga mengisi perannya dengan cukup menarik walau karakternya tidak begitu menonjol. Intinya, Ides of March diisi oleh aktor-aktor yang tidak sembarangan dan mampu mengisi tiap peran dengan baik.
Technical
Sebuah film drama tidak perlu menonjolkan visual effect dan sound effect yang bombastis. Tatanan sinematografi yang menawan dan score yang menghanyutkan sudah cukup. Ides of March tampaknya tak berambisi menghadirkan sinematografi yang begitu menonjol. Harus diakui sinematografi, setting lokasi, desain produksi, dan kostum tergolong biasa. Tidak ada yang begitu stand out. Untungnya kekuatan cerita dan alur mengalihkan perhatian penonton (setidaknya saya) dari detail-detail ini.
Aspek yang justru digarap dengan baik adalah scorenya. Tiap konflik diiringi oleh score yang berhasil mengundang ketegangan, walau sebenarnya hanya terjalin melalui dialog. That's why the score did its function very well. I'm impressed.
The Essence
Stephen adalah tipikal pemuda yang idealis, melakukan hanya apa yang diyakininya benar, dan boleh dibilang naif. Sama lah seperti mahasiswa dan pemuda-pemudi yang baru saja lulus kuliah. Dengan energi dan pemikiran-pemikiran positifnya, mencoba untuk mengubah dunia. Sayangnya, seiring dengan pengalaman, ia harus sadar bahwa dunia tidak sebaik, sejujur, dan seidealis itu. Tidak hanya panggung politik, tapi dunia pada umumnya adalah lingkungan yang kejam.
Sebagai seorang perencana kampanye presiden, kesannya Stephen yang “mendikte” Morris. Namun posisinya yang hanya bagian dari “bawahan” memungkinkan Morris untuk membunuh karirnya begitu saja ketika mereka (tim sukses) menemukan satu celah pada dirinya, secemerlang apa pun kinerjanya. Power has its strength against (even) smart brain.
Media juga menjadi perhatian saya di film ini. Karakter Ida yang tak kalah ambisiusnya dengan Stephen, tidak mempedulikan nasib orang-orang yang menjadi bahannya. Ia hanya peduli dengan cerita-cerita menarik yang bukan tak mungkin menjatuhkan nama seseorang dalam seketika. Memang, skandal yang dilakukan Morris bertentangan dengan slogan kampanye yang ia dengung-dengungkan. Tapi, come on... manusia tidak ada yang sempurna yang tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Kebetulan saja dia public figure yang skandal seperti itu bisa menghancurkan reputasinya. Ada baiknya kita tidak terlalu terfokus pada kehidupan pribadi seorang politikus, tapi bagaimana kontribusinya sebagai pengabdi masyarakat, yang katanya sampai mengaku agamanya adalah konstitusi negara.
Akhir kata, menjadi idealis bukan hal yang mudah dan rawan mendapat serangan dari berbagai pihak. Toh, setiap orang berhak memiliki idealisnya sendiri yang belum tentu sejalan dengan idealis kita dan mungkin saja melakukan apa saja demi kepentingan idealismenya sendiri. So, watch out! One single mistake you think would not be harmful, can kill you (literally and metaphorically).
Lihat data film ini di IMDB.


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, February 23, 2012

The Jose Movie Review - The Grey


Overview
Awalnya saya mengira judul The Grey merujuk pada warna rambut serigala yang kebetulan memang menjadi topik utama film ketika dipromosikan. Yap, ini adalah kisah petualangan survival sekelompok manusia menghadapi wildlife di tengah hamparan padang salju Alaska, dengan ancaman utama mereka : serigala ganas. Tema survival sudah sering diangkat, terutama mungkin yang memiliki plot paling mirip adalah The Edge, atau dengan tema survival di padang salju seperti Vertical Limit dan Whiteout. Jadi sebenarnya tidak ada yang begitu menarik dari segi premise. Saya pun awalnya berpikir demikian jika tidak mendengar pujian bahwa The Grey is more than just meet the eye. This is a philosophical movie. Ternyata benar, The Grey bukan sekedar film thriller survival biasa. Nanti saja saya bahas di segmen The Essence.
Sebagai sebuah film thriller survival, saya salut dengan kemampuan Carnahan dalam merangkai adegan sehingga tidak sedetik pun saya merasa bosan menyaksikannya, padahal durasinya hampir 2 jam. Carnahan piawai merangkai tiap adegan tegang menjadi pengalaman yang berbeda-beda, dengan kekuatan emosional yang berbeda-beda pula. Selipan dialog-dialog personal antar karakternya pun terangkai dengan porsi dan timing yang pas. Adegan-adegan serangan serigala sengaja tidak diperlihatkan begitu jelas, seolah-olah terjadi begitu cepat sehingga menimbulkan imajinasi sendiri bagi penonton. Tapi jangan salah, tingkat gore-nya cukup membuat ngeri walau Carnahan lebih menekankan kengerian melalui atmosfer ketimbang adegan-adegan sadis. Semua elemen, mulai tata adegan, sinematografi, alur, score, maupun sound effect menjadikan The Grey film thriller survival yang super menegangkan (dan bagi beberapa orang, mengerikan). Suatu prestasi tersendiri bagi sutradara Joe Carnahan yang sebelumnya pernah menggarap Smokin' Aces dan The A Team versi layar lebar.
Casts
Liam Neeson selalu tampil mengagumkan di setiap film yang diperankannya, walau tidak selalu bermain di film yang bagus. Tidak terkecuali di sini. Ia adalah pusat perhatian sepanjang film, perkembangan karakternya lah yang diberi porsi paling banyak dan berkat kharismanya, ia berhasil mengemban amanah itu dengan sangat baik. One of the best actor above 50. Sementara anggota gank yang lain memiliki perkembangan karakter yang merata sesuai dengan tema, hanya sebatas bagaiamana hubungan mereka dengan orang-orang terdekat masing-masing. Tapi bagi saya, Joe Anderson (Flannery), Frank Grillo (Diaz), dan Dermot Mulroney (Talget) tampil paling menonjol dibanding anggota gank yang lain.
Technical
Seperti yang sudah saya sampaikan di segmen Overview, The Grey memiliki kekuatan yang saling mendukung di hampir semua divisi teknik, terutama sinematografi dan score. Kekurangan yang saya rasakan mungkin adalah beberapa gambar yang terlihat terlalu grainy terutama di bagian awal film. Yah mungkin saja grain tersebut sengaja ditampilkan untuk memberikan efek badai, tapi cukup menggangu kenyamanan menonton. Untunglah mulai pertengahan hingga akhir film, ketajaman gambar menjadi lebih stabil dan tajam sehingga secara keseluruhan masih bisa ditolerir.
Kredit tersendiri patut disematkan untuk divisi sound effect yang sukses membangun aura ketegangan. Suara tiupan angin, lolongan serta seringai serigala, berhasil disalurkan ke semua kanal suara dengan efektif. One of the best surround effect I've experienced from a movie.
The Essence
Setelah menyaksikan hingga akhir, saya menyimpulkan bahwa judul The Grey merujuk pada titik di mana manusia menghadapi kematian. Titik abu-abu, terserah Anda mengasosiasikan putih dan hitam sebagai kehidupan atau kematian.
Kematian. Semua orang yang hidup pasti akan mengalaminya. Kematian membawa kita pada satu pemikiran, untuk apa kita hidup jika pada akhirnya akan mati juga? Pertanyaan tentang hidup dan mati akhirnya berujung pada pertanyaan penting dalam hidup manusia, eksistensi Tuhan, seperti yang dipertanyakan Ottway di hampir penghujung film. Ada banyak cara manusia menghadapi kematiannya. Ada yang merasa sudah cukup mengalami semua pengalaman hidup dan di saat itulah ia merasa siap untuk menghadapi kematian. Ada pula yang sempat merasa tidak ada gunanya lagi hidup, namun pada akhirnya memberanikan diri untuk memperjuangkan hidupnya terlepas dari apakah upayanya itu akan berhasil atau tidak. Yang penting kita sudah mengalami hal-hal baik dan menjadi manusia yang berguna semasa hidup. Toh pada akhirnya, kita semua juga akan mati, bukan?
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, February 21, 2012

The Jose Movie Review - This Means War


Overview
Semenjak debutnya menangani versi layar lebar Charlie’s Angels, sutradara yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara music video, McG, sudah membuat saya jatuh cinta akan bagaimana ia mengarahkan film, terutama sebagai film hiburan yang keren. Tentu saja pengalamannya sebagai sutradara music video mempengaruhi gaya penyutradaraannya yang dinamis, full music, eye-candy, dan editing yang kreatif. Singkatnya, film ringan biasa bisa terlihat asyik lah di tangannya. Sayang, gara-gara skrip ngelantur Terminator Salvation, ia kehilangan “aura”-nya sebagai sutradara yang saya kenal sebelumnya. Kerinduan saya akan karya khas McG akhirnya terjawab melalui film ini.
Saya ingin menggunakan dua kacamata berbeda dalam memberikan penilaian untuk This Means War; sebagai film murni hiburan secara umum, saya berani memberikan empat bintang. Terutama berkat gaya penyutradaraan McG, film ini berhasil menjadi tontonan yang sangat menghibur, kadar komedinya yang lebih dominan berhasil membuat saya terbahak-bahak sepanjang film, terutama berkat dialog-dialog yang kadang kelewat nasty maupun tingkah laku ketiga karakter utamanya (tambah satu lagi, karakter Trish…). Adegan-adegan aksi yang hanya dihadirkan di awal dan akhir film pun pada kadar yang cukup sehingga masih terasa seru dan tidak melelahkan. Walau jujur, porsi plot “tugas agen federal” terkesan terlalu disepelekan dan hanya untuk pemanis saja. But overall dengan “kacamata” ini, sangat menghibur dari awal hingga akhir film. Tidak ada alur yang terasa dipaksakan atau diulur-ulur.
Namun jika kita menikmatinya sebagai “chick flick yang berbobot”, keadaannya sedikit bertolak belakang. Oke lah dari awal hingga pertengahan film kita disuguhkan dialog-dialog yang cerdas dan witty. Adegan-adegan manis pun bertabur, baik dalam hal romance maupun bromance (noun untuk romantisme persahabatan antar-pria). Namun sayang semakin ke belakang dimana karakter wanita harus memilih salah satu dari dua pria yang dikencaninya, saya semakin mengernyitkan dahi, apalagi setelah mengetahui siapa yang akhirnya dipilih oleh Lauren. Pilihan Lauren seolah-olah mengkhianati semua proses kencan yang dilalui antara ia dan dua pria ini. Apalagi jika kita bertolak dari kata-kata mutiara Trish di salah satu adegan yang (seharusnya) menjadi acuan pilihan Lauren. Untung saja skrip menjadikan akhir yang cukup memuaskan dan masuk akal untuk Tuck.
Casts
Nyawa film ini berada di tangan ketiga plus satu karakter utamanya. Sudah lama saya tidak melihat Reese Witherspoon dengan peran ringan dan agak komikal. Mungkin di sini bukanlah akting terbaiknya di film, tapi ia cukup mempesona sebagai the flick’s sweetheart. Saya jadi agak teringat peran Cameron Diaz di Knight and Day, tapi tentu saja dengan pesona Witherspoon sendiri. Yang cukup membuat saya terkejut adalah Tom Hardy yang selama ini saya kenal sebagai aktor serius dan lebih sering berperan dalam film-film aksi berwatak keras, ternyata mampu berakting komikal namun tetap tidak meninggalkan kharismanya sebagai seorang gentleman. Chris Pine cukup baik dalam membawakan karakter player walau ini bukan peran sejenis pertamanya.
Sementara Til Schweiger kurang diberi porsi peran sehingga tidak begitu memberikan kesan bagi penonton. Saya justru tertarik dengan Chelsea Handler yang memerankan karakter Trish, sahabat yang menjadi romance advisor bagi Lauren. Mungkin karena advice-advice yang disampaikannya sepanjang film dan tentu saja tingkahnya yang kadang nasty.
Technical
Editing memiliki peran yang cukup penting di film-film McG. Kesan dinamis dalam film banyak bergantung dari sini dan seperti biasa, the editing was worked very well. Saya mengagumi teknik pergerakan kamera yang secara simultan bergerak mengikuti karakter tanpa cut, namun kamera tetap stabil merekam. Saat adegan FDR dan Tuck menyelidiki rumah Lauren, misalnya. It was dynamic and super-cool!
Namun saya cukup terganggu transisi antar sequence yang fade to black and then fade from black. Entah kenapa editor banyak menggunakan transisi seperti ini. Kesannya seperti sequence-nya belum selesai lantas langsung dipotong dan disambung sequence berikutnya. Seharusnya bisa lebih kreatif dan halus lagi. Come on, this is a McG movie!
Dari divisi visual effect dan sound tidak begitu menonjol. Untuk kategori film action, sound effectnya tergolong standard, kurang menggigit. But masih oke lah karena memang tak banyak adegan aksi yang dieksploitasi di sini.
The Essence
Esensi utama tentu saja ingin mendefinisikan “the right one to pick”. Ada satu quote dari Trish yang cukup meng-konklusi walaupun tidak begitu relevan dengan pilihan akhir Lauren, but I don’t want to spoil it here. Ada juga esensi “bro’s before ho’s”. Namun ada satu hal lagi yang cukup mengganggu pikiran saya dan menurut saya menjadi cerminan keadaan sesungguhnya yang paling menarik dari This Means War.
Saya membayangkan andaikata keadannya berbalik. Bagaimana jika dua wanita yang memperebutkan seorang pria? Pada saat kedua wanita menyadari bahwa sedang mengencani pria yang sama, mereka akan berkomplot untuk memberi si pria pelajaran. Tidak bakalan mereka malah bersaing untuk merebut hati si pria. Di sinilah letak menariknya perbedaan sikap pria dan wanita ketika dihadapkan dengan situasi yang sama. Pria cenderung tertantang untuk berkompetisi, sedangkan wanita cenderung bersekutu melawan lawan jenisnya. Terkesan seksis? Mungkin, tapi secara umum, itulah yang terjadi di mana-mana. Seorang teman pernah berujar, “pria memiliki hak untuk memilih wanita, tapi wanita berkuasa untuk menolak”. Jadi secara umum apakah akhirnya pria yang bertekuk lutut di hadapan wanita, atau sebaliknya? Ah, mungkin saya terlalu jauh memikirkannya. Justru itu kan yang membedakan pria dan wanita dan membuat keduanya saling menarik bukan?
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, February 19, 2012

The Jose Movie Review - The Artist


Overview
Kapan terakhir kali Anda menyaksikan sebuah karya film dengan format hitam-putih (B/W) dan silent (bisu)? Saya pribadi sih mungkin hanya pernah nonton filmnya Charlie Chaplin selama ini. Satu lagi deh, music video-nya Yolanda Be Cool & D-Cup, We Speak No Americano. Walau tidak B/W tapi setidaknya music video tersebut menggunakan gaya silent film. Dialognya disampaikan lewat teks pada frame tersendiri. Unik dan menarik. Bagi saya, format B/W dan silent memiliki tingkat kesulitan tersendiri dalam membuatnya, terutama bagaimana menjadikan tiap adegan, tiap gesture, tiap ekspresi wajah menjadi sangat efektif dalam menyampaikan pesan kepada penonton. Susah, karena tanpa adanya dialog, film dapat dengan mudah menjadikan penonton merasa bosan. Apalagi penonton jaman sekarang sudah terbiasa menangkap pesan melalui dialog dan tidak begitu bisa memperhatikan pesan secara visual. Kekhawatiran yang sama juga sempat hinggap dalam benak saya sebelum menyaksikan film yang telah mengkoleksi banyak sekali penghargaan internasional. Tapi tentu saja, rasa penasaran saya untuk mengalami cinematic experience yang berbeda jauh lebih besar.
Ternyata kekhawatiran saya sama sekali tidak terbukti. The Artist berhasil menyampaikan pesan (atau lebih tepatnya, gagasan) kepada penonton dengan sangat efektif. Durasi yang sekitar 100 menit pun sama sekali tidak terasa. Saya sempat juga heran bagaimana bisa film dengan tema sesederhana ini bisa menjadi sangat menarik dan terus terngiang dalam pikiran saya. Padahal ketika di akhir film, saya sempat berpikir, “lho sudah, gitu aja?”. Saya merasa apa yang telah saya saksikan selama satu setengah jam lebih sebelumnya tidak begitu epic walaupun saya sangat menikmati tiap menit tiap detail adegannya.
Akhirnya saya terus berpikir dan menganalisa tiap detail yang ada dan saya sampai pada beberapa kesimpulan tentang film besutan sutradara Perancis Michel Hazanavicius ini. Yang pertama adalah The Artist terfokus pada satu plot saja dan menggalinya dengan maksimal sejak awal hingga akhir film. Itu adalah kekuatan utama. Tidak bisa dibayangkan betapa sulitnya penonton mencerna beberapa plot sekaligus tanpa adanya dialog. Bisa-bisa penonton menjadi terlalu lelah mencerna hingga akhir film. Plot tunggal inilah yang juga menjadikan The Artist film yang efektif, menarik, dan tidak mudah dilupakan.
Kedua, Hazanavicius tahu betul bagaimana membuat sebuah film yang sederhana dengan format silent B/W. Semua elemen yang menjadi pilar keberhasilan film silent B/W dihadirkan di sini : gesture, body language, ekspresi wajah yang informatif dan efektif dalam menyampaikan pesan kepada penonton. Alurnya sangat efektif, tidak ada adegan yang terasa tidak penting maupun membosankan. Durasinya sangat pas sekali, tidak bertele-tele. Terakhir, musik pengiring yang sangat sesuai dan berhasil membangun tiap mood adegan. Soundnya diatur dengan baik, kapan harus diselipi alunan musik dan kapan harus hening. Kesemuanya menjadikan The Artist sebuah film sederhana tapi sangat berkesan.
The Casts
Sebagai aktor utama, Jean Dujardin adalah salah satu faktor keberhasilan The Artist. Kharismanya sebagai aktor film ternama begitu terlihat. Saya langsung teringat kharisma Clark Gable yang legendaris. Bagaimana ia bertingkah, gesture-nya, ekspresi wajahnya, very impressive! Tak salah jika ia meraih banyak penghargaan berkat perannya sebagai George Valentin ini.
Bérénice Bejo pun membawakan peran aktris debutan Peppy Miller dengan sangat baik. Pesonanya tak kalah dengan Vivien Leigh maupun Ava Gardner. She’s such a Hollywood sweetheart! Lihat adegan saat ia bermimpi dipeluk George dengan menggunakan jasnya yang digantung atau saat ia menitikkan air mata ketika menonton film debutan George sebagai sutradara.
Sementara aktor-aktris pendukungnya memang tidak diberi peran yang banyak karena fokus plotnya banyak kepada George dan Peppy, tapi bukan berarti tidak mengesankan. Hampir semuanya memainkan perannya dengan baik sesuai dengan porsinya, terutama John Goodman, Penelope Ann Miller, James Cromwell, dan penampilan cameo dari aktor legendaris yang populer lewat A Clockwork Orange dan Caligula, Malcolm McDowell.
Terakhir, saya tidak boleh lupa memberikan kredit untuk Uggie, anjing George yang setia. Tingkahnya yang menggelikan dan pintar memberikan kesegaran tersendiri bagi film.
Technical
Ada yang berpendapat bahwa tidak perlu menyaksikan film seperti ini di studio bioskop, via DVD di rumah sudah cukup. Pemikiran yang sama juga sempat hinggap di benak saya sampai akhirnya saya memutuskan untuk menyaksikannya di bioskop karena penasaran pengalaman sinematik seperti apa yang akan saya dapatkan melalui film seperti ini. Ternyata keputusan saya tidak salah. Justru film seperti ini harus disaksikan di layar lebar dengan fasilitas sound yang mumpuni. Yap, walaupun ini adalah film silent, bukan berarti tidak ada suara sama sekali. Score music yang diselipkan sepanjang film terasa sangat menghipnotis. Adegan-adegan yang ada menjadi sangat hidup. Di beberapa bagian pun sound effect masih digunakan sesuai dengan konsep dan plot, yang untungnya digarap dengan sangat baik. Suara gelas yang diletakkan, barang-barang yang jatuh, dan suara hentakan kaki ketika tapdance, terdengar dengan mantap dan crispy. Tak salah lagi, dengan kualitas plot, sinematografi, hingga desain suara, cukup membuktikan bahwa The Artist menawarkan pengalaman sinematik yang maksimal ketika disaksikan di layar lebar.
Depertemen desain produksi menjadi salah satu unsur terpenting bagi film yang bertema vintage seperti ini. The Artist pun menyadari hal tersebut dan menjadikannya salah satu kekuatan. Kostum, setting lokasi, hingga detail-detail properti yang muncul di layar tampak luar biasa. Suasana vintage 30’s Hollywood terasa sangat meyakinkan. Great work on production design.
The Essence
The Artist mengsung format silent B/W bukan hanya sebagai gaya, tetapi merupakan bagian dari keseluruhan konsep cerita. Silent, B/W, dan era ’30-an adalah metafora dari permasalahan utama para artis yang bisa saja terjadi dengan kasus apapun, di era apapun. Sebagai seorang aktor senior, George tampak bangga, bahkan sedikit sombong dengan apa yang telah dicapainya selama ini. Namun ketika pasar bergeser, ia tetap pada idealismenya dan merasa tidak perlu untuk mengikuti selera pasar yang mulai meminati film talkies. Alhasil ia mulai dilupakan orang hingga karirnya terpuruk.
Tak mudah memang menjadi artis dimana dunia entertainment sangat mudah sekali berubah. Pekerjaan artis pun menjadi pekerjaan yang tak menentu dan mudah redup pula. Fakta membuktikan bahwa aktor yang pernah berjaya lewat silent films belum tentu juga sukses di talkie films. Padahal sebenarnya jika dinalar, tidak ada begitu banyak perbedaan. Toh di film silent, aktornya juga berdialog hanya saja tidak audible. Tapi kenyataannya kemampuan akting yang dibutuhkan berbeda. Tugas seorang artis sejati lah untuk selalu mampu beradaptasi pada perubahan. Namun tentu saja tetap tidak mengesampingkan idealisme pribadi agar tetap menjadi stand-out di tengah hiruk-pikuknya industri hiburan.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Cowboys and Aliens


Overview
Apa jadinya jika alien tiba-tiba muncul pada abad western? Apa kira-kira yang ada di benak para koboi dan suku Indian? Berangkat dari ide ini, sebenarnya Cowboys and Aliens punya materi yang cukup menarik untuk diangkat. Saya belum pernah membaca versi komiknya, tapi saya cukup penasaran seperti apa jika dunia koboi diobok-obok oleh koloni alien.
Tapi ide tinggallah ide ketika ternyata skrip yang ditulis tidak mampu untuk menerjemahkannya dengan menarik dan berbeda dengan film sci-fi bertema alien lainnya, meski disutradrai Jon Favreau dan salah satu produsernya adalah Steven Spielberg. Yap, kesalahan terbesar dari Cowboys and Aliens adalah lemahnya skrip. Oke, awal-awalnya tampak cukup menarik namun semakin ke belakang cerita seolah-olah tidak tahu apa lagi yang ingin disampaikan. Alhasil yang terjadi di layar adalah kejadian bertele-tele yang tidak begitu penting dan parahnya lagi durasinya dipaksakan dua jam. Kalau saya boleh mengedit ulang, mungkin 70 hingga 80 menit adalah durasi yang pas agar film tidak terjerumus menjadi sangat membosankan sekaligus plot yang ada menjadi efektif. Score pun tidak begitu mampu menolong kekurangan dari segi alur dan miskinnya plot. Duh, Steven Spielberg koq semakin lama seleranya semakin memburuk sih?
The Casts
Entah kenapa Daniel Craig tahun 2011 lalu tidak begitu beruntung dalam memilih peran. Cowboys and Aliens dan Dreamhouse memiliki satu benang merah karakter yang sama bagi Craig : suami yang ditinggal istrinya. Sebenarnya penampilannya di sini sama sekali tidak buruk. Sebagai jagoan Jake Lonergan, Craig cukup tampak badass. Mengingatkan kita pada peran James Bond yang melambungkan namanya, hanya saja di sini menggunakan kostum koboi. Harrison Ford pun memerankan Dolarhyde yang keras dan brutal dengan baik. Sedikit lebih garang disbandingkan Indiana Jones, but he’s quite good at it. Sementara Olivia Wilde tidak begitu diberi kesempatan untuk unjuk gigi. Alih-alih menjadi jagoan wanita yang menonjol, perannya justru terasa seperti pemanis saja berkat porsinya yang memang kurang.
Ada beberapa karakter yang sebenarnya cukup menarik untuk diangkat jika diberi porsi perkembangan yang lebih, seperti contohnya Doc (Sam Rockwell) dan Nat (Adam Beach). Sayang skrip tidak memberi mereka begitu banyak perkembangan karakter sehingga saya sebagai penonton kurang bisa memberikan simpatik kepada mereka.
Technical
Sebagai sebuah sci-fi, Cowboys and Aliens menghadirkan special fx dengan porsi yang pas. Tampilan alien dan pesawat luar angkasanya lumayan keren walau tidak sampai mampu membuat saya terbelalak kagum karena memang biasa saja, sudah sering kali ditampilkan film-film sci-fi sebelumnya. Tidak ada sesuatu yang resh.
Divisi sound effect dan sound editing juga biasa saja. Tidak buruk tapi juga tidak menggelegar, baik suara ledakan, tembakan, maupun serangan aliennya. Standard banget lah.
The Essence
Saya cukup bingung apa yang hendak saya sampaikan di segmen ini karena memang tidak banyak esensi baru yang saya dapatkan lewat film ini. Memang film ini murni dibuat untuk tujuan hiburan, dengan esensi yang basi banget sebagai sebuah film sci-fi. Bahkan War of The Worlds yang juga menggambarkan bagaimana perjuangan manusia awam dalam surviving alien’s invasion masih lebih jelas dan menarik ketimbang para koboi di sini dalam usaha yang sama dan dengan pengetahuan tentang makhluk luar angkasa yang lebih minim lagi. Yah sudahlah, tampaknya tanpa saya jabarkan di sini, tentu Anda bisa menarik kesimpulan esensi sendiri setelah menyaksikannya.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, February 14, 2012

The Jose Movie Review - One Day


Overview
Saya selalu percaya dan memiliki pemikiran bahwa sebuah relationship yang berhasil adalah relation ship yang berdasarkan sebuah friendship yang mendalam. Anda dan pasangan akan lebih saling mengenal luar-dalam ketimbang pasangan yang hanya melihat sisi positifnya saja, namun ketika ketahuan sisi-sisi negatifnya langsung ilfil dan putus. Saya senang One Day merepresentasikan pemikiran saya tentang relationship ini. Hubungan persahabatan yang dijalin oleh Emma dan Dexter sejak awal sebenarnya meyakinkan sebagai sepasang kekasih, namun rupanya keduanya entah saling jaim atau saling tidak menyadari. Karena tidak ada hal yang ditutupi antara mereka berdua dan mereka saling merasa nyaman satu sama lain, akhirnya mereka sadar bahwa mereka adalah pasangan paling manis yang pernah ada (setidaknya bagi mereka berdua, dibandingkan dengan pasangan-pasangan yang pernah mereka miliki sebelumnya).
One Day merupakan adaptasi dari novel best-seller karya David Nicholls. Jangankan pernah baca, dengar namanya saja baru dengar setelah filmnya rilis. Yang pasti, One Day adalah tipikal film drama romantis yang saya sukai; manis, smart, menggelitik, bermakna dalam, dan tidak terkesan picisan apalagi cheesy. Kisah ups and downs hubungan asmara serta kehidupan pribadi dari Emma dan Dexter selama 20 tahun terangkum dalam durasi tidak lebih dari 2 jam. Berkat chemistry kuat antara Anne Hathaway dan Jim Sturgess, perjalanan 20 tahun tak terasa membosankan, malah sangat nyata dan menarik. Nyata, menurut saya inilah yang membuat One Day begitu enak dinikmati. Tidak ada cerita klise bak Cinderella yang berakhir happily ever after. One Day sengaja menyuguhkan jatuh bangun karir serta perkembangan kepribadian dari Emma dan Dexter secara seimbang dan selaras, hingga keduanya bertemu di satu titik yang (akhirnya) membuat mereka bersatu. Namun ternyata cerita tidak hanya sampai situ saja. Ada gagasan tentang relationship tertentu yang ingin disampaikan cerita kepada penonton. Itulah yang membuat One Day menjadi film yang tidak hanya sekedar menjual mimpi tentang indahnya cinta, tapi lebih ke struggle hingga survival ketika semuanya menjadi sekedar kenangan indah.
Casts
Terakhir saya menyaksikan performa Anne Hathaway dalam sebuah film (so-called) romantic adalah lewat Love and Other Drugs. Walaupun film tersebut begitu heboh karena penampilan “polos” dari Hathaway dan Jake Gylenhaal, saya sama sekali tidak menyukai film tersebut karena menurut saya film tersebut kebingungan membawa filmnya kemana. Penampilan Hathaway pun sama sekali tidak berkesan apabila ia tidak tampil “polos” seperti di film tersebut. Di One Day, Hathaway berhasil mencuri hati saya, seperti yang pernah dilakukannya lewat The Princess’ Diaries. Ia cocok sekali memerankan karakter smart seperti Emma. Smartly sexy ketika rambut panjang dan freshly elegant dengan rambut pendek. Aksen England-nya pun terdengar alamiah. Sturgess sendiri kemampuan aktingnya berkembang cukup banyak setelah Across The Universe, 21, dan Crossing Over. Baik sebagai player maupun pecinta yang setia, ia berhasil memenangkan hati penonton. Peran player susah lho untuk tetap bisa mengundang simpatik penonton yang cenderung sebal dengan tipikal karakter seperti ini, but he did it very well.
Sementara di lini peran pembantu yang paling menonjol karena faktor skrip adalah karakter Steven (Ken Stott) dan Alison (Patricia Clarkson), orang tua Dexter, dan tentu saja Ian yang diperankan Rafe Spall, tak lain dan tak bukan putra pemeran Wormtail dari franchise Harry Potter, Timothy Spall.
Technical
Layaknya film-film drama romantis yang bersetting di negara-negara Eropa, One Day memiliki banyak set yang indah dan artistik. Ditambah dengan caption penanda tanggal tiap tahun yang dinamis, kreatif, dan menyatu dengan adegan, secara visual it’s supercool! I always like movies with this kind of captions.
Satu-satunya kekurangan yang paling saya rasakan adalah kurangnya soundtrack pengiring adegan. Di sini soundtrack tidak begitu mencolok terdengar, setidaknya kurang ear-catchy. Padahal soundtrack seharusnya bisa menjadi landmark tersendiri bagi tipe film drama romantis seperti ini. Untung saja bagi yang fokus pada cerita tidak begitu merasakan kekurangan minor ini.
The Essence
Yap, sejak awal tema relationship based on friendship sudah jelas sekali terasa. Tapi ternyata One Day menawarkan hal-hal detail lain yang membangun sebuah relationship. Siapa bilang relationship itu tidak terikat waktu dan perkembangan kepribadian para pelakunya? Tiap orang memiliki pola pikir dan prinsipal yang bisa berubah-ubah tiap waktu. Banyak juga kejadian-kejadian yang mungkin bisa merubah kepribadian seseorang secara drastis. Jadi jangan pernah berpikir, jika saya tidak cocok dengan seseorang saat ini, maka saya tidak akan pernah mungkin bisa cocok dengannya selama-lamanya. Who knows? Banyak hal yang bisa menyatukan dua insan dalam ikatan cinta. It works in a very mysterious way so be prepared for any possibilities. True love will be beautiful in its time and will stay beautiful in memories even when he/she has gone.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Underworld Awakening


Overview
Underworld adalah salah satu franchise yang murni dibuat untuk konsumsi layar lebar, tidak seperti franchise akhir-akhir ini yang kalau bukan adaptasi dari komik, novel, ya video game. Ceritanya cukup unik, it’s like Romeo & Juliet antara vampire dan lycan, jauh sebelum ada Twilight Saga. Underwold pulalah yang mengangkat nama Kate Beckinsale sebagai salah satu karakter jagoan cewek yang cukup diperhitungkan di dunia film, sekaligus mempertemukannya dengan suaminya kini, Len Wiseman, sang sutradara sekaligus kreator cerita franchise ini.
Dari segi cerita, sebenarnya sudah jauh dari original story utamanya, yakni tentang hubungan cinta antara dua individu berbeda spesies yang saling bermusuhan. Yang terjadi sekarang adalah seperti extended play dari dasar cerita utama yang sudah ada. Sayangnya, extended play yang ditampilkan di sini bisa dibilang tidak banyak kejadian yang berarti. Layaknya franchise Resident Evil (RE), ibarat sebuah novel, satu bab saja dibuat menjadi satu judul film. Penulis cerita seolah-olah ingin “menghemat” jalan cerita agar bisa terus dijadikan sekuel baru, hingga mungkin penonton sudah tidak lagi minat mengikuti jalan ceritanya lagi.
Well, come on... this is a popcorn movie, what else do you expect other than the action sequences? Yes, that’s right, but if there’s not much event happened in a movie, only a long action sequence, it will be a maximum boring stuffs. Untung saja sampai saat ini Underworld Awakening masih belum sampai pada titik tersebut, walau indikasi-indikasinya sih mengarah ke situ. So I guess the scriptwriter should have made some more improvements in the next movie if they don’t want the franchise to be like Resident Evil Afterlife.
Speaking of Resident Evil, maaf yah jika saya terlalu banyak membandingkan franchise ini dengan RE. Entah kenapa, aura sepanjang film Awakening ini serasa another sequel dari RE. Selene layaknya versi vampire dari Alice (Milla Jovovich). Belum lagi aura “survival” nya yang RE banget. Mana di akhir film pakai ada epilog dengan suara Selene lah... Resident Evil BANGETTT!!! Tidak heran juga sih, studio pembuatnya saja sama, ScreenGems (anak perusahaan Sony Pictures), dan keduanya bukanlah franchise yang begitu besar. Not a big deal for a refreshment, but I think it’s not a good sign when this franchise has faded its uniqueness.
Selain “aura” RE, Awakening pun menghadirkan banyak sekali adegan yang mengigatkan saya dengan berbagai film yang sudah ada sebelumnya. Sebut saja yang paling saya ingat adalah adegan “menghidupkan kembali” ala The Matrix Reloaded atau tampilan mengerikan Eve yang seperti perpaduan tampilan Linda Blair di The Exorcist dan Kirsten Dunst di Interview with a Vampire.
Other than those, Underworld Awakening masih bisa menghibur dengan adegan-adegan aksi akrobatik plus gory khas Selene, tanpa terasa begitu membosankan, tapi juga tidak begitu menegangkan. Cukup keren, tapi easily forgettable.
Casts
Underworld adalah Kate Beckinsale. Ketika ia sudah tidak bermain di franchise ini seperti yang terjadi di Rise of The Lycans, it has lost its charm. Seperti seri-seri sebelumnya, Beckinsale lah nyawa dari film ini. Dari franchise inilah ia mampu membuktikan diri bahwa ia pantas melakukan stunt-stunt berbahaya, termasuk gerakan bertumpu pada tembok sebelum menendang yang entah berapa kali ia tunjukkan di layar. Pencuri perhatian kedua adalah India Eisley, pemeran Eve yang kecil-kecil mengerikan. I wanted to see her in more movies ahead.
Sementara Scott Speedman absen di seri ini, penampilannya hanyalah super-impose dari seri-seri sebelumnya (pemerannya berbeda, hanya wajahnya saja yang dipasang secara digital). Sebagai penggantinya, ada Theo James yang cukup charming dan bisalah menjadi the next leading male character di franchise ini, menggantikan Michael (Scott Speedman). Ada pula Kris Holden-Ried yang mirip-mirip Chris Martin dan Michael Ealy. Selain Beckinsale, cast-cast pendukung lainnya kebanyakan angkat nama dari serial maupun film televisi. Cara yang cukup jitu untuk menghemat budget. Performa mereka not bad lah, sesuai dengan porsi masing-masing.
Technical
Ini adalah film yang menjual adegan-adegan aksi sebagai suguhan utamanya, jadi teknikal spesial efek dan sound menjadi hal yang paling penting. Untuk visual, tidak ada sesuatu yang baru, semuanya sudah pernah kita lihat sebelumnya di film-film lain, baik adegan sadis-sadisan maupun adegan perkelahian biasa. Ada beberapa CGI tampak agak kasar dan terkesan fake tapi tidak banyak, setidaknya CGI yang lain tampak cukup meyakinkan. Sementara sound effect-nya benar-benar dimanfaatkan secara maksimal, baik dari segi deep-bass maupun efek surround-nya. Suara bisikan, dentuman peluru, hingga ledakan terdengar sangat jernih, dan dahsyat.
Saya memilih untuk menyaksikan versi 2Dnya karena banyak yang mengatakan bahwa versi 3Dnya hanya terasa di awal-awal film, sisanya flat. Yah, bisa dimengerti lah secara logika. Keseluruhan franchise Underworld memiliki tone warna yang gelap dan berdasarkan pengalaman saya, efek 3D tidak begitu terasa pada gambar-gambar ber-tone gelap. Jadi saya rasa menyaksikan versi 2D-nya saja tidak begitu membawa perbedaan kenikmatan yang signifikan.
The Essence
Underworld Awakening membawa sebuah tema baru ke franchise : manusia merasa terancam oleh keberadaan lycan dan vampire hingga memburu mereka hingga ke akar-akarnya. Sounds like Resident Evil, hanya saja survivornya bukan manusia, sebaliknya justru para vampire. Aneh sih sebenarnya. Manusia sebagai makhluk yang relatif lebih lemah ketimbang vampire maupun lycan, di saat merasa terancam, mampu melakukan apa saja, termasuk membasmi makhluk-makhluk buas tersebut hingga nyaris punah. Seperti yang pernah menjadi tagline AVP : Whoever wins, we lose. Bahkan di sini ditunjukkan sisi manusia yang lebih dari sekedar melindungi diri dari ancaman; di titik berikutnya manusia berusaha menjadi "ancaman" itu sendiri, layaknya yang dilakukan Dr. Jacob Lane dan putranya, Quint.
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, February 7, 2012

The Jose Movie Review - Chronicle


Overview

Found-footage menjadi teknik yang populer semenjak kesuksesan tak terduga The Blair Witch Project. Dengan budget minimal, bermodalkan kamera genggam, dan kekreatifan dalam meng-create adegan palsu yang tampak nyata, siapa yang menyangka genre seperti ini bisa menjadi mesin pencetak uang yang ampuh? Banyak yang menganggap found-footage sebagai sebuah genre, tapi menurut saya sih sebenarnya merupakan salah satu teknik pengambilan gambar yang digunakan dalam menciptakan nuansa tersendiri bagi film. Bagi saya, genre found-footage memiliki keunikan tersendiri karena mampu menimbulkan efek psikologis yang tidak bisa dicapai oleh penyuntingan kamera yang memang sudah diset layaknya profesional. Apa yang tampak di layar seperti benar-benar nyata dan ketidak-detailan adegan yang ada justru bisa mengundang imajinasi tersendiri bagi penonton. Teknik seperti ini menjadi semakin populer dan efektif ketika dunia semakin akrab dengan trend public journalism. Ngeri bukan ketika melihat rekaman bom Bali atau sesaat setelah kecelakaan Xenia maut? Coba kalau adegan-adegan tersebut direkam secara profesional dengan angle-angle yang mampu menangkap detail kronologisnya bak film-film maisntream Hollywood, belum tentu bisa memberi sensasi yang sama. Di situlah letak menariknya found-footage atau sering juga disebut mockumentary.

Jika kebanyakan film found-footage hanya menjual sensasi ketakutan atau paranoia dari suatu kejadian, misalnya Cloverfield atau Quarantine, Chronicle justru menjual cerita utuh dengan alur seperti halnya film fiksi biasa, hanya saja menggunakan teknik pengambilan gambar ala found-footage dan gaya penceritaan ala mockumentary. Alur yang disajikan pun terasa sekali ditulis dan digarap dengan sangat baik. Adegan demi adegan yang menggambarkan sisi “fun” dari film terlukiskan dengan menyenangkan walau sebenarnya kekuatan-kekuatan super yang ditampilkan biasa saja, sudah sering kita saksikan di film-film bertema superheroes sebelumnya. Timing tahapan kekuatan yang dimiliki oleh ketiga karakter utama disajikan dengan sangat tepat, sama sekali tidak menimbulkan kebosanan bagi saya. Lantas di paruh kedua, Chronicle berubah menjadi film yang gelap dan misterius. Di sini tensi mulai ditingkatkan hingga penghujung film. A very great job in positioning scenes and playing with the tension-ride.

Perkembangan karakter menjadi salah satu kekuatan utama dari Chronicle. Walau hanya berbekal rekaman-rekaman kamera yang berbeda-beda sumbernya, penonton berhasil merasakan kedekatan antara ketiga karakter utama : Andrew, Matt, dan Steve. Pergulatan emosi antara ketiganya menjadi inti yang paling penting selama film berlangsung. Baik sebagai film mockumentary maupun sebagai film bertemakan superheroes, Chronicle mampu menjadi karya yang stand out dan unforgettable.

Cast

Nama-nama yang mengisi cast di sini semuanya asing, bahkan di telinga saya. Ketiga pemeran utamanya saja; Dane DeHaan, Alex Russell, dan Michael B. Jordan, sebelumnya hanya berpengalaman bermain di serial atau film TV. Namun kemampuan akting mereka di sini sesuai dengan porsi peran masing-masing. Setidaknya tiap karakter terasa believable walau sebenarnya peran-peran yang dibawakan bukanlah tergolong peran yang sulit maupun unik. Bukan mustahil nama-nama mereka bakal melambung lebih tinggi di masa depan karena kehadiran mereka di sini bukan asal tempel saja seperti karakter-karakter di franchise Final Destination. Kredit tersendiri pantas disematkan untuk Dane DeHaan atas keberhasilannya menghidupkan karakter Andrew Detmer. Ia memikul beban yang cukup berat karena ia menjadi fokus sepanjang film dan ia sama sekali tidak mengecewakan.

Technical

Chronicle hanya mengadopsi gaya found footage dari segi pengambilan gambarnya saja, sementara kualitas gambarnya sendiri sangat pristine seperti layaknya kamera profesional, dengan lighting yang memadai pula. Agak aneh sebenarnya ketika adegan gelap di awal film, seperti misalnya ketika adegan rave party, kualitas gambarnya masih khas kamera genggam dengan grainy-grainy-nya, tapi adegan-adegan gelap selanjutnya kualitas gambarnya seperti diambil dengan kamera profesional. Lihat saja ketajaman tampilan awan di langit malam, misalnya. Kalau mau ngeles sih, kan adegan di rave party Andrew masih pakai kamera murah, selanjutnya kan dia pakai kamera seharga 500 dolar. Tapi tetep saja sih, secara keseluruhan kualitas gambar-gambar yang ditampilkan mustahil dihasilkan kamera genggam. Bisa dimengerti bagaimana kreator mencoba untuk memenuhi “standard” penonton kebanyakan yang terbiasa dengan kejernihan gambar layar lebar. Oh iya, biasanya kendala yang paling mengganggu penonton ketika menyaksikan mockumentary adalah gambar yang goyang seolah-olah si pengambil gambar sedang berjalan atau berlari. Berita baiknya, kestabilan gambar terjaga di sini sehingga goyangnya kamera tidak ada yang mengganggu atau membuat pusing.

Footage-footage yang disajikan di film tidak hanya bersumber dari satu kamera (sudut) saja. Terkadang diselipi rekaman dari CCTV atau dari lensa teropong sniper, jadinya secara keseluruhan menampilkan keutuhan adegan dari berbagai angle. Ada beberapa angle yang aneh sih, seperti sudah diatur bak film profesional, tapi sekali lagi bisa ngeles kameranya digerakkan oleh karakter yang ada menggunakan kekuatan telekinesisnya. Hahaha...

Audio yang disajikan tidak begitu dahsyat dan seperti layaknya mockumentary yang lain, Chronicle juga tidak menggunakan score apa pun. Tapi saya heran, ketegangan dan feel –nya tetap terasa sepanjang film. I think it’s a rare case in movie industry.

The Essence

Jika kita merefleksikan lebih dalam, Chronicle bukanlah film hiburan bertema superheroes semata. Seperti yang diungkapkan oleh Andrew di salah satu adegan, manusia cenderung untuk menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk menghancurkan yang lain. Kita tidak pernah bersalah telah menghancurkan lalat yang lewat, misalnya. Karakter Andrew sendiri yang menjadi fokus sepanjang film menjelaskan teori tersebut. Ia yang dulunya menjadi “korban” seolah ingin membalaskan dendamnya kepada semua orang ketika ia berada di puncak rantai makanan (baca : ketika memiliki kekuatan superheroes). That’s why we need a true friend who is able to warn and control us. Sahabat sejati yang tidak hanya berbagi di saat bersenang-senang saja, tetapi juga peduli ketika kita berada di dalam bahaya, sekalipun bahaya itu berasal dari diri kita sendiri. I’m sure kejadian sepanjang film menjadikan motivasi dan pelajaran bagi Matt, seperti yang disampaikannya ketika sudah berhasil mengantar sahabatnya ke tempat yang paling ingin dikunjunginya.
Lihat data film ini di IMDB.


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, February 6, 2012

The Jose Movie Review - Dream House


Overview
Anda suka film thriller atau horror yang menyuguhkan twist-ending? Well, mungkin bagi beberapa orang yang doyan, Dream House tidak menyajikan suatu hal yang baru. Apalagi twist yang berkaitan dengan identitas asli salah satu karakter adalah hal yang sering dilakukan film-film sejenis sebelumnya. Sebut saja The Usual Suspects, The Sixth Sense, The Others, Shutter Island, The Orphan, dan masih banyak lagi.
Sebagai sebuah thriller psikologis, sebenarnya Dream House punya ide dan premise yang menarik, terlepas dari twist yang disuguhkan termasuk fresh ataupun basi. Sayang, skrip yang ada tidak begitu bisa mengeksekusi ide dengan baik. Oke lah, dari awal hingga “that twist-revealing scene”, tensi film dan rasa penasaran penonton bisa terjaga dengan baik. Tapi ternyata itu bukanlah konklusi dari film tersebut. It’s not the end, masih ada masalah lain yang harus dipecahkan. Sayang seribu sayang, rangkaian adegan yang terjadi selanjutnya berubah menjadi tidak menarik untuk diikuti. Entah apa karena saya sudah tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi setelah itu ataupun memang adegan-adegan yang terjadi berikutnya tidak begitu menarik penonton. Yang pasti, menurut saya adegan demi adegan yang disajikan pasca-“that twist-revealing scene” terasa terlalu bertele-tele, seolah-olah tidak tahu bagaimana akan mengisi durasi yang tersisa. Seharusnya bisa lebih menarik lagi sih, karena seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, kejadian pasca “that twist-revealing” itu pun sebenarnya menarik secara ide.
Sempat saya dengar sebuah kabar kalau terjadi perselisihan antara sutradara Jim Sheridan dan kepala Morgan Creek selaku produser, Jim Robinson sehingga Morgan Creek pun me-recut filmnya dan alhasil trailernya pun seolah-olah memberikan informasi terlalu banyak yang menyebabkan berkurangnya efek twist dari film. Buntutnya, Daniel Craig dan Rachel Weisz pun menolak untuk mempromosikan film ini di media. Bukan tidak mungkin sih kasus ini yang menyebabkan kualitas keseluruhan Dream House terasa kurang. Menilik dari filmografi sutradaranya yang meliputi In The Name of The Father, In America, Get Rich or Die Tryin’, dan The Boxer, seharusnya nama Jim Sheridan punya reputasi yang cukup baik dari segi karya dan itu bisa dilihat dari paruh pertama Dream House. Cukup disayangkan, separuh bagian bisa menghancurkan keseluruhan film yang sudah tertata rapi sejak awal. Padahal bukan tidak mungkin jika paruh kedua film digarap dengan lebih menarik, Dream House bisa jadi salah satu most memorable thriller movie.
Cast
Berbekal nama Daniel Craig dan Rachel Weisz sebenarnya tidak perlu dipertanyakan lagi kualitas cast di sini. Mereka berdua menampilkan performa terbaik di layar. Craig yang selama ini lebih banyak dikenal sebagai action hero ternyata berhasil membuktikan kepiawaiannya berakting dengan peran yang sulit, apalagi melibatkan sisi psikologis banget. Rachel Weisz seperti biasa walau bertindak sebagai aktor pendukung namun tetap memberikan warna tersendiri bagi karakter yang dimainkannya. Sementara Naomi Watts tidak diberikan porsi peran yang banyak sehingga tidak begitu memorable. Saya justru lebih tertarik pada Rachel G. Fox yang berperan sebagai putri Naomi Watts. Setelah searching di IMDB, barulah saya ingat mukanya yang familiar itu. Dia lah yang memerankan putri tiri Lynnette Scavo!
Selain nama-nama kondang di atas, peran Trish dan Dee Dee, dua putri Will Atenton dan Libby menjadi scene stealer tersendiri berkat keimut-imutan mereka yang memang diperankan oleh kakak-adik beneran, Taylor dan Claire Geare. Keduanya pernah berperan di serial Grey’s Anatomy dan Inception. I think they just need more leading characters to play, to be as legendary as Abigail Breslin or Dakota Fanning.
Technical
Sebagai sebuah thriller psikologis, tim artistik berhasil menghidupkan suasana suram yang menjadi mood film. Lihat saja setting rumah Atenton baik sebelum maupun setelah direnovasi, atau setting rumah sakit jiwa yang haunting banget. Well done lah pokoknya. Score pun berhasil menggiring ketegangan dalam adegan-adegan yang disuguhkan. In other words, semua teknikal digarap dengan baik dan berfungsi sesuai dengan tujuannya.
The Essence
Overall, this movie is about letting go. It’s so haunting to think about everything that has happened to Atenton during the storyline. Membayangkan bagaimana rasanya merasakan menjadi Atenton yang dirundung malang bertubi-tubi. Tak heran jika psikologisnya terguncang sedemikian rupa seperti di layar. You better watch it by yourself if you want to feel the empathy.
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates