Sunday, January 29, 2012

The Jose Movie Review - The Muppets


Siapa yang tidak kenal Kermit dan Miss Piggy? Walau tidak kenal namanya, tapi siapapun yang melihat rupanya pasti mengenalinya. Karakter-karakter sandiwara boneka karangan Jim Henson ini begitu melegenda di dunia, terlebih lagi di Amerika Serikat sendiri, along with another Henson’s doll gank characters, Sesame Street. Dulunya kedua gank ini sering saling menjadi bintang tamu di TV show masing-masing, namun setelah The Muppets dibeli oleh Walt Disney di tahun 2004, pupus sudah harapan menyaksikan Elmo, Ernie, Bert, ataupun Big Bird di film layar lebar terbarunya ini. But that’s okay, walau jujur saya jauh lebih familiar dengan karakter-karakter Sesame Street, The Muppets berhasil menyuguhkan tayangan yang sangat menghibur.

Premise yang diusung versi layar lebar teranyarnya ini mungkin mirip-mirip Space Jam yang mana menganggap seolah-olah karakter-karakter Looney Tunes adalah nyata, bukan sekedar karakter kartun di film atau serial TV. They do really exist, live, and they are celebrities. Lucunya, di sini boneka-boneka menggemaskan ini tampil dengan full body hingga kaki, tidak seperti serial TV-nya dulu yang mana karena hanya berupa boneka tangan, makanya hanya tampil separuh badan. Karena mengusung premise “the characters are in real life”, maka kita harus melupakan sejenak logika dunia nyata dan masuk ke dunia imajinasi anak-anak. Bagi penonton dewasa, “kenaifan” logika dunia anak-anak ini dibuat sedemikian rupa seolah-olah itu adalah sebuah parodi. Good job in that, anak-anak senang dengan khalayan-khalayan tersebut, sedangkan penonton dewasa menertawakan hal yang sama sebagai joke yang konyol tapi smart. Contoh yang paling jelas adalah tentang “travel by map”. Seriously, the jokes are fresh, silly, naive, but smart. Jarang-jarang lho saya bisa tertawa lepas terbahak-bahak di dalam gedung bioskop.

Sayang, memasuki fase kedua film terasa kendor, baik dari segi plot maupun joke-joke yang dilontarkan, tidak se-fresh fase pertamanya. Tak heran di fase pertengahan ini agak terasa membosankan dan terkesan bertele-tele, apalagi bagi yang kurang familiar dengan artis-artis cameo yang ditampilkan. Untungnya menjelang akhir, dimana The Muppets menggelar show come-back mereka, The Muppets Telethon, penonton yang pernah menjadi fans berat The Muppets (ataupun juga fans Sesame Street) ketika anak-anak seolah-olah dimanjakan oleh nostalgia kebahagiaan masa kecil. I felt it. Tak hanya bersenang-senang, The Muppets menyampaikan moral yang berbeda bagi penonton anak-anak dan dewasa. Ada baiknya Anda (dan juga anak-anak Anda) menemukan sendiri moral tersebut, tanpa saya spoil di sini.

Bagi penonton yang tahu banyak tentang dunia selebriti Hollywood, maka mengenali artis-artis yang menjadi cameo sepanjang film bisa menjadi kesenangan tersendiri. Bahkan penggemar musik cadas pun bisa tersenyum ketika tiba-tiba muncul salah satu vokalis band cadas US ikut main musik bersama karakter-karakter The Muppets dan juga ketika Feels Like Teen Spirit-nya Nirvana dibawakan oleh boneka-boneka gokil ini. Sebagai tambahan, ada Zach Galifianakis dan Ken Jeong dari gank The Hangover, Juga ada Jason Segel dan Neil Patrick Harris (How I Met Your Mother) serta Jim Parsons (Big Bang Theory) dari gank sitcom CBS. Tentu saja selain itu masih ada banyak selebriti yang bersedia menjadi cameo sepanjang durasi. Seru bukan?

Keriaan bertambah berkat hadirnya lagu-lagu dengan lirik-lirik konyol dan musik ala broadway. I, myself, like Man or Muppet yang masuk menjadi salah satu nominee Academy Awards untuk kategori Original Song, dan Mah Na Mah Na yang juga menampilkan cameo-cameo pendukung film. Bagi yang merasa terganggu dengan kehadiran musik dan tarian di film ini, namanya juga film musikal, it’s there to entertain. Tak selamanya film harus tampil sebagai potret realita kehidupan. It’s there to put some more color to life and it’s fun.

Sebagai cast utama, Jason Segel dan Amy Adams tampil charming. Klise sih, tapi kan target utamanya memang anak-anak, jadi wajar jika karakter keduanya tampil “aman dan bersih”. Salut untuk Jason Segel yang selain bersedia menjadi aktor utama, ia juga menjadi salah satu executive producer dan co-writer dari film ini. Keinginannya untuk membagi keceriaan masa kecilnya kepada generasi sekarang patut diberi apresiasi. Jika ada yang merasa familiar dengan wajah Jason Segel tapi lupa di film apa, ia pernah membintangi Gulliver’s Travels, Bad Teacher, dan Friends with Benefits. Saya juga tak menyangka Amy Adams punya suara yang bagus untuk menyanyikan beberapa lagu di sini. Credit cast ingin saya sematkan pula kepada aktor kawakan Chris Cooper yang tampil sebagai karakter antagonis, Tex Richman. He performed a villain with the proper evilness for kids audiences.

I felt sorry for today’s kids yang disuguhi tayangan-tayangan penuh kekerasan dan ke-kurang-ajaran di TV karena tayangan (yang dulu) mendidik dan menyenangkan seperti The Muppets kini sudah dianggap tidak keren dan basi. Kasihan anak-anak jaman sekarang tidak punya lagi tayangan dan lagu anak-anak yang proper karena pemilik modal dunia entertainment saat ini lebih berpihak pada pemakan cake terbesar, yakni remaja. Oleh sebab itu kehadiran The Muppets kembali di layar bioskop adalah sebuah pemuasan kerinduan akan kenaifan dan keceriaan anak-anak sekaligus nostalgia bagi penonton dewasa. Lagipula, ada extra film pendek Toy Story sebelum film utama. Siapa yang kangen Woody dan Buzz Lightyear yang kini sudah hidup bahagia dengan Bonnie?
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates