Friday, January 27, 2012

The Jose Movie Review - Midnight in Paris


Paris. Imajinasi saya langsung menuju suatu tempat paling artistik di dunia. Tempat yang paling inspiratif, and so on... and so on... Pokoknya yang indah-indah lah. Entah sejak kapan saya selalu tertarik dengan film Perancis atau film apapun yang ada unsure Perancisnya. Begitu melihat sinema Perancis, film-film Hollywood terasa kacangan banget. Jadi tak salah jika lantas Woody Allen tertarik untuk membuat Hollywood dengan cita rasa sinema Perancis. Well, masih tidak terlalu Perancis-Perancis banget sih, tapi setidaknya mengusung “semangat” artistik khas Perancis.
Apa yang dirasakan oleh Woody Allen sebelum memfilmkan Midnight in Paris (MIP) mungkin terepresentasi lewat karakter Gil yang diperankan Owen Wilson. So, bisa jadi pula film ini adalah hasil refleksi pengalaman Woody Allen sendiri secara pribadi dengan Paris. Awalnya saya tidak terlalu banyak mengetahui premise-nya. Itulah yang saya lakukan akhir-akhir ini sebelum menyaksikan sebuah film untuk menjaga kenikmatan ketika menontonnya secara langsung. Alhasil, saya benar-benar terpukau oleh “keajaiban” Paris yang ditawarkan MIP. Allen has taken me to experience Paris I’ve never been before. Mungkin juga bagi mereka yang sebelumnya pernah ke Paris secara langsung sekalipun.
Bagi saya, MIP adalah sebuah “pelajaran hidup” yang disampaikan dengan sangat sangat menghibur. Hiburan yang disajikan di sini bukanlah hiburan yang bisa dinikmati siapa saja dan dari background pendidikan apa saja. Setidaknya Anda harus punya cukup pengetahuan siapa-siapa saja tokoh sastra dan seni dunia yang pernah terkenal di era yang disebut sebagai The Golden Era saat itu. Humornya saja melalui dialog yang menggelitik, bukan humor seks atau slapstick. Hiburan yang mungkin susah dinikmati oleh kaum remaja yang hanya mengenal J.K. Rowling dan Stephanie Meyers sebagai sastrawati paling hebat sepanjang masa. MIP seolah-olah menjadi semacam jeritan hati seseorang yang kebetulan berprofesi sebagai penulis naskah di Hollywood atas budaya populer saat ini yang semakin kehilangan esensi seninya. Saya sendiri sempat setuju dengan karakter Gil di awal film. MIP adalah tentang pergulatan Gil di Paris demi mencari inspirasi yang brilliant bak Ernest Hemingway atau Scott Fitzgerald. Bagi Anda, generasi muda yang merasa budaya populer saat ini adalah yang terbaik dan budaya lampau sebagai sesuatu yang kuno dan membosankan, besar kemungkinan Anda tidak akan bisa menikmatinya. Jika Anda tidak mau membuka diri dan pikiran untuk mau mengerti maksud dari film, lebih baik Anda tidak menyaksikannya daripada Anda memaki-maki tidak jelas dan hanya merusak image karya sebaik ini. Nanti deh ketika budaya pop generasi Anda bergeser tergantikan yang baru, Anda pun juga akan merasakan hal yang sama dengan yang dialami oleh karakter Gil di sini.
Jujur, saya sendiri tidak mengenal siapa itu Scott dan Zelda Fitzgerald, Cole Porter, Gertrude Stein, dan Salvador Dali. Hanya Ernest Hemingway dan Pablo Picasso saja yang saya tahu. Alhasil, begitu film berakhir saya jadi penasaran setengah mati dan langsung mengubek-ubek Wikipedia untuk mengetahui lebih jauh tokoh-tokoh yang ditampilkan di sini. Intinya, berkat MIP saya menjadi tahu lebih banyak tentang tokoh-tokoh seni terkenal era 20-an. Sebuah film yang bisa memperluas wawasan dan pengetahuan saya, plus dapat pelajaran hidup pula. Semuanya itu saya dapatkan dengan perasaan terhibur. Pokoknya puas lah menikmati Paris dari sudut pandang Allen selama kurang lebih satu setengah jam.
Paris experience yang ditawarkan oleh Allen tidak hanya secara visual, tapi juga musikal. Musik menjadi bagian yang sangat vital dan kuat dalam membangun mood Paris secara utuh. Ditambah hits single dari Cole Porter, Let’s Do It (Let’s Fall in Love) yang dibawakan ulang oleh Conal Fawkes, the soundtrack album exactly must be on my playlist everywhere. Very good choice and arrangement in score and music department.
Dari jajaran cast, jelas Owen Wilson dan Marion Cottilard menjadi fokus utama. Owen akhirnya menemukan peran yang sedikit lebih berbobot ketimbang peran-peran komedik yang selama ini dilakoninya which actually he’s good at. Tapi tidak ada salahnya kan lakon komedik diberi bobot sedikit? Cottilard is the movie’s sweetheart. Sejak breakthrough-nya sebagai Edith Piaf di La Vie en Rose, jelas sekali Cottilard ingin memposisikan dirinya sebagai aktris kaliber award dan dia tahu betul kemampuan aktingnya yang di atas rata-rata. Saya juga bersemangat ketika ada nama Rachel McAdams di jajaran cast-nya, tapi sayang karakternya sebagai tunangan Gil terasa menjengkelkan sekali walau tidak semenjengkelkan perannya di Mean Girls. Well, walau masih kalah menonjol dibanding Cottilard, Rachel boleh lah menjadi pemanis tambahan. Michael Sheen yang memerankan karakter Paul walau tidak sebanyak porsi McAdams, karakternya dapat menjadi lebih menarik. Nama terkenal lainnya yang saya notice di sini adalah Kathy Bates dan Adrien Brody yang memerankan tokoh-tokoh sastra terkenal era 20’an. Salut dengan Bates yang aksen Perancisnya cukup convincing. Sementara Brody juga memberikan impresi tersendiri berkat cara bicaranya.
Rasanya tak pernah cukup bagi saya untuk memuji film ini. Anda harus mengalaminya sendiri untuk bisa tahu betapa saya sangat menikmati MIP sebagai hiburan berbobot tapi terasa ringan dan tidak kacangan. A very great achievement for Woody Allen in both scriptwriting and directing.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates