Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Read more.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Poernomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Read more.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Read more.

Spider-Man Homecoming

Make ways for the brand new Peter Parker to return to MCU.
Opens July 5.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Read more.

Sunday, January 29, 2012

The Jose Movie Review - The Muppets


Siapa yang tidak kenal Kermit dan Miss Piggy? Walau tidak kenal namanya, tapi siapapun yang melihat rupanya pasti mengenalinya. Karakter-karakter sandiwara boneka karangan Jim Henson ini begitu melegenda di dunia, terlebih lagi di Amerika Serikat sendiri, along with another Henson’s doll gank characters, Sesame Street. Dulunya kedua gank ini sering saling menjadi bintang tamu di TV show masing-masing, namun setelah The Muppets dibeli oleh Walt Disney di tahun 2004, pupus sudah harapan menyaksikan Elmo, Ernie, Bert, ataupun Big Bird di film layar lebar terbarunya ini. But that’s okay, walau jujur saya jauh lebih familiar dengan karakter-karakter Sesame Street, The Muppets berhasil menyuguhkan tayangan yang sangat menghibur.

Premise yang diusung versi layar lebar teranyarnya ini mungkin mirip-mirip Space Jam yang mana menganggap seolah-olah karakter-karakter Looney Tunes adalah nyata, bukan sekedar karakter kartun di film atau serial TV. They do really exist, live, and they are celebrities. Lucunya, di sini boneka-boneka menggemaskan ini tampil dengan full body hingga kaki, tidak seperti serial TV-nya dulu yang mana karena hanya berupa boneka tangan, makanya hanya tampil separuh badan. Karena mengusung premise “the characters are in real life”, maka kita harus melupakan sejenak logika dunia nyata dan masuk ke dunia imajinasi anak-anak. Bagi penonton dewasa, “kenaifan” logika dunia anak-anak ini dibuat sedemikian rupa seolah-olah itu adalah sebuah parodi. Good job in that, anak-anak senang dengan khalayan-khalayan tersebut, sedangkan penonton dewasa menertawakan hal yang sama sebagai joke yang konyol tapi smart. Contoh yang paling jelas adalah tentang “travel by map”. Seriously, the jokes are fresh, silly, naive, but smart. Jarang-jarang lho saya bisa tertawa lepas terbahak-bahak di dalam gedung bioskop.

Sayang, memasuki fase kedua film terasa kendor, baik dari segi plot maupun joke-joke yang dilontarkan, tidak se-fresh fase pertamanya. Tak heran di fase pertengahan ini agak terasa membosankan dan terkesan bertele-tele, apalagi bagi yang kurang familiar dengan artis-artis cameo yang ditampilkan. Untungnya menjelang akhir, dimana The Muppets menggelar show come-back mereka, The Muppets Telethon, penonton yang pernah menjadi fans berat The Muppets (ataupun juga fans Sesame Street) ketika anak-anak seolah-olah dimanjakan oleh nostalgia kebahagiaan masa kecil. I felt it. Tak hanya bersenang-senang, The Muppets menyampaikan moral yang berbeda bagi penonton anak-anak dan dewasa. Ada baiknya Anda (dan juga anak-anak Anda) menemukan sendiri moral tersebut, tanpa saya spoil di sini.

Bagi penonton yang tahu banyak tentang dunia selebriti Hollywood, maka mengenali artis-artis yang menjadi cameo sepanjang film bisa menjadi kesenangan tersendiri. Bahkan penggemar musik cadas pun bisa tersenyum ketika tiba-tiba muncul salah satu vokalis band cadas US ikut main musik bersama karakter-karakter The Muppets dan juga ketika Feels Like Teen Spirit-nya Nirvana dibawakan oleh boneka-boneka gokil ini. Sebagai tambahan, ada Zach Galifianakis dan Ken Jeong dari gank The Hangover, Juga ada Jason Segel dan Neil Patrick Harris (How I Met Your Mother) serta Jim Parsons (Big Bang Theory) dari gank sitcom CBS. Tentu saja selain itu masih ada banyak selebriti yang bersedia menjadi cameo sepanjang durasi. Seru bukan?

Keriaan bertambah berkat hadirnya lagu-lagu dengan lirik-lirik konyol dan musik ala broadway. I, myself, like Man or Muppet yang masuk menjadi salah satu nominee Academy Awards untuk kategori Original Song, dan Mah Na Mah Na yang juga menampilkan cameo-cameo pendukung film. Bagi yang merasa terganggu dengan kehadiran musik dan tarian di film ini, namanya juga film musikal, it’s there to entertain. Tak selamanya film harus tampil sebagai potret realita kehidupan. It’s there to put some more color to life and it’s fun.

Sebagai cast utama, Jason Segel dan Amy Adams tampil charming. Klise sih, tapi kan target utamanya memang anak-anak, jadi wajar jika karakter keduanya tampil “aman dan bersih”. Salut untuk Jason Segel yang selain bersedia menjadi aktor utama, ia juga menjadi salah satu executive producer dan co-writer dari film ini. Keinginannya untuk membagi keceriaan masa kecilnya kepada generasi sekarang patut diberi apresiasi. Jika ada yang merasa familiar dengan wajah Jason Segel tapi lupa di film apa, ia pernah membintangi Gulliver’s Travels, Bad Teacher, dan Friends with Benefits. Saya juga tak menyangka Amy Adams punya suara yang bagus untuk menyanyikan beberapa lagu di sini. Credit cast ingin saya sematkan pula kepada aktor kawakan Chris Cooper yang tampil sebagai karakter antagonis, Tex Richman. He performed a villain with the proper evilness for kids audiences.

I felt sorry for today’s kids yang disuguhi tayangan-tayangan penuh kekerasan dan ke-kurang-ajaran di TV karena tayangan (yang dulu) mendidik dan menyenangkan seperti The Muppets kini sudah dianggap tidak keren dan basi. Kasihan anak-anak jaman sekarang tidak punya lagi tayangan dan lagu anak-anak yang proper karena pemilik modal dunia entertainment saat ini lebih berpihak pada pemakan cake terbesar, yakni remaja. Oleh sebab itu kehadiran The Muppets kembali di layar bioskop adalah sebuah pemuasan kerinduan akan kenaifan dan keceriaan anak-anak sekaligus nostalgia bagi penonton dewasa. Lagipula, ada extra film pendek Toy Story sebelum film utama. Siapa yang kangen Woody dan Buzz Lightyear yang kini sudah hidup bahagia dengan Bonnie?
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, January 27, 2012

The Jose Movie Review - Midnight in Paris


Paris. Imajinasi saya langsung menuju suatu tempat paling artistik di dunia. Tempat yang paling inspiratif, and so on... and so on... Pokoknya yang indah-indah lah. Entah sejak kapan saya selalu tertarik dengan film Perancis atau film apapun yang ada unsure Perancisnya. Begitu melihat sinema Perancis, film-film Hollywood terasa kacangan banget. Jadi tak salah jika lantas Woody Allen tertarik untuk membuat Hollywood dengan cita rasa sinema Perancis. Well, masih tidak terlalu Perancis-Perancis banget sih, tapi setidaknya mengusung “semangat” artistik khas Perancis.
Apa yang dirasakan oleh Woody Allen sebelum memfilmkan Midnight in Paris (MIP) mungkin terepresentasi lewat karakter Gil yang diperankan Owen Wilson. So, bisa jadi pula film ini adalah hasil refleksi pengalaman Woody Allen sendiri secara pribadi dengan Paris. Awalnya saya tidak terlalu banyak mengetahui premise-nya. Itulah yang saya lakukan akhir-akhir ini sebelum menyaksikan sebuah film untuk menjaga kenikmatan ketika menontonnya secara langsung. Alhasil, saya benar-benar terpukau oleh “keajaiban” Paris yang ditawarkan MIP. Allen has taken me to experience Paris I’ve never been before. Mungkin juga bagi mereka yang sebelumnya pernah ke Paris secara langsung sekalipun.
Bagi saya, MIP adalah sebuah “pelajaran hidup” yang disampaikan dengan sangat sangat menghibur. Hiburan yang disajikan di sini bukanlah hiburan yang bisa dinikmati siapa saja dan dari background pendidikan apa saja. Setidaknya Anda harus punya cukup pengetahuan siapa-siapa saja tokoh sastra dan seni dunia yang pernah terkenal di era yang disebut sebagai The Golden Era saat itu. Humornya saja melalui dialog yang menggelitik, bukan humor seks atau slapstick. Hiburan yang mungkin susah dinikmati oleh kaum remaja yang hanya mengenal J.K. Rowling dan Stephanie Meyers sebagai sastrawati paling hebat sepanjang masa. MIP seolah-olah menjadi semacam jeritan hati seseorang yang kebetulan berprofesi sebagai penulis naskah di Hollywood atas budaya populer saat ini yang semakin kehilangan esensi seninya. Saya sendiri sempat setuju dengan karakter Gil di awal film. MIP adalah tentang pergulatan Gil di Paris demi mencari inspirasi yang brilliant bak Ernest Hemingway atau Scott Fitzgerald. Bagi Anda, generasi muda yang merasa budaya populer saat ini adalah yang terbaik dan budaya lampau sebagai sesuatu yang kuno dan membosankan, besar kemungkinan Anda tidak akan bisa menikmatinya. Jika Anda tidak mau membuka diri dan pikiran untuk mau mengerti maksud dari film, lebih baik Anda tidak menyaksikannya daripada Anda memaki-maki tidak jelas dan hanya merusak image karya sebaik ini. Nanti deh ketika budaya pop generasi Anda bergeser tergantikan yang baru, Anda pun juga akan merasakan hal yang sama dengan yang dialami oleh karakter Gil di sini.
Jujur, saya sendiri tidak mengenal siapa itu Scott dan Zelda Fitzgerald, Cole Porter, Gertrude Stein, dan Salvador Dali. Hanya Ernest Hemingway dan Pablo Picasso saja yang saya tahu. Alhasil, begitu film berakhir saya jadi penasaran setengah mati dan langsung mengubek-ubek Wikipedia untuk mengetahui lebih jauh tokoh-tokoh yang ditampilkan di sini. Intinya, berkat MIP saya menjadi tahu lebih banyak tentang tokoh-tokoh seni terkenal era 20-an. Sebuah film yang bisa memperluas wawasan dan pengetahuan saya, plus dapat pelajaran hidup pula. Semuanya itu saya dapatkan dengan perasaan terhibur. Pokoknya puas lah menikmati Paris dari sudut pandang Allen selama kurang lebih satu setengah jam.
Paris experience yang ditawarkan oleh Allen tidak hanya secara visual, tapi juga musikal. Musik menjadi bagian yang sangat vital dan kuat dalam membangun mood Paris secara utuh. Ditambah hits single dari Cole Porter, Let’s Do It (Let’s Fall in Love) yang dibawakan ulang oleh Conal Fawkes, the soundtrack album exactly must be on my playlist everywhere. Very good choice and arrangement in score and music department.
Dari jajaran cast, jelas Owen Wilson dan Marion Cottilard menjadi fokus utama. Owen akhirnya menemukan peran yang sedikit lebih berbobot ketimbang peran-peran komedik yang selama ini dilakoninya which actually he’s good at. Tapi tidak ada salahnya kan lakon komedik diberi bobot sedikit? Cottilard is the movie’s sweetheart. Sejak breakthrough-nya sebagai Edith Piaf di La Vie en Rose, jelas sekali Cottilard ingin memposisikan dirinya sebagai aktris kaliber award dan dia tahu betul kemampuan aktingnya yang di atas rata-rata. Saya juga bersemangat ketika ada nama Rachel McAdams di jajaran cast-nya, tapi sayang karakternya sebagai tunangan Gil terasa menjengkelkan sekali walau tidak semenjengkelkan perannya di Mean Girls. Well, walau masih kalah menonjol dibanding Cottilard, Rachel boleh lah menjadi pemanis tambahan. Michael Sheen yang memerankan karakter Paul walau tidak sebanyak porsi McAdams, karakternya dapat menjadi lebih menarik. Nama terkenal lainnya yang saya notice di sini adalah Kathy Bates dan Adrien Brody yang memerankan tokoh-tokoh sastra terkenal era 20’an. Salut dengan Bates yang aksen Perancisnya cukup convincing. Sementara Brody juga memberikan impresi tersendiri berkat cara bicaranya.
Rasanya tak pernah cukup bagi saya untuk memuji film ini. Anda harus mengalaminya sendiri untuk bisa tahu betapa saya sangat menikmati MIP sebagai hiburan berbobot tapi terasa ringan dan tidak kacangan. A very great achievement for Woody Allen in both scriptwriting and directing.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, January 25, 2012

The Jose Movie Review - The Help


Diskriminasi sudah ada sejak lama, bahkan sejak jaman sejarah. Negara kita saat ini bukanlah satu-satunya. Bahkan Amerika Serikat pun yang sekarang notabene di atas kertas anti-diskriminasi ras, pernah mengalami masa suram berkaitan dengan diskriminasi, terutama terhadap kaum Afro-Amerika (kulit hitam). Sudah banyak materi tentang diskriminasi terhadap kaum Afro-Amerika diangkat dalam cerita layar lebar, dari yang bergenre drama seperti Men of Honor, Driving Miss Daisy, The Blindside, Monster’s Ball, hingga film action semacam Bad Boys sempat menyinggung kelompok Klux-Klux Klan.

Di tahun 2012 ini, ada satu judul film yang mengangkat tema diskriminasi ras dalam sebuah drama dengan sedikit bumbu komedi. Bukan tipikal komedi konyol-konyolan, tetapi lebih ke komedi cerdas. Salah satu film dengan materi cerita yang kuat walau terkesan sederhana dan digarap dengan sangat baik dari segala aspek. Materi cerita yang kuat mungkin karena cerita ini adalah gambaran nyata tentang apa yang pernah terjadi di Mississipi pada era 1960-an. Sederhana, karena masalah rasial di sini tidak dipandang dari segi politis. Sudut pandang berada pada sekelompok pengasuh bayi (baby sitter) berkulit hitam, yang walau sudah mengabdi kepada sebuah keluarga dari generasi ke generasi namun tetap saja ada beberapa orang yang memperlakukan mereka secara diskriminatif. Mereka tidak boleh menggunakan kamar mandi yang sama dengan majikannya, misalnya. Cerita pengalaman para baby sitter ini kemudian dirangkum oleh seorang jurnalis yang juga pernah mengalami memiliki babysitter kulit hitam, Skeeter.

Sebagai sebuah cerita naratif, The Help mampu menyampaikan cerita dengan baik dan lancar tanpa menimbulkan kebosanan bagi penontonnya. Bahkan dengan tema yang tergolong sensitif, The Help tidak membela salah satu pihak apalagi hal yang ofensif. Tema yang serius dibungkus dalam sebuah drama yang mudah diikuti, bahkan penonton kadang diajak untuk mentertawai tingkah laku karakter-karakternya yang bukan tidak mungkin berarti juga mentertawai diri (penonton) sendiri. Let’s be honest, hingga saat ini pun diskriminasi dalam hal apapun masih terjadi, apalagi di Indonesia. Proporsi antara drama yang menyentuh, drama yang menginspirasi, serta guyonan yang cerdas dan segar, terangkai dengan takaran yang pas. Durasi yang nyaris menyentuh dua setengah jam bisa dilalui tanpa terasa, berkat alur yang semakin lama semakin menarik.

Skrip yang jempolan didukung pula oleh performa aktor-aktornya yang tidak kalah luar biasanya. Bisa dibilang The Help gudangnya karakter-karakter menarik yang bisa dibilang berhasil dibawakan oleh aktor-aktornya. Awalnya sempat skeptis mendengar Emma Stone yang sebelumnya kita kenal sebagai gadis seksi pemberani di Zombieland harus memerankan karakter Skeeter, jurnalis cerdas ala Anne Hathaway di Devil Wears Prada. But I have to admit, she did great, very great performance. Namun tentu saja pusat perhatian sepanjang film adalah Viola Davis yang memerankan Aibileen, sang karakter utama. Jika selama ini penampilannya dalam sebuah film hanya sebagai pemeran pendukung, di sini ia berhasil membuktikan bahwa peran utama di film yang tergolong berbobot dapat dibawakan olehnya dengan amat baik. Octavia Spencer yang memerankan Minny, “sidekick” Aibileen juga tampil tak kalah menarik. Karakternya yang berani dan ceplas-ceplos berhasil mengundang simpatik penonton. She deserves the Oscar nomination, along with Viola Davis and Jessica Chastain. Sedangkan untuk karakter antagonis, Bryce Dallas Howard sebagai Hilly Hollbrook sekali lagi sukses membuat kesal penonton dengan tingkahnya. Layak juga sih sebenarnya kalau ia dinominasikan penghargaan best supporting di actress di ajang apa pun. Tapi tidak mungkin dong satu penghargaan nominasinya semua dari film yang sama? Nanti dikira KKN lagi.

Saya juga ingin memberikan apresiasi khusus untuk tata artistiknya, terutama sekali costume dan set. Warna-warni mencolok khas 60’an berhasil dihidupkan dengan begitu indahnya. One of my favorite era in design style trend. So, tidak heran jika saya merasa sangat termanjakan secara visual sepanjang film.

Dari kekuatan cerita, karakter, dan teknisnya, tak heran jika The Help mampu berbicara banyak di berbagai penghargaan dan bukan tidak mungkin di ajang Academy Awards kelak berhasil menggondol penghargaan di banyak kategori. Kita lihat saja hasilnya bulan Februari nanti.
Lihat data film ini di IMDB. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, January 7, 2012

The Jose Movie Review - New Year's Eve


Sebuah event bisa menjadi inspirasi dalam merangkai cerita film. Dalam memory saya, Love Actually (LA) menjadi film omnibus bertemakan holiday event favorit saya sejauh ini. Tahun lalu sutradara Garry Marshall yang terkenal piawai untuk genre komedi romantis, menyuguhkan eventual-themed-omnibus bertajuk Valentine's Day (VD). Tentu saja nilai jual utamanya adalah deretan nama aktor yang mengisi sepanjang film. Hasil akhirnya pun cukup bagus. Cerita ringan namun dibawakan dengan manis, menyenangkan, dan pada titik-titik tertentu memberikan refleksi menarik bagi penonton. Walau tidak se-memorable LA, VD masih merupakan tontonan yang cukup menghibur buat saya. Akhir tahun 2011, Garry Marshall dan penulis Katherine Fugate kembali mencoba formula yang sama dengan pergantian momen liburan : Tahun Baru. Bagi beberapa orang mungkin akan langsung mencibir New Year's Eve (NYE) sebagai film dengan template yang sama dengan VD. Menurut saya sih memang iya. Tapi menurut saya, template cerita yang sama tidak begitu menjadi masalah selama film tersebut memiliki momen-momen indah yang memorable (dan bikin saya berujar, “awww...”), humor yang menggelitik sehingga tidak terasa membosankan, dan lusinan aktor papan atas baik sebagai pemeran utama maupun sekedar cameo. Begitulah ekspektasi saya ketika hendak menyaksikannya di bioskop, tidak berlebih. I just wanted to feel the sweetness!
Ternyata ekspektasi saya tidak jauh berbeda dengan hasil akhirnya. NYE tampil sebagai film dengan alur cerita serba sederhana, nyaris tidak memiliki “peak” yang begitu dramatis ataupun signifikan, tapi sangat mudah ditemui dalam kehidupan kita sehari-hari. Lebih ringan ketimbang LA maupun VD. Ada sih beberapa twist di ending yang melenceng dari dugaan dan tebakan penonton sejak awal film. Saya kasih sedikit bocoran yah, twist ini tentang siapa wanita yang menggalaukan hati Josh Duhamel!. Faktor ringannya cerita bukan berarti tanpa resiko. Di beberapa bagian di pertengahan film, NYE terasa kelelahan dalam menyampaikan cerita sehingga terasa diulur-ulur hingga puncak. Untung saja humor-humor yang mengisi film, terutama di segmen “persaingan bayi tahun baru” cukup menggelitik sehingga mampu menutupi sedikit kelemahan tersebut. Pidato Claire (Hilary Swank) tentang refleksi tahun baru juga menjadi adegan paling memorable sepanjang film. Very touching and inspiring!
NYE menyorot perayaan pergantian tahun di New York, entah karena kebetulan mempunyai kemiripan nama dengan perayaan itu sendiri atau karena landmark ceremonial-nya yang konon katanya menjadi simbol harapan bagi seluruh dunia. Sayangnya, prosesi penjatuhan bola lampu raksasa di Times Square yang sejak awal digadang-gadang menjadi puncak perayaan pergantian tahun, malah tidak ditampilkan di layar sama sekali. Terkesan sepele sih, tapi buat saya ini justru membuat NYE kehilangan puncak filmnya.
Dari deretan cast yang dipenuhi aktor papan atas Hollywood, semuanya tampil semaksimal mungkin sesuai dengan porsinya. Yang paling menonjol aktingnya buat saya adalah Halle Berry, Hilary Swank, dan Michelle Pfeiffer. Wanita semua? Iya, entah kenapa aktor-aktor prianya tidak diberi porsi akting yang cukup untuk mengeluarkan segenap kepiawaian akting mereka. Rata-rata ditampilkan untuk sekedar sebagai Prince Charming yang bertugas menebar kebahagiaan bagi karakter-karakter wanitanya, seperti yang ditunjukkan oleh Zac Efron dan Josh Duhamel. Jon Bon Jovi yang bisa dibilang sebagai satu titik temu semua karakter yang ada, tidak begitu mengesankan selain penampilannya di panggung. Apalagi Ashton Kutcher yang juga dipasang Marshall di VD, seperti sekedar pemanis saja. Mungkin hanya Robert DeNiro yang mampu mengundang simpatik bagi penonton. Lea Michele yang angkat nama lewat serial Glee walau porsinya tidak begitu banyak namun penampilannya di panggung membawakan New Year Anthem, Auld Lang Syne.
Soundtrack yang menjadi faktor pendukung menariknya film setipe ini, terasa kurang ditampilkan di sini. Memang ada Jon Bon Jovi dan Lea Michele yang menyumbangkan suaranya dengan 3 lagu yang menarik, tapi hanya itu saja. Sisanya, tidak ada soundtrack yang begitu catchy sepanjang film. Jujur, jajaran soundtrack VD masih lebih variatif dan catchy ketimbang NYE.
Well finally, nikmati saja NYE sebagai film hiburan ringan dengan lusinan aktor ternama sebagai suguhan utamanya, tanpa ekspektasi apa-apa. Just feel the sweetness! Happy New Year!!!
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Sherlock Holmes - A Game of Shadows


Guy Ritchie adalah salah satu sutradara Hollywood favorit saya karena ciri-ciri khas dalam film-filmnya, seperti Lock, Stock, and Two Smoking Barrels, Snatch, dan Rock n’ Rolla. Agak kaget juga ketika pertama kali tersiar kabar bahwa ia akan menyutradarai film pertama dari franchise modern Sherlock Holmes (SH), mengingat filmografi sebelumnya bukan tipikal film mainstream. Ketika melihat hasilnya, Ritchie terbukti cukup berhasil membawa kisah SH menjadi menarik untuk diikuti, dengan gayanya sendiri. Tidak seidealis biasanya sih, tapi masih di atas rata-rata tipikal film mainstream Hollywood. Dua tahun kemudian, Ritchie kembali menangani sekuelnya yang diberi sub-judul A Game of Shadows (GOS). Sounds cheesy sih menurut saya, tak heran jika saya sering salah menyebutnya menjadi The Book of Shadows, sub-judul sekuel The Blair Witch Project. Namun dengan promo yang cukup gencar dan review positif yang lebih banyak saya temui ketimbang negatifnya, saya menjadi semangat menyaksikannya dengan ekspektasi yang cukup tinggi.
Saya cukup menyesal sudah mengeset ekspektasi yang terlalu tinggi. Begitu film berakhir, saya hanya bisa bergumam dalam hati, “well, it's not that good anyway. I still like the first better.” Entah, saya juga tidak bisa mengerti bagaimana pendapat saya bisa berbeda sekali dengan penonton lain yang bahkan menyebutnya sebagai film terbaik tahun 2011.
Baiklah, saya akan memulai dengan hal positifnya dulu saja yah. Di installment ini, hubungan dan kedekatan emosi antara Holmes dan Watson mengalami peningkatan ketimbang sebelumnya. Kita bisa merasakan sekali hubungan persahabatan yang unik dan mendalam antara keduanya di sini. Selain itu, karakter Holmes sendiri terlihat lebih menarik dan lebih cerdas ketimbang di seri sebelumnya. Tentu saja hal ini turut dipengaruhi oleh kemampuan akting Robert Downey Jr. Bagi fans berat SH yang orisinil mungkin banyak yang tidak menyukai karakter Holmes versi Ritchie yang ke-Jack Sparrow-Jack Sparrow-an. Berbeda sama sekali dengan versi novelnya. Saya pribadi sih tidak keberatan, walau saya juga menyetujui dengan keluhan, “kenapa sih karakter-karakter jaman sekarang harus menjadi seperti Jack Sparrow supaya menarik?”.
Sama seperti installment sebelumnya, GOS juga menghadirkan ciri khas Ritchie : detail adegan yang diextreme-expose, seperti misalnya adegan penembakan meriam yang ditampilkan tiap detail langkah-langkahnya. Untuk gaya yang satu ini tidak mengganggu saya sih. Ada juga teori analisis dari Holmes yang disampaikan dalam bentuk adegan. Nah, gaya yang terakhir ini memiliki kelemahan buat penonton, apalagi jika pace keseluruhan film tergolong cepat. Bisa-bisa membingungkan penonton untuk membedakan mana yang benar-benar terjadi, mana yang hasil analisis Holmes. Nah iya, pace keseluruhan film adalah kelemahan utama film, terlalu cepat buat saya dan sepanjang film di-treatment dengan pace yang sama, yang pada akhirnya melelahkan buat saya. Bukannya saya tidak bisa mengikuti alurnya karena walau sempat bingung di beberapa adegan, saya mengerti bagaimana keseluruhan alurnya di akhir cerita. Hanya saja saya merasa kelelahan dan terkadang sampai pada titik jenuh untuk mengikutinya. Kesannya sih cerdas yah, tapi kalau diteliti dialog-dialog battle of wits yang terkesan cerdas antara Holmes dan Moriarty sebenarnya biasa saja, justru mengarah ke “bertele-tele”. Untung saja Ritchie membungkusny dengan balutan adegan-adegan aksi dan ledakan yang juga cepat sehingga penonton yang tidak begitu mempedulikan detail alur cerita tetap bisa terhibur.
Saya juga merasakan ada banyak plothole, terutama ketika saya berusaha merunut alurnya kembali setelah film selesai. Namun lebih baik saya tidak menjabarkannya di sini supaya tidak menjadi spoiler buat yang belum nonton.
Kelemahan di alur mampu ditutupi dengan baik oleh performa para aktornya. Selain Downey Jr. dan Law, Noomi Rapace yang angkat nama sejak Millennium Trilogy (The Girl with the Dragon Tattoo) versi asli, berhasil mencuri perhatian sepanjang film walaupun auranya masih belum bisa menggantikan aura Irene Adler (Rachel McAdams) yang di sini hanya tampil sedikit di awal film. Jared Harris sebenarnya memberikan performa terbaik sebagai Prof. Moriarty. Hanya saja karakter yang sebenarnya jenius ini gagal mengundang simpatik penonton yang sama dengan karakter villain sejenis, seperti Joker (The Dark Knight) misalnya.
Overall, kualitas GOS masih di bawah installment pertamanya. Namun sebagai hiburan murni, jika Anda tidak melibatkan intelektualitas, mungkin Anda dapat lebih menikmati “permainan bayangan” yang disuguhkan oleh Ritchie di sini. Saya sendiri masih berharap di installment berikutnya akan terjadi perbaikan terutama pada segi alurnya.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates