Galih dan Ratna

The Indonesia's very own romantic couple has been reborn to the millenial era.
Opens March 9. Read more.

Moammar Emka's Jakarta Undercover

The Jakarta's famous night life is going to be a hype one more time!
Read more.

Kong: Skull Island

The giant King Kong roars again!
Opens March 8. Read more.

Logan

Hugh Jackman to portray Wolverine for one last time.
Read more.

Beauty and the Beast

Disney to bring the classic magical animation to live action with Emma Watson!
Opens March 17.

Thursday, October 27, 2011

The Jose Movie Review - The Perfect House


Dari judul dan posternya, mungkin The Perfect House terkesan seperti sebuah film asing. Memang sih harus diakui, posternya tampak sangat menjual. Desain yang terkesan elegan ditambah tipografi titel yang dibuat ambigram, membuat penasaran siapa pun yang melihatnya. Setelah membaca sinopsis dan melihat trailernya, (saya) semakin antusias lagi untuk segera menyaksikannya secara langsung. Sinopsisnya sih sederhana dan pendek, tapi saya yakin ada banyak yang tidak disampaikan di sinopsisnya, yang justru membuat film menjadi menarik untuk diikuti hingga akhir.
Sebagai sebuah produksi Indonesia, terasa sekali The Perfect House disiapkan dengan sangat matang, baik dari segi desain produksi maupun naskah. Terutama untuk desain produksi yang menjadi kekuatan utama film. Setting rumah ala jaman Belanda lengkap dengan perkakas-perkakas serta kostum vintage penghuni-penghuninya berhasil menampilkan suasana tersendiri. Terkesan mengerikan tapi indah. Mungkin ada pula yang teringat dengan Rumah Dara ketika menyaksikannya, apalagi karakter Madame Rita (Bella Esperance) yang mengingatkan sekali akan Ibu Dara (Shareefa Danish). Tapi berbeda sekali koq dengan film slasher yang cukup sukses di kancah internasional itu. Tak heran jika VL Production yang menggarap film ini berani mengklaim sebagai PH yang memproduksi film-film nasional dengan standar internasional. Hasilnya cukup bagus dan cukup membuktikan klaim-nya.
Sebenarnya dari segi cerita, tidak ada yang terlalu istimewa. Bagi pecinta film sejenis, teka-teki yang disodorkan dapat dengan mudah terjawab. Malahan menurut saya ada beberapa plot hole yang memang tidak terlalu mengganggu keseluruhan cerita sih, tapi tetap saja terasa aneh bagi saya. Namun cerita tersebut dirangkai dengan rapi dan dengan ritme yang enak untuk diikuti. Mungkin Anda bakal kecewa jika mengharapkan banyak adegan yang bikin jump-off-the-seat atau adegan gore. The Perfect House adalah tipikal thriller yang membangun ketegangan (dan juga kengerian) tidak melalui adegan dahsyat, tapi justru dari alur cerita, akting para pemerannya, dan juga suasana ngeri dalam kesunyian. Intinya, thriller psikologis gitu lah. Membosankan? Tidak juga, menurut saya. Walaupun saya sudah sering mengalami alur film sejenis dan yah… bisa lah sekedar menduga-duga jawaban dari teka-teki yang disodorkan, saya sangat menikmati alur yang ada. Suatu kelebihan dari skrip, menurut saya. Kepiawaian penyutradaraan dari Affandi Abdul Rachman, editing yang pas, serta score music yang mendukung suasana merinding dari langganan score film-film bermutu Indonesia, Aghi Narottama, menjadikan The Perfect House sebuah produksi yang baik dari segi teknis.
Departemen akting juga layak mendapatkan kredit tersnediri karena mampu memberikan kualitas yang baik dari tiap karakternya. Endy Arfian yang memerankan karakter kunci, Januar, adalah kuda hitam. Ganteng, lucu, cerdas, namun siapa sangka bisa juga tampil mengerikan. Jadi teringat Damien Omen deh, tapi tentu saja dengan gaya yang berbeda. Bella Esperance sebagai Madame Rita juga menjadi “ratu” sepanjang film. Aktingnya bisa dibilang yang paling menonjol dari semua karakter yang ada, tentu saja tak lepas dari skrip yang memang membebankan banyak untuk karakter ini. Lucock memainkan peran Yadi yang tak banyak bicara sepanjang film, sebenarnya bisa menjadi karakter yang menarik jika saja diberi pengembangan yang lebih. Cathy Sharon juga memberikan performa yang di atas rata-rata penampilanya di film-film sebelumnya. Yah, mungkin karena selama ini tidak ada film serius yang pernah dimainkannya. Uniknya, karakter yang dimainkan Cathy di sini mirip dengan karakter Ladya yang dimainkan oleh adiknya, Julie Estelle di Rumah Dara. Bahkan karakter yang dimainkan Cathy di sini bernama Julie. Satu lagi alasan kenapa lantas The Perfect House kerap dibanding-bandingkan dengan Rumah Dara, padahal memiliki genre yang berbeda. Balik ke cast… terakhir, Alm. Wanda Nizar yang baru saja meninggal dunia karena sakit, walau tak banyak diberikan kesempatan, namun cukup berkesan.
Secara keseluruhan, The Perfect House memang bukanlah produksi besar dengan hasil fantastis. Namun dengan segala kualitas unggul yang dimilikinya dan berhasil sebagai drama thriller psikologis, masih sangat layak untuk disaksikan dan memberikan warna tersendiri bagi perfilman Indonesia di mata internasional.
Lihat official website film ini

The Jose Movie Review - The Three Musketeers (2011)


The Three Musketeers bakal di-remake! Asiikkk!!! Itulah reaksi saya ketika pertama kali mendengar kabar ini. Menurut saya sih, The Three Musketeers adalah kisah sejarah (eh bukan yah?! Cuma cerita legenda aja yah?!) yang punya karakter-karakter keren; Athos, Aramis, Porthos, dan tentu saja d’Artagnan. Belum lagi motto All for One, One for All yang melegenda. Ketika saya kecil, cerita The Three Musketeers versi Mickey Mouse dan juga versi Stephen Herek (1993) sangat berkesan. Lalu ketika menyaksikan trailernya… Hmmm… artistik, kostum, set, dan adegan-adegan actionnya keren sih, apalagi in 3D! Namun tetap saja nafsu saya untuk menyaksikannya tergolong biasa saja, karena dari trailernya saja sudah terlihat bakal seperti apa versi yang satu ini. Siap-siap saja menyaksikan adegan aksi ala Resident Evil yang khas dengan slow motion-slow motionnya dan adegan-adegan stunt yang dilakukan Milla Jovovich. Agak maksa jika ditilik dari setting cerita aslinya.
Ternyata apa yang saya bayangkan sebelum menyaksikannya secara langsung kurang lebih sama dengan kenyataan. Paul W.S. Anderson memang benar-benar membawa adegan-adegan aksi khas Resident Evil-nya ke dalam kisah klasik karya Alexandre Dumas ini. Yang paling jelas terasa adalah karakter Milady yang diperankan istri si sutradara, saya seperti sedang menyaksikan Alice Resident Evil yang kesasar di abad 17. Mungkin bagi pecinta kisah orisinilnya susah untuk menyukai versi yang satu ini. Anderson serasa kurang ajar sudah memperkosa kisah cerita seklasik itu menjadi film ala blockbuster penuh aksi dengan gadget-gadget yang terasa tidak pada hakekat jamannya. Yang lebih parah adalah pemutar-balikan karakter-karakter yang ditampilkan, menurut saya sih… Contoh yang paling jelas adalah Logan Lerman yang terasa terlalu muda dan terlalu imut-imut untuk memerankan d’Agtarnan. Belum lagi karakter Raja Louis XIII yang lebih seperti pesolek metroseksual (mau bilang “banci” sih tapi koq kesannya kebangetan, hehehe…). Di bayangan saya sih harusnya tidak beda jauh dengan karakter anaknya, Louis XIV yang diperankan Leonardo DiCaprio di The Man in The Iron Mask. Flamboyan, angkuh, arogan, menyebalkan, tapi tidak sengondek seperti yang dibawakan oleh Freddie Fox di sini. Singkatnya, Anderson telah membawa kisah The Three Musketeers ke dalam Twilight mode untuk urusan karakter! Iugh…!!!
Oke let’s make our eyes blinded as we’ve never known the story of The Three Musketeers before, what would have we got? Hmmm… not bad actually. Setidaknya masih entertaining lah untuk sekedar menghabiskan waktu luang. Adegan-adegan aksinya cukup menghibur dan seru, terlepas dari kejanggalan-kejanggalan yang ada. Seketika wajah imut Lerman berubah ketika karakternya mulai memainkan pedang dengan tangkas. Hahahaha… believe it or not, tanpa bermaksud judging yah, tapi menurut saya wajah imut itu tidak matching dengan kemampuan pedangnya. Well, anyway adegan pertarungan pedang di akhir film antara d’Artagnan dan Rochefort menurut saya (lagi nih…), adalah adegan pedang yang top notch sepanjang film.
Untuk jejeran cast, sayang sekali karakter-karakter utama yang dijadikan titel tidak terlalu diberi ruang untuk berkembang dan diperankan oleh aktor-aktor yang kurang dikenal (dibandingkan nama-nama aktor yang justru ditampilkan di materi-materi promosinya). Contoh yang paling jelas terlihat adalah plot hubungan antara Athos dan Milady yang seharusnya bisa jadi lebih menarik, sayang hanya dibiarkan begitu saja berakhir tanpa digali lebih dalam. Porsi terbanyak diberikan kepada d’Artagnan. Malahan porsi Louis XIII, Milady, dan Richelieu masih di atas Athos, Porthos, dan Aramis. Sebagai d’Artagnan, sebenarnya Lerman tidak tampil buruk. Namun seperti yang sudah saya sampaikan di paragraph sebelumnya, he’s just too cute and too young to play that character. Jadi ya terasa miscast saja. Milla Jovovich… hmmm biasa saja, tidak beda sama sekali dengan karakter Alice. Andai saja Milla bukan istri Anderson, mungkin ada aktris lain yang lebih cocok memerankan Milady. But it’s still okay lah. Orlando Bloom sebagai Duke of Buckingham yang mungkin dinanti-nantikan kemunculannya oleh kaum hawa ternyata tampil tak banyak dan simply replaceable by any actors. Mungkin jika kelak ada sekuelnya (dan tampaknya memang ada jika melihat adegan paling akhir dari film), karakternya bakal berperan lebih banyak. Kekuatan akting yang paling saya favoritkan sepanjang film justru Christoph Waltz yang sebelumnya pernah memenangkan Oscar untuk peran Hans Landa yang unforgettable itu di Inglourious Basterds. Karakter Uskup Richelieu menjadi lebih menonjol ketimbang karakter yang sama di versi Three Musketeers manapun sebelumnya.
Departemen yang paling layak mendapat pujian adalah untuk penataan kostum dan lokasi. Very beautiful! Tata suara juga patut mendapatkan kredit tersendiri karena telah memberikan performa yang dahsyat, seperti pada suara ledakan dan tembakan meriam.
At least, nikmati saja sebagai sebuah film blockbuster ringan semata. Jangan mengharapkan sebuah film bertema abad pertengahan yang akurat dan epic. Toh Anderson memang membuat versi ini hanya untuk senang-senang, bukan untuk mengejar penghargaan ataupun menjadikan filmnya menjadi klasik. Oh iya, untuk yang penasaran versi 3D-nya, tidak semenonjol versi trailernya koq. So, no need to spend more for the 3D version.
Lihat data film ini di IMDB

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates