5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies

What if Ario Bayu, Muhadkly Acho, Arifin Putra Dwi Sasono, and Cornelio Sunny play dumb and fight the zombies?
Opens Dec 14.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

After glorious trip worldwide, the latest feminist heroine from Mouly Surya comes home.
Read more.

Justice League

The DC superheroes are finally united, bringing justice for all.
Read more.

Star Wars: The Last Jedi

What path Rei will choose? The Jedi or the Sith?
Opens Dec 15.

Chrisye

Witness the side of Indonesian music legend you never know before.
Opens Dec 7.

Friday, August 26, 2011

The Jose Movie Review - Kungfu Panda 2


Sejak memutuskan untuk tidak melanjutkan franchise Shrek, DreamWorks mencari franchise lainnya untuk dijadikan tambang emas mereka. Salah satunya yang paling berpotensi adalah Kungfu Panda yang seri pertamanya meraup sukses luar biasa dan membuat banyak orang jatuh cinta dengan karakter Po. Tak heran lantas DreamWorks merilis seri keduanya tiga tahun kemudian. Saya sendiri sih cukup menikmati seri pertamanya dan termasuk yang menunggu-nunggu installmetnt berikutnya, sebagaimana saya juga menikmati animasi-animasi DreamWorks lainnya.
Seperti biasa, setiap installment selalu dimunculkan karakter baru sehingga tampilan film lebih fresh, selain tentu saja jalan cerita yang tak kalah menariknya. Di sini jelas ada karakter antagonis baru, Shen si merak yang disuarakan oleh spesialis peran antagonis, Gary Oldman, mengingat karakter antagonis dari seri sebelumnya, Tai Lung, diceritakan telah tewas. Selain itu ada pula Soothsayer (disuarakan Michelle Yeoh) sang peramal, Master Ox, Master Crocs, dan Master Rhino.
Secara keseluruhan, Kungfu Panda 2 memberikan lebih banyak hal untuk ditertawai, kebanyakan sih berupa humor-humor slapstick. Lebih banyak aksi pula, bahkan lebih dari ¾ film berisi adegan pertarungan. Sisanya, unfortunately to say, nothing. Oke memang ada moral of the story, “it's what you want to be in the future, not what you were in the past”, tapi sayangnya esensi itu hanya sampai pada dialog saja, tidak terlalu terimplementasi pada film keseluruhan. Kesannya seperti, “Ok, I've got this main idea, please develop it into a whole story”, tapi penulis cerita kebingungan mau dikembangkan ke mana. Maka yang mereka lakukan adalah memasukkan adegan-adegan aksi dan komedik sepanjang film, sementara esensi utama tersebut hanya mereka selipkan di satu baris dialog saja. Intinya, penggarapan skenarionya terkesan seperti diselesaikan dengan tergesa-gesa. Cukup disayangkan sih. Gara-gara hal ini, pencapaian cerita dan esensi menjadi tidak semenarik yang pertama. Tentu saja hal ini tidak akan menjadi masalah bagi penonton yang hanya berorientasi pada hiburan semata. It's just like watching Mr. Bean's comedic act, with martial arts, nothing else.
Kelemahan script ini pula lah yang turut mempengaruhi perkembangan karakter-karakternya. Sepanjang film hanya Po dan Tigress saja lah yang menonjol sepanjang film, sementara karakter-karakter protagonis lainnya terkesan hanya pendukung (atau lebih tepatnya “tempelan”) saja. Ketidak seriusan penggarapan juga terlihat pada credit title yang biasanya dibuat atraktif, di sini hanya tulisan kredit dan siluet-siluet khas China biasa.
Untung saja selain aksi dan komediknya, Kungfu Panda 2 juga diselamatkan efek 3D nya yang sangat memuaskan. Tidak hanya detail gambar set yang mengagumkan, tetapi juga mampu berinteraksi dengan penonton, seperti anak-anak panah yang terkesan mengarah ke penonton. Efek 3D yang tidak banyak ditawarkan akhir-akhir ini. Durasi yang relatif pendek juga menjadi penyelamat film ini sehingga tidak terjerumus menjadi membosankan, seperti yang terjadi pada Transformers 3.
Overall, sebagai hiburan sejenak Kungfu Panda 2 boleh lah menjadi tontonan yang menghibur, tapi tidak akan memorable dalam jangka panjang seperti seri pertamanya.
Lihat data film ini di IMDB









Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Fast Five


The Fast and The Furious di mata saya adalah sebuah franchise film aksi murni hiburan yang sukses mempertahankan tingkat tensi ketegangan (baca : adrenalin) di tiap serinya. Tidak hanya adegan aksinya saja, tetapi juga melalui musik pendukung yang ear-catchy dan tentu saja wanita-wanita seksi pemanis mobil-mobil indah. Kalau dari segi plot cerita, bisa dibilang selama ini hanya seri pertama dan ke-empat-nya saja yang digarap dengan rapi, sedangkan yang ke-2 dan ke-3 terasa seperti spin-off. Jika Fast and Furious (seri 4) secara timeline cerita merupakan prekuel dari Tokyo Drift, maka Fast Five adalah sekuel langsung dari seri 4. Ini sangat jelas terlihat dari adegan pembuka Fast Five yang melanjutkan langsung dari ending Fast and Furious.
Terjadi sedikit pelencengan cerita dari seri-seri sebelumnya yang lebih terfokus pada ajang balapan liar yang sering berujung aksi kriminalitas seperti pencurian mobil-mobil kelas atas, kali ini dimasukkan unsur-unsur heist ala Danny Ocean atau Italian Job. Baiklah, mungkin dalam berbegai segi, Italian Job lah yang terasa paling mirip. Uniknya, beberapa tahun lalu sempat tersiar rencana untuk melanjutkan kisah Italian Job dengan judul Brazilian Job. Namun karena terlalu lama proyek ini tak juga kunjung direalisasikan, maka ide ceritanya sudah dipakai duluan untuk Fast Five ini. Kalaupun proyek Brazilian Job tetap berjalan, maka penulis ceritanya memiliki banyak kesulitan karena penonton akan otomatis membanding-bandingkannya dengan Fast Five yang boleh dibilang cukup memuaskan fans film action pemompa adrenalin.
Secara garis besar, Fast Five masih mampu mempertahankan keseruan yang sudah menjadi image franchise ini. Adegan kejar-kejaran yang ditampilkan terasa ditata dengan sedemikian rupa sehingga mampu memacu adrenalin penonton. Yah, memang ada banyak adegan ketidak-masuk-akal-an secara fisika, terutama “bagaimana mungkin brankas seberat 10 ton mampu ditarik oleh dua mobil balap, dengan jarak yang cukup jauh?”. Tapi sudahlah, untuk film murni hiburan seperti ini, tampaknya memang harus membekukan otak logika kita untuk bisa benar-benar menikmatinya.
Jika di seri empat sudah cukup terpuaskan dengan kembalinya karakter-karakter utama dari seri aslinya, maka di seri lima ini semakin banyak karakter-karakter pendukung yang pernah muncul di seri-seri sebelumnya ikut meramaikan permainan “heist” ini. Sebut saja Vince dari seri pertama, Roman Pearce dan Tej dari 2 Fast 2 Furious, Han dari Tokyo Drift, yang juga sempat tampil di seri empat, Gisele, Tego, dan Rico dari seri empat. Kesemua karakter pendukung yang tergabung dalam tim ini mampu ditampilkan secara seimbang sepanjang film. Masih ditambah karakter utama protagonis Luke Hobbs yang diperankan Dwayne Johnson dan Elena Neves yang diperankan Elsa Pataky, mampu menghadirkan daya tarik lebih untuk seri ini.
Selain logika, bagian lain yang hilang dari seri-seri Fast and Furious sebelumnya adalah soundtrack-nya yang dahsyat. Jika seri empat memiliki kumpulan soundtrack-soundtrack keren sehingga layak koleksi, maka Fast Five sangat “hemat” soundtrack. Hanya ada tiga single yang bener-bener catchy sepanjang film; Desabafo/Deixa Eu Dizer (by Marcelo D2/Claudia), Danza Kuduro (Don Omar feat. Lucenzo), dan Furiously Dangerous (Ludacris feat. Slaughterhouse). Jadi kangen Pitbull yang meramaikan soundtrack sebelumnya deh.
Di tengah-tengah credit title terselip sebuah adegan yang bisa dibilang sebagai sneak peek dari apa yang akan mereka sajikan di installment berikutnya. Seperti apa itu? Ga mau spoiler ah... Yang pasti saya berharap installment berikutnya tidak dipaksakan dari segi cerita, gara-gara cuplikan tersebut.
Ada satu anekdot yang menarik buat saya dari Fast Five. Di satu adegan, Reyes menyebutkan mengapa Portugis sukses menjajah Brazil, sementara Spanyol tidak. Spanyol datang dan berupaya menguasai Brazil dengan kekerasan, sementara Portugis datang dengan membawa barang-barang yang tidak dimiliki Brazil hingga ketagihan. Otomatis Brazil menjadi sangat tergantung dari bangsa Portugis. Saya jadi ingat betapa orang Indonesia sedang “dijajah” Amerika dengan cara yang sama saat ini. Saya jadi ingat generasi muda Indonesia yang protes ketika film Hollywood bermasalah di Indonesia, tanpa mau tahu kasus yang sebenarnya. It's a wake up call for us!
Lihat detail film ini di IMDB


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 21, 2011

The Jose Movie Review - Battle : Los Angeles


Butuh waktu seminggu buat saya menetralisir trauma saya akan film aksi perang setelah menyaksikan Transformers 3. Akhirnya, saya memutuskan untuk siap menyaksikan film aksi perang lainnya. Kali ini yang menjadi pilihan saya adalah Battle : Los Angeles (BLA) yang urung tayang saat awal-awal kisruh pajak film impor. Ekspektasi saya tak banyak karena saya tahu tipe seperti apa film ini : murni hiburan. Saya yakin tidak akan seburuk Skyline, walau juga tidak akan selegendaris ID4 atau District 9.
Sebagai film murni hiburan yang memang menjual adegan aksi perang seperti ledakan dan tembak-tembakan, BLA sukses menghibur. Adegan-adegan aksi yang disajikan cukup menegangkan dan seru. Ada banyak momen ketegangan yang berhasil mengaduk-aduk emosi saya, walau hanya berlangsung secara instant, tidak akan berbekas lama dalam ingatan saya. Nevertheless, good work on tense-maintaining.
Lupakan cerita karena tidak ada sesuatu yang baru di sini, semuanya sudah pernah kita dengar dari cerita alien sejenis. Titik beratnya mirip dengan War of The Worlds, dimana tidak dijelaskan secara gamblang tujuan dari serbuan alien tersebut ke bumi. Anyway, alien kalau mau nyerang bumi ya serang aja, ngapain pakai permisi segala, bahasanya aja nggak ngerti. Sepanjang film kita hanya diberikan informasi minim dari sudut pandang para anggota marinir yang hanya do their duties, nothing more. Nah, sudut pandang tentara marinir inilah yang mungkin bisa dibilang baru diangkat untuk film bertemakan alien. Yah anggap saja seperti Black Hawk Down dengan musuh yang lebih netral dari kambing hitam : alien.
Sub-plot yang paling menarik bagi saya justru tentang pergulatan batin karakter Sgt. Michael Nantz (Aaron Eckhart) yang harus menghadapi tuduhan tidak mengenakkan : membiarkan anak-anak buahnya tewas dalam medan perang sebelumnya. Penonton digugah untuk berpikir betapa selama ini kita dengan mudah men-judge seseorang padahal kita tidak tahu seperti apa situasi sebenarnya yang dialami orang tersebut. Mencoba berpikir dari sudut pandang seseorang yang mengalaminya langsung adalah hal yang bijaksana di sini. Well, thank you BLA for reminding me about this!
Untuk jajaran cast-nya, tak banyak nama terkenal di sini selain Aaron Eckhart (Harvey Dent di The Dark Knight), Bridget Moynahan (Rachel di Coyote Ugly), Michelle Rodriguez (Letty di franchise Fast & Furious), Michael Peña, dan… Ne-Yo! Yap, hip hop artist itu mencoba sekali lagi main film setelah Stomp The Yard. Tidak banyak perkembangan karakter di sini, tapi karakter Michael Nantz yang paling menonjol. Akting Eckhart pun cukup baik membawakan karakter dengan beban mental yang sudah saya jelaskan di paragraph sebelumnya. Sementara itu hubungan ayah-anak antara Joe-Hector Rincon cukup lah menyentuh sejenak, walau tak sampai membuat mata berkaca-kaca.
Saya rasa saya tidak perlu membahas segi special fx yang memang sudah mumpuni (Hollywood gitu lho, bukan barang baru lagi yang namanya special fx). Tidak ada fx baru tapi cukup pada porsinya. Divisi sound fx bekerja cukup baik dalam memompa emosi dengan dentuman ledakan dan tembakan yang crispy di tiap kanal surround-nya. Score juga cukup memberikan emosi tepat pada porsinya, walau juga tidak terlalu bergema dalam ingatan penonton terus-menerus.
Yah, sebagai film hiburan bolehlah dibilang bagus, walau seperti yang sudah saya tulis di headline : tidak ada yang istimewa. Nikmati saja adegan ledakan-ledakan dan tembakan-tembakan yang seru sepanjang film.
Lihat data film ini di IMDB
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Diary of A Wimpy Kid 2 : Rodrick Rules


Ada yang sudah pernah menyaksikan Diary of A Wimpy Kid (DAWK) sebelumnya atau membaca novel-novelnya yang unik? Suka? Kalau iya, Anda pasti menyukai seri yang satu ini. Belum pernah nonton atau baca buku nya? Well, saya sarankan untuk melakukannya. Baiklah, akan saya jelaskan kenapa saya begitu suka dan ketagihan dengan seri DAWK.
DAWK mengangkat problematika anak-anak SD yang akan memasuki dunia baru : dunia SMP. Lewat seri ini saya baru menyadari betapa sebenarnya lebih sulit masa-masa tersebut ketimbang masa-masa SMA dimana adalah transisi remaja ke dewasa. Masa transisi dari anak-anak ke remaja-lah yang sebenarnya lebih drastis ketimbang transisi remaja ke dewasa. Dari anak-anak yang tidak terlalu berpikir untuk tampil keren, yang penting senang bermain-main, menjadi remaja yang sarat akan tuntutan sosial. DAWK mengangkat masa-masa ini dengan begitu cerdas namun menggelitik. Jadi ingat masa-masa awal SMP dulu…
DAWK mengangkat beberapa tokoh utama dengan berbagai keunikannya; Greg yang cerdas, berpikir lebih dewasa dari anak-anak seusianya namun tetap saja masih sering naif, Rowley yang jiwanya masih kekanakan namun pada akhirnya dianggap keren oleh teman-temannya, dan Fregley yang tingkat keanehannya sudah maksimal (saya sulit menjelaskannya di sini, lebih baik lihat sendiri saja). Selain teman-temannya, Greg juga memiliki keluarga yang… oke bagi kita semua adalah keluarga yang normal, namun bagi Greg, mereka sangat menyiksa. Terutama adalah Rodrick, abangnya yang seorang anak band, yang sering nge-push Greg. Ibunya yang seorang kolumnis rubrik keluarga di surat kabar, dan ayah nya yang berusaha tegas namun tetap kelihatan konyol. Terakhir, adik bungsunya yang masih balita, Manny, yang bagi Greg sok lugu tapi niatnya jahat.
Berbagai kejadian diangkat berkisar orang-orang tersebut yang justru bagi saya, ceritanya menjadi sangat menarik. Untuk seri kedua ini, hubungan abang-adik antara Greg dan Rodrick yang menjadi tema utama film, selain tentu saja perkembangan karakter Greg yang (seharusnya) semakin matang dalam berpikir. Menarik sekaligus (sangat) menghibur. Dengan tema-tema seperti ini, DAWK adalah tontonan aman yang sangat menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga. Nilai-nilai dalam keluarga dan juga persahabatan menjadi bonus bagi perkembangan kepribadia kita.
Jajaran cast yang tidak berubah dari seri pertamanya, semuanya seperti memerankan diri sendiri. Mungkin karena karakter-karakter yang dimainkan sudah terlalu kuat menancap dalam benak fansnya. Menurut saya hal ini lah yang menjadi salah satu faktor keberhasilan seri DAWK, selain tentu saja premise ceritanya.
Dengan hadirnya DAWK 2 yang konsisten mengusung positivitas seri pertamanya, saya pun tidak sabar untuk terus mengikuti kisah Greg, keluarga, dan teman-temannya baik dalam bentuk buku maupun film. Semoga saja seiring dengan bukunya, versi filmnya juga terus diproduksi dengan konsitensi dalam berbagai aspek tersebut.
Lihat data film ini di IMDB
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 14, 2011

The Jose Movie Review - Transformers : The Dark of The Moon


First of all, saya sudah trauma dengan Transformers 2 yang menurut saya degradasi besar-besaran dari yang pertama. Cukup alasan sebenarnya untuk tidak tertarik menyaksikan yang ke-3. Namun Michael Bay dalam sebuah press release mengakui bahwa TF2 merupakan kesalahan besar, bahkan sampai hari H syuting saja tidak ada skrip yang tetap. Dia juga berjanji bahwa seri ke-3 ini akan lebih baik karena skripnya sudah disiapkan dengan baik. Ok, I’d give him another shot. So there I was, watching TF3, with not so big expectation, and I watched it in 3D, so at least I still could enjoy the 3D effect, if the rest was the worst.
Okay, so the 3D effect was good. Kedalaman gambar terasa sekali, walau tidak ada “interaksi” dengan penonton tapi saya cukup puas dengan gambarnya. Hanya itu saja yang bisa saya puji dari film ini. Sisanya… hmmm… saya buat dalam susunan poin yang rapi saja yah biar tidak terlalu membosankan bacanya :
  • Yang paling mengganggu sepanjang film menurut saya adalah cara film menyampaikan ceritanya. Bay seperti anak delapan tahun yang asyik sendiri bercerita melalui mainan-mainan action figure dan miniaturnya, tanpa mempedulikan adanya penonton yang harus diceritai. Setiap adegan muncul bertubi-tubi tanpa jelas ada apa sih yang sedang ada di layar. Adegan hancur-hancuran kota, melibatkan robot-robot yang tampak mirip satu sama lain : seperti terakit dari sampah besi-besi tua bekas. Diperparah, adegan-adegannya di-cut lompat-lompat yang semakin mengaburkan kejelasan adegan. Belum lagi…
  • Durasinya kepanjangan yang semakin melelahkan saya sebagai penonton yang mencoba untuk menikmati adegan yang tersaji. Serius, Bay… ngapain sih bikin film murni hiburan sepanjang itu? Tidakkah Anda belajar dari seri-seri sebelumnya? Next..!
  • Bay sama sekali tidak memiliki sense of emotion sebagai sutradara. Setiap adegan yang muncul, entah kenapa terasa flat, seperti tidak memiliki jiwa. Adegan-adegan aksinya tidak terasa menegangkan. Adegan-adegan dramanya sama sekali tidak mengundang simpatik dari saya. Adegan-adegan penghancuran kota yang seharusnya membuat saya miris, sama sekali tidak menggugah hati saya. Entah itu aktingnya, treatment adegannya, ataupun score-nya. Entahlah, saya sudah malas untuk memikirkannya.
  • Dari segi cerita memang terasa lebih “ada” daripada yang ke-2, tetapi tetap saja sangat dangkal dan tidak menarik. Karakter-karakter utama yang menjadi favorit penonton, seperti Optimus Prime dan Bumblebee, seharusnya diberi porsi lebih. Namun yang terjadi di layar, kedua karakternya (maksud saya di sini “karakter” sebagai kata sifat, bukan kata benda) tidak tampak sama sekali. Berbeda dengan kedua seri sebelumnya, yang setidaknya keduanya masih bisa menarik perhatian penonton. Di sini, tidak ada satupun robot yang terasa karakternya, hanya ada penghancuran di sana-sini.
  • Penggunaan score menurut saya banyak yang tidak pada tempatnya. Yang paling terasa mengganggu bagi saya adalah saat adegan Carly datang membangunkan Sam di awal film. Saya rasa tidak perlu ada score sama sekali, yang ada di layar justru seperti adegan romantis film-film kelas B. Lalu ada lagi adegan hari pertama Sam bekerja dengan iringan lagu seperti putus cinta. Sangat-sangat mengganggu sekali!!!
  • Oke, saya masih memaafkan unsur impossibility adegan, seperti gedung tempat karakter-karakter utama manusia kita bersembunyi saat robot bertentakel meremukkan bagian tengahnya, yang memiliki arsitektur menakjubkan sehingga tidak langsung runtuh ketika “diremas”, atau betapa kuatnya karakter-karakter manusia kita yang walau dibanting ke sana-kemari namun bahkan tidak tampak patah tulang sama sekali. Hebat!!!
  • Saya juga memaafkan akting buruk Rosie Huntington Whiteley. Come on guys, ini adalah film pertamanya. Sebelumnya dia juga tidak pernah berakting di depan kamera. Lagipula pantatnya di awal film bagi saya menjadi “landmark” satu-satunya film ini koq. Rosie, I forgive you!
Cukup lah saya men-judge kekurangan-kekurangan film ini. Sekedar informasi, dua logo ViJo yang saya sematkan untuk film ini semata-mata penghargaan saya terhadap production designer dan para animator-nya yang sudah melakukan yang terbaik untuk Michael Bay. Merekalah the only ones yang layak mendapatkan pujian. Sayang, bakat dan hasil luar biasa ini terasa sia-sia sekali. Semoga next time mendapat project yang lebih baik.
Ada yang mencibir saya sok pintar dan menanyai saya, “emang elu bisa bikin film kayak gitu?”? Tidak masalah koq, saya rasa saya bukan satu-satunya orang yang merasakan kekurangan-kekurangan film tersebut. Lagian semua orang sebagai penonton punya hak yang sama untuk menyukai dan tidak menyukai sebuah film, yang penting ada alasan yang jelas, bukan begitu? Susah memang untuk bisa menikmati dan menyukai film ini, kecuali Anda seorang die-hard fan atau referensi pengalaman “film Hollywood dengan special fx spektakuler” Anda tidak banyak.
Akhir kata, just gonna say… Thank God this whole mess has over. No more Transformers from Michael Bay. I still hope there will be another Transformers, entah itu re-boot atau apalah, with much better director, tapi minimal lima tahun ke depan. Saya (dan juga fans Transformers yang kecewa) masih harus menyembuhkan “trauma” ini.
Lihat data film ini di IMDB
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Just Go with It


Adam Sandler menurut saya adalah salah satu komedian terbaik yang dimiliki Hollywood, selain tentu saja Jim Carrey dan Mike Myers. Karya-karyanya sudah cukup banyak. Melalui PH-nya, Happy Madison, bahkan ada beberapa yang menjadi legenda Hollywood, seperti The Wedding Singer, 50 First Dates, Big Daddy, Anger Management, dan Billy Madison. Guyonannya sangat khas sekali, seperti olok-olokan terhadap kaum tertentu, kadang mild dan tiba-tiba menjadi kasar. Apapun itu walau sering ofensif tetapi tetap saja mengundang tawa dari mereka yang cocok dengan selera humornya. Tidak heran bila ada banyak juga yang tidak menyukai guyonan Sandler, namun tidak sedikit pula fans beratnya.
Just Go with It adalah kerjasama kesekian kalinya antara Sandler dan sutradara Dennis Dugan, setelah Happy Gilmore, Big Daddy, The Benchwarmers, I Now Pronounce You Chuck & Larry, You Don’t Mess with Zohan, dan Grown Ups. Kerjasama keduanya masih terjalin untuk proyek berikutnya, Jack and Jill yang dijadwalkan rilis November 2011 ini.
Sebagai sebuah komedi romantis, Just Go with It cukup menarik dalam penyajian. Ceritanya memang tidak orisinil karena merupakan remake dari film tahun 1969, Cactus Flower. Bahkan Bollywood pun pernah mengadaptasinya melalui film berjudul Maine Pyaar Kyun Kiya (2005) yang dibintangi Salman Khan. Namun tim penulis skenario dan sutradara Dennis Dugan bisa dibilang berhasil mengangkat cerita “kebenaran yang diketemukan saat kebohongan-kebohongan dilakukan” ini terasa segar. Yah formula guyonan Sandler masih manjur di sini. Kali ini yang menjadi korban olok-oloknya adalah mereka yang gemar melakukan operasi plastik dan orang-orang dengan hidung besar. Semoga tidak ada yang tersinggung di sini.
Durasinya bisa dibilang cukup panjang untuk kategori romantic comedy hiburan, 117 menit. Namun film tidak membosankan sama sekali. Adegan demi adegan mengalir dengan lancar tanpa terasa dipaksakan, dan dipenuhi humor-humor yang segar dan terkadang smart. Merasa seperti sedang menyaksikan film televisi? Memang, tapi ini bukan berarti buruk. Justru alurnya terasa santai, tidak terburu-buru tapi juga tidak membosankan. Drama yang disajikan juga tidak dibuat emosi berlebihan. Anda tidak akan menemukan adegan wanita dengan big anger ketika menemukan pasangannya berkhianat atau sorrow berlebihan dari seorang wanita yang menghadapi kenyataan pahit. Untungnya, Dugan tidak menampilkan itu semua, sehingga aura positif bisa dipertahankan hingga akhir film.
Chemistry adalah formula paling vital dalam sebuah romantic comedy. Di sini kita punya Adam Sandler dan Jennifer Aniston. Menurut saya, chemistry mereka berdua sangat kuat sekali sejak awal film. Bisa dibilang, the best Sandler’s chemistry after Drew Barrymore. Tak heran juga, mengingat portofolio Aniston yang bisa dibilang pakarnya romantic comedy.
Bailee Madison dan Griffin Gluck yang memerankan anak-anak dari Aniston, menjadi scene stealer dengan penampilannya yang unik. Bailee dengan aksen British yang dibuat-buat dan Griffin dengan karakter misterius namun menyimpan luka, menjadi daya tarik tersendiri. Penampilan Nicole Kidman juga menambah kesegaran film. Jarang-jarang kan mendapati Kidman dengan peran yang mengocok perut?
Just Go with It memang bukanlah film romantic comedy terbaik, bukan pula karya terbaik Sandler, namun cukup menghibur sekaligus menawarkan moral yang menarik. Sebuah film hiburan segar yang enak dinikmati saat santai bersama pasangan ataupun bersama keluarga (yang anggotanya setidaknya sudah berusia 13 tahun tentu saja).
Lihat data film ini di IMDB
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, August 5, 2011

The Jose Movie Review - Rio


Tahun 2011 bisa jadi anugerah bagi Rio de Janeiro, ibukota Brazil. Betapa tidak, setidaknya ada tiga film mainstream Hollywood yang mengambil setting di sini; Fast Five, Rio, dan Twilight : Breaking Dawn part I. Mungkin Hollywood sudah bosan mengambil setting Mexico sebagai gambaran tempat eksotis yang juga kaya akan budaya. Dan untuk alasan itu, Hollywood menjatuhkan pilihan yang tepat untuk menggunakan Brazil yang juga unik dari segi alam dan budayanya.

Beberapa tahun belakangan semenjak Twitter menimbulkan demam sedunia, burung pun menjadi hewan yang paling populer, baik sebagai maskot maupun karakter berbagai keperluan. Lihat saja demam game
Angry Birds dan sekarang film Rio. Jadi tidak heran 20th Century Fox lantas setuju untuk mengangkat dua elemen yang sedang populer ini dalam satu film animasi. Kebetulan sekali Brazil juga merupakan habitat dari beberapa jenis spesies burung. Bagi sang sutradara sekaligus salah satu penulis naskahnya, Carlos Saldanha (sebelumnya pernah menyutradarai film-film animasi 20th Century Fox melalui BlueSky Studio seperti franchise Ice Age dan Robots) proyek ini seperti mempromosikan kebudayaan kampung halamannya sendiri.

Dengan formula yang secara komersial cukup menjanjikan, BlueSky Studio mencoba untuk mengangkat tema konservasi alam dalam film. Bukan tema baru sih, ada cukup banyak film (khususnya aniamsi) yang secara terselubung mengkampanyekan nasib binatang-binatang yang sudah terlanjur nyaman hidup di kota sampai tidak merasa nyaman lagi tinggal di hutan liar, habitat aslinya. Contoh paling mudahnya Alex The Lion dari franchise
Madagascar. Tapi tunggu dulu, walau dengan alur yang sederhana dan tidak terlalu fresh, Rio masih menawarkan pemandangan indah Rio de Janeiro, alunan musik irama Samba, dan humor-humor segar yang kebanyakan memplesetkan budaya populer, sehingga secara keseluruhan Rio bisa dinikmati sebagai film hiburan yang terasa segar.

Yang paling menonjol dari
Rio adalah tone warna-warni-nya yang ceria, khas Samba. Mata terasa segar sekali. Apalagi adegan singing and dancing birds di awal dan akhir film yang keren banget. Menurut saya adegan tarian-nyanyian binatang terindah sejak The Lion King. Musik menjadi faktor kedua Rio menjadi tontonan segar yang menghibur. Ide yang sangat brilian untuk menggandeng Sergio Mendes, seorang maestro Latino yang terkenal dengan Magalenha dan Mas Que Nada-nya. Tidak ada pilihan yang lebih tepat lagi untuk menghidupkan semangat ala Rio.

Dari jajaran voice talent-nya, hampir semua terasa pas, seperti Jesse Eisenberg yang mengisi suara Blu, Anne Hathaway (Jewel), Will.I.Am (khas banget suaranya, mengisi suara Pedro yang jago ngerap), Jermaine Clement (Nigel), Tracy Morgan (Luiz), dan George Lopez (Rafael). Yang terasa agak janggal menurut saya adalah karakter burung kuning kecil mirip Tweety bernama Nico, tapi suaranya ngebass khas Jamie Foxx.

Sebagai animasi yang terkesan kanak-kanak, guyonan yang ditawarkan ternyata banyak lebih cocok untuk orang dewasa (setidaknya remaja lah), terutama yang berkaitan dengan kekerasan, sedikit sensualitas, dan mild language. Banyak pula plesetan yang tereferensi dari budaya populer ketika anak-anak jaman sekarang belum lahir. Tapi yah masih bolehlah anak-anak di bawah usia 10 tahun menyaksikannya (sangat disarankan) dengan dampingan orang tua. Selebihnya, nikmati saja satu setengah jam yang menyenangkan bersama burung-burung berbulu indah ini.

Lihat data film ini di
IMDB
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Rango


Mungkin Gore Verbinski dan Johnny Depp sudah “bercerai” dengan Walt Disney, namun ternyata kerjasama mereka dilanjutkan oleh Paramount dan Nickelodeon. Yap, bos Viacom jeli menangkap aura dan chemistry antara Verbinski-Depp seperti halnya Scorsese-DiCaprio. Hasilnya… Depp terasa pas sekali mengisi suara karakter Rango yang memang agak mirip dengan karakter Jack Sparrow di franchise Pirate of The Caribbean. Karakter menjadi kekuatan utama dalam film. Depp tidak perlu diragukan lagi kemampuannya dalam memainkan peran. Selain itu suara Isla Fisher sebagai Beans dan Bill Nighy sebagai Rattlesnake Jake menjadi daya tarik tersendiri karena keunikannya.
Kekuatan utama film tersebut, dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan alur cerita yang juga menarik untuk diikuti, walau kita semua mungkin sudah tahu bagaimana kelanjutan ceritanya hingga akhir film. Seperti yang selalu saya bilang, dalam film orisinalitas cerita bukanlah segala-galanya. Asalkan digarap dengan baik dan gaya berbeda, hasilnya juga bisa bagus, malah bisa menjadi yang terbaik di antara film-film sebelumnya yang punya cerita mirip (atau sama persis). Teori saya ini kembali terbukti lewat Rango.
Banyak yang menganggap bahwa cerita Rango adalah versi fabel dan plesetan dari cerita koboi klasik Italy, Django (1966) yang diperankan oleh legenda film Italy, Franco Nero. Mungkin dari kemiripan judul yah?! Anyway, Rango sukses mengangkat kembali kisah Django, tentu saja dapat lebih aman disaksikan oleh anak-anak daripada versi aslinya.
Ngomong-ngomong soal anak-anak, Rango memang masih tergolong film animasi aman, namun menurut saya ada banyak elemen yang kurang cocok dan bahkan ada beberapa bagian yang mungkin susah dipahami oleh anak-anak di bawah 10 tahun. Beberapa pemilihan kata-kata dialognya tergolong tingkat tinggi, bahkan bagi anak-anak yang sehari-harinya berbahasa Inggris sekali pun, misalnya saat Rango monolog di awal film, berpura-pura sebagai performer. Frightening scene-nya tidak begitu menakutkan lah untuk anak-anak, namun bagi orang dewasa tetap terlihat keren koq. Jangan kuatir, orang dewasa tetap akan terhibur oleh jokes segarnya, yang mungkin (lagi-lagi) kurang bisa dipahami oleh anak-anak. It’s ok, jaman sekarang film animasi (khususnya DreamWorks) seringkali dibuat untuk tidak hanya bisa dinikmati oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa.
Poin plus berikutnya yang juga cukup membuat saya berdecak kagum terpana adalah adegan-adegan aksinya, terutama adegan Rango and the gank mengejar gerombolan bandit pencuri galon air. Seru banget! Sudah lama rasanya tidak melihat adegan kejar-kejaran semacam ini, setelah The Mummy Returns. Hah? The Mummy Returns? Apa hubungannya? Well, you will understand when you see it yourself.
Divisi sound fx bekerja dengan sangat baik, terutama untuk sebuah film animasi yang biasanya kurang terasa gregetnya. Suara efek gerakan badan Rattlesnake Jake terasa nyata sekali dan dahsyat. Belum lagi adegan deru debu, ledakan, dan tembakan ketika adegan-adegan aksi, semua terdengar renyah dan mantap. Sementara score yang dikerjakan oleh Hans Zimmer berhasil pula dalam menghidupkan suasana padang pasir yang gersang, namun tetap mendukung keseruan ketika mengiringi adegan aksi. Salut untuk Verbinski yang juga turut dalam menulis dan memproduksi beberapa judul soundtracknya. Ada juga karakter kelompok Mariachi oleh Los Lobos memberikan warna tersendiri, baik dari segi cerita, karakter, maupun musik.
Overall, Rango adalah film hiburan yang sangat menghibur sekaligus memberikan sedikit perenungan bagi kita tentang jati diri, kepahlawanan, dan keberanian. Cocok ditonton sekeluarga, tapi siap-siap menjelaskan berbagai hal jika mengajak anak-anak di bawah usia 10 tahun untuk menontonnya.
Lihat data film ini di IMDB
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, August 1, 2011

The Jose Movie Review - Harry Potter and The Deathly Hallows Part 2




Sepuluh tahun sudah Harry Potter menyebarkan sihirnya ke layar bioskop. All the good things have to be ended before it's gone worse. Yes, saat buku ketujuh diluncurkan, banyak fans yang sedih karena hikayat Harry Potter dan gank Hogwarts nya harus berakhir. Bagi saya justru merupakan suatu kelegaan. Sebelum Rowling menjadi semakin tamak dengan memulur-mulur cerita HP tiada jelas seperti sinetron Indonesia, ada baiknya diakhiri dengan spektakuler. Novelnya berhasil. Lantas bagaimana dengan filmnya?

Sebelumnya saya tidak mau membanding-bandingkan antara novel dengan filmnya. Sudah terlalu banyak kasus dimana versi filmnya tidak bisa dibandingkan dengan versi aslinya (baca : novel). Perbedaan media yang menyangkut juga perbedaan cara menikmatinya membuatnya tidak mungkin bisa dengan mentah-mentah diadaptasi tanpa mengorbankan banyak hal, salah satunya mood penonton. Sebenarnya untuk hal ini film-film HP tergolong sangat setia dengan versi novelnya. Perbedaan adalah hal yang lumrah. Name me one good movie which was 100% the same with the novel! NONE! Kalau sudah ada filmnya, buat apa lagi baca novelnya? Perbedaan pengalaman inilah yang tidak seharusnya diperdebatkan karena tidak akan bisa memuaskan semua pihak sekaligus.

Sebagai sebuah cerita utuh, Harry Potter berhasil membuat saya terkagum-kagum. J.K. Rowling was a genius! Ketika seri-seri awal, saya sedikit meremehkan, "ah apa ini, film anak-anak". Tiap serinya pun terkesan tidak berhubungan, cerita sama hanya variasi beda. Lantas makin lama cerita berkembang makin gelap dan dewasa, hingga puncaknya saya menumukan banyak sekali jawaban atas "ketidak-terhubungan" di awal-awal cerita. "Oh, ternyata yang di awal-awal saya mengira tidak penting, ternyata berkaitan dengan keseluruhan cerita". That's why I called her GENIUS! Terasa sekali dalam menulis, dia tidak menulis hanya untuk salah satu seri, tetapi ia telah merencanakan keseluruhan cerita sejak awal. Sehingga keseluruhan cerita menjadi satu cerita utuh yang menarik.

Untung saja HP versi film telah menemukan soulmate yang tepat : sutradara David Yates, sejak The Order of The Phoenix. Kepiawaiannya menerjemahkan cerita yang ada menjadi sajian visual yang menarik, ups-downs yang pas pada porsinya dan sesuai dengan kebutuhan, berhasil memainkan emosi penontonnya. Ditambah lagi dengan score yang terasa lebih gelap setelah diaransemen oleh Alexandre Desplat, jadilah suasana seru, tegang, dan menyentuh sepanjang film. Ada lah adegan-adegan cliché, but please, mana ada sih film yang terlepas dari ke-cliché-an sama sekali? Yang penting tidak ditampilkan terlalu berlebihan saja. Untuk kasus HP7B, untungnya masih dalam batas kewajaran.

Dalam pamungkasnya ini, beberapa karakter yang sebelumnya hanya menjadi figuran, mendapatkan porsi yang lebih besar, yang memungkinkan pemeran-pemerannya untuk lebih all-out dan menimbulkan impresi masing-masing for the last time. Most of them were succeeded; Prof. McGonagall, Molly Weasley, Luna Lovegood, Neville Longbottom, dan tentu saja "spotlight" seri ini, Prof. Snape! Nama-nama karakter yang menurut saya menjadi sangat menarik penampilannya di seri ini. Pujian khusus saya sematkan kepada Alan Rickman yang telah berhasil memerankan karakter sekompleks Prof. Snape dengan brilian.

Soal visual effects, saya rasa tidak perlu terlalu banyak dibahas karena tidak ada sesuatu yang baru yang ditawarkan. Semuanya tampak seperti seharusnya dengan porsi yang tidak berlebihan. Begitu juga divisi sound effect yang juga terdengar memaksimalkan fungsi surround. Suara bisikan dan desis terdengar dengan sangat jelas dan jernih.

Durasi yang tidak terlalu panjang membuatnya terasa cepat berakhir, apa lagi saya sudah terlanjur nyaman dengan karakter-karakternya. It's like I've known them very well for so long.

Akhir kata, tidak adil rasanya jika kita menilai franchise HP per-seri. Jika jalan ceritanya disatukan secara keseluruhan utuh, tanpa ragu saya menyematkan HP sebagai epic terbesar generasi ini, baik novel maupun filmnya.

Lihat data film ini di
IMDB






Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates