
Get ready to push the gas and pump the adrenaline for the 6th time! Reviewed soon.
Luna Maya, Sigi Wimala, and Ilya Sigma are on their directional debut. Opens May 23.
JJ Abrams to continue the Enterprise's adventure. Read more.




Setelah sekitar satu minggu buka, saya baru sempat mengunjungi mall terbaru di Surabaya ini. Bukannya apa sih, males aja masuk ke mall yang baru buka, hectic abis, parkirnya susah, jalan di sekitarnya macet, tapi isinya masih banyak yang belum buka. Buat apa?! Cuma sekedar gaya-gayaan, “hey gue udah masuk ke sana, on the first day!”. I’m not in that phase anymore . Overall sebenarnya Ciputra World berpotensi jadi mall terbesar di Surabaya. Lenmarc? Lewat banget dah. Apalagi rencananya bakalan ada apartemen dan macam-macam fasilitasnya. Bukan hal baru di Surabaya, tapi karena secara yang bangun itu Ciputra, so saya yakin nasibnya ga bakalan mengikuti pendahulu-pendahulunya. Setidaknya Ciputra punya pengalaman yang lebih di bidang ini.
Dari yang saya lewati, ada cukup banyak juga tenant yang udah buka walaupun belum mencapai 50% dari keseluruhan mall, seperti The Executive, The Little Things She Needs, dan Kidz Station. Untuk kuliner, yang sudah buka antara lain My Kopi-O dan Porong Wei. Selain itu ada XXI dengan 8 studio reguler plus 2 studio The Premiere. Agak kecewa juga sih, kenapa harus XXI lagi yang buka di sini. Padahal ketika awal-awal bangun, nama Blitz Megaplex sempat tercantum di materi promosi, cukup bikin saya tersenyum kegirangan. Tapi ya sudahlah, mau gimana lagi.
Tidak ada mall yang tidak punya food court. It’s like the living room in a family house. Saking banyaknya pilihan food court di Surabaya akhir-akhir ini, baik yang menyatu dalam mall maupun yang berupa satu kompleks berdiri sendiri, saya sering geli dengan pemilihan nama food court. Haruskah menyertakan istilah “food” atau “eat” atau sejenisnya? Mungkin saking kehabisan ide, namanya hanya berupa pengulangan kata, contohnya “Eat and Eat” yang menurut saya adalah nama yang menggelikan, sounds lazy and desperate. Hahahaa… no offense yah buat developernya. Kembali ke topik Ciputra World. Nama yang dipilih adalah Food Wave. Ok, nama yang cukup menarik, walau saya masih belum ngeh konsepnya bagaimana.
Dari deretan yang sudah buka, ada cukup banyak sih pilihannya. Mulai makanan khas Indonesia, seperti Bebek Express, Kedai Si Mbok, dan Babi Guling KenKen; Japanese seperti ramen, sushi, dan aneka lunch set; dan tentu saja yang lagi naik daun, menu Peranakan (iya, menu gabungan Melayu, India, dan Chinese, yang sering dijumpai di Singapura dan Malaysia). Setelah Eat and Eat yang sangat kental nuansa Peranakan-nya, di Food Wave pun ada beberapa tenant yang mengusung menu seperti ini.
Oke, petualangan kuliner saya di Food Wave dimulai dengan tenant KenKen Bigul. Entah kenapa dari hasil keliling tenant, yang paling menarik perhatian saya adalah yang satu ini. Dari menunya bisa ditebak bahwa daging babi menjadi komoditas utama. Selain menu andalan tentu saja Babi Guling khas Bali, mereka juga menawarkan nasi goreng dan mie goring yang dari deskripsinya jelas sekali mengandung aneka olahan daging babi seperti pada menu babi guling, dan yang pasti : memiliki cita rasa pedas di atas rata-rata!
Saya memilih Mie Lala, nama mie goreng yang mereka tawarkan. Dari bentuknya, bisa ditebak citarasa khas mie goreng Indonesia sangat terasa. Sekilas mirip mi tuk-tuk yang dijual keliling kampung-kampung, tapi tentu saja dengan taburan aneka olahan daging babi yang membuat cita rasanya sedikit berbeda. My tongue can’t lie; it’s hot, it’s tasty, it’s spicy, and my tongue loved it very much! Pedasnya bukan tipikal yang super pedas, it’s a little bit mild but very spicy.
Dari awal saya sudah menyiapkan diri bahwa menu yang saya pilih ini bakal pedas, makanya untuk minumannya saya memilih yang manis : Ice Chocolate dari kedai Lynnette. Selain Ice Chocolate, kedai yang ber-tagline “Your sweetest dream” ini menawarkan aneka ice cream, crepe, smoothies, dan shakes. Oh iya, untuk dessert lainnya bisa juga mencoba Es Thailand Scoopy yang ternyata tidak jauh beda dengan Es Puter Singapore (yang juga buka stall di sini).
Babi guling+Ice Chocolate? I know it didn’t match at all, but you know what? It’s a balanced combination in my mouth! Next, I want to seal my dinner with a worth-tasting dessert, and my choice went to something interesting, even from the name : Roti Tissue. Abisnya dari tadi lihat sering banget waiternya Madam San's bersliweran bawa makanan yang bentuknya kerucut kayak tumpeng tapi cuma terdiri dari selembar kulit prata. Kayaknya sih nggak cuma saya yang penasaran, karena sering banget waiternya bawa itu muter-muter. Atau strategi waiternya yang sengaja muter-muter dulu sebelum dianter ke pemesan, biar banyak yang ngeliatin dan penasaran. Hahahaha… Apapun itu, saya penasaran, begitu juga teman-teman saya yang waktu itu menemani nongkrong. Alhasil pesanlah kita satu Roti Tissue, yang kita habiskan ramai-ramai. Unik sih rasanya. Ga jauh beda sama roti prata yang tipis dan renyah, tapi dibentuk kerucut (tentu saja ga gampang ngebentuknya) dengan dilumuri sesuatu yang manis (saya sih curiganya gula cair biasa, karena warnanya terlalu transparan kalau susu kental manis) plus parutan keju cheddar. Hmmm… sweet dessert!
Penasaran dengan asal-usul Roti Tissue, saya browsing di internet. Ternyata Roti Tissue memang menu khas Peranakan (Mamak) yang umum dijuak di kaki-kaki lima Malaysia dan Singapura (info lebih jelasnya klik di sini). Ooohhh begitu..! Well, yang penting lidah dan perut ini puasss bangettt!!
Posted in: The Jose Spot


