Sabtu, 14 Mei 2011

Nasionalisme, Remaja Labil, Egoisme, dan Ketidakpedulian

Pin It!

Saya agak mengernyitkan dahi melihat tingkah remaja-remaja Indonesia belakangan ini. Well, juga orang-orang dewasa yang katanya udah dewasa tapi pikirannya masih ala ababil. Apalagi dalam menanggapi berbagai isu yang beredar belakangan ini.

Ambil saja contoh dari kasus tidak diputarnya film2 Hollywood mainstream (yang didistribusikan melalui MPAA) di bioskop Indonesia. Sudah dijelaskan berkali-kali pokok masalahnya, tapi tetap saja bebal tidak mau tahu, yang penting film-film Hollywood tersebut bisa tayang lagi di Indonesia, apa pun caranya. Sampai-sampai ada yang membuat group Facebook : Sejuta orang butuh film bermutu. Saya tertawa tapi juga kasihan. Sebuah group yang useless, dengan pemikiran yang egois dan ignorant, bahkan mereka sendiri mungkin tidak tahu permasalahan sebenarnya yang terjadi. Mereka masih memakan isu yang pertama kali muncul, yaitu bahwa MPAA memboikot film2nya masuk Indonesia karena keberatan dengan peraturan pajak film yang baru. Saya tidak akan membahas ini lagi karena sudah pernah saya bahas di post-post sebelumnya, tapi sekali lagi saya mau menegaskan : Jangan mau deh diadu domba sama orang luar!

Oke mungkin saya sendiri juga tidak tahu persis seperti apa kasusnya, tapi coba deh pikirkan dengan logika yang terjadi di lapangan. Film-film Hollywood lain yang non didistribusikan oleh MPAA tetap tayang di Indonesia, contohnya Source Code (oleh Summit Entertainment), Scream 4 (oleh Dimension Films), Lincoln Lawyer (oleh Lionsgate), dan Limitless (oleh Rogue). Kesemuanya film baru, hanya saja didistribusikan oleh distribusi lain, selain group-nya 21 group selaku distributor film2 MPAA yang selama ini memonopoli tidak hanya filmnya, tapi juga jumlah layar di bioskop, karena kebanyakan masih ditayangkan di bioskop kelompoknya sendiri. Jelas donk kalo yang salah bukan negara ini, tapi either distributor lokalnya yang nunggak pajak hingga harus ditangguhkan hak edarnya di negara ini, atau MPAA yang konon dituduh memboikot film-filmnya diputar. Terakhir sih dengar-dengar MPAA tidak pernah memboikot/menarik film-filmnya di negara manapun, semua tergantung dari distributor lokal. Bisa ditarik kesimpulan sendiri deh yang mana yang mungkin benar, pada punya otak sendiri-sendiri kan?

Saya geli mendengar kata "film bermutu" dijadikan nama group. Apa sih definisi film bermutu? Apakah film yang tidak membosankan ketika ditonton, sehingga bisa dinikmati, walau tidak punya isi apa-apa selain adegan-adegan aksi atau sekedar mengumbar special efek? Kalau bagi saya pribadi sih, film bermutu adalah film yang mempunyai isi, punya pesan yang bagus, film yang bisa mengajak penontonnya untuk menganalisa isi filmnya, tidak hanya dari luarnya saja. Seandainya hanya bersifat film hiburan, setidaknya sebuah film harus punya materi yang kuat yang akan terus diingat oleh penontonnya, walau ceritanya belum tentu orisinil (well, apa sih yang bener2 orisinil di dunia ini sekarang? TIDAK ADA!). Film yang benar-benar bermutu dan bagus tidak akan lekang oleh jaman, sementara film keren hanya bagus dilihat saat itu saja, beberapa tahun kemudian akan terlupakan dengan sendirinya. Menurut saya, film2 MPAA belum tentu bermutu, sedangkan film2 non-MPAA yang saya sebutkan di paragaraf sebelumnya juga belum tentu tidak bermutu. In matter of fact, lebih bermutu daripada film2 Hollywood keluaran MPAA seperti Transformers dkk. Jadi sebenarnya judul "film bermutu" sangat tidak relevan dan justru menggelikan buat saya. Keliatan sekali ketidak-intelek-an isinya. Sorry not my thing, even though I love movies, maybe even more than all the members of that group.

Balik ke esensi group "Sejuta orang butuh film bermutu". Kenapa saya menyebutnya egois dan ignorant? Saya membaca comment2 dan posting di wall-nya yang rata-rata mereka tidak mau tahu apa sih yang sebenarnya terjadi, mereka tidak peduli untuk memikirkannya. Yang penting, film-film yang dimaksud bisa tayang lagi di Indonesia. Titik. Terdengar seperti anak-anak yang merengek-rengek dibelikan sesuatu oleh orang tua mereka bukan? Yang membuat saya bingung adalah... di saat kebudayaan kita diklaim oleh negara lain, mereka berteriak-teriak "hey itu punya kami, kami nasionalis sehingga itu harus menjadi bagian dari kami karena memang bagian dari kami!", di saat suporter Malaysia menggunakan laser untuk mengganggu konsentrasi pemain Indonesia, seisi Indonesia mengeluarkan sumpah serapahnya kepada Malaysia, iya seisi negara Malaysia!!! Tapi di saat kedaulatan negara kita terancam oleh Amerika Serikat melalui film-film Hollywood mainstream... Mereka berbalik membela Amerika dan menghujat negara sendiri. Wow, sebuah reaksi yang egois yah?! Padahal belum tentu mereka tahu persis permasalahannya. Lho, apa hubungannya dengan kedaulatan negara kita?

Yang pasti terjadi pada kasus ini, dirjen pajak menangguhkan ijin Group 21 yang mendistribusikan film-film MPAA untuk mengedarkan film-filmnya sampai mereka melunasi semua tunggakan pajaknya selama ini. Seandainya memang salah pemerintah melalui pajak, lantas mengapa film-film asing lain masih bisa masuk Indonesia? Mengapa mereka tidak keberatan dengan aturan pajak yang berlaku dan tetap memenuhinya? Bukankah ini hal yang aneh? Use your logic deh. Open your mind! Ini adalah urusan deal or no deal, kalo mereka yang tidak berminat untuk memasukkan film2nya di Indonesia, kita bisa apa? Masa kita mau mengemis-ngemis kepada mereka supaya mau memasukkan film2nya di sini? Malu ah, kita bukan bangsa pengemis kan?! Jangan lantas kita menyukai film2 Hollywood (termasuk juga saya), kita jadi mau diperbudak oleh mereka. BIG NO!!! Saya masih bisa koq nonton film-film yang tidak tayang di sini lewat DVD. Tanpa potongan2 atau sensor lagi. Sudah biasa ah, dari dulu saya sudah sering sakit hati karena film2 bermutu (menurut saya) Hollywood, yakni yang menang berbagai penghargaan di negaranya, tidak tayang di bioskop sini karena alasan : kurang komersil, mayoritas penonton Indonesia tidak bisa mencernanya.

Terakhir, saya geli membaca isi wall group tersebut. Kata-kata itu mau ditujukan kepada siapa? Pemerintah? Mereka tidak mungkin mendengarkan kata-kata bodoh kalian yang kekuatan dasarnya tidak kuat, selain karena "kecanduan" kalian terhadap film2 Hollywood. Distributor? Mereka malah senang tuh karena kalian mendukung mereka melakukan korupsi, kolusi, dan melanjutkan menimbun kekayaan untuk kepentingan mereka sendiri. Apalagi group tersebut tidak menawarkan solusi yang jelas akan masalah ini, hanya berisi hujatan terhadap negara ini dan film lokal (jadi kambing hitam deh, katanya berharap film Indonesia maju dan bikin film2 bermutu, koq belum apa2 udah dikambing-hitamkan dulu?). Useless, hanya bisa mengompori emosi anak-anak muda yang masih labil dan ignorant. Kalau mau, lebih mending dan lebih nyata hasilnya jika kalian bikin distributor sendiri, yang mengedarkan film2 MPAA di sini, menggantikan tugas group 21, atau mengumpulkan koin seperti Prita kapan hari, untuk membayarkan tunggakan pajak 21. Itu lebih jelas menyelesaikan masalah. Ayo, wake up youth of this country, use your brain, take action, not only whining!

FaceJo TwitJo Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates