Friday, December 23, 2011

The Jose Movie Review - Mission: Impossible - Ghost Protocol


Mission:Impossible adalah salah satu serial TV favorit saya ketika masih kecil. Siapapun yang pernah dibesarkan di era 80-90’an pasti tahu persis ciri khas tim IMF dari Mission:Impossible ini. Yap, penggunaan topeng semacam lateks yang pada masa itu tentu saja masih termasuk something amazing, alat informasi misi kepada agen yang self-destruct setelah diakses, dan tentu saja sumbu yang disulut api. Lantas serial ini diangkat ke layar lebar untuk pertama kalinya dengan sutradara Brian DePalma. Tak beda jauh dengan ke-khas-an serialnya; seru, menegangkan, tidak hanya sekedar main tembak-tembakan, ledak-ledakan, dan baku hantam, tetapi juga menggunakan strategi yang rumit dan gadget-gadget canggih. Kesuksesannya dilanjutkan M:I-2 dengan sutradara John Woo dengan gaya yang berbeda; more action stunts, simpler plot. Walaupun cukup melenceng jauh dari pakem serialnya, at least seri ini masih enjoyable. Sampailah pada M:I-III yang entah kenapa, menurut saya adalah installment paling tidak memorable di antara semua versi layar lebarnya. Padahal sebenarnya cukup menghibur, dengan sutradara J. J. Abrams dan didukung aktor sekaliber Phillip Seymour Hoffman. Setelah 5 tahun, barulah muncul installment berikutnya dari M:I setelah Tom Cruise dan pihak Paramount sempat memutuskan kontrak yang artinya tidak akan pernah ada lanjutan M:I dengan aktor Tom Cruise lagi di layar lebar. Entah kenapa pada akhirnya mereka akur kembali dan Tom Cruise bahkan menjadi produser installment ke empat ini. Awalnya saya agak kurang antusias karena installment sebelumnya yang kurang memorable ditambah sutradaranya Brad Bird yang selama ini dikenal sebagai sutradara film animasi Pixar seperti The Incredibles dan Ratatouille. Bisa nggak nih seorang sutradara film animasi menggarap film spionase dengan baik?
Setelah menyaksikan hasil akhirnya, saya harus meminta maaf kepada Bird karena sempat menyangsikan kemampuannya. Mission: Impossible telah dikembalikan ke bentuk film spionase yang semestinya. Setelah installment pertamanya, bisa dibilang inilah installment yang paling mendekati jiwa petualangan agen rahasia yang pernah diusung serial TV-nya. Mulai adegan penyusupan di Kremlin, penyamaran di gedung Burj Khalifa, hingga penyergapan di Mumbai, semuanya terangkai dalam strategi yang tidak mudah, persiapan yang detail, serta eksekusi yang mengandalkan keberanian (kenekadan, lebih tepatnya) serta ketepatan. Hal-hal yang kurang digarap dengan rapi di installment kedua dan ketiga.
Premisenya simpel dan bukan barang baru di dunia film spionase, masih bermain-main dengan nuklir. Saya bahkan tidak tertarik dengan premise ceritanya. Namun demikian, saya sangat menikmati tiap perjalanan misi Ethan Hunt dan timnya yang penuh diliputi ketegangan. Durasi yang 133 menit, tergolong panjang untuk jenis film hiburan mainstream, sama sekali tidak terasa. Sesuatu yang jarang terjadi di dunia film Hollywood akhir-akhir ini. I guess that would have meant that, “It’s a very good job, Bird! You’ve proven yourself as a great director, other than animation.”
Tom Cruise masih tampak mengesankan sebagai tokoh utama. Sepak terjangnya baik sebagai perencana strategi maupun pengeksekusi misi yang nekad, sekali lagi patut diacungi jempol, mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi (lihat saja bentuk badannya di film ini yang sudah mulai kendur dimana-mana). Simon Pegg sebagai Benji memberikan kesegaran tersendiri berkat aksi dan celetukan kocaknya di beberapa adegan. Tidak terlalu berlebihan, cukup membuat tersenyum, sehingga tidak membuat film keseluruhan terasa konyol. Salut buat Pegg yang tahun ini sukses membawakan peran-peran yang cukup mengesankan, seperti sebagai Graeme Willy di Paul, Thompson di The Adventures of Tintin, dan Benji di M:I – Ghost Protocol. Jeremy Rennner sebagai Brandt cukup mencuri perhatian. Seandainya di installment berikutnya Ethan Hunt tidak lagi mau beraksi, maka Brandt sebagai karakter utama akan membuat cerita Mission: Impossible tetap menarik. Renner sendiri sebelumnya sempat muncul sebagai Hawkeye di Thor dan kelak juga di The Avengers. Sementara Paula Patton sebagai Jane mengingatkan saya pada karakter Nyah Nordoff-Hall yang diperankan Thandie Newton di M:I-2. Di kubu villain, saya paling terkesan dengan wajah eksotis Perancis Léa Seydoux yang memerankan Sabine Moreau. Ada pula Michael Nyqvist sebagai Hendricks yang sebelumnya angkat nama berkat trilogy Millenium (The Girl with the Dragon Tattoo, The Girl Who Played with Fire, dan The Girl Who Kicked the Hornet’s Nest). Tidak ketinggalan penampilan aktor India terkenal, Anil Kapoor, yang muncul hanya beberapa menit namun cukup mencuri perhatian layar.
Saya juga ingin memberikan apresiasi kepada divisi sound effect yang cukup menonjol. Saya sangat terkesan dengan detail efek suara yang jernih, jelas, dan terbagi dengan baik di setiap kanal, seperti suara badai pasir, suara tembakan, dan suara dentuman mobil-mobil yang berjatuhan dari tempat parkir mobil bertingkat. Score pun menambah suasana ketegangan tiap adegan yang ada. Sayang sekali di installment ini absen kehadiran soundtrack dari musisi terkenal. Padahal sebelumnya ada Limp Bizkit (di M:I-2) dan Kanye West (di M:I-III).
Sebagai sebuah film hiburan maupun sebagai installment dari franchise spionase yang sudah terkenal, Mission: Impossible - Ghost Protocol berhasil memuaskan saya. This has been a decent action espionage movie I’ve been waiting for years.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates