It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Sunday, December 25, 2011

The Jose Movie Review - Alvin and the Chipmunks - Chipwrecked


Alvin and the Chipmunks (AntC) adalah salah satu serial kartun favorit saya ketika masih kecil. Ketika remaja, saya sangat kegirangan ketika serial ini akan diangkat ke layar lebar dengan gaya campuran animasi 3D dengan live-action. I like the first installment. Simple, funny, warm, and a lot of fun with the popular musics. Tentu saja tidak bisa disamakan dengan serial aslinya, karena sudah beda generasi dan standard pun juga berubah. Fully G-rated tidak akan menjadi menarik untuk anak-anak masa kini. Tidak heran jika film anak-anak yang mendapatkan rating PG cenderung lebih laris di pasaran ketimbang rating G. Kebetulan saya punya adik yang sekarang masih berusia 8 tahun yang jatuh cinta sejak installment pertama. Jadilah sejak installment kedua, AntC menjadi tontonan wajib sekeluarga saya di bioskop.
Saya sebenarnya agak skeptis juga setelah melihat banyak sekali review negatif seputar installment ketiga ini. But, come on. I came with no expectation at all, just enjoying my fun time with the whole family member. And I bravely said that, it’s not as bad as what people said, at least for me. Bahkan secara penggarapan plot, installment ketiga ini masih lebih baik ketimbang dua installment sebelumnya. Jika Squeakquel seolah-olah hanya mengulangi cerita seri pertamanya, hanya ditambahkan The Chipettes, maka Chipwrecked memiliki plot yang berbeda. Tidak ada lagi kehidupan para Chipmunk dan Chipette sebagai selebriti, tidak ada lagi kejar-kejaran dengan Ian. Justru di sini plot utama yang diusung adalah bagaimana perkembangan seorang anak dalam hal tanggung jawab. Alvin di sini belajar bagaimana setiap tindakan memiliki akibat dan ia harus bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukannya. Plot utama ini sangat terasa sekali ketimbang kedua film sebelumnya, dan tim penulis cerita berhasil menyampaikan moral ini dengan baik. Plot tentang Simon yang menjadi lebih berani dan tidak sok pintar juga cukup menarik walaupun porsinya tidak semenarik Alvin. Keunggulan penulisan kedua plot utama ini sayangnya tidak diikuti oleh plot-plot pendukung lainnya yang terkesan kedodoran. Misalnya plot tentang karakter Zoe yang perkembangan karakternya bisa dibilang tidak jelas dan terlalu delusional. Aneh lah pokoknya, saya tidak habis mengerti dengan karakter yang satu ini. Pada akhir cerita pun terkesan sangat mudah ia berubah. Hal yang sama juga berlaku bagi karakter Ian yang sudah kita kenal sejak seri pertama. Perubahan yang terlalu drastis di hampir akhir cerita juga tidak begitu meyakinkan saya dengan apa yang diucapkannya. Perlu penggalian yang lebih dalam lagi untuk bisa menjadikannya lebih menarik atau sekalian tidak perlu ada sama sekali.
Beberapa detail adegan yang tidak dimunculkan sehingga terkesan menggampangkan juga terjadi di sini. Misalnya ketika Alvin dan Dave harus pergi ke gua di balik air terjun atau ketika Dave terjatuh dari jembatan kayu. Saya tidak akan bercerita banyak karena mungkin akan menjadi spoiler bagi Anda yang belum menonton. Nanti lah ketika Anda menyaksikan sendiri, Anda akan tahu apa yang saya maksudkan.
Seperti biasa, seri AntC selalu menyertakan lagu-lagu yang sedang populer untuk dibawakan oleh Chipmunk dan Chipette, yang jujur saja menjadi salah satu faktor menariknya franchise ini. Memang sih bikin suara menjadi chemprenk ala chipmunk tidak sulit, tinggal merubah pitch-nya saja, tapi saya cukup terkesan dengan pemilihan dan penampilan soundtrack-soundtrack di installment ini, terutama versi medley dari Born This Way, Ain’t No Stoping Us Now, dan Fireworks. Jadi terkesan lebih fun dan fresh lah.
Anyway, saya sangat menikmati installment ketiga ini. Bahkan saya lebih menyukai Chipwrecked ketimbang The Smurfs untuk tahun ini. Memang Chipwrecked bukan tipikal film anak-anak klasik yang bakal memorable dalam jangka waktu panjang, tetapi cukup enjoyable sebagai film ringan yang menghibur. Mungkin bakal lebih bisa dinikmati oleh anak-anak di bawah usia 10 tahun ketimbang yang seumuran saya. Mungkin juga film tipe begini lebih bisa dinikmati ketika ditonton bersama keluarga yang ada anak-anaknya ketimbang bersama teman-teman yang seumuran. Tidak ada salahnya kan sekali-sekali mengajak keponakan atau adik pacar yang masih anak-anak menonton bersama?
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, December 23, 2011

The Jose Movie Review - Mission: Impossible - Ghost Protocol


Mission:Impossible adalah salah satu serial TV favorit saya ketika masih kecil. Siapapun yang pernah dibesarkan di era 80-90’an pasti tahu persis ciri khas tim IMF dari Mission:Impossible ini. Yap, penggunaan topeng semacam lateks yang pada masa itu tentu saja masih termasuk something amazing, alat informasi misi kepada agen yang self-destruct setelah diakses, dan tentu saja sumbu yang disulut api. Lantas serial ini diangkat ke layar lebar untuk pertama kalinya dengan sutradara Brian DePalma. Tak beda jauh dengan ke-khas-an serialnya; seru, menegangkan, tidak hanya sekedar main tembak-tembakan, ledak-ledakan, dan baku hantam, tetapi juga menggunakan strategi yang rumit dan gadget-gadget canggih. Kesuksesannya dilanjutkan M:I-2 dengan sutradara John Woo dengan gaya yang berbeda; more action stunts, simpler plot. Walaupun cukup melenceng jauh dari pakem serialnya, at least seri ini masih enjoyable. Sampailah pada M:I-III yang entah kenapa, menurut saya adalah installment paling tidak memorable di antara semua versi layar lebarnya. Padahal sebenarnya cukup menghibur, dengan sutradara J. J. Abrams dan didukung aktor sekaliber Phillip Seymour Hoffman. Setelah 5 tahun, barulah muncul installment berikutnya dari M:I setelah Tom Cruise dan pihak Paramount sempat memutuskan kontrak yang artinya tidak akan pernah ada lanjutan M:I dengan aktor Tom Cruise lagi di layar lebar. Entah kenapa pada akhirnya mereka akur kembali dan Tom Cruise bahkan menjadi produser installment ke empat ini. Awalnya saya agak kurang antusias karena installment sebelumnya yang kurang memorable ditambah sutradaranya Brad Bird yang selama ini dikenal sebagai sutradara film animasi Pixar seperti The Incredibles dan Ratatouille. Bisa nggak nih seorang sutradara film animasi menggarap film spionase dengan baik?
Setelah menyaksikan hasil akhirnya, saya harus meminta maaf kepada Bird karena sempat menyangsikan kemampuannya. Mission: Impossible telah dikembalikan ke bentuk film spionase yang semestinya. Setelah installment pertamanya, bisa dibilang inilah installment yang paling mendekati jiwa petualangan agen rahasia yang pernah diusung serial TV-nya. Mulai adegan penyusupan di Kremlin, penyamaran di gedung Burj Khalifa, hingga penyergapan di Mumbai, semuanya terangkai dalam strategi yang tidak mudah, persiapan yang detail, serta eksekusi yang mengandalkan keberanian (kenekadan, lebih tepatnya) serta ketepatan. Hal-hal yang kurang digarap dengan rapi di installment kedua dan ketiga.
Premisenya simpel dan bukan barang baru di dunia film spionase, masih bermain-main dengan nuklir. Saya bahkan tidak tertarik dengan premise ceritanya. Namun demikian, saya sangat menikmati tiap perjalanan misi Ethan Hunt dan timnya yang penuh diliputi ketegangan. Durasi yang 133 menit, tergolong panjang untuk jenis film hiburan mainstream, sama sekali tidak terasa. Sesuatu yang jarang terjadi di dunia film Hollywood akhir-akhir ini. I guess that would have meant that, “It’s a very good job, Bird! You’ve proven yourself as a great director, other than animation.”
Tom Cruise masih tampak mengesankan sebagai tokoh utama. Sepak terjangnya baik sebagai perencana strategi maupun pengeksekusi misi yang nekad, sekali lagi patut diacungi jempol, mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi (lihat saja bentuk badannya di film ini yang sudah mulai kendur dimana-mana). Simon Pegg sebagai Benji memberikan kesegaran tersendiri berkat aksi dan celetukan kocaknya di beberapa adegan. Tidak terlalu berlebihan, cukup membuat tersenyum, sehingga tidak membuat film keseluruhan terasa konyol. Salut buat Pegg yang tahun ini sukses membawakan peran-peran yang cukup mengesankan, seperti sebagai Graeme Willy di Paul, Thompson di The Adventures of Tintin, dan Benji di M:I – Ghost Protocol. Jeremy Rennner sebagai Brandt cukup mencuri perhatian. Seandainya di installment berikutnya Ethan Hunt tidak lagi mau beraksi, maka Brandt sebagai karakter utama akan membuat cerita Mission: Impossible tetap menarik. Renner sendiri sebelumnya sempat muncul sebagai Hawkeye di Thor dan kelak juga di The Avengers. Sementara Paula Patton sebagai Jane mengingatkan saya pada karakter Nyah Nordoff-Hall yang diperankan Thandie Newton di M:I-2. Di kubu villain, saya paling terkesan dengan wajah eksotis Perancis Léa Seydoux yang memerankan Sabine Moreau. Ada pula Michael Nyqvist sebagai Hendricks yang sebelumnya angkat nama berkat trilogy Millenium (The Girl with the Dragon Tattoo, The Girl Who Played with Fire, dan The Girl Who Kicked the Hornet’s Nest). Tidak ketinggalan penampilan aktor India terkenal, Anil Kapoor, yang muncul hanya beberapa menit namun cukup mencuri perhatian layar.
Saya juga ingin memberikan apresiasi kepada divisi sound effect yang cukup menonjol. Saya sangat terkesan dengan detail efek suara yang jernih, jelas, dan terbagi dengan baik di setiap kanal, seperti suara badai pasir, suara tembakan, dan suara dentuman mobil-mobil yang berjatuhan dari tempat parkir mobil bertingkat. Score pun menambah suasana ketegangan tiap adegan yang ada. Sayang sekali di installment ini absen kehadiran soundtrack dari musisi terkenal. Padahal sebelumnya ada Limp Bizkit (di M:I-2) dan Kanye West (di M:I-III).
Sebagai sebuah film hiburan maupun sebagai installment dari franchise spionase yang sudah terkenal, Mission: Impossible - Ghost Protocol berhasil memuaskan saya. This has been a decent action espionage movie I’ve been waiting for years.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, December 21, 2011

The Jose Movie Review - Drive


Di tengah kebosanan dengan film-film mainstream Hollywood yang makin lama hanya menyajikan special fx tanpa didukung seni penggarapan yang mumpuni, saya menemukan sedikit oase yang cukup menghibur dan memberikan kesegaran. Drive mungkin adalah tipikal film yang super membosankan bagi penonton yang terbiasa dengan pace ala Hollywood mainstream masa kini, tapi jika Anda bisa menikmati film-film Hollywood era ’70-‘80an, maka besar kemungkinan Anda akan menyukai sajian yang satu ini.
Dengan budget minimalis, Nicolas Winding Refn praktis hanya mengandalkan kepiawaiannya dalam menata sebuah film menjadi sesuatu yang menarik, sesuatu yang seharusnya menjadi hakekat sebuah film yang tidak hanya menjual special fx serta kiss-kiss bang-bang, dengan gaya retro.
Jujur saya agak bosan di menit-menit awal. Judul Drive membuat saya expect adegan kebut-kebutan ala Fast and Furious. Eh ternyata cara The Driver menyetir mobil biasa saja. Tidak ada kebut-kebutan, tak ada pula deru suara mesin atau mobil ngepot. Hanya kepiawaian The Driver dalam hide and seek dengan polisi. Namun saya mencoba untuk bersabar karena saya tahu kesabaran saya akan terbayarkan. I knew this type of movie. Sembari saya mengamati tiap detail adegan, seperti dialog, gesture tubuh, hingga ekspresi wajah. These are important things yang sekarang mulai diabaikan orang gara-gara kebiasaan didikte film-film yang terlalu to the point. Hingga satu titik... bang! Gila neh karakter The Driver... Refn memang tahu betul kapan harus menempatkan adegan-adegan pendobraknya. Saya jadi teringat film sejenis Dirty Harry-nya Clint Eastwood atau Death Wish-nya Charles Bronson. Apalagi ditambah musik pengiring dan score yang sangat mendukung. Entah kenapa saya selalu menyukai adegan-adegan sadis bin miris yang diiringi dengan musik yang justru menenangkan, seperti halnya di Hannibal, Inglourious Basterds, bahkan Rumah Dara. Terasa banget kontras ironi-nya.
Yang patut diingat pula, chemistry antara The Driver dan Irene (karakter yang diperankan Mulligan) bisa terasa sekali tanpa mengumbar adegan seks seperti yang hampir selalu ditampilkan di film Hollywood. Justru ketika adegan “ciuman pertama” lah yang menjadi puncak asmara mereka. Sesuatu yang jarang terjadi di film-film Hollywood akhir-akhir ini namun sangat mengena.
Ryan Gosling yang tahun ini bisa dibilang merupakan tahun keemasannya, sangat berhasil menyatu dalam karakter utama yang misterius. Kadang tampak tenang dan penuh belas kasih, namun bisa berubah seratus delapan puluh derajat menjadi super brutal. Bahkan saya tidak merasa perlu tahu asal-usul dan identitas karakter ini sesungguhnya yang memang sama sekali tidak dijelaskan dalam film. Menurut saya ini bukanlah suatu kekurangan atau kedangkalan cerita. Refn sama sekali tidak tertarik untuk menceritakan tentang identitas The Driver. Dia hanya ingin penonton mengenal The Driver seperti apa yang ditampilkan di layar. That’s all. Dari situ ia membangun simpati dari penonton and that worked on me.
Carey Mulligan pun berhasil membuktikan bahwa karakter wanita lemah yang tugasnya hanya untuk dilindungi oleh jagoan utama, bukan berarti tidak memerlukan kualitas akting yang berkelas. Sisanya, pemeran-pemeran pendukung seperti Bryan Cranston, Albert Brooks, dan Ron Perlman mengisi perannya masing-masing dengan cukup maksimal.
Overall, Drive memerlukan kesabaran dan kejelian mengamati adegan jika ingin menikmatinya. Pada saat credit title muncul pun, saya sempat berpikir, “Lho, sudah? Gitu aja?”. Namun selama perjalanan pulang, pikiran saya terus terhantui oleh adegan-adegan yang barusan saya saksikan dan ketika saya mulai memikirkan tiap detail plot yang ada, saya baru menyadari betapa dahsyatnya efek psikologis yang disebabkan oleh film se-sederhana Drive. Simply the only 2011’s cult movie.
Lihat data film ini di IMDB
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, December 20, 2011

The Jose Movie Review - Garuda di Dadaku 2


Rudi Soedjarwo merilis film anak keduanya tahun ini setelah Lima Elang (5E) yang bisa dibilang cukup berhasil. Walau menurut saya masih tergolong biasa, Rudi mencoba untuk memperbaikinya lewat Garuda di Dadaku 2 (GDD2). Bedanya, kali ini Rudi diberi materi yang lebih dewasa sedikit ketimbang 5E.

Sepak bola tahun ini bisa jadi subjek yang paling banyak disorot di negeri ini. Di film sendiri sebelumnya sudah ada Hanung Bramantyo yang mengangkatnya lewat Tendangan dari Langit. Karena jadwal rilisnya yang hanya berselang beberapa bulan, wajar jika penonton lantas mencoba membandingkan keduanya. Tidak salah sih, tapi menurut saya walaupun punya tema yang sama tetapi keduanya memiliki banyak sekali perbedaan. Pertama, jelas antara Hanung dan Rudi memiliki ke-khas-an yang berbeda dalam penggarapan. Kedua, fokus cerita berbeda. Jika Hanung mengangkat perjuangan pemuda desa demi masuk timnas, maka GDD2 menitik beratkan pada perkembangan karakter utama, Bayu. Di sini lah letak menariknya GDD2 yang tidak semata-mata mengenai dunia sepak bola. Ada nilai kedewasaan universal yang ingin disampaikan melalui dunia sepak bola. Saya sangat menyukai penggambaran pribadi Bayu yang mulai menginjak remaja dengan cukup detail. Tidak ada deh karakter ideal dimana protagonis selalu bersikap sempurna. Karakter Bayu sangat manusiawi: rasa kesal karena sahabatnya mulai akrab dengan orang lain, kekesalan karena kepercayaan kapten tim yang dialihkan dari dirinya, tekanan mental sebagai kapten yang timnya belum pernah menang pertandingan, hingga tekanan dari sisi akademisnya. Semua ditampilkan dengan sangat baik oleh Emir Mahira yang kemampuan aktingnya semakin matang. Thanks to Salman Aristo yang tak perlu diragukan lagi kepiawaiannya sebagai scriptwriter.
Secara teknis, tentu tidak banyak yang bisa saya komentari karena Rudi dari dulu memiliki taste sinematografi, art direction, dan dramatisasi yang sangat baik. He’s the king of drama, bisa bikin adegan dramatis tanpa terasa terlalu berlebihan. Adegan ngambek-ngambekan antara Bayu dan Heri adalah adegan yang menurut saya Rudi Soedjarwo banget! Aghi Narottama, Bembi Gusti, dan Ramondo Gascaro yang sekarang lagi naik daun sebagai penata musik film-film nasional papan atas, memberikan nyawa tersendiri bagi tiap adegan sehingga terasa lebih hidup dan menghanyutkan, walau tak sampai menjadi memorable banget seperti layaknya score Arisan! 2 atau Pintu Terlarang. Well, yang penting kan sudah cukup mampu menghidupkan adegan yang diiringi, end of story.
Namun dari segala kelebihan yang dimiliki, GDD2 tak luput dari kekurangan. Ketika adegan terakhir dan beralih ke credit title, saya merasakan kurang klimaks. Saya masih belum puas dengan konflik yang terjadi antara Bayu, ibunya, dan teman bisnis ibunya. Seolah pertautan antara ketiganya dimulai dan berjalan dengan sangat baik sepanjang film, namun tidak diberi kesimpulan. Ending ini pula yang kurang bisa menggambarkan hubungan Bayu dengan ibunya yang seharusnya tidak kalah penting. It’s like, “yang penting menang final, end of story”. Padahal sejak awal jelas sekali tersirat bahwa yang harus diselesaikan adalah konflik Bayu dengan orang-orang di sekitarnya. Jika konflik antara Bayu dengan Heri, Anya, maupun dirinya sendiri bisa diselesaikan dengan baik, mengapa antara Bayu dengan ibunya tidak tuntas?
Kekurangan lain yang terasa adalah jalannya pertandingan-pertandingan sepak bola yang kurang seru. Mungkin tidak ada dramatisasi seperti slow motion menjelang goal ataupun editing yang kurang bikin breathtaking. Misalnya adegan goal terakhir yang terlalu cepat dan pergantian framenya yang kurang halus, sehingga terasa biasa saja. Justru adegan pertandingan semi-final yang diiringi nyanyian Garuda di Dadaku oleh penonton lebih bikin merinding buat saya.
Dari segi teknis, saya juga kurang puas dengan volume dialog di beberapa bagian yang terasa terlalu kecil, kurang imbang dengan score yang terdengar megah. Yang paling terasa jelas adalah dialog Maudy Koesnaedi dengan Emir Mahira di mobil pada opening title. Untung saja tidak sampai semua adegan seperti itu.
Untuk jajaran cast, semuanya cukup berhasil menghidupkan karakter dengan porsi masing-masing. Bahkan Ramzi yang perannya kecil, berhasil menyegarkan suasana film, dimana karena konflik-konflik yang dialami Bayu hampir saja menjadikan mood sepanjang film terasa sangat serius. Monica Sayangbati yang sebelumnya juga pernah bermain di 5E sekali lagi berhasil mencuri perhatian. I think she has a good future in movie industry. Bahkan tampilan fisiknya lebih cantik dan memikat daripada di 5E. Rio Dewanto cukup beruntung karena dua filmnya dirilis dalam waktu yang berdekatan : Arisan! 2 dan GDD2. Tentu saja dengan peran yang sangat kontras di kedua film tersebut memberikan kesan tersendiri bagi penonton. Image sebagai aktor yang patut diperhitungkan kemampuan aktingnya dapat dengan mudah diraih.
Anyway, GDD 2 adalah film yang sangat layak untuk disaksikan oleh anak-anak Indonesia. Penonton dewasa juga bisa bernostalgia dengan masa-masa peralihan dari anak-anak menuju remaja. Even for a non soccer fan and those who haven’t watched the previous movie, GDD2 was still easily understandable and entertaining.
Lihat official website film ini
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, December 2, 2011

The Jose Movie Review - Arisan! 2


Arisan! yang dibuat oleh Nia Dinata 8 tahun lalu merupakan sebuah landmark buat perfilman Indonesia. Pertama, film ini dengan berani dan jujur mengangkat fenomena kaum sosialita metropolis. Kedua, tak banyak film yang berhasil menghadirkan chemistry yang begitu kuat antara pemerannya, seperti persahabatan yang terjalin antara pemeran-pemeran utama Arisan!.
Setelah juga hadir dalam format serial, kini Nia melanjutkan cerita persahabatan antara Meimei, Andien, Lita, Sakti, dan Nino. Anda boleh menganggapnya sebagai sekuel karena memang masih bercerita tentang kehidupan masing-masing karakter yang sudah ada. Juga, Anda boleh menganggapnya sebagai reuni dimana kita sebagai penonton seperti menjadi bagian dalam lingkaran persahabatan mereka.
Di sini Nia tampak tak perlu bercerita banyak tentang problematika tiap karakter utamanya. Praktis, sebenarnya hanya Meimei lah yang menjadi fokus di sini. This was her Eat, Pray, Love, versi dia pribadi. Ada sih sedikit membahas tentang hubungan Sakti dan Nino ataupun antara Lita, mantan TTM-nya, dan anak semata wayangnya, Talu. Namun porsi cerita mereka tidak begitu diberikan ruang. Yah bisa dimengerti lah, bakal jadi sepanjang apa filmnya kalau juga diberi porsi yang kurang lebih sama. Yang ada malah membosankan deh. Secara keseluruhan, walau tak banyak cerita yang disampaikan, tetap enak diikuti hingga akhir film. Sama sekali tidak membosankan. Kalau menurut saya sih ini karena faktor kedekatan kita sebagai penonton dengan karakter-karakter utama yang ada. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, seolah-olah penonton seperti bagian dari persahabatan mereka. That’s a very good treatment!
Tapi yang pasti tidak berubah dari seri pertamanya adalah guyonan-guyonan yang menyindir kehidupan kaum sosialita negeri ini, lengkap dengan fenomena-fenomenanya, seperti bedah plastik, social network, hingga new-age. Tak ketinggalan pula gugatan-gugatan sosial-politik mulai gorengan plastik, politikus yang dengan agenda klisenya tentang dunia film : mengangkat budaya bangsa yang bermoral (dari kacamatanya sendiri), maraknya demonstrasi massa yang tidak jelas tujuannya, fake family to cover homosexuality, hingga hubungan antara Sarah Sechan dan Shanty yang sempat memanas. Semua diselipkan ke dalam cerita secara cerdas, menarik, dan menggelitik.
Dari departemen aktingnya tidak perlu diragukan lagi. Bisa dibilang tidak ada sama sekali aktor yang canggung membawakan perannya di sini, termasuk yang sekedar menjadi cameo. Cut Mini sangat berhasil sekali membawakan karakter yang mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Sementara dari jajaran karakter baru, yang paling menonjol tentu saja Rio Dewanto yang mungkin bisa jadi sebuah titik balik karir aktingnya, sama seperti ketika Barry Prima memerankan karakter transgender di Realita Cinta dan Rock n’ Roll. Saya tidak heran jika tahun depan wajahnya semakin mendominasi layar perfilman Indonesia. Sarah Sechan cukup hits dalam memberi warna tersendiri bagi keseluruhan film. Sementara Edward Gunawan, seorang sineas pendatang baru yang baru saja memenangkan penghargaan lewat film pendek Payung Merah, tak kalah mencuri perhatian sebagai the healer yang membantu Meimei secara spiritual. Tidak ketinggalan, Adinia Wirasti yang walau perannya tidak banyak namun cukup meninggalakan kesan yang dalam sebagai Molly, bartendis bar reggae. Intinya, kemunculan karakter-karakter baru justru membuat cerita Arisan! menjadi semakin berwarna dan menarik.
Desain produksi patut mendapat apresiasi lebih, mulai dari desain set, kostum, dan fotografi tampak sangat indah. Jelas sekali terlihat dari sisi teknis, Arisan! 2 jauh lebih dipersiapkan dengan baik dan matang daripada yang pertama. Jika pemerintah Indonesia menginginkan film yang mengangkat keindahan panorama alam Indonesia, Arisan! 2 has it. Pantai yang belum banyak menjadi destinasi pariwisata di negeri ini : Kepulauan Gili Trawangan, Lombok! Selain pesona alamnya, Nia juga mengeksplor keindahan budaya Indonesia berupa upacara perayaan Waisak di Borobudur. Ini bisa menjadi sebuah statement dari Nia bahwa budaya Indonesia itu banyak dan beragam, tidak hanya yang terus-terusan diekspos media kita atas nama “mayoritas”. Serius, saya menjadi semakin bangga menjadi bagian dari budaya Indonesia.
Tak ketinggalan, saya mengapresiasi desain opening title dan credit title-nya. Opening title-nya yang menyatu dengan arus air dan terkadang dilewati ikan-ikan, berkelas banget! Begitu juga dengan editing credit title-nya yang memberikan kesan seperti film Eropa. Editing juga berhasil ketika menghadirkan extreme close up ke beberapa organ tubuh karakternya, seperti mata dan tangan, yang memberikan kesan akting yang lebih dalam melalui gesture. Jarang nih ada yang menggunakan teknik ini. Lucky Kuswandi yang pernah jadi sutradara Madame X ternyata punya talenta editing yang juara juga.
Trio Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Ramondo Gascaro sekali lagi membuktikan diri sebagai music director yang jagoan dalam membangun mood film melalui score. Semua gubahannya berhasil menyatu dengan adegan-adegan yang ada, terlebih ketika adegan video Meimei untuk sahabatnya.
Menurut saya, Arisan! 2 bisa jadi sebuah refleksi tentang kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana kita memaknai hidup dan spiritualitas kita. It’s deeper and has a lot more messages to tell to the audience than the first one. Kalaupun ada bagian-bagian yang kurang berkenan dengan “stadard moral” kita, well, itulah realitanya yang terjadi di masyarakat. Mungkin hanya kita saja yang begitu nyaman hidup dalam kemunafikan sehingga enggan untuk mau mengerti kedaan orang lain. And finally after all, this was probably the best Indonesia movie this year, both in technical and essential. Feel good with the gank and for yourself!
Kunjungi official site film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates