Sunday, November 13, 2011

The Jose Movie Review - Sang Penari


Saya ingat pertama kali jatuh cinta dan penasaran setengah mati dengan film ini adalah ketika menonton trailernya di loket bioskop. Gambaran budaya yang ditampilkan dalam trailer sungguh memikat; kostum, setting lokasi, akting, dan liuk tarian dari Prisia Nasution cukup mewakili bagaimana film ini nantinya. 10 November 2011 menjadi tanggal yang paling saya tunggu-tunggu untuk menyaksikannya di hari pertama pemutaran. Belum lagi komentar-komentar yang saya dengar dari petinggi-petinggi perfilman negeri ini yang tak henti-hentinya menghujani pujian kepada film ini.
Well, yeah… penantian saya terbayar sudah. Sang Penari adalah salah satu film Indonesia terbaik 2011, bahkan masih layak dimasukkan jajaran film (lokal dan internasional, termasuk di dalamnya Hollywood) terbaik yang tayang di bisokop Indonesia.
Patut dicatat, Sang Penari adalah tipikal film seni yang mengedepankan sisi drama dan manusiawi, bukan tipikal film hiburan semata yang melulu tentang cinta dan perang seperti layaknya Pearl Harbor. Jadi jika Anda susah menikmati tipikal film seni, maka besar kemungkinan Anda akan merasa bosan menyaksikannya. Tapi jika Anda sabar dan gemar mengamati perkembangan cerita beserta segala detail elemennya, maka Sang Penari adalah pilihan tepat untuk memuaskan dahaga Anda akan film seni yang bermutu, khususnya dalam konteks film nasional.
Cerita cinta mungkin menjadi sajian utama dari film. Namun lebih dari itu, ada banyak sekali hal yang disodorkan Sang Penari. Yang utama adalah bagaimana keadaan sosio-kultural Dusun Dukuh Paruk yang merepresentasi kebanyakan desa pedalaman di Indonesia saat itu. Di tengah maraknya modernisasi di kota dan propaganda PKI saat itu, warga desa yang menjadi “korban” atau lebih tepatnya “tumbal” karena keluguan dan kebodohan mereka. Miris menyaksikan adegan-adegan yang merepresentasikan keadaan ini. Keadaan sosio-kultural juga ditunjukkan bagaimana istri-istri malah bangga jika suaminya bisa meniduri Ronggeng yang dipercaya pilihan Dewa untuk melayani agar desa dapat tetap makmur. Padahal keadaan ekonomi warga desa di situ sangat parah. Bahkan untuk makan nasi saja susah. Semua wacana yang diangkat tidak lantas menjadi sebuah alat propaganda untuk membela salah satu pihak (PKI ataupun tentara), namun lebih menekankan sisi kemanusiaan dari orang-orang yang tak berdosa. Di situlah letak kekuatan utama dari Sang Penari : tema yang kuat, yang jarang diangkat karena hingga sekarang masih menjadi topik yang sensitif.
Sang Penari punya banyak sekali kelebihan yang memang digarap dengan sangat serius. Yang paling terlihat adalah kesiapan setting lokasi dan kostum. Tak mudah menghadirkan suasana ’50-’60-an apalagi suasana dusun seperti Dukuh Paruk. Untuk itu two thumbs up layak disematkan kepada Production Designer-nya. Aksan dan Titi Sjuman yang mengisi score sepanjang film juga menambah magisnya suasana Dusun Dukuh Paruk. Kombinasi setting lokasi, kostum, dan score berhasil membangun suasana magis sepanjang film. Sumpah, saya masih terbayang terus suasana Dukuh Paruk dan rasa simpati terhadap apa yang dialami oleh warga di situ terus menghantui higga lama setelah saya menyaksikannya. Good job for Ifa Isfansyah dan timnya!
Kekuatan akting turut andil dalam menambah poin, terutama Prisia Nasution yang sukses menghidupkan karakter Srintil. Tak banyak dialog, namun emosinya sangat terlihat jelas dari raut wajah dan gerak tubuhnya. Ditambah kemampuan tarian khas Ronggeng yang semakin menonjolkan dirinya sepanjang film. Oka Antara pun tampil menonjol ketimbang peran-peran yang pernah dilakoni sebelumnya. Transformasi dari Rasus yang awalnya pemuda desa yang melankolis, penakut, dan serba susah, menjadi anggota tentara yang tegas, berani, dan terdidik, tampak sangat meyakinkan. Chemistry antara Prisia dan Oka terbangun dengan sangat bagus. Tak perlu kata-kata romantis, “Aku cinta kamu” atau kata-kata sejenis untuk menunjukkannya. Sorot mata dan sikap antara keduanya cukup untuk menggambarkan chemistry mereka. Sayang, beberapa adegan intim antara keduanya harus disensor, padahal saya yakin bisa semakin memperkuat chemistry antara Rasus-Srintil. Di jajaran pemeran pembantu, Slamet Rahardjo tampil paling menonjol sebagai dukun Ronggeng, melebihi Lukman Sardi dan Tyo Pakusadewo. Happy Salma yang hanya muncul beberapa detik di layar pun tak kalah memberikan pesona Ronggeng yang cukup kuat. Bahkan jika porsinya diberi lebih banyak, bisa-bisa karakter Srintil kalah kuat.
Dari segala kelebihannya, Sang Penari pun tak luput dari kekurangan walau tak begitu mengganggu keseluruhan film. Ada beberapa bagian yang terasa kurang jelas, apalagi bagi penonton yang belum pernah membaca novelnya sebelumnya seperti saya. Misalnya ketika tiba-tiba Bakar (karakter yang diperankan Lukman Sardi) menghasut beberapa pemuda desa untuk melakukan aksi pembakaran beberapa rumah. Positifnya sih, saya jadi penasaran dan tertarik untuk membaca novelnya juga. Tak mudah memang meringkas novel (apalagi sebuah trilogi) menjadi satu film berdurasi 2 jam, tapi Salman Artisto dan Shanty Harmayn cukup baiklah dalam mengadaptasinya. Setidaknya elemen-elemen penting dan jiwanya masih sama. Lah Ahmad Tohari, penulis novelnya sendiri sampai menangis terharu ketika menyaksikan filmnya.
Sang Penari adalah karya film nasional yang patut diapresiasi setinggi-tingginya dan saya percaya andaikan didaftarkan untuk Academy Awards kategori Best Foreign Feature, karya Ifa Isfansyah yang satu ini mampu berbicara banyak, melebihi Di Bawah Lindungan Ka’bah yang telah didaftarkan terlebih dahulu.
Lihat data film ini di IMDB.
Lihat Official Website film ini.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates