Wednesday, November 30, 2011

The Jose Movie Review - Poconggg Juga Pocong The Movie


Sebagai orang yang tinggal di teritori Indonesia, mungkin kita sudah had enough with a thing called Pocong. Jenis makhluk halus asli Nusantara ini termasuk yang paling sering muncul di film horror lokal, selain tentu saja Kuntilanak. Yang bikin kesel sih, Pocong sebenarnya termasuk jenis hantu yang tidak mengerikan sama sekali. Ia tidak bersuara, tak bisa lari, dan posturnya biasa saja, tapi entah kenapa auranya itu lho yang bikin merinding.
Ada pula seikat pocong yang berjuluk Poconggg yang naik daun berkat akun twitter anonim-nya. Tak heran fenomenal sebuah akun twitter berlanjut pada sebuah buku novel ala Raditya Dhika, dan sama seperti Kambing Jantan, sekarang juga merambah film layar lebar.
Saya bukan follower akun twitternya yang konon hingga saat ini tembus satu juta tiga ratus ribu sekian follower. Tapi saya tahu beberapa twit fenomenalnya yang melegenda. Intinya sih kehidupan “seikat” pocong yang dipadu dengan kehidupan gaul manusia, ya gaul, ya galau. Manusiawi banget lah. Saat novelnya rilis pun, saya sempat under-estimate, “ah apaan sih… paling ya gitu gitu aja…”. Image nya berubah 180 derajat ketika saya mulai membaca isi novelnya ketika nongkrong di sebuah cafĂ©, tepat setelah novel itu dibeli oleh seorang teman kantor. Yep, saya berhasil memperawani novel tersebut sebelum ia sempat membacanya sendiri. Saya harus mengakui… Pocongg Juga Pocong adalah buku humor terlucu setelah era kejayaan Kambing Jantan.
Nah, ketika berhembus kabar bahwa PJP akan diangkat dalam format layar lebar, antusias saya jadi membara-bara. Namun ada juga dua kekhawatiran saya. Yang pertama, mengadaptasi sebuah novel komedi yang lebih berisi sketsa-sketsa cerita humor yang agak jauh berhubungan antara satu bab ke bab lainnya menjadi sebuah sebuah film cerita yang alurnya beruntut dan menarik, bukanlah pekerjaan mudah. Sebelumnya, Kambing Jantan menurut saya tidak begitu berhasil. Apalagi setelah melihat trailernya, comedic-feel-nya agak kurang terasa. Kedua, yang memproduksinya adalah Maxima Pictures yang terkenal dengan film-film horror kacrutnya, ditambah lagi sutradaranya adalah Chiska Dhoepert yang dulunya dikenal sebagai astrada dari Koya Pagayo atau alter-ego-nya Nayato. Filmografi Chiska sendiri sebagai sutradara tidak terlalu bagus karena cenderung mengikuti jejak mentornya. Tidak heran lantas banyak yang mencurigai Chiska sebagai alter-ego lain lagi dari Nayato. Untunglah ternyata bukan.
Setelah menyaksikan, ternyata hasil akhirnya jauh lebih baik daripada yang saya cemaskan ketika melihat trailernya. Guyonan-guyonan yang terlontar di novelnya masih terasa lucu di film, baik berupa celetukan maupun tingkah laku karakter-karakternya. Runtutan kejadiannya memang tidak sama persis seperti di novel, namun justru yang tersaji di layar jauh lebih enak dinikmati karena alurnya menjadi lebih teratur dan rapi. Fokus cerita tidak lagi berkisar kehidupan sehari-hari seikat pocong seperti di novelnya, tapi menyempit ke hubungan asmara antara Dimas (si Poconggg) dan sahabatnya ketika masih hidup, Sheila. Sebuah keputusan yang sangat baik sekali, menurut saya, sehingga film menjadi lebih terarah. Arief Muhammad, si pemilik akun @Poconggg, dibantu Haqi Achmad yang awalnya seorang blogger review film, cukup berhasil mengadaptasi novelnya menjadi sebuah skrip yang rapi dan lebih menarik, sehingga walau dengan dukungan teknis dan cerita cinta ala FTV (shot-nya saja hanya menggunakan kamera Canon full-HD), mampu menghadirkan karya dengan citarasa layar lebar. Chiska sangat beruntung punya skrip yang rapi, sehingga walau sang sutradara tak cukup memberikan kontribusinya, film masih terasa jelas arah alurnya. Ada beberapa adegan komedik yang seharusnya bisa jadi lucu banget, tapi gara-gara penyutradaraan, angle, dan timing yang kurang pas, jadinya terasa kurang greget. Misalnya adegan ketika Poconggg harus melewati tutup portal perumahan. I will blame the director for this.
Namun yang membuat saya cukup kaget sekaligus kagum adalah tampilan sisi drama romantisnya yang menurut saya dapet banget. Ada beberapa adegan yang menurut saya paling romantis untuk film Indonesia tahun ini. Jujur, saya sempat tersentuh, sedikit sembab tapi dengan senyum tersimpul gara-gara satu adegan ini. Treatment adegan serta score pengiringnya, mendukung banget feel romantis bin mengharukan itu. Keren banget. Sama sekali tidak menyangka pencapaiannya bisa sampai sejauh ini. Very good job!
Tentu saja tampilan keseluruhan yang menarik dan menghibur ini bukan tanpa celah. Sangat jelas sekali celah-celah yang terasa terutama dari segi teknis. Yang pertama dan paling simpel adalah banyak sekali kontinuitas adegan antar shot yang kurang sinkron. Jangan kaget kalau pada adegan yang sama tiap ganti angle, ada banyak perubahan baik itu berupa gerakan tangan atau arah kepala. Kedua, di bagian awal-awal film, ada banyak sekali transisi yang kurang enak dinikmati karena hanya main “fade out to black-fade in from black”. Belum lagi jika diiringi lagu soundtrack, pemotongannya seringkali kurang pas, terasa sekali jumping-nya. Untung saja, mulai pertengahan hingga akhir, transisi adegan sudah lebih dinamis, variatif, dan pas dengan kebutuhan.
Untuk akting, saya merasa sebagai pemeran utama, Ajun Perwira kurang bisa menunjukkan sisi komikal dalam dirinya. Beberapa guyonan yang dia lontarkan masih bisa bikin ketawa sih, tapi secara keseluruhan, aura “gokil”-nya masih seperti dibuat-buat, apalagi ketika membawakan narasi. Aktor pendatang baru yang mirip Adly Fairuz ini tampak terlalu alim untuk membawakan peran segokil itu. Geek but gokil, agak susah sih cari orang yang tampilannya seperti itu. Sementara akting Saphira Indah dan Guntur Triyoga masih standard kelas FTV. Untung saja penampilan Nycta Gina dan Rizky Mocil yang sudah lebih berpengalaman di dunia hiburan, sangat membantu meramaikan suasana.
Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, PJP adalah tipikal film yang dibuat sekedar untuk lucu-lucuan dan hiburan. So, don’t take this movie seriously. Buat yang sedang galau, butuh hiburan segar dan bisa tertawa terbahak-bahak, PJP adalah pilihan yang sangat tepat.
Lihat situs resmi film ini.
Kenali Poconggg lebih dekat.
Follow akun twitter Poconggg.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates