Sunday, November 13, 2011

The Jose Movie Review - The Adventures of Tintin : The Secret of The Unicorn

Ini dia film yang sejatinya paling saya tunggu-tunggu di tahun 2011. Pertama, karena saya menyukai petualangan seri Tintin, baik dalam bentuk komik maupun serial animasi klasiknya yang gayanya persis dengan komiknya. Kedua, tentu saja nama Steven Spielberg yang selama ini merupakan salah satu sutradara yang memiliki konsistensi kualitas, baik dalam menggarap film serius macam Saving Private Ryan, maupun film murni hiburan macam Jurassic Park. Ketiga, tentu saja siapa yang tidak penasaran menyaksikan petualangan Tintin dan karakter-karakter legendarisnya dalam bentuk motion-capture-animation? So, wajar jika saya sangat antusias dan memiliki ekspektasi yang cukup tinggi untuk film ini.
First of all, tentu saja saya sangat terpukau oleh desain produksinya. Motion-capture animation-nya sangat-sangat luar biasa, melebihi kerealistisan Beowulf, The Polar Express, maupun A Christmas Carol. Bahkan jika kita hanya melihat salah satu adegan saja, sekilas seperti the real live-action movie, bukan animasi. Perhatikan saja detail tekstur kulit, dinding puri Omar Ben Salaad, bahkan air dan pasir yang muncul di layar. Terlihat seperti asli! Lantas kenapa tidak dibuat live-action saja? Katanya sih, awalnya Spielberg menginginkan membuat versi live-action, tapi lantas Peter Jackson berpendapat bahwa dunia Tintin tidak mungkin bisa terealisasikan dengan baik dalam bentuk live-action. Saya sependapat dengan Jackson. Apa jadinya ciri khas karakter-karakternya, misalnya bentuk hidungnya yang unik-unik, dibuat live action? Biasa banget, aura dunia Tintin tidak bisa tergambarkan dengan penuh. Belum lagi adegan-adegan kekerasannya, termasuk melibatkan booze dan cigarette, yang menurut saya kurang pantas untuk konsumsi Semua Umur (G/PG). Jika memaksa dibuat versi live-action, bisa-bisa ratingnya di Amerika Utara jadi PG-13. Tentu saja Spielberg tidak menginginkan rating PG-13 untuk Tintin yang bisa mengurangi calon penontonnya.
Saya juga sangat menikmati editingnya dimana transisi-transisi adegannya dibuat dengan sangat indah. Jarang saya melihat film dengan gaya transisi seperti ini. Pergerakan kameranya yang smooth namun dinamis sangat stylish menurut saya. Ada keuntungan dan kerugian dari gaya pergerakan kamera seperti ini, menurut saya. Keuntungannya adegan tampak halus bergerak dan tentu saja ini menghasilkan keindahan tersendiri. Kerugiannya, jika terlalu banyak digunakan dalam satu film, bisa menyebabkan kebosanan. Dua-duanya terjadi dalam film ini.
Semua keunggulan ini sayangnya belum mampu memenuhi ekspektasi saya akan film ini sebagai sebuah film petualangan yang utuh (bukan secara teknis yang menurut saya topnotch). Saya merasa seperti alurnya berjalan terlalu cepat dan pada suatu titik menyebabkan kebosanan. Ada kalanya sih petualangan menjadi menarik, misalnya ketika di kapal Karaboudjan dan padang pasir Maroko. Namun saya tidak bisa menikmati dan akhirnya merasakan kebosanan ketika adegan kejar-kejaran di kota Bagghar (yang menurut saya terlalu berlebihan dan tidak masuk akal) dan satu adegan pamungkas ketika Sakharine hendak kabur. Dua adegan petualangan pamungkas yang menurut saya mempengaruhi petualangan secara keseluruhan yang terasa plain dan tidak memiliki emosi sama sekali. Jujur, menurut saya pribadi, cerita petualangan di versi serial kartunnya era 90-an masih jauh lebih seru untuk diikuti. Mungkin karena Spielberg terlalu fokus untuk menampilkan adegan aksi spektakuler ketimbang memberikan nyawa petualangan itu sendiri. Jangan tanya lagi soal perkembangan karakter. Mungkin hanya karakter Haddock saja yang terasa diberikan perkembangan yang berarti.
Akhirnya, kebosanan pada adegan-adegan terakhir tersebut justru membuat saya semakin tidak tertarik ketika Tintin bertanya kepada Haddock, “How’s your thirst for adventure, Captain?” dan Haddock menjawab, “Excellent!”. Oh no… jika film dilanjutkan maka mungkin saya akan langsung walk out. Untung saja itu hanya sebuah pertanda bahwa franchise Tintin dalam bentuk motion-capture animation akan dilanjutkan dengan sequel. Well, semoga saja sequelnya tidak keluar dalam waktu terlalu dekat sehingga saya bisa melepaskan image buruk Tintin yang ini dan tertarik untuk menyaksikan sequelnya kelak. Two or three years will do, I think.
Karakter Tintin bisa dihidupkan dengan segala image dari komiknya berkat si Billy Elliott, Jamie Bell. Kemiripan fisik dimanfaatkan oleh Bell dengan sangat baik dengan kemampuan aktingnya. Captain Haddock juga tampil memikat dan jenaka di tangan maestro aktor motion-capture, Andy Serkis (yang juga pernah menjadi aktor motion-capture untuk karakter Gollum di seri LOTR, KingKong di King Kong, dan Caesar di The Rise of The Planet of The Apes). Duo kocak Simon Pegg-Nick Frost yang tahun ini juga berhasil lewat Paul memberikan warna tersendiri walau terkesan hanya pemanis atau tempelan dalam film. Padahal menurut saya film bakal menjadi lebih menarik jika porsi keduanya sebagai kembar Thompson-Thomson ditambah. Daniel Craig menyumbangkan suara yang berbeda untuk Sakharine. Entah bagaimana caranya saya sampai tidak begitu mengenali suaranya di sini. Good one, anyway. Kemunculan karakter iconic yang cukup membuat saya kaget sekaligus excited adalah Bianca Castafiore, si penyanyi opera yang lengkingan suaranya mampu meretakkan bahkan memecahkan kaca di sekitarnya. Kim Stengel berhasil menghidupkan karakter ini dengan baik.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tentu saja The Adventures of Tintin : The Secret of The Unicorn tetap merupakan film yang wajib ditonton karena ini adalah pertama kalinya petualangan Tintin diangkat dalam kemasan modern dan dengan teknik termutakhir. Soal apakah masih tertarik menyaksikan kelanjutannya, ya terserah Anda… :)
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates