Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Read more.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Poernomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Read more.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Read more.

Spider-Man Homecoming

Make ways for the brand new Peter Parker to return to MCU.
Opens July 5.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Read more.

Sunday, September 11, 2011

The Jose Movie Review - Tendangan dari Langit


Tahun 2011 bisa dibilang tahun keemasan bagi Hanung Bramantyo. Betapa tidak, tercatat ada tiga judul film yang akan ia sutradarai; ? (Tanda Tanya), Tendangan dari Langit, dan Dapunta. Ketiganya memiliki esensi berbeda-beda yang sama menariknya. Jika lewat ? (Tanda Tanya) ia mengkritisi toleransi antar umat beragama di Indonesia, maka Tendangan dari Langit mencoba untuk (sekali lagi) menginspirasi anak muda Indonesia untuk mengejar impiannya. Bukan hal baru memang, ada puluhan atau mungkin ratusan film bertemakan “mengejar impian” pernah diangkat, baik dalam negeri maupun internasional. Sedangkan untuk film bertemakan sepak bola sendiri sejatinya masih belum banyak dibuat, terutama karena sepak bola bukan olah raga popular di pusat film dunia, Hollywood. Mungkin baru Goal!, Bend It Like Beckham, dan Green Street Hooligans yang cukup populer.
Seperti biasa, Hanung tidak perlu diragukan lagi dalam hal artistik. He’s one of Indonesian master. Begitu pun dalam hal merangkai cerita dalam gambar-gambar dan alur yang menarik. Maka untuk menyaksikan tiap karyanya, saya selalu men-set ekspektasi yang cukup tinggi. Ternyata ekspektasi saya lagi-lagi tak meleset. TDL berhasil mengemas kisah “chasing dreams” menjadi drama yang menyentuh, lucu, sekaligus menginspirasi.
Menyentuh, berkat sub-plot father-son relationship yang naik-turun. Lucu, berkat kehadiran sahabat-sahabat Wahyu, tokoh utama kita; Purnomo (Joshua Suherman), Mitro (Jordu Onsu), dan Meli (Natasha Chairani), serta juga kisah cinta Wahyu-Indah khas anak SMA yang masih malu-malu. Lucunya natural, tidak terkesan dibuat-buat atau jayus. Menginspirasi, berkat plot utama tentang perjuangan Wahyu dalam mengejar cita-citanya. Serasa komplit bukan? Yah, seperti itulah gambaran kira-kira tentang apa yang disuguhkan Hanung (dan juga penulis skenario Fajar Nugros) di sini. Semuanya tertuang dengan plot dan alur yang tertata rapi dan disuguhkan dalam gambar yang cukup dinamis serta sesuai dengan porsi yang pas.
Selain itu, TDL juga menyentil dunia sepak bola di Indonesia. Saya sendiri bukan penggemar bola dan tidak begitu mengerti polemik bola di Indonesia. TDL bisa dibilang cukup berhasil menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya di persebak-bolaan Indonesia; apa itu LPI dan mengapa Persema lebih memilih gabung dalam LPI ketimbang PSSI. Dijelaskan dengan singkat dan tidak berbelit-belit karena memang bukan topik utama. Ada pula celetukan dari ayah Wahyu yang bisa dibilang menjadi ekspresi hopelessness rakyat Indonesia terhadap pemerintahnya. Cukup membuat saya merenung dan tersentuh. Yah semoga saja pejabat yang nonton juga ikut tersentuh dan tergerak hatinya untuk memperbaiki kondisi ini.
Dari jajaran cast, Wahyu sebagai karakter utama tentu menjadi pusat perhatian. Apalagi bagi Yosie Kristanto, pemerannya, ini adalah debut pertamanya berakting di layar lebar. Maudy Ayunda yang berperan sebagai Indah, the movie’s sweetheart yang punya senyum manis banget, cukup berhasil mencuri layar karena kecantikan dan juga kemampuan aktingnya yang pas dengan porsinya. Artis cilik yang sekarang beranjak dewasa, Joshua Suherman, dan Jordi Onsu, adik presenter Ruben Onsu, memberikan kesegaran tersendiri lewat karakter mereka. Untuk jajaran aktor yang perlu keseriusan berakting di sini, ada Agus Kuncoro yang nampaknya mulai menjadi langganan Hanung, Sujiwo Tedjo, dan tentu saja Yati Surachman yang lagi-lagi memerankan karakter tipikalnya : ibu-ibu tertindas, seperti biasa sukses menghidupkan peran yang diemban masing-masing. Terutama Sujiwo Tedjo, very impressive! Sedangkan kehadiran Irfan Bachdim, Kim Kurniawan, Coach Timo, dan Matias Ibo bisa dibilang hanya sebagai cameo yang memerankan dirinya sendiri. Tak banyak peran yang dipersiapkan untuk mereka. Apalagi Bachdim dan Kurniawan yang tidak diberi dialog selain dalam footage wawancara.
Saya ingin memberikan pujian khusus untuk tampilan adegan pertandingan sepak bola yang meriah dan seru. It’s like watching the real live match, with more details and better angles than the real one. The thing I always want to see from a soccer match. Apalagi didukung dengan score yang menambah keseruan dan ketegangan adegan. Tidak heran, Tya Subiakto yang menanganinya. Band Kotak pun menyumbangkan beberapa lagunya yang berhasil memberi warna kisah cinta dan kisah perjuangan cita-cita Wahyu. Oh iya, speaking of score, saya kok merasa adanya kemiripan melodi score saat pertandingan bola pertama tingkat kecamatan di Bromo, dengan melodi Video Killed The Radio Star (President of The United States of America) yah?! Mirip banget lho!
Anyway, TDL layak menjadi salah satu film Indonesia terbaik 2011, bahkan selama ini. Menghibur sekaligus menginspirasi untuk remaja dan keluarga. Satu lagi sumbangsih karya apik dari Hanung Bramantyo untuk perfilman Indonesia yang masih sering diremehkan oleh rakyatnya sendiri.
Lihat detail film ini di official site-nya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, September 10, 2011

The Jose Movie Review - Never Let Me Go



Agak basi sebenarnya saya menuliskan review ini saat ini, mengingat filmnya sudah rilis akhir 2010 lalu. Untung saja filmnya tidak tayang di bioskop Indonesia, lagian bagi saya, tidak ada kata basi untuk film yang benar-benar bagus. It's everlasting! Apalagi untuk film yang tidak termasuk dalam kategori mainstream di sini. Siapa tahu Anda belum pernah menontonnya karena belum mengetahui ada film seperti ini, jadi Anda bisa ikut ber-eksperien.
Saya sengaja tidak pernah membaca sinopsis film ini sebelumnya dan ternyata dari awal film saya sudah merasakan ada "sesuatu" yang tidak wajar sedang terjadi. Benar saja, setting sebuah sekolah berasrama di awal film ternyata bukan sekolah biasa. Saya tidak akan membocorkannya di sini supaya Anda juga bisa tersontak dengan kenyataan yang ada di layar. Lalu cerita berkembang ketika tiga tokoh utama yang saling bersahabat walau sebenarnya ada cinta segi tiga di antara mereka : Kathy (Carey Mulligan), Tommy (Andrew Garfield), dan Ruth (Keira Knightley), telah beranjak remaja dan lulus dari The Hailsham School. Di sini cerita menjadi semakin menarik, karena melibatkan cinta sebagai pasangan, sahabat, sekaligus kemanusiaan.
Ok, dari segi cerita yang memiliki esensi tak lazim ini memang menjadi satu daya tarik utama, yang untungnya digarap oleh sutradara Mark Romanek dengan sangat baik. Bagi beberapa orang mungkin akan merasa bosan, tapi jika Anda mau dengan sabar menikmati tiap detiknya, tiap detail adegan dengan konsentrasi penuh hingga benar-benar larut dalam adegan-adegan yang ditampilkan, Anda mungkin akan mengumpat, "Anjing, gue depresi nonton film ini!" dan itu tandanya it worked, really really worked! Jujur, saya harus mengakui semua elemen film yang ada!
Romanek yang dulu pernah menggarap film yang sama misteriusnya, One Hour Photo, memiliki gaya yang unik. Ia piawai dalam merangkai cerita dengan gambar-gambar indah artistik, angle-angle bak lukisan, serta music score yang menghanyutkan. Tak terkecuali di sini. Aura misterius, desperate, dan hopelessness menyelimuti sepanjang film.
Dari jajaran cast pun tidak ada yang tampil mengecewakan. Mulligan yang sempat menarik perhatian lewat An Education, di sini menampilkan akting yang tidak kalah primanya. Sosok gadis kuat di luar sekaligus rapuh di dalam dibawakannya dengan sangat baik. Sementara Garfield yang sebentar lagi akan tampil sebagai sosok Peter Parker (Spider-Man) yang baru, tampil cukup memukau. Lihat saja perbedaan ekspresi wajahnya ketika berhadapan dengan Kathy dan Ruth. Tanpa dialog pun kita tahu bagaimana perasaan Tommy sebenarnya terhadap dua gadis ini. Sementara Knightley juga tak kalah apiknya memerankan gadis egois yang labil.
Selain tiga karakter utama, ada pula Domhnall Gleeson yang dulu memerankan Bill Weasley di seri Harry Potter, Charlotte Rampling, dan Sally Hawkins yang masing-masing sukses memberikan kesan tersendiri walau hanya beberapa menit.
Never Let Me Go bukanlah kisah cinta yang dikemas dengan manis. Justru sepanjang film kita akan dibawa ke dalam atmosfer yang sangat depresi. Namun justru dari ke-depresi-an nya itulah cerita justru menjadi menarik. Tipikal film seperti ini yang membuat saya terus merenung lama setelah filmnya usai. Ada banyak hal yang dipertanyakan kepada kita sebagai penonton dan juga kepada masyarakat umum, terutama tentang kemanusiaan dan hidup. Bagaimana kita bisa mempergunakan waktu hidup yang kita punya dengan sebaik-baiknya sehingga bisa menjadi berarti, tak peduli itu pendek atau panjang. Damn, saya terhantui oleh pikiran-pikiran tentang hidup saya setelah menonton film ini!!!
Lihat data film ini di IMDB
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, September 1, 2011

The Jose Movie Review - The Adjustment Bureau


Philip K. Dick adalah penulis legendaris, terutama bagi penggemar sci-fi. Walau telah lama wafat, namun hingga kini tulisan-tulisan-nya (termasuk cerpen-cerpen) terus menginspirasi para sineas untuk mengangkatnya dalam film panjang. Jika Anda pernah dengar judul-judul seperti Blade Runner, Total Recall, Minority Report, Paycheck, Impostor, Next, dan A Scanner Darkly, maka Anda sebenarnya pernah mengalami betapa “ajaib”nya karya-karyanya : sci-fi dengan balutan filosofis. Nah, The Adjustment Bureau ini adalah hasil pengembangan dari salah satu cerpen karya Dick berjudul Adjustment Team.
At first glance, saya mengira The Adjustment Bureau adalah film drama thriller berbau politis, mengingat karakter utamanya adalah seorang calon senator. Namun begitu masuk tim Adjustment, saya merasa sedikit aneh. Wow, this IS a romantic sci-fi thriller. Well, menurut saya bukan sci-fi sih, lebih ke arah “philosophic” jika kata “religious” dirasa terlalu jauh. Religious? Yap, menurut saya unsur religius dalam film ini sangat kental sekali. Bukan religius seperti sinetron yang tayang pas bulan Ramadhan lho ya. Maksud saya di sini, religius dalam arti menyangkut konsep fate, grand design, plan, free-will, dan tentu saja Tuhan (yang di sini jelas sekali disebut sebagai “The Chairman”). Tidak menggurui, tapi pada akhirnya membuat saya berpikir panjang tentang konsep-konsep yang saya sebutkan sebelumnya.
Cukup mengejutkan ketika mengetahui bahwa film ini disutradarai oleh George Nolfi dimana ini merupakan debutnya sebagai sutradara, walaupun sebelumnya sudah lebih dulu menulis skenario untuk Ocean’s Twelve, Sentinel, dan Bourne Ultimatum. Hasilnya cukup bagus, adegan-adegan yang dirangkai terasa sangat efektif tapi juga tidak terkesan terburu-buru, sangat enak untuk dinikmati dan mudah dipahami, walau juga tidak banyak hal yang memorable. Jangan harap deh ada adegan romantis yang bakal bikin kita berujar, “awww… so sweet”. No, this was not that type of romantic movie. Nolfi lebih banyak membangun chemistry antara kedua karakter utama, David dan Elise, dengan natural melalui dialog-dialog yang cerdas, bukan dengan gombalan murahan. And I think, that was very much enjoyable, felt so real!
Sebagai pasangan karakter utama, Damon dan Blunt berhasil menghidupkan karakter masing-masing sekaligus tuntutan chemistry. Damon berhasil membangkitkan aura “romantis”nya tepat pada waktu dan porsinya, tanpa meninggalkan kesan “strong” ala Jason Bourne-nya. Sementara Blunt sukses menghidupkan aura wanita smart dan independent. Untuk karakter “antagonis”-nya pun juga sukses mencuri perhatian, terutama Terrence Stamp, John Slattery, dan Anthony Mackie. Oh iya, untuk karakter Harry Mitchell yang diperankan Anthony Mackie sebenarnya yang paling menarik dari semua karakter agen yang ada. Sayang sekali, latar belakang mengapa dia membantu David kurang digali. Masa hanya faktor dia pernah menangani ayah David? Saya rasa faktor “pengalaman pribadi” akan terasa lebih kuat dan menarik.
Sebagai sebuah film hiburan, The Adjustment Bureau menawarkan tema yang berbeda dari kebanyakan film Hollywood akhir-akhir ini, terkesan berat tapi diangkat dengan ringan. Cukup fresh, sekaligus memberikan kita perenungan terhadap konsep ke-Tuhan-an dan takdir. Semoga bermanfaat bagi hidup kita ;)
Lihat data film ini di IMDB
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - 5 Elang


Perfilman Indonesia tak banyak memproduksi film anak. Jadi jangan protes jika anak-anak Indonesia saat ini terkesan dewasa sebelum waktunya. Well, menurut saya, galau sebelum waktunya. Yah, apa mau dikata. Produser-produser kita lebih tertarik untuk membuat film (dan juga sinetron) remaja karena pasar terbesarnya saat ini memang di sana. Sungguh saya kasihan melihat anak-anak jaman sekarang tidak seceria ketika saya kecil dulu. Beruntung adik saya yang sekarang SMA, dulu punya Petualangan Sherina yang menurut saya film anak Indonesia paling menarik dan bagus di generasi 2000-an. Pasca Sherina, tak banyak film anak yang cukup memorable, mungkin hanya Untuk Rena dan Laskar Pelangi. Wah, koq semuanya dari MiLes yah?! Saya tidak bermaksud promosi lho, tapi memang faktanya hanya MiLes yang konsisten memproduksi film anak. Rudi Soedjarwo yang kita kenal lewat karya-karya dramanya yang menyentuh dan piawai merangkai gambar indah, akhirnya tertarik juga untuk membesut film anak.
Sebagai tema, Rudi punya premise yang menarik dan saya rasa jarang diangkat dalam film (terutama film Indonesia) : Pramuka! I think that’s just great, mengingat kegiatan Pramuka yang menurut saya banyak sekali manfaatnya, akhir-akhir ini menjadi kurang diminati, tergantikan oleh gadget-gadget yang kurang memiliki manfaat. Our kids just need to be inspired.
Sepanjang film, alur cerita mengalir dengan sangat baik. Skenario terasa sekali dikerjakan dengan baik dan cukup rapi, terutama dari segi karakteristik yang kuat dan pas dengan fungsi masing-masing, serta beruntung pula diperankan dengan sangat baik oleh aktor-aktor cilik yang rata-rata belum berpengalaman berakting sebelumnya. Sayangnya alur yang telah dikerjakan dengan baik ini tidak dieksekusi dengan maksimal. Tidak buruk, Rudi masih saja handal dalam menciptakan adegan-adegan dengan gambar yang artistik dan menarik. Hanya saja ini (seharusnya) kisah petualangan dan seharusnya (pula) dibuat agar terasa seru. Misalnya adegan-adegan kompetisi antar tim Pramuka yang ditampilkan masih bisa digarap sedemikian rupa sehingga penonton seolah ikut dalam keseruan kompetisi, tidak hanya sekilas-sekilas seperti yang ada dalam film.
Adegan puncak ketika Tim Garuda disekap pun terasa terlalu simpel dan pendek. Padahal menurut saya bisa digarap lebih maksimal, lebih menegangkan, dan lebih seru, setidaknya seperti yang pernah dicapai Petualangan Sherina dulu. Latar belakang villain-nya pun tidak begitu jelas. Hanya sedikit informasi identitas villain yang disampaikan, yang saya tidak tahu apakah anak-anak bisa mengerti. Adegan penyekapan tersebut seolah-olah seperti adegan puncak yang posisinya setara dengan konflik karakter-karakter yang ada sebelumnya, tidak lebih tinggi.
Dengan minor-minor yang ada, saya percaya anak-anak (khususnya di bawah usia 10 tahun) masih bisa menikmati petualangan Tim Elang. Semoga saja juga bisa menginspirasi untuk lebih banyak melakukan kegiatan outdoor seperti Pramuka daripada sekedar main game di kamar. Good job, Rudi! We’re waiting for another kid’s movies ahead, with better treatments!
Lihat data film ini di IMDB
Official site : http://www.5elang.com
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates