Friday, August 5, 2011

The Jose Movie Review - Rio


Tahun 2011 bisa jadi anugerah bagi Rio de Janeiro, ibukota Brazil. Betapa tidak, setidaknya ada tiga film mainstream Hollywood yang mengambil setting di sini; Fast Five, Rio, dan Twilight : Breaking Dawn part I. Mungkin Hollywood sudah bosan mengambil setting Mexico sebagai gambaran tempat eksotis yang juga kaya akan budaya. Dan untuk alasan itu, Hollywood menjatuhkan pilihan yang tepat untuk menggunakan Brazil yang juga unik dari segi alam dan budayanya.

Beberapa tahun belakangan semenjak Twitter menimbulkan demam sedunia, burung pun menjadi hewan yang paling populer, baik sebagai maskot maupun karakter berbagai keperluan. Lihat saja demam game
Angry Birds dan sekarang film Rio. Jadi tidak heran 20th Century Fox lantas setuju untuk mengangkat dua elemen yang sedang populer ini dalam satu film animasi. Kebetulan sekali Brazil juga merupakan habitat dari beberapa jenis spesies burung. Bagi sang sutradara sekaligus salah satu penulis naskahnya, Carlos Saldanha (sebelumnya pernah menyutradarai film-film animasi 20th Century Fox melalui BlueSky Studio seperti franchise Ice Age dan Robots) proyek ini seperti mempromosikan kebudayaan kampung halamannya sendiri.

Dengan formula yang secara komersial cukup menjanjikan, BlueSky Studio mencoba untuk mengangkat tema konservasi alam dalam film. Bukan tema baru sih, ada cukup banyak film (khususnya aniamsi) yang secara terselubung mengkampanyekan nasib binatang-binatang yang sudah terlanjur nyaman hidup di kota sampai tidak merasa nyaman lagi tinggal di hutan liar, habitat aslinya. Contoh paling mudahnya Alex The Lion dari franchise
Madagascar. Tapi tunggu dulu, walau dengan alur yang sederhana dan tidak terlalu fresh, Rio masih menawarkan pemandangan indah Rio de Janeiro, alunan musik irama Samba, dan humor-humor segar yang kebanyakan memplesetkan budaya populer, sehingga secara keseluruhan Rio bisa dinikmati sebagai film hiburan yang terasa segar.

Yang paling menonjol dari
Rio adalah tone warna-warni-nya yang ceria, khas Samba. Mata terasa segar sekali. Apalagi adegan singing and dancing birds di awal dan akhir film yang keren banget. Menurut saya adegan tarian-nyanyian binatang terindah sejak The Lion King. Musik menjadi faktor kedua Rio menjadi tontonan segar yang menghibur. Ide yang sangat brilian untuk menggandeng Sergio Mendes, seorang maestro Latino yang terkenal dengan Magalenha dan Mas Que Nada-nya. Tidak ada pilihan yang lebih tepat lagi untuk menghidupkan semangat ala Rio.

Dari jajaran voice talent-nya, hampir semua terasa pas, seperti Jesse Eisenberg yang mengisi suara Blu, Anne Hathaway (Jewel), Will.I.Am (khas banget suaranya, mengisi suara Pedro yang jago ngerap), Jermaine Clement (Nigel), Tracy Morgan (Luiz), dan George Lopez (Rafael). Yang terasa agak janggal menurut saya adalah karakter burung kuning kecil mirip Tweety bernama Nico, tapi suaranya ngebass khas Jamie Foxx.

Sebagai animasi yang terkesan kanak-kanak, guyonan yang ditawarkan ternyata banyak lebih cocok untuk orang dewasa (setidaknya remaja lah), terutama yang berkaitan dengan kekerasan, sedikit sensualitas, dan mild language. Banyak pula plesetan yang tereferensi dari budaya populer ketika anak-anak jaman sekarang belum lahir. Tapi yah masih bolehlah anak-anak di bawah usia 10 tahun menyaksikannya (sangat disarankan) dengan dampingan orang tua. Selebihnya, nikmati saja satu setengah jam yang menyenangkan bersama burung-burung berbulu indah ini.

Lihat data film ini di
IMDB
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates