Friday, August 26, 2011

The Jose Movie Review - Fast Five


The Fast and The Furious di mata saya adalah sebuah franchise film aksi murni hiburan yang sukses mempertahankan tingkat tensi ketegangan (baca : adrenalin) di tiap serinya. Tidak hanya adegan aksinya saja, tetapi juga melalui musik pendukung yang ear-catchy dan tentu saja wanita-wanita seksi pemanis mobil-mobil indah. Kalau dari segi plot cerita, bisa dibilang selama ini hanya seri pertama dan ke-empat-nya saja yang digarap dengan rapi, sedangkan yang ke-2 dan ke-3 terasa seperti spin-off. Jika Fast and Furious (seri 4) secara timeline cerita merupakan prekuel dari Tokyo Drift, maka Fast Five adalah sekuel langsung dari seri 4. Ini sangat jelas terlihat dari adegan pembuka Fast Five yang melanjutkan langsung dari ending Fast and Furious.
Terjadi sedikit pelencengan cerita dari seri-seri sebelumnya yang lebih terfokus pada ajang balapan liar yang sering berujung aksi kriminalitas seperti pencurian mobil-mobil kelas atas, kali ini dimasukkan unsur-unsur heist ala Danny Ocean atau Italian Job. Baiklah, mungkin dalam berbegai segi, Italian Job lah yang terasa paling mirip. Uniknya, beberapa tahun lalu sempat tersiar rencana untuk melanjutkan kisah Italian Job dengan judul Brazilian Job. Namun karena terlalu lama proyek ini tak juga kunjung direalisasikan, maka ide ceritanya sudah dipakai duluan untuk Fast Five ini. Kalaupun proyek Brazilian Job tetap berjalan, maka penulis ceritanya memiliki banyak kesulitan karena penonton akan otomatis membanding-bandingkannya dengan Fast Five yang boleh dibilang cukup memuaskan fans film action pemompa adrenalin.
Secara garis besar, Fast Five masih mampu mempertahankan keseruan yang sudah menjadi image franchise ini. Adegan kejar-kejaran yang ditampilkan terasa ditata dengan sedemikian rupa sehingga mampu memacu adrenalin penonton. Yah, memang ada banyak adegan ketidak-masuk-akal-an secara fisika, terutama “bagaimana mungkin brankas seberat 10 ton mampu ditarik oleh dua mobil balap, dengan jarak yang cukup jauh?”. Tapi sudahlah, untuk film murni hiburan seperti ini, tampaknya memang harus membekukan otak logika kita untuk bisa benar-benar menikmatinya.
Jika di seri empat sudah cukup terpuaskan dengan kembalinya karakter-karakter utama dari seri aslinya, maka di seri lima ini semakin banyak karakter-karakter pendukung yang pernah muncul di seri-seri sebelumnya ikut meramaikan permainan “heist” ini. Sebut saja Vince dari seri pertama, Roman Pearce dan Tej dari 2 Fast 2 Furious, Han dari Tokyo Drift, yang juga sempat tampil di seri empat, Gisele, Tego, dan Rico dari seri empat. Kesemua karakter pendukung yang tergabung dalam tim ini mampu ditampilkan secara seimbang sepanjang film. Masih ditambah karakter utama protagonis Luke Hobbs yang diperankan Dwayne Johnson dan Elena Neves yang diperankan Elsa Pataky, mampu menghadirkan daya tarik lebih untuk seri ini.
Selain logika, bagian lain yang hilang dari seri-seri Fast and Furious sebelumnya adalah soundtrack-nya yang dahsyat. Jika seri empat memiliki kumpulan soundtrack-soundtrack keren sehingga layak koleksi, maka Fast Five sangat “hemat” soundtrack. Hanya ada tiga single yang bener-bener catchy sepanjang film; Desabafo/Deixa Eu Dizer (by Marcelo D2/Claudia), Danza Kuduro (Don Omar feat. Lucenzo), dan Furiously Dangerous (Ludacris feat. Slaughterhouse). Jadi kangen Pitbull yang meramaikan soundtrack sebelumnya deh.
Di tengah-tengah credit title terselip sebuah adegan yang bisa dibilang sebagai sneak peek dari apa yang akan mereka sajikan di installment berikutnya. Seperti apa itu? Ga mau spoiler ah... Yang pasti saya berharap installment berikutnya tidak dipaksakan dari segi cerita, gara-gara cuplikan tersebut.
Ada satu anekdot yang menarik buat saya dari Fast Five. Di satu adegan, Reyes menyebutkan mengapa Portugis sukses menjajah Brazil, sementara Spanyol tidak. Spanyol datang dan berupaya menguasai Brazil dengan kekerasan, sementara Portugis datang dengan membawa barang-barang yang tidak dimiliki Brazil hingga ketagihan. Otomatis Brazil menjadi sangat tergantung dari bangsa Portugis. Saya jadi ingat betapa orang Indonesia sedang “dijajah” Amerika dengan cara yang sama saat ini. Saya jadi ingat generasi muda Indonesia yang protes ketika film Hollywood bermasalah di Indonesia, tanpa mau tahu kasus yang sebenarnya. It's a wake up call for us!
Lihat detail film ini di IMDB


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates