Sunday, August 21, 2011

The Jose Movie Review - Battle : Los Angeles


Butuh waktu seminggu buat saya menetralisir trauma saya akan film aksi perang setelah menyaksikan Transformers 3. Akhirnya, saya memutuskan untuk siap menyaksikan film aksi perang lainnya. Kali ini yang menjadi pilihan saya adalah Battle : Los Angeles (BLA) yang urung tayang saat awal-awal kisruh pajak film impor. Ekspektasi saya tak banyak karena saya tahu tipe seperti apa film ini : murni hiburan. Saya yakin tidak akan seburuk Skyline, walau juga tidak akan selegendaris ID4 atau District 9.
Sebagai film murni hiburan yang memang menjual adegan aksi perang seperti ledakan dan tembak-tembakan, BLA sukses menghibur. Adegan-adegan aksi yang disajikan cukup menegangkan dan seru. Ada banyak momen ketegangan yang berhasil mengaduk-aduk emosi saya, walau hanya berlangsung secara instant, tidak akan berbekas lama dalam ingatan saya. Nevertheless, good work on tense-maintaining.
Lupakan cerita karena tidak ada sesuatu yang baru di sini, semuanya sudah pernah kita dengar dari cerita alien sejenis. Titik beratnya mirip dengan War of The Worlds, dimana tidak dijelaskan secara gamblang tujuan dari serbuan alien tersebut ke bumi. Anyway, alien kalau mau nyerang bumi ya serang aja, ngapain pakai permisi segala, bahasanya aja nggak ngerti. Sepanjang film kita hanya diberikan informasi minim dari sudut pandang para anggota marinir yang hanya do their duties, nothing more. Nah, sudut pandang tentara marinir inilah yang mungkin bisa dibilang baru diangkat untuk film bertemakan alien. Yah anggap saja seperti Black Hawk Down dengan musuh yang lebih netral dari kambing hitam : alien.
Sub-plot yang paling menarik bagi saya justru tentang pergulatan batin karakter Sgt. Michael Nantz (Aaron Eckhart) yang harus menghadapi tuduhan tidak mengenakkan : membiarkan anak-anak buahnya tewas dalam medan perang sebelumnya. Penonton digugah untuk berpikir betapa selama ini kita dengan mudah men-judge seseorang padahal kita tidak tahu seperti apa situasi sebenarnya yang dialami orang tersebut. Mencoba berpikir dari sudut pandang seseorang yang mengalaminya langsung adalah hal yang bijaksana di sini. Well, thank you BLA for reminding me about this!
Untuk jajaran cast-nya, tak banyak nama terkenal di sini selain Aaron Eckhart (Harvey Dent di The Dark Knight), Bridget Moynahan (Rachel di Coyote Ugly), Michelle Rodriguez (Letty di franchise Fast & Furious), Michael Peña, dan… Ne-Yo! Yap, hip hop artist itu mencoba sekali lagi main film setelah Stomp The Yard. Tidak banyak perkembangan karakter di sini, tapi karakter Michael Nantz yang paling menonjol. Akting Eckhart pun cukup baik membawakan karakter dengan beban mental yang sudah saya jelaskan di paragraph sebelumnya. Sementara itu hubungan ayah-anak antara Joe-Hector Rincon cukup lah menyentuh sejenak, walau tak sampai membuat mata berkaca-kaca.
Saya rasa saya tidak perlu membahas segi special fx yang memang sudah mumpuni (Hollywood gitu lho, bukan barang baru lagi yang namanya special fx). Tidak ada fx baru tapi cukup pada porsinya. Divisi sound fx bekerja cukup baik dalam memompa emosi dengan dentuman ledakan dan tembakan yang crispy di tiap kanal surround-nya. Score juga cukup memberikan emosi tepat pada porsinya, walau juga tidak terlalu bergema dalam ingatan penonton terus-menerus.
Yah, sebagai film hiburan bolehlah dibilang bagus, walau seperti yang sudah saya tulis di headline : tidak ada yang istimewa. Nikmati saja adegan ledakan-ledakan dan tembakan-tembakan yang seru sepanjang film.
Lihat data film ini di IMDB
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates