It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Sunday, December 25, 2011

The Jose Movie Review - Alvin and the Chipmunks - Chipwrecked


Alvin and the Chipmunks (AntC) adalah salah satu serial kartun favorit saya ketika masih kecil. Ketika remaja, saya sangat kegirangan ketika serial ini akan diangkat ke layar lebar dengan gaya campuran animasi 3D dengan live-action. I like the first installment. Simple, funny, warm, and a lot of fun with the popular musics. Tentu saja tidak bisa disamakan dengan serial aslinya, karena sudah beda generasi dan standard pun juga berubah. Fully G-rated tidak akan menjadi menarik untuk anak-anak masa kini. Tidak heran jika film anak-anak yang mendapatkan rating PG cenderung lebih laris di pasaran ketimbang rating G. Kebetulan saya punya adik yang sekarang masih berusia 8 tahun yang jatuh cinta sejak installment pertama. Jadilah sejak installment kedua, AntC menjadi tontonan wajib sekeluarga saya di bioskop.
Saya sebenarnya agak skeptis juga setelah melihat banyak sekali review negatif seputar installment ketiga ini. But, come on. I came with no expectation at all, just enjoying my fun time with the whole family member. And I bravely said that, it’s not as bad as what people said, at least for me. Bahkan secara penggarapan plot, installment ketiga ini masih lebih baik ketimbang dua installment sebelumnya. Jika Squeakquel seolah-olah hanya mengulangi cerita seri pertamanya, hanya ditambahkan The Chipettes, maka Chipwrecked memiliki plot yang berbeda. Tidak ada lagi kehidupan para Chipmunk dan Chipette sebagai selebriti, tidak ada lagi kejar-kejaran dengan Ian. Justru di sini plot utama yang diusung adalah bagaimana perkembangan seorang anak dalam hal tanggung jawab. Alvin di sini belajar bagaimana setiap tindakan memiliki akibat dan ia harus bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukannya. Plot utama ini sangat terasa sekali ketimbang kedua film sebelumnya, dan tim penulis cerita berhasil menyampaikan moral ini dengan baik. Plot tentang Simon yang menjadi lebih berani dan tidak sok pintar juga cukup menarik walaupun porsinya tidak semenarik Alvin. Keunggulan penulisan kedua plot utama ini sayangnya tidak diikuti oleh plot-plot pendukung lainnya yang terkesan kedodoran. Misalnya plot tentang karakter Zoe yang perkembangan karakternya bisa dibilang tidak jelas dan terlalu delusional. Aneh lah pokoknya, saya tidak habis mengerti dengan karakter yang satu ini. Pada akhir cerita pun terkesan sangat mudah ia berubah. Hal yang sama juga berlaku bagi karakter Ian yang sudah kita kenal sejak seri pertama. Perubahan yang terlalu drastis di hampir akhir cerita juga tidak begitu meyakinkan saya dengan apa yang diucapkannya. Perlu penggalian yang lebih dalam lagi untuk bisa menjadikannya lebih menarik atau sekalian tidak perlu ada sama sekali.
Beberapa detail adegan yang tidak dimunculkan sehingga terkesan menggampangkan juga terjadi di sini. Misalnya ketika Alvin dan Dave harus pergi ke gua di balik air terjun atau ketika Dave terjatuh dari jembatan kayu. Saya tidak akan bercerita banyak karena mungkin akan menjadi spoiler bagi Anda yang belum menonton. Nanti lah ketika Anda menyaksikan sendiri, Anda akan tahu apa yang saya maksudkan.
Seperti biasa, seri AntC selalu menyertakan lagu-lagu yang sedang populer untuk dibawakan oleh Chipmunk dan Chipette, yang jujur saja menjadi salah satu faktor menariknya franchise ini. Memang sih bikin suara menjadi chemprenk ala chipmunk tidak sulit, tinggal merubah pitch-nya saja, tapi saya cukup terkesan dengan pemilihan dan penampilan soundtrack-soundtrack di installment ini, terutama versi medley dari Born This Way, Ain’t No Stoping Us Now, dan Fireworks. Jadi terkesan lebih fun dan fresh lah.
Anyway, saya sangat menikmati installment ketiga ini. Bahkan saya lebih menyukai Chipwrecked ketimbang The Smurfs untuk tahun ini. Memang Chipwrecked bukan tipikal film anak-anak klasik yang bakal memorable dalam jangka waktu panjang, tetapi cukup enjoyable sebagai film ringan yang menghibur. Mungkin bakal lebih bisa dinikmati oleh anak-anak di bawah usia 10 tahun ketimbang yang seumuran saya. Mungkin juga film tipe begini lebih bisa dinikmati ketika ditonton bersama keluarga yang ada anak-anaknya ketimbang bersama teman-teman yang seumuran. Tidak ada salahnya kan sekali-sekali mengajak keponakan atau adik pacar yang masih anak-anak menonton bersama?
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, December 23, 2011

The Jose Movie Review - Mission: Impossible - Ghost Protocol


Mission:Impossible adalah salah satu serial TV favorit saya ketika masih kecil. Siapapun yang pernah dibesarkan di era 80-90’an pasti tahu persis ciri khas tim IMF dari Mission:Impossible ini. Yap, penggunaan topeng semacam lateks yang pada masa itu tentu saja masih termasuk something amazing, alat informasi misi kepada agen yang self-destruct setelah diakses, dan tentu saja sumbu yang disulut api. Lantas serial ini diangkat ke layar lebar untuk pertama kalinya dengan sutradara Brian DePalma. Tak beda jauh dengan ke-khas-an serialnya; seru, menegangkan, tidak hanya sekedar main tembak-tembakan, ledak-ledakan, dan baku hantam, tetapi juga menggunakan strategi yang rumit dan gadget-gadget canggih. Kesuksesannya dilanjutkan M:I-2 dengan sutradara John Woo dengan gaya yang berbeda; more action stunts, simpler plot. Walaupun cukup melenceng jauh dari pakem serialnya, at least seri ini masih enjoyable. Sampailah pada M:I-III yang entah kenapa, menurut saya adalah installment paling tidak memorable di antara semua versi layar lebarnya. Padahal sebenarnya cukup menghibur, dengan sutradara J. J. Abrams dan didukung aktor sekaliber Phillip Seymour Hoffman. Setelah 5 tahun, barulah muncul installment berikutnya dari M:I setelah Tom Cruise dan pihak Paramount sempat memutuskan kontrak yang artinya tidak akan pernah ada lanjutan M:I dengan aktor Tom Cruise lagi di layar lebar. Entah kenapa pada akhirnya mereka akur kembali dan Tom Cruise bahkan menjadi produser installment ke empat ini. Awalnya saya agak kurang antusias karena installment sebelumnya yang kurang memorable ditambah sutradaranya Brad Bird yang selama ini dikenal sebagai sutradara film animasi Pixar seperti The Incredibles dan Ratatouille. Bisa nggak nih seorang sutradara film animasi menggarap film spionase dengan baik?
Setelah menyaksikan hasil akhirnya, saya harus meminta maaf kepada Bird karena sempat menyangsikan kemampuannya. Mission: Impossible telah dikembalikan ke bentuk film spionase yang semestinya. Setelah installment pertamanya, bisa dibilang inilah installment yang paling mendekati jiwa petualangan agen rahasia yang pernah diusung serial TV-nya. Mulai adegan penyusupan di Kremlin, penyamaran di gedung Burj Khalifa, hingga penyergapan di Mumbai, semuanya terangkai dalam strategi yang tidak mudah, persiapan yang detail, serta eksekusi yang mengandalkan keberanian (kenekadan, lebih tepatnya) serta ketepatan. Hal-hal yang kurang digarap dengan rapi di installment kedua dan ketiga.
Premisenya simpel dan bukan barang baru di dunia film spionase, masih bermain-main dengan nuklir. Saya bahkan tidak tertarik dengan premise ceritanya. Namun demikian, saya sangat menikmati tiap perjalanan misi Ethan Hunt dan timnya yang penuh diliputi ketegangan. Durasi yang 133 menit, tergolong panjang untuk jenis film hiburan mainstream, sama sekali tidak terasa. Sesuatu yang jarang terjadi di dunia film Hollywood akhir-akhir ini. I guess that would have meant that, “It’s a very good job, Bird! You’ve proven yourself as a great director, other than animation.”
Tom Cruise masih tampak mengesankan sebagai tokoh utama. Sepak terjangnya baik sebagai perencana strategi maupun pengeksekusi misi yang nekad, sekali lagi patut diacungi jempol, mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi (lihat saja bentuk badannya di film ini yang sudah mulai kendur dimana-mana). Simon Pegg sebagai Benji memberikan kesegaran tersendiri berkat aksi dan celetukan kocaknya di beberapa adegan. Tidak terlalu berlebihan, cukup membuat tersenyum, sehingga tidak membuat film keseluruhan terasa konyol. Salut buat Pegg yang tahun ini sukses membawakan peran-peran yang cukup mengesankan, seperti sebagai Graeme Willy di Paul, Thompson di The Adventures of Tintin, dan Benji di M:I – Ghost Protocol. Jeremy Rennner sebagai Brandt cukup mencuri perhatian. Seandainya di installment berikutnya Ethan Hunt tidak lagi mau beraksi, maka Brandt sebagai karakter utama akan membuat cerita Mission: Impossible tetap menarik. Renner sendiri sebelumnya sempat muncul sebagai Hawkeye di Thor dan kelak juga di The Avengers. Sementara Paula Patton sebagai Jane mengingatkan saya pada karakter Nyah Nordoff-Hall yang diperankan Thandie Newton di M:I-2. Di kubu villain, saya paling terkesan dengan wajah eksotis Perancis Léa Seydoux yang memerankan Sabine Moreau. Ada pula Michael Nyqvist sebagai Hendricks yang sebelumnya angkat nama berkat trilogy Millenium (The Girl with the Dragon Tattoo, The Girl Who Played with Fire, dan The Girl Who Kicked the Hornet’s Nest). Tidak ketinggalan penampilan aktor India terkenal, Anil Kapoor, yang muncul hanya beberapa menit namun cukup mencuri perhatian layar.
Saya juga ingin memberikan apresiasi kepada divisi sound effect yang cukup menonjol. Saya sangat terkesan dengan detail efek suara yang jernih, jelas, dan terbagi dengan baik di setiap kanal, seperti suara badai pasir, suara tembakan, dan suara dentuman mobil-mobil yang berjatuhan dari tempat parkir mobil bertingkat. Score pun menambah suasana ketegangan tiap adegan yang ada. Sayang sekali di installment ini absen kehadiran soundtrack dari musisi terkenal. Padahal sebelumnya ada Limp Bizkit (di M:I-2) dan Kanye West (di M:I-III).
Sebagai sebuah film hiburan maupun sebagai installment dari franchise spionase yang sudah terkenal, Mission: Impossible - Ghost Protocol berhasil memuaskan saya. This has been a decent action espionage movie I’ve been waiting for years.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, December 21, 2011

The Jose Movie Review - Drive


Di tengah kebosanan dengan film-film mainstream Hollywood yang makin lama hanya menyajikan special fx tanpa didukung seni penggarapan yang mumpuni, saya menemukan sedikit oase yang cukup menghibur dan memberikan kesegaran. Drive mungkin adalah tipikal film yang super membosankan bagi penonton yang terbiasa dengan pace ala Hollywood mainstream masa kini, tapi jika Anda bisa menikmati film-film Hollywood era ’70-‘80an, maka besar kemungkinan Anda akan menyukai sajian yang satu ini.
Dengan budget minimalis, Nicolas Winding Refn praktis hanya mengandalkan kepiawaiannya dalam menata sebuah film menjadi sesuatu yang menarik, sesuatu yang seharusnya menjadi hakekat sebuah film yang tidak hanya menjual special fx serta kiss-kiss bang-bang, dengan gaya retro.
Jujur saya agak bosan di menit-menit awal. Judul Drive membuat saya expect adegan kebut-kebutan ala Fast and Furious. Eh ternyata cara The Driver menyetir mobil biasa saja. Tidak ada kebut-kebutan, tak ada pula deru suara mesin atau mobil ngepot. Hanya kepiawaian The Driver dalam hide and seek dengan polisi. Namun saya mencoba untuk bersabar karena saya tahu kesabaran saya akan terbayarkan. I knew this type of movie. Sembari saya mengamati tiap detail adegan, seperti dialog, gesture tubuh, hingga ekspresi wajah. These are important things yang sekarang mulai diabaikan orang gara-gara kebiasaan didikte film-film yang terlalu to the point. Hingga satu titik... bang! Gila neh karakter The Driver... Refn memang tahu betul kapan harus menempatkan adegan-adegan pendobraknya. Saya jadi teringat film sejenis Dirty Harry-nya Clint Eastwood atau Death Wish-nya Charles Bronson. Apalagi ditambah musik pengiring dan score yang sangat mendukung. Entah kenapa saya selalu menyukai adegan-adegan sadis bin miris yang diiringi dengan musik yang justru menenangkan, seperti halnya di Hannibal, Inglourious Basterds, bahkan Rumah Dara. Terasa banget kontras ironi-nya.
Yang patut diingat pula, chemistry antara The Driver dan Irene (karakter yang diperankan Mulligan) bisa terasa sekali tanpa mengumbar adegan seks seperti yang hampir selalu ditampilkan di film Hollywood. Justru ketika adegan “ciuman pertama” lah yang menjadi puncak asmara mereka. Sesuatu yang jarang terjadi di film-film Hollywood akhir-akhir ini namun sangat mengena.
Ryan Gosling yang tahun ini bisa dibilang merupakan tahun keemasannya, sangat berhasil menyatu dalam karakter utama yang misterius. Kadang tampak tenang dan penuh belas kasih, namun bisa berubah seratus delapan puluh derajat menjadi super brutal. Bahkan saya tidak merasa perlu tahu asal-usul dan identitas karakter ini sesungguhnya yang memang sama sekali tidak dijelaskan dalam film. Menurut saya ini bukanlah suatu kekurangan atau kedangkalan cerita. Refn sama sekali tidak tertarik untuk menceritakan tentang identitas The Driver. Dia hanya ingin penonton mengenal The Driver seperti apa yang ditampilkan di layar. That’s all. Dari situ ia membangun simpati dari penonton and that worked on me.
Carey Mulligan pun berhasil membuktikan bahwa karakter wanita lemah yang tugasnya hanya untuk dilindungi oleh jagoan utama, bukan berarti tidak memerlukan kualitas akting yang berkelas. Sisanya, pemeran-pemeran pendukung seperti Bryan Cranston, Albert Brooks, dan Ron Perlman mengisi perannya masing-masing dengan cukup maksimal.
Overall, Drive memerlukan kesabaran dan kejelian mengamati adegan jika ingin menikmatinya. Pada saat credit title muncul pun, saya sempat berpikir, “Lho, sudah? Gitu aja?”. Namun selama perjalanan pulang, pikiran saya terus terhantui oleh adegan-adegan yang barusan saya saksikan dan ketika saya mulai memikirkan tiap detail plot yang ada, saya baru menyadari betapa dahsyatnya efek psikologis yang disebabkan oleh film se-sederhana Drive. Simply the only 2011’s cult movie.
Lihat data film ini di IMDB
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, December 20, 2011

The Jose Movie Review - Garuda di Dadaku 2


Rudi Soedjarwo merilis film anak keduanya tahun ini setelah Lima Elang (5E) yang bisa dibilang cukup berhasil. Walau menurut saya masih tergolong biasa, Rudi mencoba untuk memperbaikinya lewat Garuda di Dadaku 2 (GDD2). Bedanya, kali ini Rudi diberi materi yang lebih dewasa sedikit ketimbang 5E.

Sepak bola tahun ini bisa jadi subjek yang paling banyak disorot di negeri ini. Di film sendiri sebelumnya sudah ada Hanung Bramantyo yang mengangkatnya lewat Tendangan dari Langit. Karena jadwal rilisnya yang hanya berselang beberapa bulan, wajar jika penonton lantas mencoba membandingkan keduanya. Tidak salah sih, tapi menurut saya walaupun punya tema yang sama tetapi keduanya memiliki banyak sekali perbedaan. Pertama, jelas antara Hanung dan Rudi memiliki ke-khas-an yang berbeda dalam penggarapan. Kedua, fokus cerita berbeda. Jika Hanung mengangkat perjuangan pemuda desa demi masuk timnas, maka GDD2 menitik beratkan pada perkembangan karakter utama, Bayu. Di sini lah letak menariknya GDD2 yang tidak semata-mata mengenai dunia sepak bola. Ada nilai kedewasaan universal yang ingin disampaikan melalui dunia sepak bola. Saya sangat menyukai penggambaran pribadi Bayu yang mulai menginjak remaja dengan cukup detail. Tidak ada deh karakter ideal dimana protagonis selalu bersikap sempurna. Karakter Bayu sangat manusiawi: rasa kesal karena sahabatnya mulai akrab dengan orang lain, kekesalan karena kepercayaan kapten tim yang dialihkan dari dirinya, tekanan mental sebagai kapten yang timnya belum pernah menang pertandingan, hingga tekanan dari sisi akademisnya. Semua ditampilkan dengan sangat baik oleh Emir Mahira yang kemampuan aktingnya semakin matang. Thanks to Salman Aristo yang tak perlu diragukan lagi kepiawaiannya sebagai scriptwriter.
Secara teknis, tentu tidak banyak yang bisa saya komentari karena Rudi dari dulu memiliki taste sinematografi, art direction, dan dramatisasi yang sangat baik. He’s the king of drama, bisa bikin adegan dramatis tanpa terasa terlalu berlebihan. Adegan ngambek-ngambekan antara Bayu dan Heri adalah adegan yang menurut saya Rudi Soedjarwo banget! Aghi Narottama, Bembi Gusti, dan Ramondo Gascaro yang sekarang lagi naik daun sebagai penata musik film-film nasional papan atas, memberikan nyawa tersendiri bagi tiap adegan sehingga terasa lebih hidup dan menghanyutkan, walau tak sampai menjadi memorable banget seperti layaknya score Arisan! 2 atau Pintu Terlarang. Well, yang penting kan sudah cukup mampu menghidupkan adegan yang diiringi, end of story.
Namun dari segala kelebihan yang dimiliki, GDD2 tak luput dari kekurangan. Ketika adegan terakhir dan beralih ke credit title, saya merasakan kurang klimaks. Saya masih belum puas dengan konflik yang terjadi antara Bayu, ibunya, dan teman bisnis ibunya. Seolah pertautan antara ketiganya dimulai dan berjalan dengan sangat baik sepanjang film, namun tidak diberi kesimpulan. Ending ini pula yang kurang bisa menggambarkan hubungan Bayu dengan ibunya yang seharusnya tidak kalah penting. It’s like, “yang penting menang final, end of story”. Padahal sejak awal jelas sekali tersirat bahwa yang harus diselesaikan adalah konflik Bayu dengan orang-orang di sekitarnya. Jika konflik antara Bayu dengan Heri, Anya, maupun dirinya sendiri bisa diselesaikan dengan baik, mengapa antara Bayu dengan ibunya tidak tuntas?
Kekurangan lain yang terasa adalah jalannya pertandingan-pertandingan sepak bola yang kurang seru. Mungkin tidak ada dramatisasi seperti slow motion menjelang goal ataupun editing yang kurang bikin breathtaking. Misalnya adegan goal terakhir yang terlalu cepat dan pergantian framenya yang kurang halus, sehingga terasa biasa saja. Justru adegan pertandingan semi-final yang diiringi nyanyian Garuda di Dadaku oleh penonton lebih bikin merinding buat saya.
Dari segi teknis, saya juga kurang puas dengan volume dialog di beberapa bagian yang terasa terlalu kecil, kurang imbang dengan score yang terdengar megah. Yang paling terasa jelas adalah dialog Maudy Koesnaedi dengan Emir Mahira di mobil pada opening title. Untung saja tidak sampai semua adegan seperti itu.
Untuk jajaran cast, semuanya cukup berhasil menghidupkan karakter dengan porsi masing-masing. Bahkan Ramzi yang perannya kecil, berhasil menyegarkan suasana film, dimana karena konflik-konflik yang dialami Bayu hampir saja menjadikan mood sepanjang film terasa sangat serius. Monica Sayangbati yang sebelumnya juga pernah bermain di 5E sekali lagi berhasil mencuri perhatian. I think she has a good future in movie industry. Bahkan tampilan fisiknya lebih cantik dan memikat daripada di 5E. Rio Dewanto cukup beruntung karena dua filmnya dirilis dalam waktu yang berdekatan : Arisan! 2 dan GDD2. Tentu saja dengan peran yang sangat kontras di kedua film tersebut memberikan kesan tersendiri bagi penonton. Image sebagai aktor yang patut diperhitungkan kemampuan aktingnya dapat dengan mudah diraih.
Anyway, GDD 2 adalah film yang sangat layak untuk disaksikan oleh anak-anak Indonesia. Penonton dewasa juga bisa bernostalgia dengan masa-masa peralihan dari anak-anak menuju remaja. Even for a non soccer fan and those who haven’t watched the previous movie, GDD2 was still easily understandable and entertaining.
Lihat official website film ini
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, December 2, 2011

The Jose Movie Review - Arisan! 2


Arisan! yang dibuat oleh Nia Dinata 8 tahun lalu merupakan sebuah landmark buat perfilman Indonesia. Pertama, film ini dengan berani dan jujur mengangkat fenomena kaum sosialita metropolis. Kedua, tak banyak film yang berhasil menghadirkan chemistry yang begitu kuat antara pemerannya, seperti persahabatan yang terjalin antara pemeran-pemeran utama Arisan!.
Setelah juga hadir dalam format serial, kini Nia melanjutkan cerita persahabatan antara Meimei, Andien, Lita, Sakti, dan Nino. Anda boleh menganggapnya sebagai sekuel karena memang masih bercerita tentang kehidupan masing-masing karakter yang sudah ada. Juga, Anda boleh menganggapnya sebagai reuni dimana kita sebagai penonton seperti menjadi bagian dalam lingkaran persahabatan mereka.
Di sini Nia tampak tak perlu bercerita banyak tentang problematika tiap karakter utamanya. Praktis, sebenarnya hanya Meimei lah yang menjadi fokus di sini. This was her Eat, Pray, Love, versi dia pribadi. Ada sih sedikit membahas tentang hubungan Sakti dan Nino ataupun antara Lita, mantan TTM-nya, dan anak semata wayangnya, Talu. Namun porsi cerita mereka tidak begitu diberikan ruang. Yah bisa dimengerti lah, bakal jadi sepanjang apa filmnya kalau juga diberi porsi yang kurang lebih sama. Yang ada malah membosankan deh. Secara keseluruhan, walau tak banyak cerita yang disampaikan, tetap enak diikuti hingga akhir film. Sama sekali tidak membosankan. Kalau menurut saya sih ini karena faktor kedekatan kita sebagai penonton dengan karakter-karakter utama yang ada. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, seolah-olah penonton seperti bagian dari persahabatan mereka. That’s a very good treatment!
Tapi yang pasti tidak berubah dari seri pertamanya adalah guyonan-guyonan yang menyindir kehidupan kaum sosialita negeri ini, lengkap dengan fenomena-fenomenanya, seperti bedah plastik, social network, hingga new-age. Tak ketinggalan pula gugatan-gugatan sosial-politik mulai gorengan plastik, politikus yang dengan agenda klisenya tentang dunia film : mengangkat budaya bangsa yang bermoral (dari kacamatanya sendiri), maraknya demonstrasi massa yang tidak jelas tujuannya, fake family to cover homosexuality, hingga hubungan antara Sarah Sechan dan Shanty yang sempat memanas. Semua diselipkan ke dalam cerita secara cerdas, menarik, dan menggelitik.
Dari departemen aktingnya tidak perlu diragukan lagi. Bisa dibilang tidak ada sama sekali aktor yang canggung membawakan perannya di sini, termasuk yang sekedar menjadi cameo. Cut Mini sangat berhasil sekali membawakan karakter yang mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Sementara dari jajaran karakter baru, yang paling menonjol tentu saja Rio Dewanto yang mungkin bisa jadi sebuah titik balik karir aktingnya, sama seperti ketika Barry Prima memerankan karakter transgender di Realita Cinta dan Rock n’ Roll. Saya tidak heran jika tahun depan wajahnya semakin mendominasi layar perfilman Indonesia. Sarah Sechan cukup hits dalam memberi warna tersendiri bagi keseluruhan film. Sementara Edward Gunawan, seorang sineas pendatang baru yang baru saja memenangkan penghargaan lewat film pendek Payung Merah, tak kalah mencuri perhatian sebagai the healer yang membantu Meimei secara spiritual. Tidak ketinggalan, Adinia Wirasti yang walau perannya tidak banyak namun cukup meninggalakan kesan yang dalam sebagai Molly, bartendis bar reggae. Intinya, kemunculan karakter-karakter baru justru membuat cerita Arisan! menjadi semakin berwarna dan menarik.
Desain produksi patut mendapat apresiasi lebih, mulai dari desain set, kostum, dan fotografi tampak sangat indah. Jelas sekali terlihat dari sisi teknis, Arisan! 2 jauh lebih dipersiapkan dengan baik dan matang daripada yang pertama. Jika pemerintah Indonesia menginginkan film yang mengangkat keindahan panorama alam Indonesia, Arisan! 2 has it. Pantai yang belum banyak menjadi destinasi pariwisata di negeri ini : Kepulauan Gili Trawangan, Lombok! Selain pesona alamnya, Nia juga mengeksplor keindahan budaya Indonesia berupa upacara perayaan Waisak di Borobudur. Ini bisa menjadi sebuah statement dari Nia bahwa budaya Indonesia itu banyak dan beragam, tidak hanya yang terus-terusan diekspos media kita atas nama “mayoritas”. Serius, saya menjadi semakin bangga menjadi bagian dari budaya Indonesia.
Tak ketinggalan, saya mengapresiasi desain opening title dan credit title-nya. Opening title-nya yang menyatu dengan arus air dan terkadang dilewati ikan-ikan, berkelas banget! Begitu juga dengan editing credit title-nya yang memberikan kesan seperti film Eropa. Editing juga berhasil ketika menghadirkan extreme close up ke beberapa organ tubuh karakternya, seperti mata dan tangan, yang memberikan kesan akting yang lebih dalam melalui gesture. Jarang nih ada yang menggunakan teknik ini. Lucky Kuswandi yang pernah jadi sutradara Madame X ternyata punya talenta editing yang juara juga.
Trio Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Ramondo Gascaro sekali lagi membuktikan diri sebagai music director yang jagoan dalam membangun mood film melalui score. Semua gubahannya berhasil menyatu dengan adegan-adegan yang ada, terlebih ketika adegan video Meimei untuk sahabatnya.
Menurut saya, Arisan! 2 bisa jadi sebuah refleksi tentang kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana kita memaknai hidup dan spiritualitas kita. It’s deeper and has a lot more messages to tell to the audience than the first one. Kalaupun ada bagian-bagian yang kurang berkenan dengan “stadard moral” kita, well, itulah realitanya yang terjadi di masyarakat. Mungkin hanya kita saja yang begitu nyaman hidup dalam kemunafikan sehingga enggan untuk mau mengerti kedaan orang lain. And finally after all, this was probably the best Indonesia movie this year, both in technical and essential. Feel good with the gank and for yourself!
Kunjungi official site film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 30, 2011

The Jose Movie Review - Poconggg Juga Pocong The Movie


Sebagai orang yang tinggal di teritori Indonesia, mungkin kita sudah had enough with a thing called Pocong. Jenis makhluk halus asli Nusantara ini termasuk yang paling sering muncul di film horror lokal, selain tentu saja Kuntilanak. Yang bikin kesel sih, Pocong sebenarnya termasuk jenis hantu yang tidak mengerikan sama sekali. Ia tidak bersuara, tak bisa lari, dan posturnya biasa saja, tapi entah kenapa auranya itu lho yang bikin merinding.
Ada pula seikat pocong yang berjuluk Poconggg yang naik daun berkat akun twitter anonim-nya. Tak heran fenomenal sebuah akun twitter berlanjut pada sebuah buku novel ala Raditya Dhika, dan sama seperti Kambing Jantan, sekarang juga merambah film layar lebar.
Saya bukan follower akun twitternya yang konon hingga saat ini tembus satu juta tiga ratus ribu sekian follower. Tapi saya tahu beberapa twit fenomenalnya yang melegenda. Intinya sih kehidupan “seikat” pocong yang dipadu dengan kehidupan gaul manusia, ya gaul, ya galau. Manusiawi banget lah. Saat novelnya rilis pun, saya sempat under-estimate, “ah apaan sih… paling ya gitu gitu aja…”. Image nya berubah 180 derajat ketika saya mulai membaca isi novelnya ketika nongkrong di sebuah café, tepat setelah novel itu dibeli oleh seorang teman kantor. Yep, saya berhasil memperawani novel tersebut sebelum ia sempat membacanya sendiri. Saya harus mengakui… Pocongg Juga Pocong adalah buku humor terlucu setelah era kejayaan Kambing Jantan.
Nah, ketika berhembus kabar bahwa PJP akan diangkat dalam format layar lebar, antusias saya jadi membara-bara. Namun ada juga dua kekhawatiran saya. Yang pertama, mengadaptasi sebuah novel komedi yang lebih berisi sketsa-sketsa cerita humor yang agak jauh berhubungan antara satu bab ke bab lainnya menjadi sebuah sebuah film cerita yang alurnya beruntut dan menarik, bukanlah pekerjaan mudah. Sebelumnya, Kambing Jantan menurut saya tidak begitu berhasil. Apalagi setelah melihat trailernya, comedic-feel-nya agak kurang terasa. Kedua, yang memproduksinya adalah Maxima Pictures yang terkenal dengan film-film horror kacrutnya, ditambah lagi sutradaranya adalah Chiska Dhoepert yang dulunya dikenal sebagai astrada dari Koya Pagayo atau alter-ego-nya Nayato. Filmografi Chiska sendiri sebagai sutradara tidak terlalu bagus karena cenderung mengikuti jejak mentornya. Tidak heran lantas banyak yang mencurigai Chiska sebagai alter-ego lain lagi dari Nayato. Untunglah ternyata bukan.
Setelah menyaksikan, ternyata hasil akhirnya jauh lebih baik daripada yang saya cemaskan ketika melihat trailernya. Guyonan-guyonan yang terlontar di novelnya masih terasa lucu di film, baik berupa celetukan maupun tingkah laku karakter-karakternya. Runtutan kejadiannya memang tidak sama persis seperti di novel, namun justru yang tersaji di layar jauh lebih enak dinikmati karena alurnya menjadi lebih teratur dan rapi. Fokus cerita tidak lagi berkisar kehidupan sehari-hari seikat pocong seperti di novelnya, tapi menyempit ke hubungan asmara antara Dimas (si Poconggg) dan sahabatnya ketika masih hidup, Sheila. Sebuah keputusan yang sangat baik sekali, menurut saya, sehingga film menjadi lebih terarah. Arief Muhammad, si pemilik akun @Poconggg, dibantu Haqi Achmad yang awalnya seorang blogger review film, cukup berhasil mengadaptasi novelnya menjadi sebuah skrip yang rapi dan lebih menarik, sehingga walau dengan dukungan teknis dan cerita cinta ala FTV (shot-nya saja hanya menggunakan kamera Canon full-HD), mampu menghadirkan karya dengan citarasa layar lebar. Chiska sangat beruntung punya skrip yang rapi, sehingga walau sang sutradara tak cukup memberikan kontribusinya, film masih terasa jelas arah alurnya. Ada beberapa adegan komedik yang seharusnya bisa jadi lucu banget, tapi gara-gara penyutradaraan, angle, dan timing yang kurang pas, jadinya terasa kurang greget. Misalnya adegan ketika Poconggg harus melewati tutup portal perumahan. I will blame the director for this.
Namun yang membuat saya cukup kaget sekaligus kagum adalah tampilan sisi drama romantisnya yang menurut saya dapet banget. Ada beberapa adegan yang menurut saya paling romantis untuk film Indonesia tahun ini. Jujur, saya sempat tersentuh, sedikit sembab tapi dengan senyum tersimpul gara-gara satu adegan ini. Treatment adegan serta score pengiringnya, mendukung banget feel romantis bin mengharukan itu. Keren banget. Sama sekali tidak menyangka pencapaiannya bisa sampai sejauh ini. Very good job!
Tentu saja tampilan keseluruhan yang menarik dan menghibur ini bukan tanpa celah. Sangat jelas sekali celah-celah yang terasa terutama dari segi teknis. Yang pertama dan paling simpel adalah banyak sekali kontinuitas adegan antar shot yang kurang sinkron. Jangan kaget kalau pada adegan yang sama tiap ganti angle, ada banyak perubahan baik itu berupa gerakan tangan atau arah kepala. Kedua, di bagian awal-awal film, ada banyak sekali transisi yang kurang enak dinikmati karena hanya main “fade out to black-fade in from black”. Belum lagi jika diiringi lagu soundtrack, pemotongannya seringkali kurang pas, terasa sekali jumping-nya. Untung saja, mulai pertengahan hingga akhir, transisi adegan sudah lebih dinamis, variatif, dan pas dengan kebutuhan.
Untuk akting, saya merasa sebagai pemeran utama, Ajun Perwira kurang bisa menunjukkan sisi komikal dalam dirinya. Beberapa guyonan yang dia lontarkan masih bisa bikin ketawa sih, tapi secara keseluruhan, aura “gokil”-nya masih seperti dibuat-buat, apalagi ketika membawakan narasi. Aktor pendatang baru yang mirip Adly Fairuz ini tampak terlalu alim untuk membawakan peran segokil itu. Geek but gokil, agak susah sih cari orang yang tampilannya seperti itu. Sementara akting Saphira Indah dan Guntur Triyoga masih standard kelas FTV. Untung saja penampilan Nycta Gina dan Rizky Mocil yang sudah lebih berpengalaman di dunia hiburan, sangat membantu meramaikan suasana.
Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, PJP adalah tipikal film yang dibuat sekedar untuk lucu-lucuan dan hiburan. So, don’t take this movie seriously. Buat yang sedang galau, butuh hiburan segar dan bisa tertawa terbahak-bahak, PJP adalah pilihan yang sangat tepat.
Lihat situs resmi film ini.
Kenali Poconggg lebih dekat.
Follow akun twitter Poconggg.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, November 27, 2011

The Jose Movie Review - Breaking Dawn Part I


Twilight (so-called) Saga sebenarnya bukan prioritas dalam watch-list saya. Sebaliknya, saya malah ilfil setengah mati dengan premis-nya tepat setelah selesai menyelesaikan seri pertama. Menurut saya, tidak ada satu unsur pun yang membuat Twilight pantas menyandang embel-embel “saga”. Malahan, lebih cocok diangkat sebagai mini seri atau film TV saja. Cheesy dumb love story, with cheesy dialog, plain flat acting, and mediocre visual effects... hanya penampilan fisik (terutama aktor-aktor pria-nya) yang mampu membuat banyak gadis remaja yang tergila-gila dengan franchise ini.
Seri 4.1 ini pun sama sekali tidak ada dalam watch-list saya. Kalau saja tidak ada yang mentraktir, pasti bakal saya lewatkan begitu saja. Lagipula, sebagai seseorang yang gemar me-review film, saya juga harus melihat film yang “minor” di mata saya sehingga bisa menjelaskan mengapa saya tidak menyukainya.
Secara keseluruhan, sebagai sebuah produksi film, Breaking Dawn part 1 jauh di atas seri-seri pendahulunya. Saya sangat menikmati gambar-gambar indah yang disuguhkan sepanjang film, terutama terlihat jelas pada altar pernikahan Edward-Bella, bungalow pulau pribadi di Brazil tempat honeymoon, dan gambar favorit saya : mimpi Bella dimana Edward-Bella di pelaminan dengan tumpukan mayat di bawahnya. Divisi music juga worked very well. Score dan pilihan-pilihan tracknya tepat dan menyatu dengan adegan yang tersaji. Mungkin sengaja kali yah pakai track-track yang alternatif pop untuk merangkul audience di luar ababil. Te-O-Pe lah soundtracknya!
Pun, visual effectnya mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Transformasi para werewolf menjadi serigala tampak lebih detail dan terutama efek tubuh kurus Bella cukup mengesankan. Lebih penting lagi, no more shining skin from the vampires!
Namun sayang, keindahan Breaking Dawn part 1 hanya cukup sampai di situ. Ceritanya masih se-ababil seri-seri sebelumnya. Padahal Jacob Black sendiri pun pada satu adegan berujar, tidak cukup hanya “Aku cinta kamu”, “Kamu cinta aku” kepada Bella. Akhirnya ada satu karakter yang berpikir rasional tentang cinta. Sayangnya, Bella tetep kekeuh pada pendiriannya, apalagi Edward yang jelas tidak mau melepaskan Bella, satu-satunya wanita yang mau menerima dirinya apa adanya, setelah beratus-ratus tahun mencari. Ya iyalah... mana ada wanita yang dengan bodohnya menyerahkan dirinya jadi vampire, hidup selamanya (hidup selamanya itu boring dan menyiksa lho!) hanya karena cinta, selain Bella Swan? Maaf yah penonton lain kalau saya banyak tertawa sepanjang film :)
Oke, saya tutup mata deh dengan “kebodohan-kebodohan” plotnya. Yang pasti, di seri pamungkas ini (seharusnya) karakter-karakternya menjalani konsekuensi dari “kebodohan-kebodohan” tersebut dan menyelesaikannya di sini. Namun sayang hanya Jacob saja yang mengalami sedikit “pendewasaan” dalam berpikir dan bertindak. Setidaknya ia memperingatkan Bella, dan pada menjelang akhir, ia mengesampingkan egonya dengan mengurungkan niatnya untuk membunuh putri sulung Bella. Sementara Bella dan Edward sendiri? Mereka malah mulai bertengkar tuh, terutama karena Edward yang memikirkan keselamatan Bella (ketika ML maupun melahirkan), sementara Bella yah entah karena seorang masokis atau cinta buta-nya, serasa ngetheg aja. One point I agreed with Edward in a dialogue, “seharusnya bukan hanya keputusanmu, tapi keputusan KITA.” Juga, agak aneh melihat Bella yang kurang bisa membatasi sikapnya terhadap Jacob yang dia sendiri sudah tahu bagaimana perasaan Jacob kepada dia. Kalau yang satu ini mah dari seri pertama sampai sekarang masih belum berubah.
Secara alur, Breaking Dawn terasa terlalu bertele-tele. Durasi dua jam hanya diisi tiga hal : pernikahan, bulan madu (bercumbu melulu, lalu setelah Edward ogah menyakiti Bella ketika bercumbu, jadinya main catur melulu), dan melahirkan dengan masa kehamilan yang dipenuhi perdebatan dan hal-hal tidak penting lainnya. Buat yang berharap adegan aksi, siap-siap kecewa karena tak sampai sepuluh menit, itu pun skalanya biasa saja. Hanya kumpulan serigala melawan keluarga Cullen yang sedang berburu. Saya juga terganggu dengan adegan para serigala yang saling berkomunikasi dengan dubbing ala robot-robot Transformers. Menurut saya bakal lebih menarik jika tidak ada dubbing, hanya subtitle saja atau biarkan penonton menerka-nerka sendiri apa yang sedang diperbincangkan seperti dialog Caesar dengan seekor babon di The Rise of The Planet of The Apes. Untung saja semua itu digarap dengan cukup baik oleh sutradara Bill Condon yang pernah menangani film sekaliber Dreamgirls dan Kinsey, sehingga hasil akhirnya tidak terjerumus lebih buruk lagi.
Akting cast-cast utamanya tidak begitu menunjukkan peningkatan yang berarti sejak seri pertamanya. Ya begitu-begitu saja. Malah saya lebih suka karakter-karakter pendukung seperti Alice Cullen (Ashley Greene) atau Esme (Elizabeth Reaser) yang performance nya lebih mengesankan. Sayang sekali aktris muda favorit saya, Anna Kendrick (yang memerankan karakter Jessica Stanley, teman SMA Bella) tidak banyak diberi porsi. Ia hanya memberikan speech dengan joke garing di pernikahan Bella-Edward. Kesannya hanya sekedar penyambung dari seri sebelumnya.
Secara keseluruhan, terasa banget kalo part 1 ini sengaja dimulur-mulurin agar bisa memenuhi durasi dua jam, jadi masih ada “bahan” tersisa untuk part 2-nya. Saya sependapat dengan banyak orang, andaikata tidak dipotong menjadi dua bagian, mungkin alur bisa mengalir lebih cepat dan secara keseluruhan bisa lebih enak dinikmati. Soal fans novel yang mengatakan di layar sudah banyak yang dipotong dari novelnya, ya emang harusnya begitu. Film dan novel medium yang beda yang tidak mungkin dimasukkan semuanya. Lantas buat apa dibuat versi filmnya lagi kalau hanya mentah-mentah mengangkat persis dari novelnya? Filmnya harus bisa mengakomodasi penonton yang tidak membaca novelnya, namun tetap memiliki intisari yang sama dengan novelnya. Bukan begitu?
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Real Steel


Mendengar kata “robot” sama sekali tidak menarik perhatian saya akibat pengaruh Transformers yang installment ketiganya tayang tahun ini. Begitu buruknya film tersebut hingga saya agak alergi mendengar kata “robot”, termasuk ketika pertama kali membaca premise Real Steel. Yah robot lagi, robot lagi, produsernya Steven Spielberg lagi… (Transformers juga diproduseri oleh Spielberg). Tapi saya membaca banyak sekali review positif dari reviewer-reviewer luar negeri, ditambah lagi testimoni dari teman-teman yang turut memberi tanggapan positif. Alhasil saya memutuskan untuk menyaksikannya di saat-saat terakhir tayang di bioskop Surabaya.
Sebagai film hiburan, Real Steel sama sekali tidak mengecewakan. Terutama, adegan-adegan pertarungan yang ditampilkan mampu menghadirkan atmosfer keseruan dan ketegangan tersendiri. Satu hal yang menurut saya jarang dihadirkan di film-film aksi yang diedarkan beberapa belakangan terakhir ini. Karakter robot utama, Atom, yang hanya sekedar sparring robot tidak menunjukkan secara langsung kekuatannya dan terjebak dalam ke-cliché-an: “selalu menang”. Di situlah letak serunya. Kita tidak tahu apakah Atom akan mampu bertahan melawan musuh-musuhnya di ring tinju. Mungkin kita bisa menebak bahwa pada akhirnya Atom pasti menang, tapi prosesnya menuju kemenangan itulah yang membuat menarik untuk diikuti.
Sisi drama yang dicoba digali melalui hubungan ayah-anak juga dihadirkan sesuai dengan porsinya sehingga tidak terjebak ke dalam lembah haru-biru yang menye-menye dari awal hingga akhir. Justru ketidak-akuran di awal hingga pertengahan film, yang sedikit demi sedikit membangun hubungan antara Charlie-Max sehingga pada akhirnya menunjukkan persamaan dan kedekatan antara keduanya. Formula ini berhasil hingga pada saat adegan pamungkas, kita bisa merasakan haru melihat keduanya. Sisi lain yang turut diangkat dan menjadi menarik adalah perkembangan karakter Charlie yang berubah berkat kehadiran Max sehingga pada akhirnya kita menjadi bersimpatik pada karakter Charlie. Durasi dua jam terisi dengan efektif dan dengan alur yang beritme tepat. Well done, Shawn Levy!
Drama antara Charlie-Max berhasil selain karena chemistry dan alur yang dibangun, juga berkat akting keduanya yang memang mendominasi layar. Hugh Jackman sukses membuat saya sebal dengan karakternya yang arogan namun selalu berujung kegagalan. Sedangkan Dakota Goyo yang pernah memerankan Thor kecil juga berhasil memenangkan hati mayoritas penonton berkat kegigihan, kekeras-kepalaannya, dan kelucuannya dalam menari. Pantas lah Goyo digadang-gadang sebagai salah satu aktor muda yang menjanjikan. Kualitas aktingnya boleh lah.
Karakter-karakter robot yang ada memang tidak begitu menyumbangkan kedalaman emosi, namun cukup berkesan berkat desainnya yang menawan. Saya pribadi sangat menyukai bentuk NoisyBoy, tapi kesemuanya, baik protagonis maupun antagonis, tampil memukau. Tidak selalu tampak cemerlang, malah banyak sisi “rongsokan” dari masing-masing robot yang justru memberikan kesan nyata, tidak sekedar CGI. Gerakan-gerakan pertarungan robotnya sangat halus, mirip sekali dengan gerakan pertarungan manusia.
Ada banyak pesan positif yang tersampaikan melalui Real Steel. Jika banyak penonton yang berkesan dengan hubungan antara Charlie-Max, saya justru merasakan sindiran tentang hubungan kita dengan teknologi yang di sini ditampilkan dalam bentu robot. Seringkali kita terpukau oleh teknologi yang menawarkan kemudahan dan kepraktisan dalam kegiatan kita sehari-hari sehingga kemampuan kita sebagai manusia yang hidup semakin lama semakin berkurang. Lihat saja, untuk menjalankan robot yang bertarung saja sampai harus membuat program untuk menganalisa gerakan lawan dan memanfaatkannya untuk menyerang lawan. Berbeda dengan Atom, yang akhirnya dikendalikan langsung oleh gerakan Charlie yang notabene mantan petinju, jelas memiliki daya analisa yang jauh lebih baik serta pengalaman bertarung yang lebih tinggi daripada program komputer. Bagaimana pun, kemampuan manusia (seharusnya) melebihi teknologi (komputer). Jangan sampai kita, manusia, diperbudak oleh teknologi. Setuju?
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Paul


Duet Simon Pegg dan Nick Frost naik daun sejak Shaun of The Dead rilis dan lantas menjadi salah satu cult movie modern. Paduan cerita zombie dengan bungkus komedi yang unik menjadi modal utama kesuksesan mereka. Setelah Shaun of The Dead dan Hot Fuzz, tahun ini mereka berdua kembali berperan sekaligus menulis naskah dari film yang disutradarai oleh Greg Mottola ini.
Tema alien dengan bungkus komedi jarang dibuat. Dari daftar saya yang paling mengesankan dan saya ingat dengan baik hanya Mars Attacks! dan Evolution. Maka tak heran jika Paul dengan mudah menjadi penghuni baru list saya tersebut.
Paul menyajikan sebuah cerita alien biasa yang juga punya misi yang sama dengan alien-alien lain di film… kembali ke sebuah pesawat luar angkasa agar bisa kembali ke planet asalnya. Namun yang membuat petualangannya menjadi luar biasa lucu dan seru adalah kehadiran dua sci-fi geek, Graeme dan Clive. Petualangan road trip liar ala Hangover dimulailah. Ditambah lagi dengan kehadiran Ruth, putri seorang religius yang tidak percaya adanya alien dan menganggap Paul, nama alien tersebut, sebagai iblis. Percaya deh, menurut saya, kelucuan Paul berada di level yang sama dengan Hangover pertama. Sangat menghibur dan cerdas. Satu tema guyonan yang paling saya favoritkan adalah guyonan tentang perbedaan pemikiran antara kaum religius dan kaum yang percaya science. Bisa dijadikan refleksi antara keduanya.
Plot yang dihadirkan pun mengalir dengan sangat lancar dan dengan ritme yang pas, tidak tumpang tindih dengan guyonan-guyonan yang diselipkan. Pokoknya enjoyable lah dari awal hingga akhir.
Dari divisi cast, tentu saja duo Pegg-Frost menjadi perhatian utama. Mereka berdua masih sama lucunya dengan Shaun. Mungkin bisa menjadi salah satu dari sekian banyak duo-comedic yang memorable sepanjang sejarah perfilman. Seth Rogen yang mengisi suara Paul juga berhasil menghidupkan karakter Paul dengan maksimal. Saya tidak bisa membayangkan aktor lain yang cocok untuk mengisi suara karakter alien nyentrik dan slengean ini. Si gadis religius, Ruth, berhasil mengocok perut dengan tingkah-tingkah polos dan naifnya berkat akting Kristen Wiig. Yang paling mengejutkan tentu saja kehadiran icon alien, Sigourney Weaver dan bahkan Steven Spielberg sebagai… ah lihat saja sendiri biar seru J.
Film sci-fi tak lepas dari special effect. Walaupun bergenre utama komedi, namun Paul tidak mengabaikan tampilan visual effect. Yang paling terasa adalah karakter Paul yang tampak realistis baik dari segi tekstur organ hingga gerakan serta ekspresi wajahnya. Salah satu faktor keberhasilan komedi Paul juga neh. Sedangkan visual effect lainnya seperti tampilan pesawat luar angkasa, tampak sekelas film-film sci-fi berbudget mahal lainnya koq.
Sebagai penutup, saya sangat merekomendasikan Paul sebagai suguhan komedi cerdas yang wajib disaksikan tahun ini. Jadi pastikan Anda menyaksikannya di rumah (karena sayangnya tidak tayang di bioskop Indonesia).
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Bad Teacher


Cameron Diaz adalah alasan utama saya tertarik dan penasaran untuk menyaksikan film ini. She’s my favorite actress not just because of her physical look, but I think she has a unique charm which is not everybody has. Beside, her performance in most of her movies are remarkable because of her. I don’t know how she did it. Ditambah lagi ada Justin Timberlake yang notabene adalah mantan pacar Diaz.
Bayangan saya ketika pertama kali membaca premise-nya, mungkin Bad Teacher akan menjadi semacam Great Teacher Onizuka dimana ada karakter seorang guru yang nyentrik dalam hal penampilan dan cara mengajar, namun berhasil mendidik para muridnya dengan caranya tersendiri. Tapi ternyata bayangan seperti itu benar-benar sirna setelah menit-menit awal. Agak mengernyitkan dahi sih melihat kelakuan-kelakuan inappropriate dari Elizabeth Halsey. It’s oke lah kalau hanya sekedar melempar bola basket kepada murid jika jawaban yang diberikan si murid salah, tapi smoking pot, stealing, dan bersumpah serapah? Sumpah serapah pun jika dilakukan oleh guru SMA seperti Michelle Pfeiffer di Dangerous Minds sih masih bisa dimaklumi. Di depan murid-murid SMP kelas 1??? Ini benar-benar sudah kelewatan, pada budaya mana pun.
Yap, karakter Elizabeth Halsey was totally a bad teacher, literally! Awalnya malah ia sama sekali tidak niat untuk mengajar. Setiap kelasnya, ia hanya akan memutar film untuk anak-anak didiknya sementara ia tertidur dengan kaki naik di atas meja. Film-film yang ia putar pun beragam, hingga yang terekstrim… Scream-nya Wes Craven! Niat mengajarnya pun baru muncul ketika diiming-imingi hadiah ribuan dollar jika murid-muridnya sukses menjadi juara umum ujian akhir tingkat negara bagian. Masih banyak lah motif dan tindakan busuk Elizabeth selanjutnya yang mungkin akan membuat Anda semakin muak untuk menontonnya sendiri jika saya jabarkan di sini semua. Intinya, tidak ada pesan positif sama sekali dari karakter Elizabeth Halsey.
Tidak ada yang salah dengan para aktornya. Semuanya bermain dengan sangat baik, terutama Cameron Diaz yang menjadi karakter utama. Kredit tersendiri pantas disematkan untuk Justin Timberlake yang semakin hari semakin nyaman berakting. Karakter konyolnya di sini berhasil menjadi hiburan tersendiri. Lucy Punch sebagai Ibu Guru Tupai yang sebenarnya tergolong antagonis namun berhasil menjadi sumber kelucuan utama sepanjang film berkat akting komedik-nya.
Memang, Bad Teacher dibuat dengan maksud hanya untuk menghibur dengan aneka guyonan-guyonan yang ditawarkan. Beberapa memang manjur sih, terutama berkat kelakuan-kelakuan konyol karakternya, seperti Elizabeth sendiri, Miss Squirrel, Carl Halabi, Kirk, dan tentu saja Scott Delacorte dengan perilaku seksualnya. Tapi setelah sadar bahwa beberapa guyonannya sangat tidak senonoh secara moral pada level dewasa sekalipun, hasrat ingin tertawa pun seperti tertahan. Saya pribadi seperti merasakan sebuah ironi. Tidak salah jika Anda mungkin akan tidak merasa nyaman dan tidak tahan dengan adegan-adegan yang semakin lama semakin keterlaluan hingga harus menghentikan film di tengah-tengah. Jika Anda tidak keberatan dengan hal-hal inappropriate yang disodorkan, ya nikmati saja sekedar sebagai hiburan ringan di kala Anda butuh untuk tidak berpikir dan tertawa lepas.
Lihat data film ini di IMDB
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, November 13, 2011

The Jose Movie Review - The Adventures of Tintin : The Secret of The Unicorn

Ini dia film yang sejatinya paling saya tunggu-tunggu di tahun 2011. Pertama, karena saya menyukai petualangan seri Tintin, baik dalam bentuk komik maupun serial animasi klasiknya yang gayanya persis dengan komiknya. Kedua, tentu saja nama Steven Spielberg yang selama ini merupakan salah satu sutradara yang memiliki konsistensi kualitas, baik dalam menggarap film serius macam Saving Private Ryan, maupun film murni hiburan macam Jurassic Park. Ketiga, tentu saja siapa yang tidak penasaran menyaksikan petualangan Tintin dan karakter-karakter legendarisnya dalam bentuk motion-capture-animation? So, wajar jika saya sangat antusias dan memiliki ekspektasi yang cukup tinggi untuk film ini.
First of all, tentu saja saya sangat terpukau oleh desain produksinya. Motion-capture animation-nya sangat-sangat luar biasa, melebihi kerealistisan Beowulf, The Polar Express, maupun A Christmas Carol. Bahkan jika kita hanya melihat salah satu adegan saja, sekilas seperti the real live-action movie, bukan animasi. Perhatikan saja detail tekstur kulit, dinding puri Omar Ben Salaad, bahkan air dan pasir yang muncul di layar. Terlihat seperti asli! Lantas kenapa tidak dibuat live-action saja? Katanya sih, awalnya Spielberg menginginkan membuat versi live-action, tapi lantas Peter Jackson berpendapat bahwa dunia Tintin tidak mungkin bisa terealisasikan dengan baik dalam bentuk live-action. Saya sependapat dengan Jackson. Apa jadinya ciri khas karakter-karakternya, misalnya bentuk hidungnya yang unik-unik, dibuat live action? Biasa banget, aura dunia Tintin tidak bisa tergambarkan dengan penuh. Belum lagi adegan-adegan kekerasannya, termasuk melibatkan booze dan cigarette, yang menurut saya kurang pantas untuk konsumsi Semua Umur (G/PG). Jika memaksa dibuat versi live-action, bisa-bisa ratingnya di Amerika Utara jadi PG-13. Tentu saja Spielberg tidak menginginkan rating PG-13 untuk Tintin yang bisa mengurangi calon penontonnya.
Saya juga sangat menikmati editingnya dimana transisi-transisi adegannya dibuat dengan sangat indah. Jarang saya melihat film dengan gaya transisi seperti ini. Pergerakan kameranya yang smooth namun dinamis sangat stylish menurut saya. Ada keuntungan dan kerugian dari gaya pergerakan kamera seperti ini, menurut saya. Keuntungannya adegan tampak halus bergerak dan tentu saja ini menghasilkan keindahan tersendiri. Kerugiannya, jika terlalu banyak digunakan dalam satu film, bisa menyebabkan kebosanan. Dua-duanya terjadi dalam film ini.
Semua keunggulan ini sayangnya belum mampu memenuhi ekspektasi saya akan film ini sebagai sebuah film petualangan yang utuh (bukan secara teknis yang menurut saya topnotch). Saya merasa seperti alurnya berjalan terlalu cepat dan pada suatu titik menyebabkan kebosanan. Ada kalanya sih petualangan menjadi menarik, misalnya ketika di kapal Karaboudjan dan padang pasir Maroko. Namun saya tidak bisa menikmati dan akhirnya merasakan kebosanan ketika adegan kejar-kejaran di kota Bagghar (yang menurut saya terlalu berlebihan dan tidak masuk akal) dan satu adegan pamungkas ketika Sakharine hendak kabur. Dua adegan petualangan pamungkas yang menurut saya mempengaruhi petualangan secara keseluruhan yang terasa plain dan tidak memiliki emosi sama sekali. Jujur, menurut saya pribadi, cerita petualangan di versi serial kartunnya era 90-an masih jauh lebih seru untuk diikuti. Mungkin karena Spielberg terlalu fokus untuk menampilkan adegan aksi spektakuler ketimbang memberikan nyawa petualangan itu sendiri. Jangan tanya lagi soal perkembangan karakter. Mungkin hanya karakter Haddock saja yang terasa diberikan perkembangan yang berarti.
Akhirnya, kebosanan pada adegan-adegan terakhir tersebut justru membuat saya semakin tidak tertarik ketika Tintin bertanya kepada Haddock, “How’s your thirst for adventure, Captain?” dan Haddock menjawab, “Excellent!”. Oh no… jika film dilanjutkan maka mungkin saya akan langsung walk out. Untung saja itu hanya sebuah pertanda bahwa franchise Tintin dalam bentuk motion-capture animation akan dilanjutkan dengan sequel. Well, semoga saja sequelnya tidak keluar dalam waktu terlalu dekat sehingga saya bisa melepaskan image buruk Tintin yang ini dan tertarik untuk menyaksikan sequelnya kelak. Two or three years will do, I think.
Karakter Tintin bisa dihidupkan dengan segala image dari komiknya berkat si Billy Elliott, Jamie Bell. Kemiripan fisik dimanfaatkan oleh Bell dengan sangat baik dengan kemampuan aktingnya. Captain Haddock juga tampil memikat dan jenaka di tangan maestro aktor motion-capture, Andy Serkis (yang juga pernah menjadi aktor motion-capture untuk karakter Gollum di seri LOTR, KingKong di King Kong, dan Caesar di The Rise of The Planet of The Apes). Duo kocak Simon Pegg-Nick Frost yang tahun ini juga berhasil lewat Paul memberikan warna tersendiri walau terkesan hanya pemanis atau tempelan dalam film. Padahal menurut saya film bakal menjadi lebih menarik jika porsi keduanya sebagai kembar Thompson-Thomson ditambah. Daniel Craig menyumbangkan suara yang berbeda untuk Sakharine. Entah bagaimana caranya saya sampai tidak begitu mengenali suaranya di sini. Good one, anyway. Kemunculan karakter iconic yang cukup membuat saya kaget sekaligus excited adalah Bianca Castafiore, si penyanyi opera yang lengkingan suaranya mampu meretakkan bahkan memecahkan kaca di sekitarnya. Kim Stengel berhasil menghidupkan karakter ini dengan baik.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tentu saja The Adventures of Tintin : The Secret of The Unicorn tetap merupakan film yang wajib ditonton karena ini adalah pertama kalinya petualangan Tintin diangkat dalam kemasan modern dan dengan teknik termutakhir. Soal apakah masih tertarik menyaksikan kelanjutannya, ya terserah Anda… :)
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Sang Penari


Saya ingat pertama kali jatuh cinta dan penasaran setengah mati dengan film ini adalah ketika menonton trailernya di loket bioskop. Gambaran budaya yang ditampilkan dalam trailer sungguh memikat; kostum, setting lokasi, akting, dan liuk tarian dari Prisia Nasution cukup mewakili bagaimana film ini nantinya. 10 November 2011 menjadi tanggal yang paling saya tunggu-tunggu untuk menyaksikannya di hari pertama pemutaran. Belum lagi komentar-komentar yang saya dengar dari petinggi-petinggi perfilman negeri ini yang tak henti-hentinya menghujani pujian kepada film ini.
Well, yeah… penantian saya terbayar sudah. Sang Penari adalah salah satu film Indonesia terbaik 2011, bahkan masih layak dimasukkan jajaran film (lokal dan internasional, termasuk di dalamnya Hollywood) terbaik yang tayang di bisokop Indonesia.
Patut dicatat, Sang Penari adalah tipikal film seni yang mengedepankan sisi drama dan manusiawi, bukan tipikal film hiburan semata yang melulu tentang cinta dan perang seperti layaknya Pearl Harbor. Jadi jika Anda susah menikmati tipikal film seni, maka besar kemungkinan Anda akan merasa bosan menyaksikannya. Tapi jika Anda sabar dan gemar mengamati perkembangan cerita beserta segala detail elemennya, maka Sang Penari adalah pilihan tepat untuk memuaskan dahaga Anda akan film seni yang bermutu, khususnya dalam konteks film nasional.
Cerita cinta mungkin menjadi sajian utama dari film. Namun lebih dari itu, ada banyak sekali hal yang disodorkan Sang Penari. Yang utama adalah bagaimana keadaan sosio-kultural Dusun Dukuh Paruk yang merepresentasi kebanyakan desa pedalaman di Indonesia saat itu. Di tengah maraknya modernisasi di kota dan propaganda PKI saat itu, warga desa yang menjadi “korban” atau lebih tepatnya “tumbal” karena keluguan dan kebodohan mereka. Miris menyaksikan adegan-adegan yang merepresentasikan keadaan ini. Keadaan sosio-kultural juga ditunjukkan bagaimana istri-istri malah bangga jika suaminya bisa meniduri Ronggeng yang dipercaya pilihan Dewa untuk melayani agar desa dapat tetap makmur. Padahal keadaan ekonomi warga desa di situ sangat parah. Bahkan untuk makan nasi saja susah. Semua wacana yang diangkat tidak lantas menjadi sebuah alat propaganda untuk membela salah satu pihak (PKI ataupun tentara), namun lebih menekankan sisi kemanusiaan dari orang-orang yang tak berdosa. Di situlah letak kekuatan utama dari Sang Penari : tema yang kuat, yang jarang diangkat karena hingga sekarang masih menjadi topik yang sensitif.
Sang Penari punya banyak sekali kelebihan yang memang digarap dengan sangat serius. Yang paling terlihat adalah kesiapan setting lokasi dan kostum. Tak mudah menghadirkan suasana ’50-’60-an apalagi suasana dusun seperti Dukuh Paruk. Untuk itu two thumbs up layak disematkan kepada Production Designer-nya. Aksan dan Titi Sjuman yang mengisi score sepanjang film juga menambah magisnya suasana Dusun Dukuh Paruk. Kombinasi setting lokasi, kostum, dan score berhasil membangun suasana magis sepanjang film. Sumpah, saya masih terbayang terus suasana Dukuh Paruk dan rasa simpati terhadap apa yang dialami oleh warga di situ terus menghantui higga lama setelah saya menyaksikannya. Good job for Ifa Isfansyah dan timnya!
Kekuatan akting turut andil dalam menambah poin, terutama Prisia Nasution yang sukses menghidupkan karakter Srintil. Tak banyak dialog, namun emosinya sangat terlihat jelas dari raut wajah dan gerak tubuhnya. Ditambah kemampuan tarian khas Ronggeng yang semakin menonjolkan dirinya sepanjang film. Oka Antara pun tampil menonjol ketimbang peran-peran yang pernah dilakoni sebelumnya. Transformasi dari Rasus yang awalnya pemuda desa yang melankolis, penakut, dan serba susah, menjadi anggota tentara yang tegas, berani, dan terdidik, tampak sangat meyakinkan. Chemistry antara Prisia dan Oka terbangun dengan sangat bagus. Tak perlu kata-kata romantis, “Aku cinta kamu” atau kata-kata sejenis untuk menunjukkannya. Sorot mata dan sikap antara keduanya cukup untuk menggambarkan chemistry mereka. Sayang, beberapa adegan intim antara keduanya harus disensor, padahal saya yakin bisa semakin memperkuat chemistry antara Rasus-Srintil. Di jajaran pemeran pembantu, Slamet Rahardjo tampil paling menonjol sebagai dukun Ronggeng, melebihi Lukman Sardi dan Tyo Pakusadewo. Happy Salma yang hanya muncul beberapa detik di layar pun tak kalah memberikan pesona Ronggeng yang cukup kuat. Bahkan jika porsinya diberi lebih banyak, bisa-bisa karakter Srintil kalah kuat.
Dari segala kelebihannya, Sang Penari pun tak luput dari kekurangan walau tak begitu mengganggu keseluruhan film. Ada beberapa bagian yang terasa kurang jelas, apalagi bagi penonton yang belum pernah membaca novelnya sebelumnya seperti saya. Misalnya ketika tiba-tiba Bakar (karakter yang diperankan Lukman Sardi) menghasut beberapa pemuda desa untuk melakukan aksi pembakaran beberapa rumah. Positifnya sih, saya jadi penasaran dan tertarik untuk membaca novelnya juga. Tak mudah memang meringkas novel (apalagi sebuah trilogi) menjadi satu film berdurasi 2 jam, tapi Salman Artisto dan Shanty Harmayn cukup baiklah dalam mengadaptasinya. Setidaknya elemen-elemen penting dan jiwanya masih sama. Lah Ahmad Tohari, penulis novelnya sendiri sampai menangis terharu ketika menyaksikan filmnya.
Sang Penari adalah karya film nasional yang patut diapresiasi setinggi-tingginya dan saya percaya andaikan didaftarkan untuk Academy Awards kategori Best Foreign Feature, karya Ifa Isfansyah yang satu ini mampu berbicara banyak, melebihi Di Bawah Lindungan Ka’bah yang telah didaftarkan terlebih dahulu.
Lihat data film ini di IMDB.
Lihat Official Website film ini.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates