Beberapa waktu lalu ketika konflik Indonesia-Malaysia mencuat, ada teman2 twitter yang "bashing" Malaysia dengan maksud menjadikan Malingsia sebagai TT. Saya bertanya kepadanya, "tujuan elu apa sih bikin2 kayak gitu?"
Lantas dia menjawab dengan penjelasan yang cukup panjang ;
"bukannya gt slama ini media2 dsna dan internasional kurang tau apa yg sbnernya trjadi antara 2 negara ini. dan d maling sana (maksudnya Malaysia) media itu msh dibungkam ky model jaman orba bahkan beberapa media intl dibungkam jg sm maling."
Lantas apa dengan cara bashing dengan merubah kata "Malaysia" menjadi "Malingsia" bakal menyelesaikan masalah? Yang ada justru memperkeruh hubungan antara kedua negara.
Tetap merasa benar, segudang alasan dia lontarkan untuk membela tindakannya. Owkay, saya mengerti. Sebagian besar status FB dan twitter di timeline saya banyak sekali konten serupa. Saya menjadi heran, koq bisa sih orang Indonesia ini dengan mudah ter-kompor-i, apa karena terbiasa nonton sinetron? Parah banget lho. Gara-gara ada blog orang Malaysia yang menghina-hina Indonesia, langsung pada naik pitam. Padahal belum jelas siapa identitas si provokator tersebut. Bisa saja yang bikin orang Indonesia sendiri. Toh selama ini sudah sering banyak terbukti provokator2 sejenis. Mereka yang bashing Malaysia merasa itulah bentuk nasionalisme mereka. Come on, don't be silly. Nasionalisme kosong seperti itu tidak akan memberi kontribusi apa-apa, justru di mata internasional, image Indonesia semakin parah.
Di tengah hiruk-pikuk perdebatan kami berdua, muncullah salah satu teman yang ikut nimbrung. Dia menyebutkan fakta bahwa nenek moyang Malaysia adalah mantan pemberontak Indonesia yang kabur. Neh twit lengkapnya :
"hey brotha,cri tau deh nenek moyangnya malay itu siapa.Serius bakal shock klo tau! Mantan pemberontak yg kabur dr ind. dan berhub pemberontak ini kabur ke malaka(malay nama jadul) makanya muncul negara bernama malaysia ini. seandainya org malay tau sejarah nenek moyangnya, mreka bakal malu. Karena nenek moyang itu org bodoh yg dipenjara. dipenjara atas kasus maling & hal buruk, makanya sukarno benci bgt sm buronan ini. Mmg nenek moyang maling, buyutnya?"
Waduh ini lagi, tambah memperkeruh. Hey brotha, sadar ga sih kalo apa yang barusan elu sampein itu ga beda dengan penulis blog yang mengatasnamakan Malaysia dan bashing Indonesia??? Silogis dangkal elu itu sangat memalukan bangsa ini kalau sampai didengar bangsa lain. Sekarang saya balik bertanya, apabila Anda baru saja mengetahui bahwa buyut Anda adalah seorang penjahat, lantas ada orang-orang yang mengejek Anda dan menganggap Anda sama dengan buyut Anda, bagaimana perasaan Anda?
Lebih parahnya lagi, orang yang sama yang mengirim twit terakhir di atas, mengirimkan ini buat saya : "belajarlah menghargai pendapat org lain jg, dengar sudut pandang org lain jg"
Saya tertawa ngakak bacanya. Hello.... siapa neh yang ga bisa menghargai pendapat orang lain? Siapa juga yang tidak mau mendengarkan sudut pandang orang lain?
Perasaan saya selalu mendengarkan second opinion selain opini yang dikemukakan umum deh. Saya juga selalu terbuka terhadap berbagai pendapat, namun bukan berarti saya harus menyetujui segala yang masuk. Saya tetap berhak punya opini sendiri atas semua yang masuk kepada saya dan tentu saja sudah saya analisis dari berbagai sudut.
Di kasus Blackberry, saya melihat dari sisi pemerintahan dan hankam, bukan dari masyarakat umum saja, yang melihat kasus pemblokiran BB hanya dari sisi kepentingan mereka saja.
Di kasus Malaysia pun saya memilih jalan aman agar tidak memperparah ketegangan antara kedua negara. Saya melihat dari sisi orang Malaysia, sisi pemerintahan, dan juga mencoba menelaah bagaimana bisa sampai kasus itu terjadi. Apakah karena kelalaian pemerintahan kita sendiri? Lebih baik introspeksi diri daripada menuding orang lain bukan?
Siapa coba sekarang yang tidak mau mendengarkan pendapat orang lain dan dari sudut pandang orang lain? Coba deh, sebelum memberi nasehat lihat diri sendiri dahulu. Anda menjadi bagian dari suara mayoritas belum tentu Anda benar lho. Apalagi mayoritasnya adalah bangsa Indonesia yang di mata saya rata-rata masih sangat shallow.
Kenapa saya anggap shallow? Lihat saja deh bangsa kita.
Sebelum kasus kebudayaan kita banyak yang dicuri oleh Malaysia, yang doyan pake batik siapa saja? Lebih banyak mana dibandingkan orang-orang yang menganggap batik kampungan? Tapi setelah kasus tersebut, langsung marah-marah. Katanya cinta Indonesia, teriak-teriak meminta hak sebagai warga negara Indonesia, tapi masih berpendapat, "ngapain nonton film Indonesia? Ga suka ah, buang-buang duit dan waktu."
Sama saja seperti menelantarkan anak kandung, tapi setelah ada orang lain yang peduli dan mengangkat anak, giliran Anda teriak-teriak meminta hak Anda sebagai orang tua kandung. Egois? Mungkin. Itulah gambaran kebanyakan warga Indonesia. Saya sendiri jujur merasa malu sebagai bagian dari Indonesia. Sudah malu karena pemerintahnya, eh lebih malu lagi dengan mental bangsanya. Maaf, saya tidak bermaksud menjelekkan bangsa sendiri, justru saya menuliskan blog-blog ini sebagai wake-up call buat bangsa ini supaya merubah mental dan mindsetnya. Saya begitu peduli terhadap masa depan bangsa ini, terutama generasi-generasi mudanya yang tanpa mereka sadari sedikit demi sedikit di-bodoh-i oleh bangsa lain.
Mengenai kasus Malaysia, please jangan pakai cara bashing. Malu-maluin. Tunjukkan sedikit otak kalian kepada mata internasional, jangan hanya pamer maki-makian atau kata-kata yang tidak pantas. Tunjukkan bahwa kita bangsa yang beradab, sopan, dan intelek. Lagian itu adalah masalah pemerintahan. Biarkanlah pemerintah yang menyelesaikannya. Toh itulah tugas mereka, untuk itulah mereka kita pilih saat pemilu.
By the way, ada seorang teman lain yang memuji twit-twit saya. Katanya, sangat inspiratif.
"Padahal banyak yang ga suka lho. Katanya ofensif dan hanya dari perspektif gw sendiri."
"Halah, semua orang berhak berpendapat. Lagian itu bukan ofensif, tapi sarkastik. Gw suka karena berbobot, ga bodoh. Biarin aja lah mereka. Keep twitting!"
Lantas dia menjawab dengan penjelasan yang cukup panjang ;
"bukannya gt slama ini media2 dsna dan internasional kurang tau apa yg sbnernya trjadi antara 2 negara ini. dan d maling sana (maksudnya Malaysia) media itu msh dibungkam ky model jaman orba bahkan beberapa media intl dibungkam jg sm maling."
Lantas apa dengan cara bashing dengan merubah kata "Malaysia" menjadi "Malingsia" bakal menyelesaikan masalah? Yang ada justru memperkeruh hubungan antara kedua negara.
Tetap merasa benar, segudang alasan dia lontarkan untuk membela tindakannya. Owkay, saya mengerti. Sebagian besar status FB dan twitter di timeline saya banyak sekali konten serupa. Saya menjadi heran, koq bisa sih orang Indonesia ini dengan mudah ter-kompor-i, apa karena terbiasa nonton sinetron? Parah banget lho. Gara-gara ada blog orang Malaysia yang menghina-hina Indonesia, langsung pada naik pitam. Padahal belum jelas siapa identitas si provokator tersebut. Bisa saja yang bikin orang Indonesia sendiri. Toh selama ini sudah sering banyak terbukti provokator2 sejenis. Mereka yang bashing Malaysia merasa itulah bentuk nasionalisme mereka. Come on, don't be silly. Nasionalisme kosong seperti itu tidak akan memberi kontribusi apa-apa, justru di mata internasional, image Indonesia semakin parah.
Di tengah hiruk-pikuk perdebatan kami berdua, muncullah salah satu teman yang ikut nimbrung. Dia menyebutkan fakta bahwa nenek moyang Malaysia adalah mantan pemberontak Indonesia yang kabur. Neh twit lengkapnya :
"hey brotha,cri tau deh nenek moyangnya malay itu siapa.Serius bakal shock klo tau! Mantan pemberontak yg kabur dr ind. dan berhub pemberontak ini kabur ke malaka(malay nama jadul) makanya muncul negara bernama malaysia ini. seandainya org malay tau sejarah nenek moyangnya, mreka bakal malu. Karena nenek moyang itu org bodoh yg dipenjara. dipenjara atas kasus maling & hal buruk, makanya sukarno benci bgt sm buronan ini. Mmg nenek moyang maling, buyutnya?"
Waduh ini lagi, tambah memperkeruh. Hey brotha, sadar ga sih kalo apa yang barusan elu sampein itu ga beda dengan penulis blog yang mengatasnamakan Malaysia dan bashing Indonesia??? Silogis dangkal elu itu sangat memalukan bangsa ini kalau sampai didengar bangsa lain. Sekarang saya balik bertanya, apabila Anda baru saja mengetahui bahwa buyut Anda adalah seorang penjahat, lantas ada orang-orang yang mengejek Anda dan menganggap Anda sama dengan buyut Anda, bagaimana perasaan Anda?
Lebih parahnya lagi, orang yang sama yang mengirim twit terakhir di atas, mengirimkan ini buat saya : "belajarlah menghargai pendapat org lain jg, dengar sudut pandang org lain jg"
Saya tertawa ngakak bacanya. Hello.... siapa neh yang ga bisa menghargai pendapat orang lain? Siapa juga yang tidak mau mendengarkan sudut pandang orang lain?
Perasaan saya selalu mendengarkan second opinion selain opini yang dikemukakan umum deh. Saya juga selalu terbuka terhadap berbagai pendapat, namun bukan berarti saya harus menyetujui segala yang masuk. Saya tetap berhak punya opini sendiri atas semua yang masuk kepada saya dan tentu saja sudah saya analisis dari berbagai sudut.
Di kasus Blackberry, saya melihat dari sisi pemerintahan dan hankam, bukan dari masyarakat umum saja, yang melihat kasus pemblokiran BB hanya dari sisi kepentingan mereka saja.
Di kasus Malaysia pun saya memilih jalan aman agar tidak memperparah ketegangan antara kedua negara. Saya melihat dari sisi orang Malaysia, sisi pemerintahan, dan juga mencoba menelaah bagaimana bisa sampai kasus itu terjadi. Apakah karena kelalaian pemerintahan kita sendiri? Lebih baik introspeksi diri daripada menuding orang lain bukan?
Siapa coba sekarang yang tidak mau mendengarkan pendapat orang lain dan dari sudut pandang orang lain? Coba deh, sebelum memberi nasehat lihat diri sendiri dahulu. Anda menjadi bagian dari suara mayoritas belum tentu Anda benar lho. Apalagi mayoritasnya adalah bangsa Indonesia yang di mata saya rata-rata masih sangat shallow.
Kenapa saya anggap shallow? Lihat saja deh bangsa kita.
Sebelum kasus kebudayaan kita banyak yang dicuri oleh Malaysia, yang doyan pake batik siapa saja? Lebih banyak mana dibandingkan orang-orang yang menganggap batik kampungan? Tapi setelah kasus tersebut, langsung marah-marah. Katanya cinta Indonesia, teriak-teriak meminta hak sebagai warga negara Indonesia, tapi masih berpendapat, "ngapain nonton film Indonesia? Ga suka ah, buang-buang duit dan waktu."
Sama saja seperti menelantarkan anak kandung, tapi setelah ada orang lain yang peduli dan mengangkat anak, giliran Anda teriak-teriak meminta hak Anda sebagai orang tua kandung. Egois? Mungkin. Itulah gambaran kebanyakan warga Indonesia. Saya sendiri jujur merasa malu sebagai bagian dari Indonesia. Sudah malu karena pemerintahnya, eh lebih malu lagi dengan mental bangsanya. Maaf, saya tidak bermaksud menjelekkan bangsa sendiri, justru saya menuliskan blog-blog ini sebagai wake-up call buat bangsa ini supaya merubah mental dan mindsetnya. Saya begitu peduli terhadap masa depan bangsa ini, terutama generasi-generasi mudanya yang tanpa mereka sadari sedikit demi sedikit di-bodoh-i oleh bangsa lain.
Mengenai kasus Malaysia, please jangan pakai cara bashing. Malu-maluin. Tunjukkan sedikit otak kalian kepada mata internasional, jangan hanya pamer maki-makian atau kata-kata yang tidak pantas. Tunjukkan bahwa kita bangsa yang beradab, sopan, dan intelek. Lagian itu adalah masalah pemerintahan. Biarkanlah pemerintah yang menyelesaikannya. Toh itulah tugas mereka, untuk itulah mereka kita pilih saat pemilu.
By the way, ada seorang teman lain yang memuji twit-twit saya. Katanya, sangat inspiratif.
"Padahal banyak yang ga suka lho. Katanya ofensif dan hanya dari perspektif gw sendiri."
"Halah, semua orang berhak berpendapat. Lagian itu bukan ofensif, tapi sarkastik. Gw suka karena berbobot, ga bodoh. Biarin aja lah mereka. Keep twitting!"



03.34
Vincent Jose



