Sabtu, 03 Juli 2010

Pembodohan Wanita (Mengkritisi Histeria Twilight Series)

Pin It!

Tiga tahun belakangan para remaja (terutama kaum hawa) sedang menggilai film seri Twilight yang jika dikritisi dari film-nya secara objektif, tidak ada yang istimewa, bahkan cenderung cheesy and corny. Padahal sebelum ada filmnya, tidak banyak remaja yang tahu ada seri novel karangan Stephanie Meyers ini, terutama di Indonesia. Baru ketika film pertamanya dirilis, remaja wanita dan beberapa remaja pria, kontak menggilainya, terutama karena pemeran karakter utamanya yang menurut mereka so hot, Robert Pattinson. Dilanjutkan Taylor Lautner yang pada seri keduanya tampil lembih memikat (secara fisik) yang sukses mengalahkan pesona Pattinson. Sontak saja it has blown millions of teenage girls' mind.

Saya membuat tulisan ini bukan karena ketidaksukaan saya terhadap Twilight, namun lebih ingin mengajak kita semua, terutama yang menggilai seri ini hingga kehilangan akal sehat dan rasionalitasnya, untuk mengkritisi apa yang sedang mereka gila-gilakan itu. Jika Anda tidak ingin saya "menodai" kecintaan Anda terhadap seri tersebut, lebih baik tidak Anda baca. Namun orang bijak akan lebih memilih kejujuran walau menyakitkan, daripada terbuai oleh bujukan-bujukan yang menghipnotis bukan? Well, like the tagline, it's all begin with a choice... =)

Saya tidak akan membahas secara teknis filmnya karena rasa-rasanya saya sudah cukup habis mengkritisi kekurangan-kekurangan di berbagai sektor teknis selama ini. Saya akan membahas tentang value dan bahaya yang dihadapi jika apa yang Anda tonton lewat serial Twilight ini menjadi sebuah obsesi yang berlebihan dan mempengaruhi kepribadian Anda.

Dalam film (dan juga novelnya), diceritakan bahwa remaja wanita, yang kebetulan bukan tipikal remaja wanita populer, malah cenderung geek, tertarik dengan cerita (dan atau juga pesona) tentang keluarga Cullen yang aneh. Siapa pun di sekolah itu baik pria ataupun wanita, tidak ada yang berani dengan keluarga Cullen ini. Namun ketika didekati oleh salah satunya, yaitu Edward, Bella seolah-olah tersihir dan menjadi sedikit obsessed terhadapnya. Entah kenapa Bella seperti tidak takut sama sekali jika terjadi sesuatu terhadap dirinya yang dilakukan oleh keluarga seaneh itu. Bagaimanapun, Edward adalah seorang asing yang baru saja dikenalnya. Mungkin karena pesona flamboyan dan 'wajah tampan'nya, sehingga Bella mau saja diapa-apakan oleh Edward. Di layar seolah2 tampak bahwa mereka adalah sepasang cinta sejati walau tanpa alasan yang jelas. Bella pun tampak rela digigit dan menjalani kehidupan immortal bersama Edward.

Sementara seorang sahabat dari kecilnya yang nampaknya cemburu dengan kehadiran Edward dalam kehidupan Bella, Jacob Black berusaha memperingatkan Bella tentang bahaya yang akan dihadapinya jika melanjutkan hubungannya dengan Edward. Entah ini maksud tulus atau sekedar kecemburuannya semata. Yang jelas Bella dibuat bingung setengah mati dengan keduanya, mungkin karena "dorongan nafsu"nya, sehingga Bella juga tak kuasa menolak pesona fisik Jacob Black. Lantas cerita bergerak menjadi peperangan antara kaum vampire dan werewolf, sehingga terkesan seperti cerita Romeo & Juliet bersegi tiga yang tidak jelas. Well, cerita 'romeo dan juliet' versi vampir dan werewolf bukanlah barang baru, karena seri Underworld sudah lebih dulu memperkenalkannya secara lebih baik dari berbagai segi, terlepas dari perbedaan genre yang jelas.

Saya tahu, para remaja wanita akan dengan sangat mudah jatuh cinta dengan cerita nya, karena selain pesona fisik keduanya, mereka juga seperti diiming-imingi sebuah "mimpi indah" diperebutkan pria-pria yang tergolong "hot" di mata remaja seumuran mereka. Memang sekilas kisah cinta Edward dan Bella seperti cerita cinta sejati, apalagi dibumbui kata-kata, together forever (literally forever, karena Edward adalah immortal). Wanita mana sih yang tidak terbuai oleh iming-iming seperti ini?

Namun mereka tidak menyadari bahaya apa yang mungkin tertanam dalam benak mereka jika mereka terlalu tenggelam dalam iming-iming mimpi tersebut. Kisah Cinderella memang terdengar indah. Namun siapa pun yang sudah pernah mengalami pahitnya cinta dan sudah bisa menganggap hubungan asmara serta relationship secara rasional, cerita ala Cinderella itu basi. Semakin Anda percaya kisah seperti ini ada, akan semakin menyedihkannya kehidupan asmara Anda.

Pertama, Bella yang terkesan "nekad" mengambil resiko apa saja demi memuaskan rasa penasarannya terhadap pria pujaannya yang masih belum jelas asal usulnya, adalah sebuah kebodohan pertama. Dalam kehidupan nyata, mungkin Anda tidak akan bertemu vampir sejenis. Namun perbuatan naif seperti ini jelas-jelas bahaya bagi keselamatan Anda. Anda akan membiarkan seorang pria asing dengan pesona fisik dan kepribadian flamboyan, untuk melakukan apa saja terhadap Anda, bahkan Anda tidak akan aware terhadap kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi pada Anda. Seorang teman ada yang pernah bernasehat, "be careful if it was too good to be true, there must have been something behind it that will let you down". Saya tidak perlu memberikan contoh-contoh buktinya karena saya rasa Anda sudah cukup banyak mendengar kasus-kasus perkosaan atau kejahatan terhadap wanita lainnya yang awalnya karena terbuai pesona oleh fisik maupun kepribadian flamboyan dari sang tersangka.

Kedua, karakter Bella tidak mengindahkan nasehat dari seorang sahabat terbaiknya sejak kecil. Lebih parah lagi, Bella menyadari bahwa Jacob menyimpan perasaan cinta terhadap dirinya, sehingga berpikir bahwa yang dilakukan oleh Jacob hanyalah karena kecemburuannya semata. Tapi Bella tidak bersikap tegas terhadap keduanya, justru seolah-olah membiarkan keduanya memperebutkan dirinya. That's one Undiscovered Bitchy Attitude menurut saya. Kenapa terselebung? Karena dari luar dirinya tampak innocent, padahal dalam benaknya menyimpan sebuah pleasure "diperebutkan oleh pria-pria". Itulah mimpi kedua para wanita. Tidak bermaksud ofensif, namun jujur dalam benak setiap manusia pasti memiliki potensi ini. Namun semua tergantung dari keputusan tegas yang diambil oleh tiap individu. Ada yang membiarkan diri larut dalam buaian "godaan" tersebut. Lantas, jika ada yang mencibir mereka sebagai "bitch", mereka hanya berujar, "you just don't know how I feel, what I need" atau ngeles, "bukan gua koq yang mau, tapi mereka aja yang ngejar-ngejar gua duluan". That's a bitch attittude, don't u agree??? Owkay, saat "di atas" mungkin mereka akan berpikir innocent, namun ketika orang lain yang "di atas" dan mereka menjadi korban dari "bitchiness of a bitch", giliran mereka yang akan balik menyumpah-serapahi that bitch, tanpa menyadari sebenarnya diri mereka sendiri juga ber-attitude sama sebelumnya. Menurut saya, itu adalah attittude yang tidak sehat, baik bagi nama baik pribadi, maupun bagi kelangsungan hidup asmara kelak. Dijamin orang-orang yang seperti ini akan lebih sering merasa sendirian karena kerap berganti-ganti pasangan.

Ketiga, apa pun pilihan yang dijatuhkan oleh Bella, Edward atau Jacob, menjadi vampir atau werewolf, tidak ada yang berdampak positif bagi masa depannya. Once she became one of them, there will be no turning back, will stuck living as immortal. Bagi mereka yang berpikiran dangkal, akan merasa "wow that's very romantic, living forever with someone you love and the one who loved you in return". Seolah-olah nothing's better than that. Nyatanya, THINK AGAIN! Do you really think live forever was cool? Ada banyak film yang membuat penonton merefleksikan betapa sengsaranya hidup selamanya dan tidak bisa mati, karena harus kehilangan setiap orang-orang di sekitar yang dicintainya, hidup membosankan, namun tidak bisa mengakhirinya sama sekali. That's a curse, don't you think? You can ask Vampire Lestat for that. Bella berpikir pendek dengan hanya memikirkan pilihan antara dua kubu tersebut, bahkan dia tidak memikirkan tentang dirinya sendiri, bagaimana masa depannya, impian-impian non-asmara-nya, semuanya dibuang demi cinta monyet yang tidak jelas. That's stupidity number three.

Itulah tiga kebodohan yang "ditawarkan" melalui "mimpi-mimpi manis" film seri Twlight. Anda mungkin berpikir bahwa apa yang saya paparkan terlalu berlebihan, karena ini hanyalah film fiksi hiburan biasa. Well, jika melihat banyak wanita-wanita remaja (dan juga dewasa) yang sebegitu terobsesi-nya oleh universe di dalamnya, bukan tidak mungkin secara tidak sadar "kepribadian" karakter-karakter di dalamnya ikut mempengaruhi kepribadian para fans-nya. Tanyakan psikiater manapun, justru melalui media yang terlihat "menarik-dari-luar"-lah yang paling bahaya pengaruhnya, karena tidak disadari. Apalagi target audience utama dari series ini adalah remaja yang masih labil kepribadiannya. 

Jadi, akhir kata, saya akan mengulangi tagline Eclipse yang sebenarnya ditujukan untuk Anda semua penggemar seri Twilight, "It all begins with a choice", pilihan untuk tetap terobsesi dan membiarkan diri Anda hancur dalam beberapa tahun ke depan, atau Anda akan menjadi fans bijak yang siap membentengi diri agar tidak menjadi "Bella" sesungguhnya.

FaceJo TwitJo Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates